Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Mau Jalan-Jalan (Shafiyah)


__ADS_3

"Ya artinya kapan aku bisa bertemu kak Bas, Ibuuuuuuuuuu?" Shafiyah ambruk di sofa, merengek di sana meminta agar ibunya menyuruh Baskara pulang. "Rumah ini sepi tanpa kakak, dia biasanya suka ke sini atau aku yang ke sana, aku mau digendong!"


Lah,


Anak siapa ini, ibu geleng-geleng kepala saja, sukanya digendong para lelaki di rumah ini, berhubung ayahnya terkadang mengeluh sakit pinggang, lalu kakak keduanya pulang hanya sebentar saja, terkadang belum sempat bertemu dengan dia, sekarang harus menunggu sampai dua bulan dia tidak bisa bertemu dengan Baskara.


Shafiyah bangkit, kembali menghentakkan kedua kakinya, wajah bak boneka hidup itu ditekuk sedemikian rupa, dia mau Baskara pulang dan pulang.


"Aku bilang ke ayah ya nanti, ya Bu, bilang ke ayah ya!"


"Jangan, Sofi!" Ibu berbalik. "Sebentar lagi pasti kakakmu pulang, katanya mau kak Bas pulang bawa dedek bayi, kan harus kuat sampai satu tahun nanti. Kok sekarang sudah mau ketemu?"


"Aaaah, aku tidak bisa, tidak bisa. Ayolah, Buuuuuuu ...."


"Iya, nanti kalau sudah waktunya pulang pasti ya pulang, Ibu suruh kak Saka mampir ke sini ya, temani kamu ya, mau tidak jalan-jalan sama dia?"


Shafiyah hapus air matanya, dia mengangguk-angguk, meminta salah satu kakaknya kembali, dia kesepian.


Ini kalau sampai ayahnya tahu ada yang membuat Shafiyah menangis, dijamin malam ini ayah akan meminta Baskara kembali. Beruntung merengeknya di depan ibu, paling tidak masih ada solusi, memanggil Saka saja yang bisa lebih cepat datang dan tidak ada halangan.


[Saka, Adekmu rindu, pulang ya!] Ibu.


Ibu yakin di tempat kerjanya, Saka tertawa membaca pesan ini, artinya ibu tengah mencari perlindungan dari rengekan Shafiyah, katakan gadis itu mirip sekali dengan ibu dari semua segi fisiknya, tapi urusan karakter dan keras kepalanya lebih dominan ke ayah.


[Ibu tidak bohong ini, Saka. Malam ini, mampir ke sini, kamu belum kembali ke luar negeri, kan?] Ibu.


Cemas kan ibu menunggunya, boneka satu itu masih menunggu jawaban pasti darinya, kalau belum ada kepastian, dia akan merengek sampai malam hari di depan sang ayah.


Drrrttttt .....


[Iya, aku ke sana nanti.] Saka.


Dasar, pesan sesingkat ini saja menunggunya setengah mati, ibu tunjukkan pada Shafiyah, baru anaknya itu tersenyum dan membalas pesan kakaknya.


[Aku sayang Kakak, sungguh!]


"Sudah ya, nanti kakakmu yang ini datang, kamu mau ajak ke mana, sekarang di list dulu, siapin bajunya, biar kalau kak Saka pulang, langsung cepat ganti baju!"


"Iya, yeah!" melompat-lompat girang, berlari ke kamar Saka untuk memilihkan baju yang akan Saka kenakan nanti.


Mall aku datang!


Begitu kira-kira jeritan hati Shafiyah, mau bagaimana lagi kalau bukan bersama kedua kakaknya itu, dia tidak mendapatkan izin ke luar bersama teman oleh ayahnya, pelampiasan Shafiyah tentu pada kedua kakak lelakinya itu, dengan dan bersama mereka terkadang di luar sana dia jadi bisa berkumpul bersama teman, kakaknya mengawasi.


Saka dan Baskara sudah sangat biasa menanggapinya, tapi ibu yang ketakutan, kalau ayah tahu di sana dua anak lelaki itu mengizinkan adiknya berkumpul bersama teman lain, bisa habis dua anaknya nanti dimarahi. Mau menegur Shafiyah juga kasihan, aturan ayah sangat mengikat lehernya, begini kalau tidak ada dua kakak lelaki, dia mau ke luar rumah saja harus menangis dulu.


"Ya, Yah?" yang mulia sudah menghubungi ibu.

__ADS_1


Diam,


"Oh, Ayah lagi sama Saka. Ya ... Sofi mau jalan-jalan, kakinya gatal, boleh ya?" ibu merayu ayah sampai mengepalkan tangannya.


Diam,


"Tidak, dia cuman mau berdua sama kakaknya saja. Atau Ayah mau ikut, temani anaknya jalan-jalan, jangan dikurung di rumah, kasihan!"


Diam,


"Aku jamin, iya, makanya Ayah ikut saja, ya ampuunnnn, mau ngomong sama Sofi?"


Ibu berjalan cepat menuju kamar Saka, anak gadisnya ada di sana, sudah senang tadi, bisa cemberut lagi kalau ayahnya tidak memberi izin.


"Kenapa? Ayah mau melarangku?" langsung pada intinya.


diam,


"Nakula? Ayah mau aku mengajaknya juga?"


diam,


"Tapi, nanti dia iri lagi kalau aku peluk cium kak Saka, bagaimana kalau minta aku cium juga?"


Eh, anak ini!


"Ahahahahahaahha, iya, iya. Aku kira Ayah mau melarangku, sudah mau marah aku. Baiklah, kak Nakula boleh ikut kak Saka, nanti aku belikan ayam krispi, uang saku Ayah kan masih banyak ..... bla-bla-bla!"


Shafiyah kembalikan ponsel ibu, dia sudah senyum-senyum senang, mencium pipi ibu disetiap lipatan baju kakaknya.


"Ibu tahu tidak?"


"Tidak, apa?"


"Ayah, hihihihih...."


"Kenapa sama ayahmu?"


Shafiyah naik ke ranjang Saka, dia lompat-lompat di sana.


"Aku diberi uang saku lagi buat beli ayam krispi, takut uangku habis bayar makan kak Saka dan kak Nakula!" padahal tahu kalau ke luar bersama kakaknya, kakaknya yang bayar. "Ibuuuuuu, tahu tidak?"


"Tidak, Sofi. Ada apa?"


Dia melompat lagi sampai bantalnya jatuh semua.


Ammpunnnn, nanti anaknya pulang tidur di mana?

__ADS_1


"Ibu, apa ayah mau aku lulus kuliah langsung menikah?"


WHAT?!


Ibu melotot sempurna, nyawanya mau lepas.


"Ken-kenapa bisa begitu?"


"Soalnya Ayah seperti mendekatkan aku dengan kak Nakula, ahahahahaah, apa dia mau aku jadi pengantin cilik, tapi kak Nakula bukan seleraku!"


Dikira mie goreng?!


Ibu tercekik mendengarnya, yang jelas itu tidak mungkin, salah paham saja gadis kecil di depannya ini.


***


Hup,


Baskara cicipi masakan Aisyah, rencananya makanan ini akan Aisyah kirimkan ke rumah tetangga yang terkena musibah, fokus ke rumah sakit membuat anak-anak di rumah tak ada yang mengurusi


"Enak, Kak?"


"Enak, mereka pasti suka, aku juga, ahahahah."


"Jangan lupa minum, nanti batuk-batuk lagi!"


"Iya, Nda."


Eh, apa ada yang berubah dari panggilan Baskara pada Aisyah.


A-isyah, sayang, dan sekarang Nda, bunda maksudnya?


Aisyah tersipu, baru pagi tadi suaminya mengganti panggilan untuknya, begitu membuka mata sudah dipanggil 'Nda' oleh suaminya.


Tak lain, Baskara senang mendengar anak-anak yang kemarin belajar bersama Aisyah dan makan menobatkan panggilan itu untuk Aisyah, Baskara berinisiatif mengikutinya, dia juga mau nanti anak mereka memanggil Aisyah begitu juga.


"Airku sudah, Nda?"


"Sudah, dari tadi loh, Kakak malah ke sini, pasti dingin lagi!" oseng-oseng, Aisyah lanjutkan masaknya, masih ada sambal goreng kentang yang belum dia selesaikan.


Walau dia merinding dipanggil begitu oleh suaminya, tapi senang juga, jadi Aisyah biarkan.


"Ndaaa ...."


"Iya, Kak?"


"Bajuku bau!"

__ADS_1


"Ganti dong, kan mau mandi, ganti yang baru!" jawab Aisyah berseru dari bawah.


Ini suaminya kan? Bukan anak-anak tetangga, kan?


__ADS_2