
Tidak biasanya, ini sungguh tidak biasanya. Berulang kali Yoga coba pastikan siapa yang tengah duduk di depan meja kerja terindahnya itu, sekilas dia yakin, tapi satu detik berikutnya dia tidak yakin.
"Aku ke sini bukan untuk bercanda denganmu!"
Gubrak!
"Baiklah, aku tahu, aku tahu, Bas. Ehehehe, sabar dan tenanglah, di sini tidak ada Aisyah yang bisa menenangkanmu, bisa mati terlipat kursi aku nanti. Katakan, ada apa!" seharusnya dia mengajak Pian ke ruangannya sebelum masuk tadi.
Yoga lipat kedua tangannya ke atas meja, wajahnya mengarah luruh pada Baskara, sampai dia menua pun, rasa-rasanya mengalahkan ketampanan Baskara itu hal yang tidak mungkin, dari semua sepupunya saja, Baskara yang nomor satu, tampan dan garis garang di wajahnya sangat jelas.
"Ada apa?" kenapa diam, kan aku takut, bodoh!
Baskara geser surat di depannya, dia tidak jadi pergi bersama Pian ke luar kota melainkan bersama paman mudanya satu ini, Yoga.
"Apa ayahmu tidak salah menulis nama, hah?" dia tertawa kencang, hampir mau terjungkal. "Bas, yang benar saja, aku kan baru-"
Baskara berdiri, "Kau kira aku ke sini mau curhat soal hati, begitu?" cih! , "Cepat pakai jasmu dan kita pergi sepuluh menit lagi untuk persiapannya, jangan membuatku menunggu lama!"
"Bas, Baaassssss .... heloo, Bas, apa tidak ada orang selain aku?!" dalam hati mengumpat satu kebun binatang untuk ayahnya Baskara.
Setelah dinas, Aisyah akan menunggu dirinya di rumah itu, senyum di wajah tegas Baskara kembali terbit, sepanjang dia melangkah kembali ke ruangannya, di sana semua pekerja yang berpapasan dengannya banyak yang menabrak tiang gedung dan jatuh tersandung.
Bahkan, tawa kecilnya saat mengingat bagaimana Aisyah berjanji akan menunggunya itu membuat petugas kebersihan kembali menumpahkan cairan pel mereka, lantai kering sontak basah dan kotor kembali.
"Si seram itu menyuruhku siap-siap, apa kau sudah gila, hah?" Yoga memaki Pian. "Seharusnya, mulutmu itu kau berikan saja pada buaya di taman safari, giliran lotre minum nomor satu, begini ... bisu!" masih terus mengomel.
Bruk!
"Duuuhh, kalian-" basah, celananya basah.
"Pak, maaf itu-"
Yoga berteriak sekencang mungkin, ini kesialan yang tiada tara, bertolak belakang dengan senyuman Baskara.
***
"Lagi, A-isyah!" mendekatkan pipinya lagi. "Lagi ya ...."
Aisyah cium lagi, tadi pipi kanan dan sekarang pipi kiri.
"Kak, pasti kak Yoga menunggu lama di bawah, kalian harus segera-" dia lipat bibirnya yang baru saja diraup singkat itu, kemudian dia tersenyum. "Ayo, berangkat ya ...."
__ADS_1
Kakak sekarang jadi suka cium-cium, hihihihihihihihi ....
Baskara meminta dia mengulang janji itu lagi, malu-malu Aisyah katakan bahwa dia akan menunggu Baskara di rumah ini, lebih tepatnya di kamar ini, kamar yang sudah menjadi milik mereka berdua.
"Ingat, jangan ke luar kamar tanpa memakai hijabmu selama aku tidak di rumah, A-isyah. Jangan mengubah penampilanmu karena ini sudah bagus, mengerti?"
"Iya, tidak akan berubah."
"Satu lagi-" dia berbalik, mengerlingkan mata tajamnya. "Aku mencintaimu, A-isyah." sambungnya.
Aisyah mengangguk, dia tersenyum lebar mengiyakan pengakuan suaminya itu, tidak terhitung sudah berapa kali Baskara mengatakannya.
Ya, begitulah cinta, dunia milik berdua, aku... anak kos! Yoga.
Begitu Aisyah ikut mengantar ke teras rumah, Yoga sapa dengan candaannya, sejak dulu, sebelum Aisyah menikah dengan Baskara, dia sudah sering ikut pertemuan keluarga besar ini hingga Yoga kenal dan tahu sosok Aisyah. Tidak ada yang berubah dari Aisyah, karakternya sama seperti saat pertama kali mereka bertemu, Aisyah si pemalu.
"Apa kalian masih lama jadi tuan rumah?" jengah, mau membalik mobil saja.
Baskara berdecak, dia menoleh lagi pada istrinya.
"Apa Kakak mau bilang cinta lagi?" tuduh Aisyah sambil tersenyum lebar.
"Dari mana tahu begitu?"
"Kalau begitu jawab!"
Aisyah raih tangan kanan Baskara, dia kecup seperti biasa.
"Hati-hati di jalan dan selamat bekerja, semoga lancar pekerjaannya di sana, Kak ... suamiku tercinta," ujar Aisyah memelankan suaranya, malu kalau Yoga dengar.
Blush!
Untuk pertama kalinya ada rona merah bak muntahan gunung berapi di wajah Baskara, begitu merah dan menyala terang seolah mendidih sejadi-jadinya, siap menggilas siapapun yang ada di sekitarnya.
Dia itu suami tercintanya Aisyah, iya!
Krik, krik, krik, krik ....
"Ban mobil ini bisa dimakan tidak sih?!" celoteh Yoga.
***
__ADS_1
Hari pertama dan kedua, Aisyah ada di rumah utama, tempat di mana mertuanya berada. Tanpa dia duga, hari itu mama Fya juga berkunjung di sana, lengkap sudah kalau mau mengantarkan rindu yang menggebu di dalam dada.
"Kakak tidur sini saja, lagian kan Ais ada di sini dua hari sampai Bas pulang, ya kan, Is?" tanya ibu.
"Iya, Mama di sini saja, Ibu jadi ada teman dan aku bisa tidur malam sambil peluk Mama lagi!" memeluk mama Fya manja.
Mama Fya uyel-uyel pipi Aisyah, dia kira tak akan terlihat gemuk Aisyah di rumah Baskara, ternyata sejak dari rumah sakit itu, Aisyah terlihat semakin segar saja.
"Tidak mungkin!" Aisyah menutup mulutnya, dia keceplosan. "Mmm, Ibu, Mama ... itu-"
"Ahahahahahh, Kakak ... jadi, begini loh, Bas itu kan sibuk, mainan sama tembaknya saja di luar rumah, jadi ya belum bikin martabak, ahahaahahahah," jelas ibu membantu Aisyah.
Mama Fya usap dadanya, dia kira sudah, melihat Aisyah yang tampak lebih segar dan berisi, pikiran mama Fya sudah mengarah ke status baru sebagai nenek.
Jantung Aisyah sontak berdebar kencang, beruntung ada ibu yang bisa membantunya menjawab di sini, coba kalau tidak, bisa mati kutu dia.
Aisyah usap dadanya, dia minta untuk tenang, sebentar lagi, bila memang rejekinya, maka setelah suaminya kembali, mereka akan memikirkan langkah besar itu.
*Kakak, anaknya minta ini!
Kakak, perutnya sakit!
Kakak, dia minta diusap!
Kakak dan banyak Kakak*....!
Aisyah cekikikan sendiri, sampai-sampai tidak sadar menjadi pusat perhatian tiga orang lainnya, dia pun tidak tahu kapan Shafiyah duduk di dekat ibu dan mama Fya.
"Hellloooooo, Kak Ais!"
"Oh!" Aisyah tutup mulutnya yang hampir berteriak kaget. "Sof-sofi!"
Shafiyah mengangguk, "Kaaaan, apa aku bilang, kalau orang jatuh cinta itu bakal sering melamun begini, itu yang ayah larang ke aku, dilarang jatuh cinta karena bisa bikin gila, katanya!" mulai mengoceh. "Kak Ais-" pindah duduk. "Kakakku sudah gini belum?" memajukan bibirnya.
Aisyah raba bibirnya, dia ketuk-ketuk seolah bertanya pada Shafiyah, lalu dia merona.
"Waaahhhh, lihat, Bu, Bude!" Shafiyah kembali lagi ke dekat ibunya. "Kak Bas sudah mencium bibirnya Kak Ais, mereka sudah ciuman!"
Ibu dan mama Fya bertanya kompak, "YANG BENAR? TERUS?"
Duar!
__ADS_1
Aisyah tutup wajahnya, seharusnya aku tidak ke sini sendirian ... Kakak.