
Grep!
Aisyah lapisi lagi tangan yang tertaut itu, percikan amarah baru saja dia lihat saat beberapa orang yang mengetahui siapa dirinya bergunjing membahas pernikahan yang batal itu, Baskara endak membalasnya.
"Itu, namanya Aisyah, dia membatalkan pernikahan sepihak!"
"Oh, jadi dia menikah sama sepupunya sendiri, dasar cuman main jebakan saja!"
"Karena dia, Gina sempat digantungin sama Sena, padahal sudah berkorban banyak waktu Sena terpuruk ditinggal calonnya menikah sama laki-laki lain!"
Suara-suara sumbang begitu mengganggu Baskara, akan lebih baik kalau Aisyah tidak ikut dengannya seperti keputusan gadis itu waktu lalu, entah kenapa hari ini Aisyah berubah pikiran.
Sumpah demi apapun, kalau saja Aisyah tidak melapisi tangannya sekali lagi dan bergeleng lemah padanya, Baskara jamin mulut orang-orang itu berubah lebih lebar dari sebelumnya.
"Kamu yakin ikut memberi selamat?" Baskara pastikan lebih dulu. "Aku tidak akan memaksanya."
Aisyah mengangguk, mereka berjalan ke depan, mata Sena dan Gina sudah tersentak melihat kehadiran Aisyah di pernikahan ini, Gina geram karena Sena pastilah berubah pikiran dan tingkah, melihat Aisyah datang membuat Sena teralihkan, matanya tak melepas Aisyah sama sekali meskipun Aisyah bersembunyi di balik Baskara dan menutup sebagian wajahnya.
Mata Aisyah itu indah, siapa yang bisa melupakannya? Ke marilah, Aisyah! Sena.
Aisyah sedikit menahan langkah Baskara begitu mereka endak naik ke pelaminan, dia ingin berbisik, tapi Baskara kira itu hanya sebuah ketakutan, dia paksa dan tarik sedikit agar Aisyah mau melangkah cepat.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga bahagia."
Baskara yang berkata, tapi pandangan Sena tertuju pada Aisyah, setelah membalas jabat tangan Baskara, Sena ulurkan tangannya ke depan Aisyah.
Tangan itu dibiarkan menggantung, kedua tangan Aisyah masih berada di tangan kiri Baskara, memegang erat di sana.
"A-isyah," panggil Baskara bersuara rendah.
Aisyah baru melepaskan tangannya, memberikan Sena ucapan dengan menakupkan kedua tangannya, lalu dia angkat setinggi dada.
"Selamat atas pernikahan Kak Sena dan Mbak Gina, semoga Allah memberkahi kalian berdua dan menjaga pernikahan ini selamanya."
Dia turunkan tangannya dan kembali menggenggam tangan kiri Baskara seperti tadi, barulah ketika Baskara berdiri di depan Gina, Aisyah mengulurkan tangannya, menjabat tangan Gina yang tampak setengah kesal padanya, tapi tersenyum pada Baskara.
Sama, Baskara berlaku sama, ketika Gina mengulurkan tangannya, walau tidak memberikan tangan penuh hormat seperti Aisyah, anggukan dari Baskara itu menjadi balasannya.
"Aisyah," panggil Sena saat kedua tamu itu endak turun.
Aisyah menoleh, begitu juga dengan Baskara.
"Ter-terima kasih sudah datang, terima kasih untuk doamu. Sampai bertemu lagi, Aisyah!"
"Kamu bilang apa sih?!" protes Gina.
Tidak ada jawaban, hanya decakan Baskara dan Aisyah yang langsung berbalik, berjalan kembali mengikuti suaminya.
__ADS_1
Di sudut lainnya sudah ada keluarga yang menunggu mereka, ibu dan Shafiyah sudah girang melihat Aisyah ikut ke acara ini, mereka bahkan sudah menyusun rencana yang tentu saja mendapatkan persetujuan dari ayah.
"Ekhem, jadi begini kalau ke luar rumah, bergandengan terus, Kak Bas takut Kak Ais diambil orang ya?" goda Shafiyah.
Baskara sontak melepaskan genggamannya, malu.
"Aaaah, lihatlah, Bu!" Shafiyah menarik Aisyah ke dekat mereka. "Anaknya Ibu ini sudah berani bawa Kak Ais ke luar rumah, diajak bertemu banyak orang, bergandengan tangan lagi. Oh ya, jantungnya Kak Ais berdebar tidak?"
Heh, bertanya apa Sofi ini?
Aisyah merona malu, walau pipinya tidak terlihat, bisa ditebak dari matanya yang mencari pandangan lain, dia malu.
"Sudah, jangan ganggu Kakakmu lagi, lihat yang satu malu, yang satunya merah mau marah. Peluk Ibu, Bas!"
"Di sini? Ibu mau aku memeluk Ibu di sini?" Baskara tidak percaya.
"Iya, mau di mana lagi, di parkiran?" Ibu maju, dia suka sekali menggoda anaknya. "Sini, peluk!"
Mau tidak mau, Baskara lakukan hal itu, di depan umum dia seperti sudah bertahun-tahun tak bertemu ibunya saja, belum lagi Shafiyah yang meminta juga, beruntung Aisyah tidak begitu.
Kunci kamar hotel diterima Aisyah penuh akan tanda tanya, Shafiyah dan ibu mertuanya yang memberikan, bahkan ketika Aisyah menoleh pada suaminya, Baskara bergedik tidak tahu.
"Apa ini, Ibu?" tanya Aisyah lembut.
"Hadiah dari kami, sekaligus ayah." jawaban yang membuat orang kaget. "Ini'kan acara pernikahan, dulu Ibu dan ayah selalu panas kalau ada orang menikah, yang lebih panas ayahmu, dia selalu ingin berdua setiap selesai menghadiri acara pernikahan, kami bisa mengalahkan mereka yang menikah malam itu, ahahahahahah-" tidak tahu malu bercerita. "Jadi, Ibu pikir kalian juga harus mencobanya, semalam saja di hotel!"
"Bu, di rumah kami, aku dan A-isyah juga hanya berdua, tidak perlu hotel itu!" sahut Baskara.
Ibu tepuk lengan anaknya itu, "Ahahahaha, suasana di rumah kan membosankan, temboknya itu saja, cari tembok yang lain!"
"Tembok untuk apa?" Shafiyah bingung.
"Ssst, nanti tanya ayahmu!" jawab ibu cepat.
Baskara bergeleng mendengar jawaban konyol itu, ibu memaksa keduanya menerima, mau tidak mau Aisyah bawa kunci kamar hotel dengan logo bintang lima itu meskipun dia tidak tahu apa yang dia lakukan selanjutnya.
***
"Ini kamarnya, Tuan."
Baskara mengangguk, pemberian ibu adalah amanah baginya, kalau dia tak benar-benar datang ke kamat hotel itu, artinya dia telah menyakiti hati ibu, maka dia datang dan mengajak Aisyah ke hotel ini. Lagipula, dia bisa tidur di sofa atau memakai bedcover di bawah.
"Lepas cadarmu, A-isyah!" titahnya.
Heh, Kakak mau apa?
Sambil melepas jasnya, Baskara memerintah sekali lagi, "Lepas hijabmu, A-isyah!"
__ADS_1
Katakan, Kakak mau apa? Aku tahu hal itu, tapi aku takut, Kakak kan belum mencintai aku!
"Ck, Kamu tuli, A-isyah?"
"Ti-tidak."
"Kalau begitu, lepas cadar dan hijabmu!" ulangnya.
"I-iya, Kak."
Cepat, Aisyah lepas. Masih berdiri di dekat pintu, dia lepas cadar dan hijabnya, melipatnya rapi dan dia dekap, tidak tahu harus apa malam ini.
Dia akan menyerahkan semuanya atau apa, dia takut, dia tidak mau kalau menunaikan kewajibannya, sedang Baskara hanya terpaksa, bukan karena hati yang sudah cinta padanya.
"Pejamkan matamu, A-isyah, kalau perlu berbalik, aku mau ganti baju!"
"Iya."
Aisyah masih mendekap lipatan hijabnya, dia rasa keberuntungan masih ada, buktinya Baskara tak mengizinkan dia melihat tubuh itu, dia masih aman.
Setelah selesai, baru Aisyah kembali berbalik dan memandang lurus suaminya itu, sebentar lalu dia menunduk, tempat berdirinya pun masih sama.
"Ke marilah!" titah Baskara, Aisyah belum bergerak. "Tidurlah di sini, tidak akan terjadi apapun diantara kita, A-isyah, tidurlah!" dia tepuk kasur itu sebelum berpindah ke sofa.
Aisyah mengangguk, tapi dia bukan berjalan ke ranjang, melainkan ke sofa, berpapasan dengan Baskara.
"Kakak saja yang di kasur itu, sofa ini tidak muat untukmu, biar aku saja."
Kaki menggantung itu pasti sakit, Kak.
"Aku saja yang di sini, kamu di sana!"
"Tidak, aku saja yang di sini, Kakak di kasur sana!" balasnya menolak.
"Sana, A-isyah!"
"Sana, Kak. Ini kecil!"
Baskara raup wajahnya, "Tidur di sana, A-isyah!"
"Tidak mau," jawabnya.
"A-isyah!"
"Kak Bas!" dia angkat wajahnya penuh, memberanikan memandang Baskara utuh, wajah yang halal untuknya. "Ti-tidurlah di sana," ujar Aisyah lembut.
Tidak!
__ADS_1
"Jangan membantahku, A-isyah!" Baskara tunjuk ranjang itu. "Kamu tidur di sana, atau malam ini tidak ada malaikat yang akan mendoakanmu karena aku murka, pilih mana?"
Aisyah bergegas pergi, dia naik ke ranjang itu, menarik selimut dan bersembunyi di balik selimut, memaksa matanya terpejam.