Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Gara-Gara Shafiyah


__ADS_3

"Siapa, Yanda?" Aisyah sibakkan seragam tidurnya, masuk ke balik selimut, dingin malam ini.


Baskara tunjukkan nama Saka yang terpajang di ponselnya itu, seketika Aisyah tersenyum, tahu apa yang sedari tadi suaminya tunggu, ucapan selamat dari adik ipar lelakinya itu.


Wajah murung itu berubah cerah sekarang, selain menunggu ucapan dari Saka, dari ucapan itu Baskara bisa mengontrol kondisi adiknya, meyakini Saka bersama Nakula baik-baik saja.


Walau mereka tak memberi kabar pada pasangan, tapi sesama lelaki, mereka membagi kabar itu, bahkan Aisyah lebih sering mendengar kabar dari adiknya dibandingkan sang suami, atau mungkin dari ayah langsung.


"Dingin ya?"


"Iya, sampai kakiku gemetaran dan dingin, mau hujan sepertinya, Yanda."


"Sini dekat sini, kamu dipeluk saja biar hangat!"


"Hmm, sudah tidak bisa diajak pelukan dedeknya, kehalang perut!" Aisyah terkekeh setelahnya, tidur miring lama dalam pelukan pun tidak enak sekarang, dia lebih sering memeluk guling khusus ibu hamil dibandingkan Baskara.


Tak kurang akal, Baskara letakkan tangannya di atas perut itu, dia putar lembut dan menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Aisyah, mencium aroma khas di sana sampai tak bersisa


Aisyah kecup kening itu, banyak sekali cara agar mereka menjadi dekat meskipun banyak halangan yang seolah endak memisahkan keduanya.


Berbaring terlentang, melihat ujung kakinya saja sekarang dia kesusahan, terkadang harus mengeluh karena anaknya begadang dan membuat gerakan di dalam perut, membuat bentuknya berubah-ubah dan sering Aisyah memekik sakit.


"Nda, kenapa belum tidur?"


"Eheheheheh, lagi mikirin nama dedeknya." cengar-cengir. "Yanda belum siapin dia nama?"


Baskara bergeleng, memang belum dia siapkan, justru yang dia pikirkan itu besok mau belanja apa saja untuk keperluan calon anak mereka itu, masih banyak yang harus dia dan ibu beli karena di rumahnya masih benar-benar kosong.


Dia usel gemas lagi bahu ibu hamil itu, mengusap perut sampai yang punya geli sendiri, anaknya di dalam sana sontak merespon dengan tonjolan di salah satu sisi perut, Aisyah merintih lirih sambil tersenyum.


"Iya, nanti ke masjid sama Yanda ya, jalan bareng ya, minta beli sarung sama peci ke Yanda, yang bagus Yanda!" ujar Aisyah sambil menenangkan perutnya, yang di dalam sana mulai menendang-nendang.


Baskara terperangah, dia pandangi bagian yang menonjol itu, lalu dia sentuh dan usap sedikit, senyumnya mengembang saat Aisyah merintih lagi karena tonjolan itu berpindah ke sisi lainnya.

__ADS_1


"Ssssstt, iya nanti Yanda yang belikan sarung sama pecinya, kita kembaran, Yanda gendong ke masjid atau mau jalan bareng juga boleh, Yanda janji!" ujar Baskara bergantian, barulah tendangan di dalam sana berhenti, mereka berdua tertawa bersama. "Bisa gitu dia, Nda, hem?"


"Dia mau diajak ngobrol sama kamu, tapi biasanya kalau aku sudah tidur, jadi kebawa tidur, aku kira dia nendangnya di mimpi, eheheheheh ... Ya, Nak nanti ajak Yanda kalau lupa tidak ke masjid ya," jelasnya.


Ciuman bertubi-tubi Baskara berikan pada calon buah hatinya itu, memilih tidur sambil mendekatkan wajah ke perut itu dibandingkan dengan yang mempunyai perut, mau tidak mau Aisyah harus merasakan ada dua anak di perutnya.


Sedang, di kamar lainnya, yang baru menikah masih duduk bersandar di bahu ranjang, memandangi ponsel yang baru bisa menampilkan wajah sang suami di seberang sana.


Shafiyah pamit sejenak ke kamarnya setelah memastikan ayah dan ibu terlelap, dia tahu suaminya mempunyai waktu luang hari ini hingga mereka bisa melepas rindu bersama.


"Ayank sama kak Saka?"


Nakula bergeleng, "Dia di kamarnya, cuman kita memang satu bangunan, mungkin masih kerja ini, kita masih standby, Shaf."


"Jangan lupa makan ya, terus tidurnya yang teratur, memang padat sih, tapi kalau ada waktu buat tidur ya," ujar Shafiyah lembut.


"Iya, kamu pindah ke kamar ini, terus ayah bagaimana?"


"Ayah sudah tidur, aku minta ibu geser, jadi biar tangannya ayah tidak merasa kosong, ada ibu di sana, eheheheh, nanti aku ke sana lagi kok, kalau tidak, pasti pagi ayah cemberut, kecuali kalau ada Ayank di sini. Kangen!"


"Bahas anaknya kak Bas, terus ada yang kasih ide nama buat jagoan kak Bas itu, ada juga yang minta kak Bas langsung bikin anak lagi setelah satu bulan lahiran, ahahahahaha, langsung kesambar petirnya kak Bas mereka, ada saja sepupu yang gitu, apalagi istrinya mas Reno, komennya paling panjang ...."


Nakula pandangi wajah gemas bak boneka hidup itu, mengoceh ke sana-sini dengan mimik wajah yang berubah, rambut coklat berponi yang ringan dan terbang-terbang terkena kipas angin kecil, ditambah lagi bibir mungil meliuk-liuk menggugah selera.


"Ayank, kamu perhatikan aku tidak?"


"Perhatikan, Shaf. Ini aku lagi lihatin kamu, wajah kamu, bibir kamu, rambut kamu, gaya kamu, -"


"Mau lihat ini?" Shafiyah tarik ke atas kaosnya, menampilkan dua buah kesukaan suaminya, yang terkadang menjadi pegangan kehidupan keduanya setelah menikah. "Mau tidak?"


Glek,


Siapa yang akan menolak kalau istrinya berinisiatif menyuguhkan hal itu, Nakula memang tak mengangguk, tapi matanya terbuka lebar dan menelan saliva berulang kali, berkedip pelan seolah ada di depannya tanpa pembatas, ingin dia habiskan.

__ADS_1


"Sudah, aku tutup ya, tutup ya?"


"Jangan!" Nakula tunjuk. "Jangan cuman kaosnya, bungkusnya juga dibuka, Shaf!"


Eh, mau lihat utuh rupanya, bukan sekadar bagian atas yang mengembang.


Shafiyah turuti apa yang Nakula mau, dia buka pengait di punggungnya, begitu terlepas seakan bola mata Nakula ikut terjatuh dan bergoyang mengikuti irama yang di sana.


"Aku mau pulang, Shaf!"


"AKU MAU PULANG!"


Waduh, Shafiyah kelabakan sendiri, lucu kalau di medan kerja sana, mendadak suaminya meminta kabur dan pulang hanya karena ingin berpegangan pada gunung kembar kokoh itu.


Mau dia tutup, yang di sana tidak rela, mau dia buka terus, yang di sana blingsatan mau pulang.


"Ayank, sudah ya, hoaaaaaam ... aku ngantuk!"


"Belum, aku belum puas melihatnya, Shaf!"


"Heh, nanti kalau pulang, lihat sepuasnya!" Shafiyah endak memakai bungkusan itu lagi, tapi lagi-lagi ditahan. "Kenapa?"


"Kasihan dia sesak di sana, Shaf!"


"Iya, nanti kalau Ayank pulang, kita beli yang lebih besar barengan ya," balas Shafiyah berjanji.


Nakula mengangguk, "Aku yang bantuin kamu nyobain nanti!"


Loh,


"Tidak pakai dicoba, Ayank. Kan, ada ukurannya, langsung diambil dan bayar saja, coba di rumah, oke!"


Gluk,

__ADS_1


"Iy-iya, aku mau pulang, Shaf!"


Waduh, ampun kak Saka. Shafiyah.


__ADS_2