Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Ingin Serakah


__ADS_3

"Ayah, Ayah, Ayaaaaaaaahh!"


"Ayah, bajuku baru!" imbuhnya.


"Hem."


Ayah tangkap tubuh kecil Shafiyah, dia gendong sekalian kembali ke ruangan Aisyah, ibu sudah kalah kalau seperti ini, semua milik Shafiyah, termasuk kedua anak lelakinya, bergantian menggoda Shafiyah sampai ayah yang geram.


Senyuman dan usapan tangan ayah di kepala Aisyah membuat gadis itu merasa lebih baik, ada sosok yang dia tuakan dan begitu mendukungnya, bahkan ayah berulang kali menguatkan suaminya.


"Jangan patah semangat, ingat itu!" ujar ayah.


"Iya, jangan patah semangat, nanti buat yang banyak sama Bas, bilang sama Ayah biar kerjaannya dikurangi!" ibu melirik ayah sambil menjulur lidah, meledek suaminya. "Ahahahahah, iya ampun!"


Aisyah ikut tertawa, pasalnya tidak ada kata libur untuk suaminya, sekalipun lelah juga akan tetap begadang, namanya laki-laki seusai penat di luar, butuh yang menyegarkan di rumah, ayah sudah membuktikan dan menjalani itu.


Baskara dekatkan wajahnya, Aisyah berbisik meminta sesuatu dan mengatakan hal yang membuat Baskara tersenyum, perawat yang memeriksa cairan infus terkesingkap, hampir salah memutar kran selang tadi.


Hup!


"Kakak, mau apa?" Shafiyah berada di dekapannya.


"Bilang sama ayah biar bawa ibu ke unit, kasihan ibu lelah pasti!"


"Oh, ibu mau ke unit? Terus, kak Saka sama ayah?"


"Bilang makanya, biar mereka di sana juga, kamu juga. Kakak yang jaga kak Ais sendirian, mau berdua dia." bisik Baskara.


Shafiyah meradang, bukan marah, tapi meradang karena bisikan itu, malu sendiri dan mendukung.


Dia ikut berbisik, "Kakak tidak membuat keponakan di sini, kan?"


"Heh, anak kecil!"


"Ahahahahahah, aku ajak ayah dulu ya, bye!" Shafiyah cium pipi Baskara sebelum beranjak lepas dan pergi ke ayahnya.


Menjadi kakak dari boneka hidup seperti itu rasanya tidak mau jauh, kalau ketemu ingin memeluk saja.


Inginnya masih ada di rumah sakit, tapi usia menentukan semuanya, walau berkata kuat, tetap saja wajah lelah itu tak bisa dibohongi, Aisyah harus merelakan hiburannya bersama keluarga berganti dengan sepi, dia masih menginap di sini, masih di rumah sakit yang sama dan mengingatkan dia akan luka itu.


"Mau makan buah ini?" tawar Baskara, dia sudah membawa satu potong kecil.


"Tidak, itu pasti asam."


"Mana ada yang asam, ini manis. Cobalah!"


Aisyah terima, dalam sekejap wajahnya berubah kecut, buah itu asam, dia hanya berhasil dirayu suaminya saja tadi.


Baru ini Aisyah lihat suaminya tertawa lagi, sejak dia masuk rumah sakit, wajah yang biasanya datar dan kadang dingin seram itu tak berubah dari titik cemas yang paling puncak.


Aisyah usap pipi bergaris tegas itu, meminta Baskara mendekat, kemudian dia berbisik.

__ADS_1


"Siapa yang berpikir begitu?" Baskara menekuk kedua alisnya.


"Aku."


"Aku jatuh cinta padamu itu sudah sangat lama, kalau aku mau, aku bisa mencari wanita mana saja saat di luar, tapi aku menunggumu, A-isyah." penjelasan terpanjang. "Lihat aku, A-isyah! Apa ada kebohongan di sini?" menunjuk matanya. "Baiklah, aku mengaku, aku ahli berbohong kepadamu dalam satu hal," ujarnya.


"Apa itu?"


"Berbohong tidak mencintaimu, A-isyah."


Hem, Aisyah palingkan wajahnya, suaminya sudah pandai merayu sekarang, walau yang dikatakan Baskara itu kenyataan, tapi yang mendengar bisa tersipu-sipu seperti dirayu saja.


Kunjungan dokter malam membuat Aisyah selamat dari serangan bibir Baskara, beruntung dokter dan perawat itu mengetuk lebih dulu, coba tidak, pasti mereka dibuat sakit mata oleh Baskara.


"Kakak tidur di mana?" Aisyah manyun.


"Di sini, kenapa?"


"Ranjangnya besar loh ini, Kakak tidak mau mengisinya apa?"


Baskara raup wajahnya, kerlingan mata Aisyah memaksanya mau tidak mau segera naik ke ranjang pasien yang infonya kuat dan lebar dari Aisyah, dia berbaring miring, menjadikan tangannya bantal Aisyah.


Jadi, ini yang Aisyah inginkan, tidur bersama di ranjang pasien, pantas tak mengizinkan siapapun ikut berjaga.


"A-isyah."


"Hem?"


"Kakak jangan minta dibuka, nanti kalau ada orang-"


"Sudah tidak ada yang berkunjung, sebentar saja, nanti aku pasang lagi, aku mau lihat wajahmu yang mungil itu, eheheheh."


Ketakutan Aisyah menguap entah ke mana, ulah dan rayuan suaminya membuat dia lupa akan duka yang baru saja tercetak tebal di jiwanya.


Ya, selama Baskara ada di dekatnya, bersamanya dan itu semua tak akan membuat dia takut kehilangan sang suami.


Aisyah miringkan tubuhnya, wajahnya berada tepat di depan dada Baskara, dia cium aroma khas minyak wangi suaminya, begitu menenangkan dan membuatnya ingin dekat terus.


"Kakak bisa tidur?"


"Hem?"


"Kakak bisa tidur?"


"Hem, kamu sulit tidur?" Baskara jauhkan sedikit tubuhnya, menjangkau pandangan Aisyah.


Aisyah mengangguk, "Aku takut begitu aku bangun, Kakak-"


"Tidak ada yang meninggalkanmu, A-isyah. Kau boleh meminjam senjata yang ayah bawa, hukum aku dengan itu, dengar ... kamu yang paling seksi!" suaranya merendah di kalimat akhir.


Aisyah sontak melebarkan kedua matanya, mencubit perut berotot itu hingga Baskara terguncang karena tawa.

__ADS_1


Seksi? Apa itu? Dasar suaminya ini!


***


Perlahan Aisyah ikuti langkah Baskara, tadinya mau memakai kursi roda saja, tapi berbaring lama di rumah sakit membuat Aisyah rindu rasanya berjalan, terlebih lagi berada digandengan Baskara dan berjalan beriringan, membuat semua mata tertuju dan iri kepadanya.


Bolehkah Aisyah serakah dalam hal ini, soal suaminya?


"Apa, A-isyah?"


"Jangan jauh-jauh!"


"Cuman setengah langkah, siapa yang jauh?"


Ekhem!


Keduanya menoleh, wajah Saka sudah masam, menjadi jomlo memang keunggulan para pria, terlebih lagi tak melirik gadis manapun, hanya saja tetap gemetar kalau disajikan tampilan yang seperti ini, ada yang bermesraan di depannya.


Baskara minta Saka berjalan lebih dulu, cukup dengan kode mata saja, Saka akhirnya berjalan lebih dulu, menyusul Shafiyah dan ayah yang sudah melangkah lebar-lebar.


Tidak, lebih tepatnya Shafiyah terus mengomel karena langkahnya kecil sendiri.


"Ya?" Baskara menoleh lagi.


"Gandengannya jangan dilepas, Kak!"


"Tidak ada yang melepas, sini!" Baskara paksa menempel pada lengannya, Aisyah cekikikan seraya bersembunyi.


Dia tahu, dokter pun sudah mengatakan hal ini pada Baskara, wanita akan cenderung kehilangan rasa percaya diri setelah keguguran, terlebih lagi masih hamil anak pertama.


Untuk itu, Baskara harus sabar dan memaklumi perubahaan Aisyah padanya, semata-mata Aisyah ingin meyakinkan dirinya sendiri akan kesetiaan Baskara, hal seperti ini sudah banyak terjadi.


"Aku yang pencet tombolnya," cetus Aisyah.


"Iya, A-isyah sayang."


Aisyah senyum-senyum, tahu di lift itu ada dua gadis lainnya, sementara Baskara seorang diri yang laki-laki.


Cemburu, merasa ada yang mengancam kepemilikannya.


"Maaf, istriku mau lewat, bisa kalian beri jalan?"


Upsss!


Aisyah melangkah dengan anggunnya, dia mau membusungkan dada karena diakui suaminya di depan dua gadis cantik itu.


"Kakak," panggil Aisyah.


Baskara mempercepat langkahnya, "Iya, A-isyah sayang?"


Aisyah tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2