
"Kakak," panggil Aisyah sambil tersenyum lemah, dia ulurkan tangannya agar sang suami raih, lalu dia genggam. "Kakak, dari mana?"
"Menelpon ibu sebentar, katanya mau ke sini," jawab Baskara sambil mengecup punggung tangan Aisyah.
Bagaimana aku mengatakannya?
Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, hanya tangan mereka yang bertautan, sedikit rematan Aisyah, usapan jari Baskara di sana menjadi penenangnya.
Sungguh, dalam hatinya berpasrah utuh, baginya yang terpenting Aisyah masih ada di sisinya, Aisyah masih bisa dia pandang dan dia jaga ke depannya.
Seperti yang ibu katakan soal anak, Tuhan pasti akan mengatur waktu terbaik untuk mereka, tidak akan menempatkan mereka dalam ketidaktepatan.
"Sakit?" tanyanya lembut.
Aisyah mengangguk, dia usahakan tersenyum meskipun hatinya sudah tidak karuan, dia berusaha untuk pasrah, tapi wanita pasti terpukul saat kondisinya seperti ini, pasti ingin hati berjuang sampai titik darah penghabisan.
Tiga kali Baskara tanyakan perihal sakit itu, jawaban Aisyah tetap sama, bahkan yang terakhir jauh lebih sakit, sempat Dara menghubungi mereka dan memberikan saran, tidak ada hal lain selain doa yang dikencangkan, meminta yang terbaik dari yang Maha Baik.
Aisyah dibawa pindah ke ruangan lainnya yang lebih khusus, rasa sakit itu tak bisa ditoleransi lagi, harus segera ada tindakan berikutnya.
Lampu berwarna merah itu sudah menyala, Baskara menunggu di depan sembari terus melangitkan doa.
Dia ingat setiap malam istrinya menangis dalam doa, dia ingat wajah seindah rembulan itu, lalu hari ini dia ragu dengan keteguhan yang ada, berusaha kuat demi sang istri tercinta.
Satu jam berlalu,
Ayah dan Saka menyusul ke rumah sakit, ibu akan segera menyusul ke sini, wanita itu tidak bisa diam saat kabar terakhir anaknya berikan, bergegas mengatur penerbangannya.
"Ayah!" Baskara tersentak, ada yang menepuk bahunya mendadak.
Dia pun berdiri dan berusaha tampak kuat di depan ayahnya, pria yang tak pernah mengajarinya mengenal kata lemah dan sosok yang selalu menendangnya maju ke depan.
"Ayah-"
"Duduk saja, tenangkan dirimu!" titah ayah.
Tapi, sebelum Baskara sampai duduk, ayah rengkuh dan peluk anaknya itu, menepuk punggung Baskara sembari menguatkan.
Tak ada kata yang terucap dari keduanya, hanya isakan lirih dan berat yang Saka kenal jelas itu dari kakaknya, dalam dekapan sang ayah, jiwa rapuhnya muncul, tampak utuh di sini.
__ADS_1
Ketakutannya akan sebuah kehilangan begitu besar, dia bisa berdiri lagi, tapi Aisyah akan merasa bersalah setelah ini.
Banyak wanita yang sampai gila memikirkan masalah anak, belum lagi bila bertemu dan mendengarkan ocehan orang, ditambah kabar-kabar lainnya.
Wanita akan lemah, tertekan dan merasa asing karena itu.
Jeglek!
"Biar ayah saja yang bicara dengan dokternya, kamu temui Aisyah!" ayah dorong Baskara menjauh.
Saka mengangguk pada kakaknya, dia akan menemani sang ayah mengurus semuanya.
Kembali, Baskara atur sedemikian rupa wajahnya, dia harus menguatkan, bukan ingin dikuatkan.
"Tapi, dia masih ada kemungkinan hamil lagi, kan?" tanya ayah.
Dokter itu mengangguk, "Mulai saat ini bisa dijaga pola makan dan kesehatannya, hindari stres berlebih, mungkin sebelumnya dia punya pemikiran berat," jelasnya.
Ayah mengangguk, dia minta Saka ikuti dokter itu untuk mengurus berkas-berkasnya.
Calon janin itu belum berupa, hanya cucuran darah dan gumpalan kecil, Saka ikuti aturan pengurusan yang ada dan selayaknya.
"Ayah tunggu di sini dulu!" ujar Saka.
A-isyah....
Tadi, belum sempat dia berbicara dengan Aisyah, istrinya itu harus dipindahkan lagi ke ruangan awal agar lebih leluasa.
Pandangan Aisyah tampak kosong, tapi ada jejak air mata di pipinya, bahkan kedua tangan Aisyah terlipat di atas perut.
"A-isyah," sapanya.
Tes,
Air mata dari kelopak mata yang kering itu menetes kembali, Aisyah tak membalas sapaannya, bibir itu diam tak bergerak, hanya mata yang berkedip pelan dan bola mata yang lurus ke atas.
Tidak, aku harus menguatkan A-isyah.
Baskara cium setiap jengkal kulit di wajah manis itu, bahkan kelopak mata yang akhirnya basah, tak lepas dari bibirnya, memaksa Aisyah memandangnya dan air mata itu mengalir begitu deras.
__ADS_1
"An-anakku."
Baskara bungkam bibir itu, dia biarkan wajahnya ikut basah karena tangisan Aisyah, kalau Aisyah mau memukulnya, dia akan terima.
Tapi, Aisyah yang tengah terpukul hanya bisa meraung akan sebuah kehilangan.
Dari ibu, bapak dan kini calon buah hatinya, pergi meninggalkan dirinya. Perlahan hatinya takut, Baskara pun meninggalkan dirinya.
"Tenanglah, aku di sini, A-isyah!" dia cium sekali lagi, membiarkan wajahnya basah karena air mata Aisyah. "Sssttt, sstt ... semua akan baik-baik saja, aku di sini!"
Bukan hanya dirinya yang di sini, tapi hatinya, segenap jiwanya, untuk dan selamanya hanya Aisyah.
Cukup lama ayah dan Saka menunggu di depan, mereka harus segera pergi ke lapangan setelah ini, banyak yang harus mereka selesaikan dan itu harus tanpa Baskara.
"Ayah, nanti di sana aku ganti waktu libur-"
"Sudahlah, kau kira Ayahmu ini maniak kerja, jaga istrimu, jangan sampai dia merasa sendiri dan tidak diperhatikan!" ayah ulangi lagi. "Buat Aisyah yakin kalau kau selalu bersamanya, jangan biarkan hatinya terbesit kalau karena masalah ini, suaminya akan memilih wanita lain, aku tidak pernah mengajari anakku seperti jtu, mengerti?!"
Baskara mengangguk, kesetiaan dijunjung tinggi, lagipula jaman sekarang banyak cara untuk mendapatkan keturunan, dan satu lagi di mana Aisyah tak punya masalah serius, dokter mengatakan kemungkinan besar Aisyah bisa hamil lagi dengan pola yang terjaga.
Keesokan harinya,
Dua wanita bertubuh kecil berlari menyebrangi lorong rumah sakit, baru saja mereka sampai dan semua waktunya akan mereka serahkan untuk Aisyah.
"Kakak, Ibu-"
Baskara menoleh, wanita itu sudah tiba, berdiri dengan napas memburu di depan pintu ruangan Aisyah.
Baskara dorong kursinya menjauh, beranjak memeluk ibunya dan mencium kepala Shafiyah.
"Bagaimana bisa kita minta jemput, kan kamu harus menemani Aisyah di sini, lagipula Ibu sudah sering ke sini, tidak akan salah jalan!" ibu meminta Shafiyah geser, dia mau menyapa menantunya.
Aisyah kembali tampak ingin menangis, tapi secepat mungkin ibu rengkuh, hati wanita bisa sakit dan sembuh karena pengaruh wanita di dekatnya.
"Ibu doakan kamu sehat dan pulih kembali, Ibu doakan kamu sama Bas panjang umur dan diberi amanah yang sebaik-baiknya amanah, Ibu doakan dari hal ini kalian kuat dan semakin utuh rumah tangganya, ya Ais, ya ... down boleh, tapi masa tega down terus, suaminya siapa yang siapin bajunya, masakin telur kalau pagi, hem?"
"Ibu, ah!" Aisyah jadi tertawa sambil menangis.
Baskara geser tubuh kecil Shafiyah, dia angkat dan dudukkan di pangkuannya, melingkarkan tangan ke sepanjang perut langsing adiknya itu, dan menyimpan dagunya di bahu kanan Shafiyah.
__ADS_1
"Kakak jangan nangis di sini ya, bajuku baru, belum pamer ke ayah!"
Astaga!