Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Dengarkan Aku! (Ayah)


__ADS_3

"Mau minum ini?" ayah sodorkan botol berwarna pekat itu. "Kata pamanmu, ini bisa melegakan pikiran, coba saja!"


Baskara berdecak lirih, "Ayah meminumnya?"


"Tidak."


"Kalau begitu, kenapa menawarkannya?" ingin dia lempar saja botol itu jauh ke laut. "Kalau Ayah saja tidak minum, mana mungkin aku minum, air lemon saja sudah cukup," jelasnya.


Ayah tertawa kencang, lelaki di depannya ini memang anaknya, akan lebih memilih menyepi ketika pikiran penuh dan penat, bersama orang banyak bisa membuatnya berkata kasar, walau hal seperti ini tak sepenuhnya dibenarkan mengingat wanita suka akan penjelasan, hidup wanita itu mengalahkan barisan paragraf dan buku-buku, isiannya pun terperinci.


Dia ambil duduk di depan anaknya, bocah yang dulu selalu dia gendong dan ajarkan banyak hal, baik tentang perusahaan dan mental hidupnya.


"Kau mencintai Aisyah, kan?" tuduh ayah dengan cengirannya.


Baskara sontak mengangkat wajahnya, kedua alis Baskara tertaut keheranan.


"Dari wajahmu itu sudah menegaskan kalau selama ini kau sudah mencintai Aisyah, jangan bohong, katakan pada Ayah!" dia lipat lengan kemejanya seolah menantang.


Cih,


"Jangan asal bicara, Ayah. A-isyah tidak mencintai aku, dia mencintai Sen-"


"Siapa yang membahas Aisyah, hah? Aku menebak hatimu, bukan Aisyah, kenapa membahasnya? Apa mau membenarkan kalau memang kau mencintainya dan dia tidak, begitu?" ayah semakin memutar lidah Baskara, dia pun tertawa lagi. "Wah, wah, anakku sudah bisa jatuh cinta rupanya, benar begitu, kau jatuh cinta pertama kali pada Aisyah, istrimu?"


Brak!


"Sejak kapan kau mencintainya?"


Baskara enggan menjawab, dia berdiri, tapi ayah dorong untuk duduk kembali, bahkan dia hampir tersungkur.

__ADS_1


"Dengar, Bas!" pintanya. "Aku menghajarmu saat pernikahan Sena dan Aisyah gagal, itu bentuk kecewaku pada tugasmu, bukan berarti menahan kau dan Aisyah saling mencintai, kalian sudah menikah dan sudah sewajarnya begitu, masalah Sena, tanyakan pada Aisyah, apa dia mencintainya atau tidak, jangan diam saja!"


Bruk!


Tidak bisa dipungkiri bila ayah yang berbicara akan banyak pukulan yang Baskara dapatkan, berbeda bila dia bersama ibunya, didikan ayah membuat dia bermental kuat di luar saat ini.


"Tahu apa kau soal hatinya Aisyah, hah? Tanyakan, kalau dia tidak mencintaimu, buat dia jatuh cinta, apa pernah ayah mengajarimu selemah ini? Apa pernah melihat ayah lemah di depan ibumu? Buat dia jatuh cinta, kalau tidak bisa paksa dia, apa itu susah?" ayah berbicara tepat di depan wajah Baskara.


Baskara menolaknya, dia berpikir itu akan menyakiti Aisyah, membuat gadis itu hidup dalam penjara, karena dia cinta, maka dia tak mau menyakiti Aisyah satu titik pun.


Ayah cengkram kerah kemeja Baskara, "Kalau begitu tanyakan, dengarkan jawabannya, setelah itu putuskan, kau mau bersamanya atau membebaskan dia dari pernikahan ini!" ayah berdirikan anaknya, mereka seolah tengah beradu. "Jangan dikira dengan sikapmu dan pikiranmu yang begitu, dia tidak tersakiti, Bas. Aisyah jauh lebih sakit dibiarkan begini, dia hidup dan menjalani rumah tangga seolah dari belas kasihanmu saja, itu jauh lebih menyakitkan!"


Baskara tersentak mendengarnya, dia bisa menyangkal apa yang ayah katakan dari awal, tapi tidak untuk yang terakhir ini, dia membuat Aisyah hidup di bawah belas kasihannya sebagai wanita yang ditinggalkan calon suami, bukan sebagai wanita yang dinaungi karena kasih sayang.


"Sekalipun Ayah tidak pernah mengajarimu lemah di depan wanita, kau sering melihat bagaimana ibumu kelabakan berbicara apa saja, bukan? Ayah yang kau nilai semaunya sendiri, benar begitu karena laki-laki pemimpinnya, aturan besar di rumah itu kuasamu, tapi jangan sekali-kali memperlakukan istrimu karena kasihan, Bas. Apa yang Ayah lakukan pada ibumu, itu murni karena sayang atasnya, mau dia marah-marah seperti apa, itu hanya mulutnya, tapi hatinya senang, berbeda kalau kau melakukan sesuatu hanya karena kasihan, wanita itu peka." ayah lepaskan cengkraman itu, dia beralih duduk di kursi besarnya.


Baru kali ini, ayah rasa berbicara panjang lebar bukan soal aturan perusahaan dan jalannya bisnis pada Baskara, melainkan urusan hati dan jalannya kehidupan berumah tangga.


"Kalau mau mendiamkan dia, jangan lebih dari tiga hari, waktumu hanya besok dan lusa, itupun tidak utuh, paling lambat lusa waktu sore kau sudah menemui dan memutuskan langkahmu, mau kau teruskan atau kau bebaskan gadis itu!" ujar ayah.


***


Baskara patuti ponselnya, dia sengaja non-aktifkan sejak meninggalkan rumah sakit, pasti banyak yang Aisyah kirimkan padanya, malam ini dia mau menepi, menyelami dirinya sendiri akan hadirnya pada Aisyah.


Entah apa yang terjadi di rumah sakit sepeninggalannya, apa Aisyah kembali menerima Sena atau justru mengusir Sena, dia tidak menerima dan mendapatkan laporan, semua akses dia tutup dan menyerahkan pada adiknya sementara waktu.


"Kakak ada bersama Ayah?" suara Saka menghubungi ayahnya.


"Hem, kenapa?"

__ADS_1


"Ya ampun, apa masih lama dia di sana, Ayah? Kak Ais sudah pulang dari rumah sakit, tapi dia tidak mau makan, dia bahkan diam saja, ibu membawanya ke rumah utama, dia menolak, jadi sekarang ibu dan Sofi ada di rumah kak Bas. Ayah, suruh dia kembali!" merengek meminta ayahnya merayu sang kakak.


"Memangnya Ayahmu ini tidak punya pekerjaan?"


Tut!


Saka jauhkan ponselnya, "Ayah dan kakak itu sama saja, suka sekali memutus panggilan sepihak," omelnya memaki jarak jauh.


Ayah datangi kamar Baskara, pintunya setengah terbuka, anaknya itu tengah duduk di depan laptop yang berbinar, tapi matanya dan mungkin pikirannya melayang ke hal lain.


Tok, tok ...


Baskara terhenyak, "Masuklah, Ayah!"


"Pekerjaanmu di tangan adikmu, jangan menghukum laptop mahal itu hanya karena melamun!"


"Ah, iya, maafkan aku!" Baskara bergegas membereskannya.


Sungguh, pikirannya kacau saat ini, dia tidak bisa berpikir dengan baik, semua terpusat pada Aisyah dan Aisyah.


Bahkan, menyimpan laptop dan perlengkapan kerjanya yang lain saja salah-salah, hampir dia menjatuhkan laptop itu di depan ayah, dia juga tersandung karpet kamarnya sendiri, Baskara merasa kacau.


"Dasar bodoh!" plak, ayah pukul saja anak pertamanya itu. "Gadis itu mencintaimu, jauh sebelum ini, sejak dia masih kecil-" ayah ingat-ingat moment itu. "-setiap kali acara pertemuan keluarga sampai dia duduk dibangku SMA, dia selalu bertanya ke Ayah, kapan kau kembali, di mana kau dan menyiapkan gelang untukmu. Ayah ingat wajah malu dan berserinya saat namamu disebut," ungkapnya.


Baskara menoleh dengan pandangan yang begitu dalam, seakan dia tidak percaya.


"Bila satu tahun ada dua belas bulan dan dua kali dalam sebulan ada pertemuan keluarga dilakukan, kau bisa menghitung berapa kali dia menanyakan kabarmu ke Ayah dan jumlah gelang yang dia buat hanya untukmu," imbuhnya.


"A-isyah memang suka membuat gelang, Ayah."

__ADS_1


Ayah bergeleng, "Tidak semua dia beri, dia hanya membagi ke semua dua bulan sekali, jadi saat orang lain hanya baru mendapatkan satu gelang dari Aisyah, kau sudah mendapatkan empat, apa itu kurang membuatmu tahu kalau dia suka padamu, hah?" plak, ayah pukul lagi. "Bagaimana bisa aku mempunyai anak sebodoh ini sih?!"


__ADS_2