Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Muntah Di Malam Hari


__ADS_3

"Nda ...."


Aisyah berbalik, baru saja dia mengantarkan makanan untuk anak tetangga yang tertimpa musibah.


Sekarang, sekalipun tak ada anak tetangga yang memanggilnya bunda, suaminya juga sudah memutuskan memanggil dia seperti itu.


"Aku ada meeting online mendadak habis ini, kamu jadi bantu les jam berapa?" di tangan Baskara sudah ada jas, padahal bawahannya memakai celana pendek. "Jangan senyum-senyum gitu!"


"Kakak sih, bilangnya mau meeting, kok malah pakai celana pendek, ahahahahah ...."


"Eheheheh, kan cuman direkam yang atas saja, kelihatan pakai jas sudah cukup. Minta tolong lemonku ya, Nda!"


"Iya, Kak."


Tunggu, bunda dan kakak, Aisyah merasa sudah punya anak saja di sini, anak besar kalau malam tidak bisa diam.


Diiringi tawanya, Aisyah bawa naik nampan kecil berisi kue dan lemon hangat untuk Baskara, sebentar lagi bulan yang sangat sibuk untuk suaminya itu, semalam sudah ada kabar dari kantor pusat, mau tidak mau mereka harus kembali sebentar lagi.


Rumah dan semua yang ada di sini tentu akan mereka rindukan, terlebih lagi bau asap bakar-bakar batang pohon, khas sekali dengan hawa pedesaan, suara hewan ternak dan gemericik sungai di dekat rumah.


Huh, Aisyah rasa tak akan menemukan hal itu di kota, tetangga dan anak-anak di sini juga pasti dia rindukan.


"Cium dulu!" pinta Baskara sebelum memulai kerja onlinenya.


"Hem, sini!" Aisyah dekatkan wajahnya, sesuka hati mau dicium yang bagaimana.


"Terima kasih, Nda."


Ahahahahah, merinding sekali Aisyah mendengar suaminya memanggil begitu, seperti ada yang menyengat hatinya, badan langsung panas dingin.


Itu baru suaminya, bila nanti sudah ada anak kecil diantara mereka.


Aisyah kibas-kibaskan kedua tangannya, ada air mata yang menggenang seketika, membayangkan anak selalu membuat dia terbawa emosi, air mata selalu menetes tanpa dia minta.


"Ada kecurangan? Bagaimana bisa terjadi?"


"Kapan terjadinya, aku akan periksa dan hubungi pihak berwenang daerah sana, segera kirim email?"


Diam, tersentak.


"Brengsek, hajar saja dia kalau berani curang dan memperdaya pekerja kita!" Baskara berdiri, kembali duduk takut celana pendeknya ketahuan.


Sejenak dia menenangkan diri, wajahnya sudah mengeras, dia rasa di sana Saka dan sang ayah juga kuwalahan hanya berdua, ada beberapa titik yang pastinya harus Baskara periksa sendiri


"Minggu depan aku kembali, sementara bilang pada paman untuk menanganinya. Awas kalau sampai mereka berani berulah lagi,-"


Brak!


Pukulan keras terdengar sampai luar, Aisyah tenangkan anak-anak yang belajar bersamanya itu.

__ADS_1


"Tidak apa, pasti ada tikus di sana, tenang ya!"


Aisyah rasa ada hal yang serius hingga suaminya emosi, pria itu sudah Aisyah katakan akan sangat berbeda bila sudah di lapangan kerja, tidak ada yang namanya sayang dan sayang.


Cukup lama sampai suasana tenang kembali, usai menuntaskan kewajibannya, Aisyah kunci semua pintu di rumah ini, sementara tutup telinga dulu kalau ada yang mengetuk, tugasnya menenangkan singa yang meraung di depan laptop itu, sudah berjas, memakai celana pendek lagi, dasar.


Brak!


Pukulan kesekian kalinya, belum lagi makian yang ke luar dari mulut Baskara, kaki Aisyah saja mencengkram lantai sampai memutih.


Aisyah amankan cangkir dan piring kecil di dekat laptop, dipastikan ada pukulan dan gebrakan berikutnya.


Huuhhh, huuuhhh, huuhhh ....


"Selesaikan, jangan mengecewakan aku!"


Baskara lempar ponsel kerja itu sembarangan, matanya masih menajam, deruh napasnya belum teratur, bahkan tangannya masih mengepal dan siap untuk memukul apa saja.


Gemetar-gemetar Aisyah mendekat, dia membaca doa apa saja agar suaminya bisa tenang.


"K-ka-kaaak."


Baskara angkat wajahnya, menoleh, sekilas tatapan tajam itu terlihat jelas, hampir memukul mundur pertahanan Aisyah.


Namun, dia sudah terperangkap, tidak bisa menjauh dari suaminya.


"A-isyah."


Kedua tangan Aisyah mengusap-usap punggung kekar Baskara, dia cium kening dan rambut bergantian, membiarkan suaminya mencari ketenangan sejenak pada dirinya, walau hanya memeluk.


"Ada masalah apa, Kak?" tanyanya lirih.


Baskara bergeleng, itu artinya masalah pekerjaan yang tidak bisa dia bahas bersama Aisyah, istrinya ini paham.


"Mau minum lagi?"


"Tidak."


"Mau makan?"


"Tidak."


"Ya sudah, diam dulu!"


"Tidak mau."


Heh!


Mau ditolak itu bagaimana, mau dilarang itu ya bagaimana, Baskara sudah bersembunyi di balik hijab istrinya, sementara Aisyah bisa mengintipnya dari celah bagian dagu yang terangkat.

__ADS_1


Baskara tempelkan bagian wajahnya dengan kulit dada Aisyah, menurut pengakuannya itu sangat menenangkan, seperti api yang disiram air.


"Duh!" Aisyah tarik telinga Baskara. "Kan, kalau sudah tenang, selalu begini!" gosok-gosok bekas gigitan.


Yang dipukul cekikikan, tidak merasa bersalah.


***


Jam dua pagi,


Baskara raba ranjang sisinya, kosong. Lampu kamar itu seketika terang, tak dia temukan Aisyah di sudut kamar yang biasanya menjadi tempat Aisyah beribadah.


Kemana?


Suara orang muntah terdengar samar, sepertinya tidak jauh.


"Ndaaa," panggilnya, berlari ke luar kamar.


"Ndaaa ...."


Aisyah maksudnya, Baskara menuju kamar mandi, tampak Aisyah sedang berjongkok sambil memegangi ember kecil.


Mata Aisyah sampai memerah dan wajahnya pucat, muntahan di ember kecil itu pun juga cukup banyak.


"Pegang tanganku!"


Aisyah bergeleng lemah, dia tak sanggup sekadar berdiri, tadinya dia mau wudhu, tapi justru muntah-muntah seperti ini, kedua kakinya lemas.


Tak ada pilihan lain, Baskara geser ember itu, mengusap bibir Aisyah dengan tangannya yang basah, setidaknya bersih, lalu dia gendong, biar saja sebagian bajunya basah terkena Aisyah.


"Ganti bajunya ya," ujar Baskara, dia lakukan cepat, berbicara tanpa menunggu persetujuan Aisyah.


Begitu selesai, dia bawakan teh hangat, lalu mendekap Aisyah di balik selimut tebal.


Tubuh kecil itu tengah gemetar, sempat merasakan sesak karena terlalu dingin di kamar mandi, beruntung tidak Aisyah kunci.


"Mana yang sakit?" tanyanya lembut.


"Sini." Aisyah tunjuk ulu hatinya, lalu meraba perutnya yang kembung.


"Ke rumah sakit sekarang mau?"


"Besok saja, Kak. Sudah lebih baik ini, peluk lagi, dingin!"


Baskara dekap sekali lagi, dia gosok-gosok punggung Aisyah, membuat tubuh Aisyah lebih hangat dari sebelumnya.


Perlahan, setelah Aisyah terlelap, Baskara luruskan posisi tidur istrinya itu, memberi minyak hangat pada bagian perut dan dada, lalu dia tarik selimut sampai batas dagu.


Satu kecupan di kening Aisyah, dia tinggal mengurus bekas muntahan di kamar mandi, pintu kamar dia biarkan terbuka supaya mendengar keluhan Aisyah bila terbangun.

__ADS_1


"Kenapa dia?" gumam Baskara.


Di sini bukan kota besar yang tinggal lima belas menit bertemu rumah sakit, harus ke ujung desa kalau ke sana dan rawan di malam hari, mungkin dia bisa mengamankan diri, tapi menjamin Aisyah tidaklah mungkin.


__ADS_2