Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Memalukan


__ADS_3

Gina pikir ikut suaminya bekerja akan menjadi hal yang indah, ternyata hanya bualan mimpi, Sena tahu ada Aisyah di kota ini, dia melihat kedatangan Baskara dan memastikan pada petugas apartement sebrang.


"Sayang, kamu mau bawa bekal?" tanya Gina menawarkan, sebisa mungkin dia menarik perhatian Sena. "Kalau mau, aku bawakan yang baru matang ini, bagaimana?"


"Terserah!"


Sena masih saja acuh, walau begitu tak bisa dipungkiri dan ingkari, dia sendiri tak berpendirian kuat bahkan setelah menikah dengan Gina, sekalipun dia bercumbu dengan Gina selepas menikah, dia masih berharap Aisyah kembali padanya dan takdir berubah dalam sekejap.


Benar yang Gina katakan sebelum menikah, tubuhnya bisa bercumbu dengan siapa saja, tapi hatinya selalu menyebut nama Aisyah, tidak peduli sekarang Aisyah sudah menjadi istri sah Baskara.


"Emuah, sudah, hati-hati kalau bekerja ya!" Gina berikan ciuman di pagi hari.


"Hem."


Sena tak menolak, lidahnya bahkan ikut terpancing dan membelit di sana. Apa yang dia lakukan ini sebenarnya menyakiti Gina, wanita yang sedang hamil itu sadar, tapi mau apa, dia sedang hamil saat ini dan tidak mungkin dia melahirkan tanpa suami, lalu anaknya tak punya sosok ayah.


Aku yang paling sakit di sini, Aisyah. Tapi, suamiku masih saja memikirkan kalau kamulah yang sakit, padahal belum jelas kamu mencintai dia atau tidak, kalian bahkan tidak pernah jalan bersama sebelum pinangan itu terjadi.


Gina buka kordennya, tepat di sebrang itu ada unit apartemen milik Baskara, ada Aisyah lebih tepatnya di sana.


"Apa dia tidak menikmati matahari pagi, tertutup sekali!" gumam Gina memandang tepat kamar yang diyakini milik Baskara.


Gina lepas kardigannya, menyisakan tank top berwarna merah muda hingga lekuk tubuh dan perut buncitnya tercetak di sana, bisa dilihat jelas dari kejauhan, dia sedang menikmati sinar mentari lewat jendela besar yang dia buka itu.


Angin semilir terus menamparnya halus, dia berharap bisa melihat sekali saja Aisyah membuka korden dari kamar itu, tapi tak kunjung dia dapati.


"Jangan-jangan dia ikut Baskara ke lokasi, dia pasti bertemu suamiku, bagaimana kalau saat Bas bekerja, lalu Sena ke ruangan itu, dan mereka-" Gina tutup mulutnya.


Suaminya, Sena itu walau acuh, tak memungkiri akan terpancing kulit halus dan mulus. Bersamanya saja yang tanpa cinta bisa dia lakukan, apalagi bersama Aisyah, perangai wanita itu lemah.


Sena dulu orang yang baik, menjaga wanita, tapi entah kenapa berubah sejak dia jatuh cinta.


"Tidak diangkat lagi, memang kerjanya apa sih?!"


"Aku ke sana saja kalau begitu!"


Bukan ke lokasi kerja Sena, melainkan Gina mau memastikan di mana Aisyah berada, dia akan ke apartemen sebrang, akan dia tanyakan keberadaan Aisyah di unit itu, apa Aisyah ikut Baskara bekerja atau masih di unit dan berdiam di sana


***

__ADS_1


Petugas itu melarang kesekian kalinya, bahkan sampai dua petugas yang menjelaskan perihal aturan Baskara akan unitnya.


"Maaf, Nyonya. Anda tidak diizinkan ke unit itu, pemiliknya melarang siapa saja ke sana, apalagi bertemu dengan istrinya."


"Kenapa? Aku ini teman baiknya, dia bahkan datang ke pernikahanku waktu itu, bujuk dia, Pak ... aku sedang hamil dan dia pasti senang bertemu dengan aku!" Gina masih keukeh, semakin ke sini, dia justru semakin ingin mengumpat pada Aisyah.


Apa lebihnya Aisyah sampai dijaga Baskara begitu, hah?


Petugas itu berusaha menghubungi Aisyah, tapi jawabannya tetap sama, Aisyah tidak menerima siapapun, sekalipun dia sangat ingin bertemu dengan Gina dan menyambut tamu, tapi suaminya melarang.


"Siang, Tuan. Nyonya ini memaksa bertemu istri Anda, sudah kami larang dia tetap memaksa, nona Aisyah juga sudah menjawab yang sama dengan Anda. Apa boleh hanya berbicara lewat sambungan telfon, Tuan?" petugas itu berhasil menghubungi Baskara.


Diam mendengarkan syarat dari Baskara.


"Baiklah, Tuan."


Petugas itu menutup telfonnya sejenak, dia lanjutkan pada kabar izin itu ke Aisyah dan Gina. Bila suaminya sudah menurunkan izin, Aisyah tentu tak akan menolaknya.


Gina bergegas merebut gagang telfon itu, dia remat dengan semua naluri ibu hamil yang dia bawa, emosinya mau meledak.


"Heh, Aisyah!" sapanya bersuara geram.


"Apa kabar kepalamu, hah?!" dia mendengus kesal. "Se-suci itu kamu sampai dijaga Bas, hah? Bertemu saja susahnya minta ampun, dasar!"


"Maaf." Aisyah menjawab singkat.


"Oke, aku ke intinya saja. Selama kamu di sini, jangan pernah ke luar atau ikut suamimu bekerja, karena apa ... karena Sena ada di sini, kalau kamu ketemu dia, itu sama saja merusak rumah tanggaku dan dia, sebagai sesama wanita, kami tahu'kan aturannya bagaimana?"


"Iya."


"Ingat, Aisyah. Fokus saja ke suamimu yang sekarang, kalaupun kamu masih cinta dengan Sena, pendam, hilangkan kalau perlu, urus dan layani saja Bas, buat dia puas dengan tubuhmu dan kamu juga puas, jangan sampai masih mengincar suamiku!"


Brak!


Gina tinggalkan apartemen itu, dia banting kasar telfon petugas yang sudah membantunya, masih dengan napas yang memburu dan wajah yang memerah, dia pergi.


"Wanita itu gila atau kenapa? Memalukan sekali."


"Hormon hamil mungkin, apa iya wanita baik di unit atas itu mau merebut suaminya, kan tidak mungkin!"

__ADS_1


Gina menjadi bahan omongan beberapa petugas di sana.


Sementara Aisyah di kamarnya hanya duduk dan menyimpan senyum, berulang kali bibirnya berucap kecil, dia tenangkan lewat doa yang ada.


Puaskan Bas dengan tubuhmu dan kamu juga!


Omongan Gina bagian itu menusuk relung hatinya seolah dia menggoda dan penggoda, ingin dia balas, tapi untuk apa, toh apa yang Gina katakan itu tidak benar, dia tak menggoda siapapun, mau itu Sena atau Baskara.


***


"Ada Aisyah di sini?" Sena merasa ada kesempatan bertanya pada Baskara.


Baskara mengangguk sambil memeriksa laporan malam ini, kehadiran Sena sangat tidak dia butuhkan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, Sena ada di divisi ini.


"Berikan roti ini ke Aisyah, dia suka sekali roti manis seperti ini, dia biasa menyebutnya roti rembulan!" Sena berikan satu kotak kecil ke meja Baskara.


Baskara lirik singkat, "A-isyah tidak makan manis-manis."


"Kenapa?" balas Sena berdecak. "Dia suka itu, Bas. Memalukan sekali kalau sebagai suami tidak tahu apa yang Aisyah suka, berikan roti itu!"


Huuh,


Baskara rapikan mejanya, dia tak menghiraukan Sena.


"Bas."


"Hem?"


"Lepaskan Aisyah kalau sudah menyerah mencintainya, aku siap menerima dia, kita tidak tahu takdir berjalan, bukan? Jadi-"


"Bawa roti manismu itu!" potong Baskara.


"Maksudmu?"


"A-isyah sudah terlalu manis, dia tidak butuh roti manis lagi, bawa sana!" jelas Baskara dengan wajah datar menyebalkan, begitu melihat Sena mematung terkejut, dia tambahkan lagi, "Huh, mengaku kenal A-isyah, tapi tidak tahu kalau dia manis, memalukan!"


Ciuh!


Bedebah ini! Sena geram-geram.

__ADS_1


__ADS_2