Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Syukurlah, Baik


__ADS_3

Rumah sakit menjadi tujuan utama, Baskara bawa Istrinya yang semakin lemas, tapi masih bisa bergumam menolak dibawa ke rumah sakit, dia takut diinfus dan yang lainnya di rumah sakit, apalagi dia trauma buruk akan tragedi di rumah sakit, kehilangan anaknya yang pertama kali.


"Yandaaaaa-"


"Tidak apa, aku di sini sama kamu!" Baskara pegangi supaya suster mudah memasang infus untuk menambah cairan.


Aisyah memberontak kecil, dia takut kehilangan anaknya lagi, suasana di rumah sakit begitu mencekam, tapi tangan Baskara juga lebih kuat darinya, tentu dia kesulitan melawannya.


"Sssttt, tidak sakit, tidak akan terjadi apa-apa di sini, anak kita aman!" bisik Baskara, jarum itu berhasil menembus kulit putih dan lapisan daging Aisyah, dia meringis hebat sebelum lemah di pelukan Baskara. "Aku di sini, lihat kan ada aku!"


Aisyah mengangguk, dia peluk suaminya, tidak mau Baskara turun dari ranjang yang sama, sampai suster di sana mau naik juga, baper melihat kedekatan dua sejoli ini.


Mau tidak mau Baskara terpaksa meminta Saka dan ayahnya bekerja sendiri, bantuan bisa datang dari kedua paman mudanya itu, ada juga teman yang setia menjadi anak buahnya, dia tak mungkin meninggalkan Aisyah yang ketakutan seorang diri di sini.


Ibu sudah menawarkan diri bersama Shafiyah, tapi Aisyah menolak, dia mau suaminya yang ada di sini.


"Nda, minum dulu, nanti dia di dalam haus loh!" pintanya seraya melepas pelukan.


"Nanti Yanda balik sini!"


"Iya, cuman ambil di meja itu, mau yang mana kamu?"


"Air putih saja."


"Tunggu ya, aku ambil dulu!"


Baskara turun sejenak, dia geser saja meja kecil berroda itu ke dekat ranjang, dia kembali duduk di sana sampai istrinya selesai minum, tiga kurma yang dia bawa pun berhasil Aisyah lahap tanpa merasakan mual kembali.


Detik berikutnya, ibu hamil itu terlelap dengan sendirinya, menonton siaran televisi tanpa tahu dia yang berganti menjadi tontonan. Baskara baru turun dari ranjang itu setelah suster tiba membawakan obat yang diresepkan dan hasil pemeriksaan.


"Bisa tunggu istri saya di sini, saya akan bertemu dokter sebentar?"


"Bapak di sini saja, dokter ada kunjungan 30 menit lagi."


"Oh, baiklah. Tapi, kondisinya sekarang sudah dipastikan baik kan, Sus?"


"Sudah, Pak. Hanya efek dari makanan pedas, lambungnya tidak kuat, jadi sakit. Nanti, dokter akan menjelaskan lebih lanjut, tapi untuk calon bayinya, dipastikan baik-baik saja."

__ADS_1


Syukurlah, itu yang ditakutkan Aisyah sampai tidak mau dibawa ke rumah sakit karena takut anaknya dinyatakan telah tiada, bisa dikatakan ini anak kedua mereka dalam berumah tangga.


Baskara kembali berbaring di ranjang, takut istrinya membuka mata dan tahu dia tak menepati janji, beruntung mereka ada di ruang VVIP, setidaknya nanti bisa berbaring di ranjang yang utuh.


Jemari itu tak berhenti memutar ponsel, mengamati semua laporan yang masuk ke emailnya sambil mengontrol online dan memberikan masukan pada adiknya, dua tanggung jawab yang tak bisa dia lepaskan atau pilih.


"Ya, Bu?"


"Ais bagaimana, Bas?"


"Alhamdulillah, dia sudah baikkan. Baru saja suster datang, kondisinya dan anakku baik, ini efek makan pedas malam-malam, Bu."


"Ahahahah, yasudah, yang penting kalian sama-sama sehat di sana, nanti kabarin Ibu ya kalau butuh teman. Sofi sudah mau lari saja ke sana, mau jagain ponakannya itu!"


"Salam untuknya, kalau bisa mau ke sini ya tidak apa-apa, aku lapar, Bu. Eheheheh ...."


"Kamu ini, ya sudah nanti sama Sofi ke sana, jangan sampai telat makan, Ibu bisa tidak tenang tidur siang ini gara-gara kamu belum makan!" omel ibu perhatian.


Baskara tergelak lirih, getarannya membuat Aisyah terbangun, hanya memindahkan tangan yang diinfus ke perut Baskara, meminta di pegangi, dia tidak betah di sini.


Emuah,


"Sebentar tapi ya?"


"Iya, tidak bohong, katanya bohong dosa, ayo!"


Mau, ibu hamil ini mengangguk, dia bahkan memilih sendiri hijab mana yang akan dia kenakan, beruntung suaminya paham sebelum pergi ke rumah sakit, apa saja yang harus dibawa.


"Begini kan lebih segar, Bundanya dedek!"


"Eheheheh, sini lagi!"


"Bentar, Yanda sakit perut, tunggu sebentar ya."


"Lima menit!"


"Heh, Nda!" memohon, itu jelas kurang.

__ADS_1


Aisyah tergelak, dia tetap mulai menghitung dan tidak mau mundur sama sekali, Baskara blingsatan sampai dia lupa melepas sandal di sana.


Istri tenangnya entah ke mana, begitu berbeda disaat hamil, mungkin bawaan anak yang berasal dari benihnya, Baskara rutuk dirinya sendiri, dia mungkin iseng begitu juga saat di perut ibunya.


***


"Kak Ula mau ikut ke rumah sakit?" Shafiyah tetap duduk di belakang meskipun status keduanya sudah berada di tahap pinangan yang dekat dengan pernikahan, bahkan di jari manis kiri gadis berambut coklat itu sudah tersemat cincin dari orang tua Nakula. "Kak Ula," panggilnya


"Iya?" Nakula terlalu fokus mengemudi. "Kamu bilang apa?"


"Kakak ikut ke rumah sakit sama aku, tidak? Kak Ais kan dirawat di sana, aku sama ibu mau ke sana, kamu ikut?"


"Sepertinya tidak, setelah ini, kamu turun, aku ke lapangan, Pian dan yang lain menunggu, Shafiyah."


Hmmm, begini kalau punya calon suami yang super sibuk dan fokus, kemungkinan kecil dia akan bisa bersama dalam waktu singkat.


"Kak Ula," panggilnya.


"Iya, Shafiyah?"


"Masih sayang ke Sofi?"


Nakula tersenyum samar setelah sebelumnya terkejut akan pertanyaan calon istrinya itu, tapi dia mengangguk setelahnya lagi, jawaban singkat yang sangat Shafiyah sukai, dia sampai menahan rona di wajahnya karena anggukan itu.


"Sudah sampai, aku tidak turun menyapa ibu, sampaikan salamku saja, aku harus segera ke lokasi, Shafiyah!"


"Iya, nanti aku sampaikan, Kakak hati-hati ya, bilang ke ayah kalau aku sayang padamu!"


Purrffftttt!


Nakula berusaha fokus menatap arah depan, menoleh pada Shafiyah bisa membuatnya berpikiran yang macam-macam.


Mobil itu melaju kembali, tak ada lambaian tangan atau apa, hanya salam yang mereka sampaikan, Nakula hanya sekadar menjalankan tugasnya, tak ada hal lebih yang dia lakukan dan bahas bersama Shafiyah, menatap gadis itu pun dibilang terbatas, bila memang diharuskan saja.


Godaan sebelum menikah jauh lebih hebat dan dia tidak mau menodai niat baiknya.


"Ibu, aku mandi dulu ya," ujarnya.

__ADS_1


"Jangan lama-lama loh, nanti sampai habis satu album!"


"Ahahahahah, tidak, aku tidak melakukannya!" kibas-kibas rambut dan memainkan poninya.


__ADS_2