Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Siapa? Side Story Bik Nur


__ADS_3

Emuah,


"Aku kerja dulu, jaga diri baik-baik, ingat kalau ada apa-apa langsung bilang ke orang terdekat atau hubungi suamimu, Nda!"


Aisyah mengangguk, dia balas pelukan suaminya itu, mulai hari ini telah sah kembali pada kehidupan nyata yang sesungguhnya di mana akan ada benda menakutkan di saku suaminya, bukan membawa cangkul atau karung untuk pari, melainkan persenjataan lengkap.


Mobil hitam itu melesat ke luar rumah, menyisakan tiga orang, Aisyah dan kedua maidnya.


"Mau muntah, Non?"


Aisyah terkejut, dia tersenyum kemudian, selama dua bulan tidak ada yang memanggilnya nona di sana, bahkan dia tinggal sendirian di rumah sederhana itu, yang datang hanya anak kecil yang memanggilnya bunda dan saudara terdekat.


Bik Nur terlupakan sama si mamang, sepertinya Aisyah harus beradaptasi lagi.


"Dari siapa ini, Bik?"


"Dari temannya Non itu, siapa itu yang lenggak-lenggok nyebelin?" kan lupa sendiri, dia yang menerima saat Aisyah tidak ada.


"Siapa? Teman siapa?" sedikit asing dengan sebutan teman, pasalnya sejauh ini predikat teman sangat asing di kamus Aisyah, setelah menikah apalagi, suaminya itu teman satu-satunya. "Oh, kak Sena sama mbak Gina, dikasih ini kapan?"


"Satu bulan lalu, lupa itu acaranya apa, Non. Cuman yang makanan Bibik makan sama mamang, tinggal souvenirnya saja."


Aisyah manggut-manggut, kemungkinan besar ini syukuran kehamilan seperti yang orang desa lakukan, ada bingkisan yang dikirim ke keluarga dan sanak saudara, lalu ke tetangga dekat. Ternyata dua orang itu masih ingat mereka, Aisyah tersenyum, dia kira sudah lupa dan menganggap tak ada ikatan lagi.


Sesuai permintaan suaminya, setelah Baskara pergi, dia hanya mencuci pakaian dalam dan menjemurnya, selain itu menjadi tanggung jawab bik Nur, kecuali kalau benar-benar Aisyah ingin masak dari olahan tangannya sendiri, namanya orang ngidam tak akan bisa ditolak.


"Permen asemnya mana ya kemarin?" gumam Aisyah sambil membongkar tas slempangnya. "Kemarin masih ada banyak kok, enak buat kalau mual, mana ya?"


Bongkar, bongkar dan bongkar, matanya berbinar kala menemukan satu bungkus permen asam dari mertuanya itu, solusi bila mual datang berulang kali, sampai matanya menyipit karena terlalu asam.


Huwek,


Masih mual rupanya, mulut menikmati permen, tapi pikiran ke baskom untuk muntahan, tidak bertemu sama sekali.


"Non, tuan telfon!" bik Nur buru-buru berlari masuk kamar.


Aisyah terima, padahal ponselnya ada di sini, dekatnya, tapi Baskara justru menelpon di rumah.

__ADS_1


"Ya, Yanda apa?"


Glek, Yanda siapa? Bik Nur.


"Iya, enakan memang pakai itu, tapi sepertinya sesuai Ais mikir apa deh, tadi barusan coba, tetap saja mual, lihat baskom soalnya, bawaannya muntah. Ibu kasih tahu kamu?"


Diam sejenak,


"Hemm, iya, kalau Yanda mau beli tidak masalah, tapi kalau aku coba carikan yang lain, takutnya bosan. Ehehehehe, anaknya belum mau apa-apa, bundanya yang banyak maunya," ujarnya sumringah.


Beneran tuan Baskara kan ya, lah kok Yanda, aku tidak salah dengar suaranya kok tadi! Bik Nur masih perang batin soal panggilan Yanda, panda itu.


"Iya, tidak ke mana-mana, aku di kamar ini sama Bibik, mau nonton tv sama lihat toko dari hape," ujarnya lagi. "Hati-hati ya, salam buat ayah dan teman kam-" wajah Aisyah terkejut. "Ahaahahahah, iya, tidak boleh kirim salam ke laki-laki lain, maaf-maaf, ahahahahah, sampai ketemu nanti ...."


Tanya tidak siapa Yanda, tapi kalau bukan tuan Bas, siapa lagi? Bik Nur edisi debat dalam hati.


Tangan Aisyah menggantung memberikan gagang telfon itu, masih dengan penuh tanda tanya bik Nur menganga, belum mengambil apa yang Aisyah serahkan.


"Bik Nur!" sedikit berteriak.


"Eh, iya, Non?" langsung duduk di depan Aisyah, memeriksa apa yang terjadi pada anak tuan dan nonanya.


"Eh, tidak, Non. Maaf, sini Bibik ambil silakan istirahat, Non!" bik Nur mundur-mundur malu, tapi dia penasaran, nanti akan dia periksa lagi, dua bulan tak bertemu membuat sebagian memorinya terhapus.


Nda, Yanda, siapa lagi itu? Aaarrrggghhhh!


***


"Nda, Nda, Nda," panggil Baskara berulang kali.


Siapa Nda? Bik Nur.


"Iya, ada apa?" sahut Aisyah.


Oh, Nda itu nona.


"Besok aku lembur, pekerjaanku banyak, aku juga harus ke kantornya Noah yang kapan hari bertemu sama kamu itu, masih ingat kan?"

__ADS_1


Aisyah masih ingat itu, dia lantas mengangguk.


"Kamu jangan nunggu aku pulang, tidur saja lebih dulu, aku pasti mengerikan kalau kamu lihat malam-malam," tuturnya.


"Yanda ngapain memang di sana?"


Ah, ini saatnya siapa Yanda!


Baskara berikan melon potong pada Aisyah, dia duduk di depan istrinya itu.


"Yang kemarin ada kecurangan itu, pasti debatku lama, kalau ada yang melawan dan kabur kan harus aku kejar, pasti ada luka-luka, Nda. Makanya, kamu tidur dulu saja, nanti syok!"


Oh, Yanda itu tuan Bas, ya ampun di desa berubah semua panggilannya, untung tidak jadi Pi-sapi!


Aisyah ulurkan tangannya, menjangkau wajah sang suami yang penuh keyakinan. Kalau sudah kembali bekerja seperti ini, Aisyah harus siap melihat suaminya pulang dengan pakaian lusuh dan kusut, belum lagi ada bekas darah atau apa.


Bertemu dengan orang atau oknum yang curang memang bukan hal mudah, mengejar mereka yang berniat kabur pun banyak resikonya, sampai Aisyah bila memegang mobil kerja suaminya kerap berdoa agar selama memijak gas itu suaminya dilindungi.


"Ingat ya ada anaknya di sini, jadi benar-benar apa yang Yanda lakuin harus dipertimbangkan lebih dulu, jangan asal tertarik emosi!"


"Iya, aku mulai hati-hati, ada kecoa di ruang kerja saja, aku rela nunggu dia ke luar, Nda, daripada aku semprot. Ingat ada anak, ahahahahah-"


"Hush, jangan ketawa keras gitu, nakutin!"


Baskara menutup mulutnya, beringsut mendekat, waktunya menjadi sosok manja dan lemah ya hanya di rumah, tabir yang tak bisa dilihat dan diketahui relasi kerja, terutama orang yang kerap berbuat curang, hal itu tak membuatnya diremehkan.


"Nda, sepertinya ada janji yang terlupakan, ada yang bilang sepulang dari desa dan sudah di rumah dengan tenang selama dua hari, ada hadiah buat aku, ada yang bilang waktu itu, kal-" satu tangan Aisyah membekap mulutnya.


"Iya, nanti mau tidur, Ais kasih!" ujar Aisyah menahan malu. "Mau Ais pakai baju yang mana?"semakin malu.


Baskara turunkan tangan itu, "Tidak pakai tidak masalah, aku lebih muda melakukannya lagi dan lagi!"


Glek, tolong ada janda di sini! Bik Nur melipir menjauh.


"Ada gaya baru, Nda, buat ibu hamil." eheheheh, memicing pada Aisyah.


"Ssssst, nanti saja dibahas!" ada maidnya di sini.

__ADS_1


****


Yang kemarin pesen segala ukuran kaca mata kuda, Bas kirim lewat udara, eh pakai kuda, biar dicoba dulu sama kudanya, ehehhehe.


__ADS_2