Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Memyambut Ayah dan Ibu


__ADS_3

"Nda, nanti ayah sama ibu dibelikan apa?" Baskara hubungi Aisyah, sekalian dia pulang membawa camilan atau apa untuk menyambut kedatangan ayah dan ibu. "Yang kemarin atau apa?"


"Makanan itu yang deket kelurahan, kata Kak Rima ada banyak menu, enak-enak dan khas daerah sini, Kak."


"Oh, di sana. Baiklah, nanti aku telfon lagi, Nda."


"Iya, hati-hati kalau pulang, Kak."


"Iya, Nda. Love you!"


Aisyah tersentak mendengarnya, ungkapan cinta sering suaminya katakan, bahkan sampai hamil begini dia masih saja terkejut bila Baskara mengatakan cinta, seolah belum bisa percaya kalau akhirnya dia mendapatkan pria itu menjadi suaminya.


Senyuman Rima semakin membuat Aisyah malu, dia juga berharap bisa menjalani kisah cinta seindah mereka, menyimpan perasaan dalam hati, lalu semesta yang menikahkan mereka sendiri.


"Kenapa begitu?"


"Ahahahah, Is ... aku yakin Bas cinta banget sama kamu, kak Pian bilang kalau selama Bas bersamanya tak pernah menyebut nama gadis selain kamu, itu pun sebelum kalian menikah, saat terpuruk itu, kamu pasti terkejut, tapi sebagai orang yang dekat dengan Bas, kak Pian mendengarkan semua itu, untuk pertama kalinya Bas menyebut nama gadis dengan mata berkaca-kaca itu namamu, seolah dia mendapatkan hal besar!"


"Kak, jangan membuat aku semakin malu pada suamimu, nanti kalau dia pulang, pasti dia melihat bekas merah di wajah ini, dia bisa menebak semua itu. Doakan kami ya," ujar Aisyah sambil menggenggam tangan Rima.


Rima mengangguk, dia peluk singkat ibu hamil muda yang sangat manis dan cantik ini, dia merasa senang sekali sejak Aisyah tinggal di desa ini, dunianya akan terasa sepi bila nanti Aisyah kembali, akan sulit baginya ke kota karena sang ayah mendapatkan bagian usaha di daerah ini.


Tak lama dari itu, panggilan berulang kali Aisyah terima, memilih makanan secara virtual bersama suaminya, Rima pun ikut memberikan saran, dia yang paling tahu lidah dan selera keluarga besar mereka.


Panggilan berikutnya dari mama Fya, wanita itu ingin sekali ikut menjemput Aisyah, tapi punggungnya sudah tidak kuat untuk perjalanan jauh, sedang kalau naik pesawat tidak ada temannya.


"Mama sehat-sehat di sana, kalau sudah sampai sana, aku bisa ke rumah Mama, ya."


"Mama yang ke rumah kamu, Is!"


"Ahahahah, iya. Mama yang ke rumah Ais, temenin Ais seharian penuh, Ais mau dibuatin kue dan makanan seperti dulu sama Mama, deal!"


"Siap, sayang. Mama belanja yang banyak besok, kamu sehat-sehat sama calon cucunya Mama ya, Mama sayang kamu, Nak."


"Ais juga sayang banget sama Mama, sampai ketemu, Ma."

__ADS_1


Aisyah tersenyum pada Rima, menjadi bagian keluarga ini tidak pernah terpikirkan oleh Aisyah, tapi lagi-lagi mereka harus sadar kalau hidup ini sudah ada skenarionya.


Malam ini keluarga Baskara akan tiba, Rima membantu persiapan di rumah Aisyah, termasuk membersihkan kamar untuk mereka, nanti sore pun kedua orang tua Rima yang tak lain paman dan bibi dari ayah Aksa ikut bergabung, mereka sudah sangat rindu untuk bertemu.


"Coba kalau kamu tinggal lebih lama, pasti kamu terkejut, di sini acara untuk orang hamil, banyak sekali, Is!"


"Hmm, kan jadi ingin lebih lama, ahahaha, tapi bagaimana tuanku harus kerja. Kakak main ke sana ya, inget ke rumah aku!"


Rima mengangguk, kalau ada kunjungan usaha pasti akan mampir ke rumah itu.


***


"Kakaaaaaaaaaaaak!"


Hup,


Baskara hampir jatuh menangkap tubuh kecil Shafiyah yang melompat tanpa aba-aba ke arahnya, masih dengan jaket dan sepatu pink-nya, bobot Shafiyah harus dia angkut masuk ke rumah.


Decakan ayah membuat gadis itu merengek turun, tapi karena sudah Baskara gendong, dia goda saja, sekalian membuat ayahnya cemburu.


Bergantian ayah yang menepis cemburunya pada Shafiyah, dia beralih menyapa Aisyah dan yang lain, dekapan lama ayah terima dari pamannya, rindu sekali melihat pria yang sangat berkuasa itu, ayah sampai mau menitihkan air mata karena melihat paman Raka mengingatkan dia pada ibunya, hanya ini saudara ibunya yang tersisa, wajahnya tak jauh beda.


"Bas menjagamu dengan baik, kan?" ayah langsung merengkuh Aisyah, mengecup kepala menantunya itu.


"Sangat baik, dia takut Ayah hukum nanti, ahahahaha."


"Dia harus menjagamu, dan aku pasti menghukumnya kalau dia ceroboh. Sehat-sehat kan dia?" ayah tunjuk perut Aisyah.


"Iya, alhamdulillah, ehehehe. Ayah sehat?"


Ayah mengangguk, dia mau menjemput anak gadisnya yang masih manja dengan Baskara itu, bisa-bisanya baru minta gendong terus duduk di pangkuan tak mau pindah.


Kedipan ibu membuat Aisyah mundur, membiarkan ayah berurusan dengan Baskara dan Shafiyah, pria itu tak akan tinggal diam kalau putrinya dikuasai pria selain dirinya.


"Ya, Ayah?" menyibakkan rambut coklatnya.

__ADS_1


"Nempel terus sama Kakakmu, terus Ayah sama siapa?"


Ya ampun, satu ruangan tepuk jidat.


"Aku rindu Kak Bas, Ayah. Tunggu, setelah ini kan aku sama Ayah, tidur satu kamar sama Ayah dan Ibu, sebentar saja!"


"Begitu?"


"Iya, tadi aku di mobil kan tidur di pangkuan Ayah, jadi sekarang jatahnya Kak Bas, ya Kak?" Shafiyah menoleh pada Baskara, kakaknya itu mengangguk sambik manyun-manyun endak meledek ayah. "Ayah tidak mau sabar?"


Ibu menjadi penengah, dia halau ayah dan meminta ayah mandi lebih dulu, tujuan mereka ke sini untuk menjemput Baskara dan bertemu saudara, bukan cemburu-cemburuan begini.


Jentikan jemari Aisyah membuat Baskara mengerti, hati ayah pasti berkedut bila Shafiyah mengacuhkannya, terlihat bagaimana mata ayah menurut pada ibu tadi.


Baskara lantas membisikkan sesuatu pada adiknya itu, sontak Shafiyah berdiri dan berlari menuju kamar, hampir ayahnya masuk.


"Ibu, stop!" menahan ibunya. "Biarkan aku yang menyiapkan baju Ayah, aku yang akan mengurusnya selama di sini, serahkan padaku!"


"Ya sudah, jangan bertengkar lagi, yang baik sama Ayah!" ibu tinggalkan.


Ayah memandang dalam, "Apa?" tanyanya bersuara pelan.


Shafiyah peluk pria satu itu, mencium pipinya berulang kali sampai ayah terkekeh, Shafiyah melompat kecil sampai kedua kakinya ayah tangkap.


"Ayah masih kuat menggendongku?"


"Masih, sayang." emuah, satu kecupan di pipi.


"Ayah hebat, ayo masuk, aku siapkan airnya dan baju-baju, harus tampan!"


Ayah mengangguk, dia tendang pintu kamar itu, membawa putrinya masuk dan menyerahkan kunci kopernya. Apapun yang Shafiyah pilih akan dia kenakan.


"Lihat kan, begitu kalau di rumah sama anaknya, tidak mau jauh. Sama Bas saja dia cemburu lo, Bik. Tidak tahu nanti sama menantunya bagaimana, mana Sofi itu suka bikin ayahnya kalut," jelas ibu.


"Anak gadis satu-satunya ya begitu, Ngga. Apalagi, modelnya kayak boneka begitu!"

__ADS_1


Baskara rengkuh Aisyah, dia lantas berbisik, "Aku bisa lebih posesif dari ayah, Nda."


__ADS_2