
Lihatlah, siapa yang menjadi anak kecil saat ini, Aisyah intip suaminya asik menikmati jajanan tanpa mau menyapa tamu lebih lama.
Punya Aisyah ada tiga, itu dia bagi pada Rima dan Kinan, sedang suaminya punya tujuh, dimakan sendiri di dalam kamar seolah tak mau berbagi, Aisyah masuk saja langsung disembunyikan.
Obrolan Kinan tadi,
"Apa yang disukai Bas dari Aisyah, Rim?"
"Pemalu dan sambutannya."
"Sambutan apa?" baiklah, dia sudah tidak bisa mendebat bagaimana pemalunya Aisyah, bahkan ketika dia datang saja, Aisyah bergegas memperbaiki pakaian dan hijabnya, berbeda dengannya.
"Yang seperti tadi, ketika suaminya pulang atau menjamu tamu, dia berdiri dan melebarkan senyum, bertanya kabar dan sudah sholat belum, itu yang Bas suka. Kalau tamu, seperti kita, apa yang dia punya akan dia ke luarkan, dia sajikan, teman Baskara di sana jarang memang melihat Aisyah, tapi yang disajikan di rumah, tentu Aisyah yang menyiapkan." jelas Rima, dia mendengar dan menyaksikan selama mereka tinggal di sini.
Itu, Kinan dengar juga dari ayahnya tadi, bahkan ayahnya sampai lupa wajah Aisyah itu seperti apa, berbeda dari dirinya yang desa sebelah saja tahu bagaimana wajah dan keindahan tubuh yang dia punya.
Tapi, herannya banyak yang tahu kalau di sini kerap mengajar anak ngaji dan les sekolah, dan itu nama Aisyah yang disebut.
"Aisyah sudah begitu, ditambah lagi Bas yang posesif, jadi lengkap sudah mereka. Aisyah tidak suka dipandang pria lain, Bas pun bisa mencekik pria yang memandang Aisyah terlalu lama, kecuali ayah, ibu dan adiknya." Jelas Rima.
Semakin ke dasar jurang saja dia dibuat Rima, jelas dia beda jauh dari Aisyah, roknya saja di atas lutut, sedang Aisyah di bawah mata kaki, walau begitu sedari tadi Aisyah tak memandang remeh dirinya, Aisyah mengajaknya bicara leluasa, membahas banyak hal yang umumnya disukai wanita.
Satu, dia tidak suka membahas masalah orang lain, bisa Kinan lihat perubahan wajah Aisyah dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Kembali,
"Kaaaak, Ais minta lagi boleh tidak, dedeknya kan mau, tadi cuman makan satu loh. Boleh ya?" Aisyah merayu suaminya, masih ada dua di samping Baskara.
Baskara melirik stok jajanan itu, tidak tega mau menolak, tapi dia masih mau melahapnya, kurang kalau tidak tujuh.
"Sedikit saja, boleh ya?"
"Dia yang mau?"
"Iya, anaknya Kakak yang mau, sedikit saja."
Baskara ambil dan buka satu lagi, dia potong jadi dua, lalu setengah diberikan pada Aisyah, senyum istrinya melegakan, membuat dadanya membuncah, terlebih lagi makan lahap demi anak mereka.
Dia ambil satu lagi, lalu dia buka, memotong jadi dua kembali, disodorkan pada Aisyah, diterima dengan senyum yang sama, semakin membuncah dirinya, senang tidak tertolong.
"Aku bisa berbagi denganmu, A-isyah."
__ADS_1
"Kenapa begitu, mereka kan tamu?"
"Aku tidak suka dilihat teman Rima itu, lebih suka makan bersamamu saja."
Ada-ada saja, mau mengatakan malas bertemu gadis yang akan menjadikan pertemuan ini gosip saja susahnya minta ampun, tapi Aisyah paham, lebih baik suaminya dikenal acuh pada para gadis, daripada dikira tukang tipu, pemberi harapan palsu, kebanyakan orang suka salah mengartikan.
"Kamu mual lagi?"
"Tidak, mungkin hanya menjelang pagi dan pagi. Kakak mau makan apa?"
"Kamu."
"Kan, tidak boleh sih!"
"Ahahahahah, masakanmu, Nda ... jangan salah paham, masa iya aku minta itu terus, ahahahahahaha."
"Hush, kalau ketawa serem loh!" Aisyah bekap mulut suaminya.
***
Dua koper warna pink memenuhi bagasi mobil yang ayah siapkan untuk menjemput Baskara dan Aisyah.
Punya siapa lagi kalau bukan anak gadisnya si rambut coklat, suka heboh sendiri kalau mau pergi, padahal cuman dua hari satu malam.
"Di belakang sama ibu, kenapa?"
Bergelayut pada ayahnya, yakin kalau dia minta, pasti ayahnya tidak akan menolak.
"Apa?" ayah sudah tahu trik putrinya.
"Aku mau duduk di tengah saja, boleh ya ... view-nya jauh lebih bagus, Ayah. Boleh ya?"
"Tapi, kan di tengah itu punya Ayah sana kerjaan Ayah, Sofi!"
"Aaaah, nanti laptopnya Sofi pangku, boleh ya di tengah, Ayah?" memicing, lalu mengerucutkan bibirnya. "Besok waktu pulang kan aku di belakang, masa aku berangkat tidak boleh melihat pemandangan, mataku kan ingin dimanjakan sama yang hijau-hijau, Ayah ...."
Melihat tubuh kecil itu sudah meliuk-liuk meminta dituruti, belum lagi mata sabit yang mulai berkaca-kaca, ayah tidak tahan lagi.
"Ya sudah, tapi bantu Ayah kerja!"
"Yeah, sayang sekali, emuah!"
__ADS_1
Terbayang sudah beratnya ayah nanti melepas Shafiyah, tidak yakin putrinya nanti bisa menikah dan tidak merepotkan sang suami.
Di bangku depan ada Pian, sekalian dia ikut untuk bertemu kedua orang tuanya di kampung halaman sekaligus menemani supir selama perjalanan lama ini.
"Kak Nakula kenapa tidak diajak?"
"Untuk apa?"
"Kan, dia itu pengawalku, kakak yang bilang begitu, Ayah."
Ibu cekikikan mendengarnya, mati kutu dan tidak akan bisa bekerja kalau di samping ayah ada Shafiyah, dia akan banyak bicara dan membuat pekerjaan di laptop itu tertunda.
"Ayah-ayah, tahu tidak kalau tiap kulitku kena sinar matahari lama itu merah-merah, terus temanku bilang itu karena aku terlalu putih dan kurang vitamin, jadinya alergi. Terus, Ayah-" masih bercerita panjang lebar.
Ayah menoleh ke belakang, ibu menjulurkan lidah sedikit, meledek ayah yang katanya fans berat Shafiyah, lalu dia menelisik ke depan, supir tenang, sedang Pian berusaha menahan tawa sambil menyelesaikan pekerjaannya.
"Ayaaaah, ngantuk!"
"Heh, kan Ayah kerja, Sofi."
Tidak mau dengar, memutar posisi duduknya, lalu meletakkan kepala di pangkuan ayah, memejamkan mata dan tak lama sudah mendengkur.
"Bu, anakmu ini astaga, lihat!" laptop ayah jadi melayang di atas wajah Shafiyah. "Bisa tidur ini loh begini," imbuhnya.
"Ahahahahahah, biarin, dia ngantuk habis begadang, Yah. Kan, gitu suka tidak bisa tidur kalau besoknya kita ajak pergi jauh," jelas ibu, dia berikan bantal kecil agar lebih nyaman di pangkuan ayah.
Ayah mengesah pelan, dia selama ini ditakuti di luar sana, bahkan rekan bisnisnya, ibu saja dulu tetap ayah yang pegang kendali, giliran anak gadisnya satu ini, menolak pun tidak bisa.
"Sofi, biar ya salahnya tidur!" ayah goda, dia letakkan laptopnya di atas kening Shafiyah. "Sofi, bangun, katanya mau lihat dan mengabadikan jalanan, ini apa yang diabadikan, heh bangun, Sofi!"
"Mmmm, nyamuk nakal!"
Purffftt,
Pian dan ibu tak bisa menahan tawanya, melihat ayah kesusahan bersama Shafiyah.
"Biarin, Yah. Nanti, kalau kamu paksa bangun, dia marah-marah loh!"
"Tapi, ini lagi kerja, Bu." Tolong.
Ibu usap-usap pipi dan bahu ayah, "Sabar, sabar ... sama anaknya tidak boleh emosi, anak Ayah loh dia ini!"
__ADS_1
"Ya masa anak pak supir!" balas ayah frustasi.