Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Dua Kantong


__ADS_3

Terpaksa mandi air dingin dan menuntaskan sendiri, dia dulu termasuk orang yang kuat akan godaan, tapi begitu menikah dengan Arsy, yang ada dia tak bisa menahan diri dengan baik, justru mau lagi dan lagi, melihat istrinya saja sudah membuat dia tegang tak karuan.


"Bang, kamu mandi malem?"


Saka mengangguk, dia biarkan rambutnya yang basah jatuh ke pangkuan Arsy agar istrinya itu tahu jangan memancingnya di kondisi yang serba rumit ini, yang ada dia akan selalu dibuat tidak karuan olehnya, bisa-bisa mati kutu main sendiri sampai dinyatakan anaknya itu aman dan kuat.


Emuah, Saka kecup perut rata Arsy. Tidak dia bayangkan akan ada Saka junior di sana, pasti gennya jauh lebih kuat dari Arsy, baru dinyatakan hamil saja, Saka sudah membayangkan istrinya hamil lagi dan lagi.


"Kamu buruan tidur, Sayang. Jangan bosen tidur karena selama kamu belum dinyatakan sehat, kamu nggak boleh bosen tidur!"


"Ahahahahahah, Abang mau matanya Arsy bengkak karena kebanyakan tidur ya?"


Saka mengangguk, dia peluk istrinya itu, membawa dalam dekapan, perlahan dia memejamkan mata dan membuat Arsy ikut mengantuk di dekapannya.


Sepasang suami istri yang saling melengkapi dan berusaha menyempurnakan diri, di sini Saka dan Arsy akan belajar banyak menjadi calon orang tua yang sempurna meskipun dijamin akan banyak hal yang mereka hadapi nantinya.


Lelapnya malam tak semudah itu mereka lewati, Saka harus terbangun berulang kali karena istrinya meminta ini dan itu, mengeluh banyak hingga dia merasa tidurnya kurang.


Pagi hari ini dia terlambat pergi ke kantor, niat hati mau libur saja, tapi penggilan pekerjaan tak mungkin dia lewatkan.


Saka segera memakai jasnya, dia berjalan ke luar kamar sambil menyugar rambut ringannya, sengaja tak dia minyaki karena istrinya punya ingin baru untuk menciumi rambutnya sebelum pergi bekerja.


"Bang, kamu makin ganteng!"


"Yang bener, atau lagi ngerayu supaya beli online?"


Arsy tergelak, memang kebanyakan wanita begitu, tapi percayalah kalau dia tak ada niat itu, hormon di dalam tubuhnya memaksa dia untuk terus bersikap dan mengatakan rayuan pada Saka sampai pria itu terbuai.


Sebelum benar-benar pergi, Saka cium bibir indah istrinya itu, dia berjanji akan sebentar saja ada di luar rumah, bergegas kembali setelah usai, dia tak akan tenang meninggalkan Arsy seorang diri meskipun di rumah ini keamanan dan maid akan melayani Arsy dengan baik.

__ADS_1


"I love you more, Baby."


"Love you too, Abang."


Tak lupa kecupan dia berikan pada sang buah hati di perut rata itu, Saka tersenyum membayangkan perut Arsy membesar dan dia bisa merasakan tendangan anak mereka, moment yang sangat dia tunggu-tunggu sebentar lagi akan dia rasakan.


"Kalau dia minta apa-apa pastikan semua ada di daftar ini, jangan kasih mau kalau dia meminta yang aneh dan membahayakan, kalian tahu mood ibu hamil itu bagaimana, bisa meminta apa saja tanpa berpikir lebih dulu, yang ada pada akhirnya dia bisa menyesal, aku mau kalian bekerja sama untuk mengawasinya!"


Semua maid dan penjaga di rumah itu mengangguk, tidak menyangka kalau seorang Saka akan repot-repot membuat draf aturan seperti ini di tengah kesibukan yang ada, bahkan semalam tak bisa tidur nyenyak, masih sempat posesif.


"Pasti dia membuat kalian kesal, ya kan?" Arsy terkekeh pada semua maidnya.


***


Dua minggu berlalu, Saka benar menepati apa yang dokter itu katakan, sekarang mereka sudah ada di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.


Kesibukan Saka tak membuatnya harus mengurung diri tak menemani Arsy kontrol, justru dengan senang hati Saka menemani setiap tahap kehamilan istrinya itu, perlu dia ingat kalau mereka hanya berdua di sini.


"Iya, Bang. Lagian, anaknya Abang di sini anteng banget, nggak mau bikin aku susah, paling pusing ya kan, Abang tahu sendiri itu." Arsy mengusap perutnya dengan satu tangan yang bebas.


Hari ini mereka akan melihat perkembangan janin di dalam kantong rahim yang dinyatakan siap itu, berdebar rasanya karena dia sebagai calon ibu cemas, banyak kejadian di mana dokter menyatakan kalau tak ada janin yang tumbuh, semua membuat syarafnya luluh lantak, kejadian seperti itu kerap terjadi, alhasil tak ada kehamilan setelahnya.


Arsy menguatkan dirinya, meminta dalam hati pada sang buah hati untuk tetap bertahan karena dia pun bersama Saka telah berhati-hati, melakukan hal yang tenang hingga tak mengusil kehamilan itu.


"Kaosnya dibuka dulu!" ujar dokter itu sembari bersiap mengoleskan gel di perut Arsy. "Okay, kita akan melihat perkembangan babynya, saya harap dia sehat dan kita bisa melihat dia berkembang dengan baik."


Saka mengangguk, doa sudah dia langitkan, tinggal bagaimana dia harus melegakan semua syarafnya agar tak tegang dan bisa menerima semua dengan ikhlas, termasuk kemungkinan buruk yang sudah dia baca bersama Arsy.


"Hemmm, sepertinya tidak satu ini!"

__ADS_1


Deg!


Saka mengusap punggung tangan Arsy yang gemetaran, apa yang tidak hanya satu? Keduanya saling tatap, takut kalau ternyata di dalam rahim Arsy ada penyakitnya atau apa yang membuat sang anak kalah.


"Maksud Anda?"


Dokter itu membenahi kaca matanya dulu. "Sepertinya istri Tuan hamil anak kembar, eheheh."


What!


Arsy menganga, dia menoleh pada Saka yang sama terkejutnya, hadiah dari mereka untuk ibu di rumah adalah hadirnya si kembar.


Bahkan, ini hadiah merangkap sekaligus, dia bisa menyaingi kakaknya di sana.


"Ada dua kantong rahim, kalau mereka lahir, kemungkinan wajahnya tidak mirip, tapi tetap kembar, eheheh. Selamatnyaa, janin-janinnya sehat!"


Arsy menoleh pada Saka sekali lagi, dia menyengir. "Ini karena Abang suka minta double kalau main, jadi dikasih double, mantep!"


Heuh?


Bu dokter lebih baik tutup telinga daripada miris sendiri dan ingin pulang bertemu suami, apa yang dikatakan Arsy membuat dia pusing, minta dibelai.


Dengan wajah gembira, keduanya bergandengan tangan, Saka sudah mengizinkan Arsy melepas kursi roda, kemungkinan perut istrinya akan cepat membesar karena anaknya ada dua, dia sudah membayangkan ada yang mempunyai wajah mirip ayah Aksara dan ibu Jingga di sana, kalau bisa kembar laki-laki dan perempuan, atau laki-laki semua dengan wajah mirip ayah Aksara.


Beerrrr


Membayangkan anaknya punya wajah tampan dan garang seperti sang ayah membuat Arsy merinding, tapi siapa tahu itu benar.


"Abang jangan bilang udah siapin nama!"

__ADS_1


Saka terkekeh. "Abang justru mikir kalau besok waktu periksa lagi, ternyata nambah anaknya, Sayang."


Duar!


__ADS_2