Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Bekas Manja


__ADS_3

Tidak!


Jawaban Baskara tidak, maksudnya tidak ada urusan dengannya, sekalipun dia di kantor itu pimpinan muda, tetap saja keputusan akan tenaga kerja berada di tangan personalia yang memang berkompeten menilai seseorang, layak atau tidak bekerja di sana.


"Tapi, daripada dia bekerja yang tidak benar, Kak."


"A-isyah, suamimu ini selalu menelisik detail apapun yang ada di sekitarmu, tidak, tapi semua yang ada di keluarga ini, jadi aku rasa keputusan mereka benar. Kalau orang memang butuh pekerjaan, dia pasti akan merendah dan memohon dengan penuh minat, bukan menantang, lagipula bekerja di kantor besar bukan sekadar butuh paras yang sempurna, tapi juga pemahaman," jelas Baskara.


Pekerja di sana akan menghadapi banyak klien yang beraneka macam karakter, kalau model egois seperti Buna masuk dan terlibat di sana, bisa dibayangkan bagaimana kerjasama diantara perusahaan akan terjalin.


"Aku tidak mau ada keterlibatan hotel di sana, kamu tahu maksudku, kan?"


Aisyah mengangguk, dia sejenak lupa kalau suaminya itu bisa dikatakan detektif, jadi apapun yang terlintas di dekatnya pastilah Baskara sudah menelisik lebih dulu.


Keterlibatan hotel yang suaminya katakan dalam arti mengikat kerja sama lewat jaminan tubuh, menjual tubuh, bisa rusak nama usaha yang dibangun susah payah itu, yang mereka jual adalah barang dan keahlian, bukan tubuh untuk dinikmati, itu akan menjadikan perusahaan ini rendah.


Aisyah susul suaminya, pasti perdebatan ini membuat dada Baskara meletup-letup, terlebih lagi sempat Aisyah berniat untuk mengajak Buna bekerja di toko kecilnya itu, semakin terlihat wajah memerah di sana.


"Kaak," panggilnya.


"Hem?" Kan, sudah Aisyah tebak kalau Baskara ke belakang tak lain untuk menurunkan emosinya, tidak akan ada toleransi dari hal yang berhubungan dengan keamanan, dia pasti akan marah kalau Aisyah membahayakan diri. "Apa?" suaranya lembut, tapi matanya menajam.


Aisyah singkirkan tangan yang menumpuk itu, dia lingkarkan ke pinggangnya, meniru gaya Shafiyah bila ada kakak lelakinya di rumah, menempelkan wajahnya di dada Baskara, pemandangan yang membuat ikan-ikan di belakang cemburu.


Aisyah hitung sampai sepuluh, dia mendongak karena selama sepuluh detik tak ada respon dari suaminya, entah mengusap atau mengecup kepalanya.


Pandangan mereka bertemu, detik-detik Aisyah mendekatkan wajahnya, Baskara berpaling, menoleh ke arah lain dan menjauhkan wajahnya.


"Kaaak," sebutnya bersalah. Dia paksa mau melihatnya.


Iya, dia salah karena mau membahayakan diri, dia tahu itu, suaminya sangat benci akan hal itu.


"Kaaaak, maaf, Ais minta maaf!" memohon di depan wajah keras itu, mereka sangat dekat, tapi Baskara tak berkedip sama sekali, rahangnya masih mengeras. "Ais minta maaf, Kak. Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf ya ...."


Baskara masih mengunci bibirnya, menghindari tatapan Aisyah yang terus mengejarnya.


"Maaf, maaf, maafkan aku!" dia berdiri, lalu duduk di depan kaki suaminya, menggoyangkan kedua kaki itu, terus memohon.


Mereka mau pergi bulan madu, seharusnya menumpuk rasa bahagia, bukannya masalah atau kebencian seperti ini.


"Maaf, Kaak!" dia berdiri lagi, memutari Baskara, lalu kembali bersimpuh. "Maaf, maaf, Ais minta maaf, maafkan aku!" tangisnya pecah.


Mamang tahan bik Nur yang mau asal lewat sambil membawa cucian, mengajaknya mundur karena ada perang dunia ketiga, tapi bukannya mundur, justru sebaliknya, berhenti di balik pot besar, mengintip.


Aisyah masih terus mengulangi hal itu, sementara Baskara menunjukkan seberapa keras dan tegas keputusannya.


"Kakaaaaak, maaf!" wajahnya sudah basah, tubuhnya gemetaran. "Maaf, maaf, Ais minta maaf ... Kaaak, Kakaaaak, maaf!"


Greep!


Baskara sahut kedua tangan Aisyah, dia tarik kuat sampai Aisyah jatuh ke pangkuannya dan dia peluk.


"Maaf, maaf, maaf-"

__ADS_1


"Ssttt ...."


***


Rumah berubah menjadi sepi setelah perang dunia itu terjadi, mamang dan bibik merasa menjadi penguasa di rumah ini.


Bahkan, pintu kamar utama tertutup rapat, belum ada yang ke luar dari kamar setelah mereka tahu Baskara gendong Aisyah ke dalam, wajah Aisyah sembunyi di balik dekapan suaminya, tidak bisa mereka lihat seberapa basah wajah itu.


Bruk!


"Kakinya berat!" Aisyah geser kaki Baskara.


Tidak, Baskara tindih lagi kaki kecil Aisyah, dia bergulung mendekat, menarik baju Aisyah, membuat bekas, lalu menjauh sambil menindih kaki, berulang lagi.


"Eh, kakinya berat!" lagi.


"Kan, aku baru sembuh lukanya, jadi tidak boleh dibantah!"


"Tapi, berat kakinya, Kak!" mau protes, takut suaminya diam lagi, dia bisa gila dan mati nanti. "Kakinya Kakak itu besar, berisi, kakiku ramping, kecil, tidak sepanjang Kakak, ini loh sampai perutku, bayangkan kalau ditindih, bisa ke luar makanannya," jelas Aisyah sambil manyun-manyun.


Dia ini masih datang bulan, jadi belum bisa dibuat lebih, hanya baju atasnya yang lepas dan terpasang berulang kali.


Emuah,


"Mmm ... perih yang ini!" mengeluh, tapi setelah itu diam, sibuk gosok-gosok atas dada.


"Ahahahahahah, biarkan saja terbuka, jangan ditutup!"


"Dingin loh."


Baiklah, Aisyah mendekat, dia lebih suka kalau begini, daripada suaminya tadi diam. Tidak masalah kalau Aisyah berbuat sesuka hatinya, asal hal yang aman, tapi kalau sudah seperti tadi, tidak ada toleransinya, dia akan diam sebagai bentuk demonya.


"A-isyah, bagaimana kalau tidur malam, kamu tidak pakai baju saja, hem?"


"Heh, kok gitu?"


"Enak, bisa dipeluk begini, kalau kamu dingin."


"Tapi, bisa masuk angin, Kak."


"Ssssttt, aku yang hangatin!" Baskara berkata tegas, dia peluk lagi.


Tidak ada lowongan kerja untuk Buna, baik di kantor Baskara atau di toko Aisyah, itu keputusan mutlak, mau siapa saja yang bernego, tidak akan turun persetujuan itu.


Dering ponsel Baskara menyingkap selimut yang menggulung keduanya, nama ibu tertera di sana, secepat kilat Baskara sambar dan dia minta Aisyah memperbaiki bajunya.


"Ya, Bu?" takut terjadi sesuatu.


"Bas, Sofi mau ke rumahmu, sudah dapat izin dari ayah, katanya mau ketemu kak Ais, mau diajak buat kue, ada praktek tadi waktu dia sekolah. Anaknya sudah mau berangkat, boleh kah?"


Baskara tersenyum, dari nada ibu, dia tahu kalau Shafiyah sedang menguping di sana, menempel di ponsel yang ibu bawa.


"Aku tanya istriku dulu, Bu. Kira-kira dia mau tidak kalau ada Sofi di sini, kalau dia tidak mau, ya Sofi harus diam di rumah, tidak boleh ke sini!"

__ADS_1


Shafiyah rebut ponsel ibu, dia sudah berkacak pinggang, mau mencerca kakaknya itu.


"Kakak tidak sayang sama aku ya, hem? Kan, aku ke sana itu mau temenin kak Ais, bukan gangguin Kakak kerja, pasti kak Ais mau, cuman Kakak yang larang, ngaku!" mau melapor pada ayahnya kalau dilarang Baskara. "Aku mau ke sana, aku sudah izin ayah!"


"Tidak boleh, Kakak masih manja-manjaan sama Kak Ais!"


"Boleh, Sofi ke sana, titik!" merengek pada ibunya agar mendapatkan izin.


***


Shafiyah berkedip dalam cukup lama, dia menunjuk leher kakak ipar yang sedang duduk di satu ranjang bersamanya itu, mereka di kamar, jadi hijab itu bisa dilepas.


"Tunggu, apa Kakak sakit kulit?" tanya Shafiyah cemas, dia mendekat, menyentuh leher Aisyah, dia bergidik takut. "Apa yang terjadi? Kak Ais alergi makan apa? Kenapa kakakku tidak membawa Kak Ais ke rumah sakit?"


Mata lebar boneka hidup ini membuat Aisyah tidak kuasa menahan tawa, terlebih lagi saat Shafiyah menyentuh semua bekas merah maha karya Baskara, berulang kali gadis itu bertanya kenapa Baskara tak membawa Aisyah ke rumah sakit, itu yang dia ulang, dia cemas akan terjadi sesuatu pada kakak iparnya itu.


Dan tawa Aisyah pun pecah, dia tak kuasa menahan terlalu lama, sampai-sampai Baskara masuk ke kamar berlarian karena mendengar suara tawa dan jeritan adiknya.


"Ada apa?"


Shafiyah menoleh, "Kak Ais, Kak Ais sakit, tapi dia-" menunjukkan pada Baskara bekas merah di hampir seluruh leher Aisyah. "-kalau ayah tahu, aku yakin ayah akan meminta Kakak membawa Kak Ais ke rumah sakit, ini harus diperiksa lengkap, kalau tidak, bisa bahaya dan kita kehilangan Kak Ais!"


Baskara menoleh pada Aisyah yang memegangi perut, terlalu kencang tertawa sampai batuk dan perutnya sakit, mana wajahnya memerah lagi.


"Sofi itu-" dia tidak tahu harus mengatakan apa, selama ini Aisyah jarang membuka hijab di depan adiknya satu ini, tapi kebetulan sekali dibuka waktu mereka baru saja membuat banyak bekas manja.


"Itu apa?" Shafiyah berdiri. "Aku tidak mau merepotkan Kak Ais, kenapa tidak bilang kalau tadi Kak Ais itu sakit, kenapa bilang lagi manja, coba bilang kalau sakit, aku pasti tidak ke sini!"


Mati aku, Aisyah menoleh pada suaminya, sama-sama bingung mau menjawab apa.


Baskara hanya meminta adiknya kembali duduk dan tenang, dia berikan air minum, tak lupa salep untuk Aisyah.


Bekas manja itu banyak sekali, dia juga baru saja seganas itu pada istrinya, untung Aisyah tidak sakit karena sesapannya.


"Jangan menangis, kalau ayah tahu, Kakak bisa dihajar nanti!"


"Tapi, tapi kamu sakitin Kak Ais loh!"


"Iya, tadi lupa ajak Kak Ais makan udang, jadinya dia alergi begini," jawab Baskara.


Mana ada alergi cuman di leher?


Baskara sekali lagi menoleh pada Aisyah, meminta segera berpura-pura memakai salep saja, melegakan hati Shafiyah.


"Sudah, lihat, sudah aman kalau dikasih salep itu, kamu jangan takut!" Baskara berganti memeluk Shafiyah.


Pelan-pelan Shafiyah buka matanya, menatap Aisyah yang berlaga di depan meja rias, memakai salep pada bekas manjanya, dia juga malu seperti ini, tapi mau bagaimana kalau adik iparnya itu yang meminta dia membuka hijab tadi, jadi ketahuan semua.


Ini salep apa ya? batin Aisyah, jangan sampai dia memakai balsem, bisa panas.


Ah, benar. Kakak biasanya salah ambil, luka saja disiram minyak kayu putih, ahahahahah.


Shafiyah gandeng Aisyah yang sudah memakai kembali hijab rumahannya.

__ADS_1


"Jangan bilang ke ayah ya Sofi ... Kakak tidak apa-apa, ini sudah baikkan, ayo kita buat kue atau apa gitu, yuk!" bujuk Aisyah.


"Awas ya kalau sakit tidak bilang, aku lebih jahat loh dari ayah, Kak!" ancamnya.


__ADS_2