
Pagi-pagi, kamar ibu sudah ramai, ketiga anaknya berkumpul di sana bersama pasanhan masing-masing, mana yang seprei dan bantal tidak karuan, belum lagi suara jejeritan karena saling menggoda.
Gelak tawa yang dirasa sangat lengkap bila ayah ada di sini, sejenak ibu menunduk, dia hela nafas sedikit berat, di kasur itu biasanya seorang pria akan berteriak tidak terima karena diacak begitu saja, lalu akan memintanya memindahkan apa saja ke dekat ranjang agar tidak diganggu.
"Bu," sapa Baskara sambil mengalungkan tangan manja. "Pasti mikirin yang itu ya, yang suka rebutan sama aku ya, yang nggak mau ngalah ya, anak besarnya Ibu ya, hem?"
Ibu mengangguk, "Ayahmu itu tidak suka kalau kasurnya dibuat rusuh begini, coba dia tahu cucunya banyak tingkah, terus ibu hamil muda itu tidak mau kalah, pasti sudah pusing dibuat mereka, ahahahahah, dia pasti marah-marah pada ibumu ini, Bas!"
Baskara pandang wajah teduh itu, dia bersandar di sana, membuat ibunya tidak merasa sendiri, setelah ini Saka dan Arsy akan meninggalkan rumah, mereka akan menetap di luar negeri, hanya ada dirinya dan Shafiyah yang kemungkinan masih menetap di daerah ini.
Selama Nakula masih pada posisinya, dia tentu bisa tinggal di rumah ini, tapi bila ada pekerjaan yang mengharuskan dia pindah, maka Shafiyah pun tak bisa mengelak untuk ikut suaminya.
Dan pada akhirnya dia, Baskara yang tetap tinggal di sini karena dia memegang wilayah pusat.
"Ibu sudah senang ada kamu, dari dulu cuman ada kamu yang sama Ibu, Bas."
"Aku jamin Ibu tidak akan kesepian, kan aku bakal buat anak lagi, jadi ramai!"
"Ahahahahah, kamu ini ya, Ibu jadi ingat waktu kamu nangis minta susu, kamu lari ke luar kamar, pegangin kaki Ibu sampai mau jatuh bareng, waktu itu ayahmu masih suka lirik-lirik, iya kan?"
Baskara iyakan, memang hubungan kedua orang tuanya tak semulus kedua saudaranya, hampir sama dengan Baskara, tapi dirasa masih berat mereka, kehilangan yang sangat besar harus mereka lewati sebelum akhirnya rumah ini berdiri tegak.
Usapan tangan ibu selalu menjadi hal ternyaman dan tak tergantikan, sejak dia kecil, wanita ini yang bersamanya, menemani dia dalam berbagai waktu dan bahkan paling hafal akan apa yang dia suka tanpa dia berkata.
"Bu, aku sama A-isyah bisa kok tinggal di sini kalau misal Sofi harus ikut suaminya, Ibu tenang aja!"
"Kamu mau pindah ke sini?"
"Iya, aku ngobrol sama A-isyah, terus dia bilang, jangan Ibu yang pindah-pindah, biar kita saja yang ke sana, Ibu punya memori khusus di rumah itu, dia tidak keberatan sama sekali, lagipula kalau sama Ibu kan waktu dia bingung anaknya mau apa, Ibu bisa jelasin, kadang A-isyah panik juga-"
"Gitu kamu mau nambah anak, hayo!"
Baskara tergelak, "Kan itu biar A-isyah makin ngerti sama anak, aku juga tambah sayang lihat dia hamil, gemes tahu, Bu!"
Sungguh, ingin ibu jitak anaknya ini, sudah besar dan punya anak masih saja suka seenaknya kalau mau sesuatu, dengan alasan gemas sekalipun untuk saat ini kasihan kalau Aisyah harus mengandung lagi, Rasyah butuh perhatian lebih dari Aisyah.
__ADS_1
"Kan itu karena ayah gengsi sama Ibu, kalau tidak ya bakal jadi Saka lebih cepat!"
"Hush, kamu ini!" ibu lirik foto bersama ayah. "Yah, anakmu, Yah ... sukanya balik-balik omongan, Yah!"
"Ahahahah, aku ngomong bener ini, Bu!" doa menjerit setelahnya karena tangan ibu sudah mencubit lengan dan pinggangnya.
Aisyah yang melihat itu hanya bergeleng, dia setuju kalau suaminya mendapatkan hukuman lebih berat. Dia saja pusing kalau malam suaminya merengek minta anak lagi, dikiranya seperti membuat adonan kue atau mungkin merawat anak itu semudah membalikkan kedua telapak tangan.
Lain halnya dengan Nakula yang justru ribut dengan ulah istrinya, Shafiyah sangat aktif sampai-sampai dia bingung entah dengan cara apa agar ibu hamil itu berhati-hati lagi.
"Ayank, aku mau main sama Rasyah loh!"
"Iya, tidak apa main, tapi kan jangan ikut guling-guling, ada dedeknya di perut!"
"Oh, iya. Aku suka lupa kalau sudah isi anak kamu!"
Kan, mau apa Nakula kalau istrinya suka lupa begini, apa perlu dia ingatkan setiap malam dengan cara ah-uh agar istrinya ingat kalau mereka sudah menikah dan sebentar lagi menjadi orang tua.
Bahkan, setiap malam mereka sering membuka lembar USG untuk mengira-ngira besarnya bayi mereka saat ini.
"Iya, dia kalau sudah sama ponakannya gitu, eheheheh." Nakula ambilkan botol air mineral milik istrinya itu. "Shaf, jangan lupa minum!"
Shafiyah lantas duduk, dia kembalikan mainan Rasyah, lalu meneguk minumannya, suka lupa kalau sudah main.
"Uhuk!"
"Hem, pelan-pelan, Shaf ...."
"Iya, ehehehehe, maafin, Ayank!"
Kedipan Shafiyah, siapa yang bisa menolaknya, Nakula saja langsung senyum ketar-ketir begini.
***
Bukan dua koper, tapi karena Saka mengajak istrinya ke luar negeri, akhirnya dia membawa lima koper sekaligus, semua barang Arsy.
__ADS_1
"Aku sudah menguranginya banyak, tapi masih banyak juga!"
"Di sana kamu kan ada baju, Sayang."
"Tapi, yang di rumah sini juga mau aku bawa, kan rumahnya lebih besar dari rumah sewa, Bang!"
Saka manggut-manggut, dia pun membelikan Arsy lemari besar yang mungkin tiga kali dari lemari di rumah kontrakannya, jadi wanita itu bebas menyimpan baju dari jaman sekolah pun bisa
"Bang," panggilnya.
"Iya, Sayang?"
"Sampai sana nanti, Abang langsung kerja?"
"Belum tahu, lihat sama rekan yang lain. Kamu mau Abang temenin?"
Arsy mengangguk, itu hari pertamanya menjadi istri di negara lain, walau dia juga pernah tinggal di sana, setidaknya sehari saja Saka ada bersamanya setelah pindahan.
Ini, semua barang ini berat kalau harus Arsy tata sendiri, dia butuh tenaga lainnya.
Mendengar alasan istrinya itu, Saka lantas mencubit ujung hidung Arsy, dia kecup singkat sampai istrinya itu merona karena sambaran dan tatapannya.
"Besok resmi deh Arsy jadi istri tawanannya Abang!"
"Heh, kok tawanan, kan Abang nikahin kamunya sah secara agama dan negara, Sayang. Apa sih hayo?!"
"Ahahahahah, ditawan di rumahnya Abang, tidak boleh kerja, diam di rumah sampai putih bening, tidak kena sinar sama sekali!" dia peluk Saka dari belakang.
Saka goyangkan tubuhnya, "Terasnya luas, kamu bisa buka jemuran di sana, atau mau nge laundry, ahahahah, Arsy laundry, gitu kan?"
"Ahahahahahah, sambil dasteran ya, Bang?"
Saka putar tubuhnya, "No, tidak ya, enak saja mau dasteran sambil jemur-jemur, nanti orang jadi lirik kamu!"
"Mm, maunya dasteran di kamar, enak Abang kalau gitu!" Arsy cebikkan bibirnya.
__ADS_1