Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Idenya Shafiyah (Pindah Kamar)


__ADS_3

"Mana yang sakit?" Aisyah bawakan kompres kecil. "Sini, Ais kompres sebentar!"


Ada bekas merah di dekat pelipisnya, ada juga yang terasa sakit tepat di kepala, berhubung rambut Baskara lebat, Aisyah kesulitan mengobatinya.


Antara mau tertawa dan kasihan, Aisyah sampai mau menangis karena menahan tawa, bagaimana bisa seorang Baskara yang suka mengayunkan tembak itu berkata cinta dan langsung meminta hari ini jadian, bahkan itu harus dilakukan karena Shafiyah yang melotot maksimal tadi, begitu salah metode penyampaiannya, langsung melayang teflon yang dibawakan.


"Auh!" keluhnya. "Pelan, A-isyah, jangan ditekan!"


"Auu, pelan Aisyah, jangan ditekan. Biasanya kalau kulitnya robek juga jahit sendiri, gitu tidak sakit, sekarang dipukul teflon saja mengeluh sakit ke Kak Ais, dasar manja!" omel Shafiyah menirukan kakaknya.


Ibu sedari tadi tertawa di balik punggung Shafiyah, dia tertawa tanpa suara sampai perutnya sakit tembus ke punggung. Yang Shafiyah katakan benar, selama ini kalau ada luka, Baskara tak pernah mengeluh sekalipun bercucuran darah, baru ini mengeluh karena pukulan teflon.


"Lihat saja, kalau ayah pulang, aku laporkan ke ayah!" dia mengancam. "Kakak sudah membuat keturunan ayah malu luar biasa, mengatakan cinta pada wanita dengan wajah datar seperti itu, memangnya Kakak tidak tahu apa bagaimana waktu ayah bilang cinta ke Ibu, hah?"


Ibu muncul dari belakang, "Memangnya bagaimana?" merasa ada cctv.


Shafiyah lantas menirukan gaya ayahnya saat berkata cinta, menakup wajah ibu lalu mencium pipi dan bibir.


Astaga, ibu kira selama ini anaknya tidur saat sang suami merayu cinta, ternyata masih hidup, jadi malu sampai urat nadi.


Sebelum terlampau jauh, ibu cegah saja, mengingat kali pertama ayah mengatakan cinta itu adalah Baskara saksinya, waktu Baskara masih bocah, itu akan memalukan kalau direka ulang, ayah tidak ada sensor sama sekali.


Ibu ajak Shafiyah ke kamar, menunggu ayah pulang nanti malam.


Sementara itu, Aisyah menutup mulutnya, dia tertawa kecil di sana.


"Tertawalah, ini pantas ditertawakan!" ujar Baskara, dia rebut kompres itu, lalu dia betulkan sendiri.


Namun, hati yang senang karena mendengar ungkapan cinta itu tidak tega, Aisyah rebut kembali, dia yang mengobati tentunya.


"Kamu belum menjawabnya, A-isyah."


"Hem?" Aisyah berikan salep sedikit demi sedikit. "Soal apa?"


"Yang tadi, aku mencintaimu, apa jawabanmu?"


"Kakak butuh jawaban, bukannya tadi Kakak bilang hari ini kita jadian?" balas Aisyah endak tertawa, ingat teflon melayang tadi.


Baskara tersenyum, "Pemaksaan ya? Sekarang jawablah, aku mau dengar!"

__ADS_1


Aisyah simpan kompres itu lagi, jujur dia senang karena Baskara mencintainya, itu yang dia tunggu dan inginnya, tapi rasa ingin menggoda suaminya itu lebih besar rasanya.


"A-isyah, aku mau dengar jawabannya!"


"Tunggu, Ais mau simpan ini dulu!" sibuk sendiri, sengaja dia ulur.


"Jawab dulu!" Baskara tarik dan putar hingga Aisyah menghadapnya, di ruang tengah ini hanya ada mereka. "Jawab dulu!" ulangnya.


Aisyah lepaskan tangan itu, lalu dia genggam dengan tangan kanannya.


"Sejak kapan Kakak suka sama Ais?"


Baskara berpaling, dia malu mengakuinya.


"Tidak mau menjawab ya, atau tadi itu hanya karena Sofi yang memin-"


"Sejak aku remaja, sejak pertama kamu ikut pertemuan keluarga, sejak kamu jatuh di depanku, sejak dulu sebelum aku pergi sekolah jauh, aku sudah menyukaimu!" potongnya, dia mengaku juga walau malu.


Bunga-bunga bertebaran di hati Aisyah, selama ini dia mencinta dan itu terbalas, hanya saja mereka sama-sama diam.


"Kenapa Kakak tidak pernah mengatakannya?"


"Jawab dulu, Kak!" mata indah yang tidak bisa Baskara tolak.


"Aku menunggu waktu yang tepat, tugasku di keluarga ini bisa saja membuatmu takut, sampai lamaran itu tiba dan aku tahu kamu jatuh cinta pada pria lain," jawabnya mengaku. "Sekarang gantian, kamu jawab yang tadi!"


Aisyah tersenyum lebar, suaminya salah sangka ternyata selama ini, justru dia tak pernah bisa berpaling atau jatuh cinta pada Sena.


"Apa Kakak bisa membuat aku jatuh cinta padamu?"


Kedua mata Baskara melebar, "Membuatmu jatuh cinta?"


Aisyah mengangguk, "Aku trauma dengan cinta, apa Kakak bisa membuat aku jatuh cinta lagi?"


"Apa yang harus aku lakukan, A-isyah?"


Aisyah lantas menunjuk kamar keduanya, di rumah ini mereka tidur di kamar yang berbeda selama menikah.


"Bagaimana bisa aku mencintai Kakak, kalau ada dinding pembatasnya, aku bahkan tidak tahu kalau malam hari ternyata diam-diam Kakak melihat foto atau bertukar kabar dengan gadis lain, kalau jadi satu kan, aku bisa mengawasi Kakak!"

__ADS_1


"Tapi, aku tidak pernah melihat foto gadis selain kamu dan Sofi, tambah ibu, A-isyah." jawaban lugu yang Aisyah suka.


"Hmm, begitu ya. Ya sudah, jadi Kakak tidak mau satu kamar sama Ais ya, jadi Kakak-"


Baskara bekap mulut kecil itu dengan tangannya.


"Sejak kapan kamu jadi banyak bicara, A-isyah?" tanyanya lirih. "Mulai malam ini, pindahlah ke kamarku, kamarmu itu akan menjadi kamar tamu, kamu bisa mengawasi aku setiap malam!"


Aisyah kedipkan matanya, benar apa yang ibu dan Shafiyah katakan, perempuan akan menjadi ratu kalau mendapatkan cinta lelakinya. Lihat saja pemain tembak ini, Aisyah diminta duduk dan dia yang memindahkan bantal juga barang-barang dari satu kamar ke kamar lainnya.


***


"Ahahahahahaahh, aduh perutku sakit, ya ampun!" Saka terjungkal-jungkal menertawakan Baskara.


Kebetulan malam ini ayah kembali ke kota ini bersama anak keduanya, Saka. Karena ibu dan Shafiyah ada di rumah Baskara, maka mereka menuju kemari, tidak tahunya ada kisah yang membuat mereka sakit perut.


Bahkan, Shafiyah bercerita dengan ringannya, gadis itu duduk di pangkuan sang kakak kedua, lalu mengatakan apa saja yang ada di kepalanya.


"Kak Saka dan Ayah tahu tidak kalau malam ini mereka pindah tidur satu kamar?"


Ayah sontak berhenti tertawa, "Kamu yang kasih ide?"


Shafiyah manggut-manggut, "Aku bisikin kak Ais sebagai bukti cinta kak Bas ke dia, ahahahahahah."


Ayah menoleh pada ibu yang membenarkan itu, dua wanita ini kompak memang.


"Sofi, besok pagi coba tanya kak Bas begini ... Kakak, kak Ais sudah hamil belum? Dia pasti menjawab ... Sofi, apa begitu aku melihat A-isyah, dia jadi hamil dalam satu malam? Ahahahahahahah ...." Saka tertawa terbahak-bahak, sampai Shafiyah yang ada di pangkuannya berpegangan kuat.


Tak urung ayah dan ibu ikut tertawa, dua anak mereka yang lain ini memang kalau ditemukan bisa membuat Baskara hancur lebur, beruntungnya Saka lebih sibuk di luar negeri.


"Bagaimana kalau aku pinjam hape Kak Saka buat ganggu kak Bas?" cetusnya.


"Sofi, kan Ayah baru pulang, mana pelukan seribu kalimu itu, hah?!" ayah cemburu sama anak gadisnya.


Saka dorong-dorong adiknya, meminta berpindah ke pangkuan ayah, suka sekali duduk di pangkuan orang, untuk kakaknya.


"Ibu, geser dulu, ada yang mau dipelukin, sini Ayah sayaaaang, sini!" mereka tertawa bersama.


Yang di kamar? Mungkin tertawa juga.

__ADS_1


__ADS_2