
Bas!!
Ayah lempar gulingnya, dia kira ibu yang berbaring di sebelahnya, tidak tahu kalau titisan garang yang sangat mirip dengannya itu.
"Mana ibumu?"
"Itu lagi nonton drama, ahahahaha. Aku di sini karena khawatir, Yah. Aku pulang kerja, tidak melihat Ayah di ruang tengah, kata Ibu seharian istirahat dan minum obat, apa masih sakit?"
Ayah bergeleng, dia kembali berbaring, beruntung tak ada tembak di sini, dia bisa menembak kepala anaknya tanpa sadar karena takut tadi.
Takut istrinya berubah jadi laki-laki.
Baskara tawarkan pemeriksaan lanjutan pada ayahnya, tapi seperti biasa pria itu menolak dan memilih pemeriksaan yang sudah ada, itu hanya sakit yang terkadang kambuh saja dan bila sudah kambuh, ingin istirahat terus.
"Ya nanti aku sama Saka yang jalanin tugasnya, Ayah kan bisa di rumah menemani Ibu dan Sofi, kami bertiga bekerja, Aisyah di rumah sana, nanti kalau Saka menikah, istrinya di luar negeri, Kalian bertiga di rumah sambil menunggu kami pulang!"
"Mungkin ini efek terbiasa kerja, begitu berhenti rasanya badan sakit semua, makanya Ayah kira lebih baik bekerja. Lalu, kenapa ada di sini, tidak cukup bertanya pada Ibumu saja?"
Baskara menoleh pada ibunya yang asik cekikikan, kalau ada Shafiyah, pasti dua orang itu akan memecah keheningan kamar ini.
"Aku khawatir," ujarnya berkaca-kaca.
"Anak bodoh!" ayah mendengus. "Apa pikiranmu sedangkal itu tentang orang sakit, hah? Lagipula, kalau memang sudah waktunya, mau aku atau Ibumu, atau mungkin kau sendiri, pasti akan pergi, nanti kita bertemu lagi di sana, ehehehehe."
"Kenapa Ayah berkata begitu, sudah siap mati?"
Plak!
"Anak kurang ajar!" balas ayah kesal, menepuk Baskara berulang kali sampai aduan itu terdengar ibu, wanita itu beranjak ikut ke ranjang, ke samping ayah yang langsung dijadikan bantalan kepalanya. "Dia kira aku mau mati, Jingga!"
Ibu tarik telinga ayah, bisa-bisanya bercanda dalam hal seperti itu, mana menepuk anak lelakinya lagi, sampai ayah minta ampun, baru ibu lepaskan tangan dari telinga lebar itu.
"Bagaimana kalau Ibu yang duluan?"
Ayah sontak mengangkat kepalanya, memandang ibu utuh, matanya pun melotot tidak terima.
"Mana bisa begitu, aku tarik kamu kembali, enak saja pergi duluan, aku tidak mau!" ujar ayah tegas.
"Ahahahahahaha, lihatlah, Bas. Begini kalau berdua saja, coba kalau banyak orang atau ada Sofi, sudah tidak dipanggil Ibumu ini, lupa dia!"
"Ayah melupakan Ibu?"
Ayah berdecak, "Heh, bagaimana aku bisa lupa, yang aku pakai saja pilihan dia, kalau dia tidak ada atau aku abaikan, otomatis ke luar tanpa baju yang tepat!" jelasnya sambil kembali rebahan di pangkuan ibu. "Kepalaku, Jingga, sakit ...."
__ADS_1
Baskara terkekeh melihat ibunya yang gemas pada sang ayah, sudah sama-sama berumur, masih saja bisa bercanda, bahkan membuat anak-anak mereka iri dengan suasana dan kedekatan yang mereka ciptakan.
Berulang kali ayah mengeluh, entah benar atau hanya menggoda ibu saja, dan berulang kali juga ibu menuruti apa yang suaminya mau.
Baskara selalu menjadi saksi, bahkan dia berjanji akan menyaksikan semua itu kelak di hari di mana mereka ditemukan kembali bahwa keduanya tak pernah salah dalam mendidiknya meskipun masih banyak kekurangan pada diri mereka.
"Bu, aku ada di sini, di dekatmu, jadi kalau ada apa-apa, katakan saja!" Baskara lirik pria yang sudah terlelap kembali itu. "Untuk urusan ayah juga begitu, jangan sungkan berbagi denganku, dia juga ayahku, Bu."
"Iya, mana pernah Ibu sungkan sama kamu, doakan saja ayahmu sehat dan ini hanya sekadar dia adaptasi dengan kondisi rumah, terbiasa kerja, ototnya mendadak diajak santai, jelas terkejut, kita pasti upayakan yang terbaik, doakan ya!"
Dia peluk ibunya sebelum kembali ke kamar Aisyah, ibu hamil itu pasti susah payah terlelap hanya karena tak ada pakmil didekatnya.
Kekhawatiran Baskara juga ibu rasakan, terlebih dia adalah seorang istri yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama ayah, disaat anak mereka jauh, yang ada bersama ayah adalah dirinya, keluhan ayah sudah seperti oksigen baginya.
Namun, hati tetap berprasangka baik, takdir Tuhan tak ada yang tahu.
"Kenapa bangun lagi?"
Ayah tersenyum, "Tadi tidak ada kamu, ganti Bas. Sekarang sini, aku meluk siapa kalau Sofi dan kamu tidak ada, Jingga?"
"Astaga, tua-tua keladi ini!" tak urung ibu naik ke ranjang. "Jangan gini di depan Ais dan Nakula loh, malu!"
"Ahahahaha, apa kita punya malu-auh!" dijewer ibu lagi. "Ngga, memangnya calonnya Saka benar mirip istrinya Reno, si Disa anak tiga itu kan?"
"Kenapa memangnya?"
"Tidak, paling tidak di sana Saka tidak kesepian, pulang kerja ada yang sorak hore, kamu tahu kan ceritanya Reno, pusing-pusing, pulang disambut istrinya, lenyap sudah, soalnya Si Disa anak tiga itu bawa masalah baru yang lucu, ahahahahah," jelas ayah, dia pun tertawa.
"Yang aku dengar begitu, mau diajak ke sini bulan depan, coba kamu introgasi dia!"
"Aku, dia takut nanti ketemu aku, Ngga."
"Memangnya pernah tahu Si Disa anak tiga itu takut ketemu kamu sama Bas?"
Tawa ayah meledak karena jawaban ibu itu, benar adanya, hanya istri Reno menjadi satu-satunya wanita baru di keluarga besar ini yang suka melawan Baskara disaat semua orang takut, ada saja yang dia bicarakan hingga pada ayah pun sama seolah dia menganggap tak ada manusia yang berbeda di dunia ini.
Jangankan pada ayah yang jarang bertemu, pada Baskara yang sudah terkenal akan keras dan ketusnya dulu, Disa masih maju menghadapinya.
Kalau begitu, bisa dibayangkan oleh ayah bagaimana calon anak lelakinya itu.
***
"Yanda kebanyakan pikiran ini, jadi pusing semua, nanti kalau Yanda pusing, satu rumah ikut pusing!"
__ADS_1
"Lah, kenapa bisa begitu?" Baskara minta dipijat lagi, meniru gaya ayahnya pada ibu tadi.
"Iya, kan Yanda yang kerja dan tanggung jawab di sini, Nakula masih Yanda arahin, kalau Yanda sakit, siapa yang arahin, Saka juga tidak lama di sini, jadi harus sehat, dedeknya biar sehat juga!"
Baskara cium perut itu, bisa saja membuat istrinya banyak bicara, mana saat hamil ada saja yang dimau Aisyah, belum lagi kalau marah, lebih banyak yang dikatakan sampai telinga Baskara panas.
"Kita balik ke rumah lusa, tidak apa kah?"
"Yanda mau bantuin Nakula dan ayah dulu?" balas Aisyah, dan Baskara mengangguk di sini. "Ais tidak masalah, ada ibu di sini, bisa masak-masak, ada teman bicara, aku ikut Yanda saja."
Baskara gosok-gosokkan ujung hidungnya pada perut buncit itu.
Duk,
"Aduh, Yanda!"
"Gemes!!"
"Jangaaaann, kamu ini, sakit dipatok-patok gitu, Yanda!"
"Ahaahaahahahah, jadi tidak ingin tidur, mau itu, Nda," bisiknya.
Hush!
Mau menolak, sudah ada di bawah kendali, entah secepat apa Baskara melepas bajunya sampai terongok di lantai dan kembali tertutup selimut, hanya kepala mereka yang terlihat.
Anggap saja dua pasangan yang tengah membuat cucu kali ini, satu cucu asli, sedang satunya menambah nutrisi pada cucu yang sudah tumbuh. Anak tertua yang tak mau kalah, keturunan penuh ayahnya, hanya kalah pada tatapan ibu saja.
"Dia sudah kenal Yandanya belum, Nda?"
"Jangan aneh-aneh, sudah berulang kali dijenguk ini!"
"Ahahahahahha, kan kamu sih yang mancing aku buat gemes, terus panas!"
"Sssssttt, kamar sebelah nanti dengar!" Aisyah bekap mulut suaminya. "Yanda, sudah!" ya ampun, pria satu ini, kalau dilarang akan semakin menjadi-jadi. "Yandaaaaaa, sudah, dedeknya tidak mau dijenguk!"
"Mau, ini boleh masuk, tok-tok-tok ...."
***
Aisyah : BUCIILLLLLLL
Bucil Aaaaaarrrrrrrrgggghhhhhhhhhhhhhhh!!, bukan aku!
__ADS_1