Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Season Tiga-Saka dan Arsy


__ADS_3

Season Tiga, "Suamiku Tercinta"




Saka duduk sedikit lebih lama sambil satu tangannya bertahan di atas tanah bertabur bunga-bunga nan basah itu.



Besok dia akan menikah, pria berkuasa itu telah meninggalkannya, hari ini tepat 40 hari kepergian sang ayah.



"Dia tidak menungguku menikah, Kak." Saka menunduk, rematan tangan Baskara di bahunya sedikit menguat, dia tidak bisa membendung air matanya meskipun sudah lebih dari satu bulan lamanya sang ayah pergi. "Ayah tidak mau melihat aku menikah, ayah belum mendengar aku berhasil menjadi seorang pria!"



Baskara balikkan adiknya itu, dia rengkuh dalam pelukannya, semua masih sangat berduka akan kepergian ayah mereka, bahkan ibu hampir setiap malam susah tidur.



Namun, pernikahan ini adalah bagian dari wasiat ayah mereka, Saka harus menikah ditanggal kelahiran pria itu, tepat besok seharusnya pria itu berulang tahun, sesak di dalam dadanya tak terbendung lagi.



Tidak ada yang tahu kapan ajal itu tiba, ayah hanya menitipkan Saka dan Shafiyah pada Baskara sebagai gantinya, perusahaan itu pun berganti di bawah kendalinya, anak tertua yang mendapat tekanan jauh lebih berat dari adik-adiknya, tak lain karena sebab ini, dialah yang berdiri setelah ayah mereka tiada.



Hanya sakit demam dan pusing, membawa pria berkuasa itu menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan sang istri, tepat di depan Aisyah yang kala itu membawa anaknya ke kamar untuk bermain bersama, saling menghibur.



"Besok hari ulang tahun ayah, suatu kebanggaan kau menikah di hari itu, jadilah pria dan suami seperti yang dia doakan, jangan mengecewakannya, menyakiti Arsy, sama saja menyakiti ayah, kau ingat itu!"



Saka mengangguk, dia lantas menyelesaikan doanya, sebelum kembali untuk meneruskan persiapan doa malam ini, juga acara esok hari.



Di mobil itu, Shafiyah dengan mata sembabnya, selama ini dialah yang paling lama berada di sisi ayahnya, tidur pun dipeluk ayahnya sampai dia menikah.



Kehamilannya baru berjalan dua bulan, dia berusaha kuat menyeimbangkan mental dan kesedihan agar tak berpengaruh pada anak yang dia kandung.



"Jangan menangis lagi, adikmu itu bisa semakin sedih!" pinta Baskara sambil menepuk lengan Saka.



Saka hapus jejak air matanya, kembali berwajah tegas dan siap menggoda adiknya yang tengah hamil muda itu, calon cucu kedua yang diharapkan ayah mereka bisa menjadi sosok yang tangguh dan pewaris ibunya.



"Hei,-" belum Saka berkata, Shafiyah berhambur memeluk, dia ingin turun tadi, tapi karena baru saja hujan, Baskara melarangnya dengan alasan takut adiknya terpeleset, berbahaya untuk kandungannya. "Kalau nangis itu jelek, Kakak tidak suka kau menangis, bisa aku pukul yang membuat adikku menangis seperti ini!"



"Aku mau manisan mangga!" rengek Shafiyah sambil terisak.


__ADS_1


"Iya, Kakak belikan, tunggu Kak Bas selesai menghubungi istrinya." Saka hapus air mata di pipi Shafiyah, lalu dia gesekkan hidungnya di sana, membuat Shafiyah tertawa karena ulah gemas kakaknya itu. "Mau jadi ibu juga masih tembem begini, belum cocok, eheheheh."



"Ih, tapi kan mau ada dedeknya, dedeknya kak Ula!" Shafiyah masih enggan melepas pelukan itu.



Baskara berdeham, dia yang mengemudi di sini, hanya bisa cemberut saat Saka mendapatkan pelukan dan kecupan dari bumil baru itu, dia juga mau.



Tak lantas diam, Shafiyah bergerak maju, menarik dan memutar wajah Baskara, dia mendaratkan dua kecupan di pipi kanan dan kiri, lalu tertawa bersama.



"Biar bekas merah muda, kak Ais biar cemburu sama Kak Bas!"



"Ahahahaha, lagi!"



Eh, malah meminta dicium lagi, sudah menjadi kebiasaan mereka sejak kecil, lagipula mereka tak ada yang merasa terganggu akan hal itu.



\*\*\*



Pernikahan Saka besok akan digelar di rumah utama ini, sesuai dengan yang ayah mau sebelum meninggal, mengingat Arsy dan keluarganya tak mempunyai tempat yang luas, selain itu bila di rumah ini, maka keluarga yang lain masih bisa tinggal di salah satu bangunan besar keluarga Saka yang disulap bak hotel, lebih mudah kumpulnya.




"Bas, Rasyah eek ini, mana pampersnya?" ibu mengangkat kedua tangannya, bekas adonan, tidak mungkin menyentuh cucunya. "Bantu anakmu ya, sudah cuci tangan dan kaki?"



"Sudah, Bu. Jangan capek-capek, aku sudah salamkan pada ayah!"



"Ahahahah, iya. Dia pasti mencari istrinya di mana, besok saja habis nikahan Saka dan Arsy, Ibu ikut ke sana, ini kasihan kalau Ais ditinggal sendiri!"



"Yasudah, yang penting Ibu jangan capek-capek!" Baskara ingatkan sekali lagi.



Ibu mengangguk, kalau sudah ketemu adonan kue dan lainnya, heboh sudah ibu di sini, tidak peduli lelah dan lainnya, tangan dan kaki tidak bisa diam.



Sesekali Baskara minta Aisyah untuk mengawasi ibu, setidaknya ada yang memijak rem bila ibunya itu terlalu banyak bekerja.



"Is, Bas sama anaknya, eek dia, jadi biar yandanya saja. Kamu mau apa ini?"


__ADS_1


"Ais udah cek ricek makanan buat besok, beres semua, tinggal ini katanya mau buat cookies banana, Bu. Ais lupa belum beli coklat batangnya, biar diwarna kuning, ahahahah ... lupaan aku!"



"Kamu ini, baru anak satu loh, hayo, cepat!"



Aisyah mengangguk, dia jinjing roknya, biar anaknya diurus sang suami saja, dia yang bergerak membantu para wanita lainnya di sini.



Dapur sudah padat, depan mulai didekor dan sebagainya, hanya untuk dan khusus Shafiyah, bumil baru itu harus duduk diam meskipun kakinya gatal mau ke dapur, sang suami yang berkelana bersama kerabat yang lain.



"Ayank-"



"Sudah, kamu di sini saja sama dedeknya, aku bantu kak Saka di sana!"



"Tapi, aku bosen duduk terus, Ayank!"



"Jalan boleh, tapi di sini, tidak bantu-bantu ya!"



Shafiyah mengangguk, dia cuman mau gerak sedikit, baru meluruskan kaki kalau dirasa sudah cukup, terbiasa bergerak, disuruh diam jadi gatal semua



Foto besar di ruang tamu itu memancing rindu besarnya pada sang ayah, senyum dan tatapan pria itu sangat melekat di hatinya.



*Ayah, aku akan menjaga diriku dengan baik, ada kak Ula bersamaku, menantu laki-laki satu-satunya Ayah yang terpilih, dia pria baik, tenanglah, aku akan baik dan hidup bahagia seperti yang Ayah mau*.



Shafiyah usap perutnya, dia masih ingat dalam kondisi sakit, ayahnya mengusap perutnya itu ketika dia baru dikabarkan hamil, hanya sebentar, tapi dia senang ayahnya sempat dengar berita kehamilannya itu.



Sofi, Ayah tidak bisa tidur!



Sofi, jangan telat pulang, kalau kamu diculik bagaimana?!



Di rumah saja, di luar banyak orang jahat dan Ayah takut kamu kenapa-napa tanpa Ayah!



Hiks, dia duduk kembali, semua akan ayahnya kembali berputar.



"Hei, jangan nangis, sini bantu Kakak rawat ponakannya!" ujar Baskara, dia peluk dengan satu tangannya.

__ADS_1



"Rasyaaaaahh, Yandamu ini Kakakku, jangan cemburu ya, dia sama aku!" ujar Shafiyah gemas.


__ADS_2