
"Enak, tidak?" Baskara cubit hidung Aisyah, suka sekali menggodanya soal mual dan dijamin dia kelabakan kalau sudah begitu. "Mau yang enak lagi, Nda?"
"Apa, mana ada?" Aisyah lihat suaminya hanya membeli pudding satu tadi, itu pun berlarian agar dia tak sendirian lama-lama.
Emuah,
Eh, Aisyah gigit bibir bawahnya, pria berwajah garang di depannya ini suka sekali bercanda, sudah lunak sekarang, lebih lunak dari yang Aisyah duga.
Mereka gesekan hidung mancung itu berulanv kali, melihat wajah Aisyah dari dekat memang tak membosankan, senyumnya dan porsi wajah cantik yang pas mampu meluluh lantakkan tatanan hati keturunan pria berkuasa satu ini.
Hanya pada Aisyah dan Shafiyah, begitu kira-kira.
"Yanda, Sofi katanya mau ke sini ya, dia chat aku?"
"Sepertinya iya, sama ibu pastinya. Nakula tidak mungkin bisa ikut bersama mereka, dia sibuk di lapangan."
"Eheheheh, yasudah, kan aku sudah baikkan, kasihan kalau mereka ke sini, Yanda." Aisyah mainkan jemarinya di wajah berambut tipis itu. "Ais kapan pulang, Yanda?"
"Sabar, kan baru masuk belum satu hari, sudah mau pulang. Bisa sabar kan ya?" Baskara usap perut membuncit itu.
Aisyah mengangguk seraya menjawab dengan suara anak kecil, membuat keduanya tergelak dan perut itu bergejolak.
Tidak ada kata turun dari ranjang bila memang itu tidak sangat penting, tangan Aisyah terus menahan suaminya, dia belum merasa aman kalau suaminya tidak ada di sini dan dia pegang, ketakutan itu masih nyata.
"Yanda mau kasih nama dia siapa?"
"Kan, belum tahu dia laki apa perempuan, hem." endus-endus pipi istrinya, lebih lembut dari pudding.
"Eheheheh, siapa tahu Yanda sudah siap-siap nama keduanya, jadi bisa dipakai anak kedua juga, eh ketiga, ahahahah."
"Kamu mau hamil berdekatan?"
Aisyah mengangguk, tapi dia kemudian mengangkat kedua bahunya, tidak tahu, dia serahkan pada Sang Pencipta, intinya dia tak akan menolak kalau di rahimnya ada lagi.
Hamil itu kondisi yang sangat diinginkan dan dirindukan kaum hawa, maka dari itu tidak akan dia sia-siakan kalau diberi kepercayaan lagi.
"Yang ini dilahirin dulu, nanti buat lagi sama Yanda!"
"Eheheheh, hmmm, suka kalau disuruh bu-"
Jeglek,
Shafiyah berdecak sebal melihat kedua sejoli yang merasa rumah sakit ini milik pribadi, untung dia keluarga, jadi melihatnya masih bisa menahan diri, coba kalau bukan, sudah mau merangkak ke ranjang saja.
__ADS_1
Hup,
Kalau sudah adiknya datang, tidak ada yang bisa mengendalikan dan memiliki Baskara selain gadis berambut coklat itu, dia langsung meminta kakaknya turun dan duduk di dekatnya.
Sementara Aisyah bersama ibu hanya senyum-senyum, terlebih lagi ibu membawakan makanan dan kue yang menarik perhatian Aisyah.
"Ini dimakan, jangan sampai ikutan sakit!" ibu berikan pada Baskara. "Ini buat menantunya Ibu, harus mau makan juga, Ibu suapin ya?"
"Iya, Bu." Aisyah tersenyum lebar, dia rindu masakan ibunya ini, walaupun masih hitungan hari dan jam.
Hap dan hap, lupa sudah dengan suaminya kalau begini, yang ada hanya ibu dan ibu, mana dia jauh dari mama angkatnya, jadi bersama ibu adalah moment terbaik.
"Ayah tadi bilang kalau Bas jangan keras-keras sama Ais," ujar ibu menyampaikan pesan.
Baskara kerutkan keningnya, "Keras bagaimana? Aku tidak pernah marah padanya, kalau marah juga cuman bercanda, lagipula Ibu tahu kita kaum lelaki kalah dengan kalian, iya kan?"
Ahahahahaha, Aisyah bergeleng mendengar jawaban suaminya, dia memang lebih banyak menang sejak hamil.
Tidak, sejak awal suaminya itu selalu lembut padanya, menjadikan dia ratu yang utuh.
"Mual tidak?"
"Tidak, Bu. Enak sekali, eheheheh."
"Iya, aamiin. Ibu di sini sampai malam?"
Ibu menoleh pada Shafiyah, anaknya itu menunjukkan pesan ayah kalau mereka akan pulang setelah ayah ke sana, pria berkuasa nomor satu itu ingin bertemu menantunya dulu.
"Yanda, nanti jemput ayah di bawah ya, jangan dibiarin jalan sendiri!" Aisyah ingatkan suaminya.
"Tidak sendiri, Nda. Ayah sama Saka dan Pian mungkin," jawab Baskara sambil manyun.
Shafiyah usap-usap punggung kakaknya, sabar mungkin begitu dia berkata lewat sorot mata yang penuh simpati.
"Nakula tadi ikut?"
"Tidak, aku sama Kakak saja, kalau ada dia, aku malu duduk menempel begini!"
"Dasar, peluk sini, belum dipeluk!" Baskara rengkuh, obat letihnya ya satu ini, ibu kecilnya Baskara.
Tak lama dari itu, ayah yang baru saja tiba mengeluhkan sakit kepala dan demam, lantas membuat semua orang di sana panik, membawa ayah sekalian ke unit darurat meskipun orang itu memberontak.
Bahkan, tak mengalahkan Aisyah yang ingin Baskara temani, ayah mau ibu dan Shafiyah ada di dekatnya, dia bisa memaki suster sampai mereka lari terbirit-birit kalau berani melakukan pemeriksaan yang tidak dia sukai, mengambil sample darah, itu yang dia benci.
__ADS_1
"Sebentar, Ayah, tidak sakit, masih sakit ditembak loh!" Shafiyah beri kode agar suster itu mendekat.
"Heh!" ayah endak bangkit, mengalahkan anak kecil yang mau diperiksa.
Ibu tepuk bahu suster, dia yang akan menggantikan tugas itu, lagipula hidup bertahun-tahun bersama tiga pria yang mainan tembak saja membuatnya terbiasa, alat medis sudah berpindah ke tangan ibu, melirik suster agar menyingkir dari hadapannya.
"Jingga, jangan!"
"Jingga!"
"Teriak lagi, aku-"
"Iya, jangan!" pasrah, takut sebelum mendengar ancaman ibu. "Sofi, Ibumu kejam!"
"Cup, sudah, Ayah tenang saja, aku di sini. Diam ya, Ayah manis, Ayah baik-" menoleh pada ibunya. "Ayo, Bu!" bisiknya memerintah.
Usap-usap dan usap, hitungan ketiga langsung jleb.
"JINGGAAAAAAAAAAAAAAA ...."
Aisyah mendekap suaminya erat-erat, suara dari unit bawah terdengar sampai kamarnya, entah dia mimpi atau memang ayah mertuanya itu menelan pengeras suara, suara itu membuatnya takut saja.
Bagaimana bisa yang ahli dan terbiasa dengan luka, menjerit seperti orang awam yang tak pernah kenal alat medis, Aisyah benar-benar tidak mengerti.
"Yanda," panggilnya.
"Hem?"
"Jangan bilang Yanda takut kalau diambil darahnya, takut jarum!"
'Kalau aku takut, tidak mungkin aku pernah menjahit robekan kecil di kulitku, Nda. Kamu kan tahu bekas-bekasnya," jawab Baskara santai. "Saka yang takut soal itu!"
"Saka takut, sama seperti ayah?" Aisyah bekap mulutnya sendiri. Dia peluk erat suaminya, satu tangan meraba bekas jahitan mandiri suaminya, begitu kasar, tapi itu pasti sakit. "Darimana Yanda belajar ini?" belum dijawab, sudah melempar ucapan lagi. "Yanda, anaknya jangan diajarin ilmu aneh-aneh ya!"
"Aneh apa?"
"Ilmu kebal mungkin, jangan!"
Astaga, kalau bukan di rumah sakit, pasti sudah Baskara tindih istrinya ini, menggemaskan dan melatih kesabaran.
"Tidak ada yang main begitu, sakit ya sakit, tapi kondisi darurat, kalau menunggu lari ke rumah sakit, bisa hilang barang buktinya, Nda."
Hayo, mikir lagi, aarrrrrgghhhhhhh.....!
__ADS_1