Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Tidak mau!


__ADS_3

Pakaian kerja dan riasan yang harus diperbaiki dua kali, bibir Arsy mencebik mengetahui aturan Saka, tahu begitu dia tidak melamar kerja di sini dan tidak mendengarkan teguran pria itu.


Salah sendiri bertemu pria yang punya kuasa, wajah saja tidak bisa dinego, apalagi ucapannya meskipun masih dibilang murah senyum, sedikit.


"Ini ruangan dan timmu, belajar dengan cepat di sini, jangan mengecewakan!" titah Saka.


Arsy melongo melihat sekitarnya, mereka kompak tersenyum pada dirinya, berbeda dari yang tadi.


Apa karena penampilannya yang sudah berubah atau mungkin karena mata Saka yang sudah menukik sejak membuka pintu, terlebih lagi Saka calon penerus usaha keluarga fenomenal ini.


"Bang-"


"Panggil pimpinan muda, jangan Bang!"


"Tapi, Arsy sukanya manggil kamu gitu. Katanya kamu cowoknya Arsy, sekarang dipanggil beda nolak!" Arsy memang selalu berhasil menantang Saka.


"Cih, baiklah, panggil sesukamu kalau mau mereka semua menjadi sainganmu!"


"Heh!"


Arsy menoleh ke belakang, rata-rata memang perempuan di tim ini, mana cantik dan pintar berbagai bahasa.


Ya, dia juga ahli berbagai bahasa, bahasa angin.


Sementara Arsy mulai beradaptasi, Saka angkat kantong berisi baju lama Arsy usai ganti tadi, gadis itu selain selalu berhasil menantangnya, Arsy juga biang ceroboh, dengan ringannya lupa meninggalkan baju, bagaimana kalau Saka jadikan bahan kejahatan, mengirim semacam santet begitu.


Dasar ceroboh!


"Arsy, benar kalau pimpinan muda itu kekasihmu?"


Haish, dia kan cuman bercanda, lagipula apa mata bang Saka itu sakit sampai mau denganku!


"Hem, dia suka padaku!" jawaban yang berbeda dari hati. "Kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku khawatir saja cuman dijadikan permainan para petinggi saja. Kita cukup sadar diri menjadi pekerja dengan tidak bermimpi yang tidak-tidak, apalagi menjalin hubungan dengan petinggi."


"Memangnya di sini suka main perempuan?"


Tidak ada yang menjawab, tapi dipastikan jawabannya tidak tahu, mereka hanya mengambil sample rata-rata dari kebiasaan orang kaya, Arsy terlebih lagi punya pengalaman dan masa kelam akan permainan cinta, tidak lain orang tuanya sendiri.


Kalau sampai itu terjadi juga dia tidak rugi, dia kan bukan kekasih sungguhannya Saka, dia juga tidak jatuh hati pada Saka.


Eh, apa benar aku tidak akan suka padanya?

__ADS_1


Arsy pukul kepalanya sendiri, dia yakin akan gila kerja di sini, walau memanggil Saka dengan sebutan lain dan formal, semua orang di kantor ini sudah tahu kalau dia itu diakui kekasih oleh Saka, jadi apapun tingkahnya akan mereka catat.


Sumpah, dia menyesal masuk ke sini, yang ada dia tidak bisa bebas.


Seharian ini dia harus belajar dan mencatat dengan baik apa yang dia tahu, bagi mereka di sini 24 jam itu waktu yang sangat lama untuk belajar, mana mereka tidak tahu kualitas otak setiap orang itu berbeda-beda.


"Minumlah kopi, jangan sampai ada yang melihat kau mengantuk, di sini kita dibayar karena betah bekerja, lagipula masih jam tiga sore, kenapa sudah lelah, kurang satu jam lagi, Arsy!"


"Lea, maunya juga aku tahan, tapi lelah sekali belajar terus, mataku sakit!"


"Jangan, hentikan bersikap lemah atau kita semua habis kalau pimpinan muda satunya tahu!"


"Siapa?" Arsy angkat kepalanya.


"Pimpinan muda Baskara, kakaknya pimpinan muda Saka, kamu tahu kan? Dia kan calon kakak iparmu!"


"Aaaaarrrrrrgghhhhh, rumit sekali sih di sini!" rengeknya bergumam.


Mau tidak mau harus tegak lagi, dia harus belajar satu hari penuh, jam empat pulang dan dia mau pingsan sekarang.


Rasanya dia mau berlari menemui Saka dan mengibarkan bendera putih padanya, menyerah, lebih baik dia bekerja di cafe saja.


"Tidak, sekali aku bilang tidak, tetap tidak!"


Saka menolak, "Aku yang akan mengurus surat resignmu, mau sekarang aku hubungi bos lamamu itu?"


"Heh, jangan seenaknya, Bang!" bingung harus bagaimana.


"Kamu yang jangan seenaknya, siapa suruh langsung hari ini, urus dulu di sana dan pindah, tapi karena sudah masuk sini, sulit untuk ke luar, aku akan menghubungi mantan bosmu!"


"Abaaaaaaaaang," rengek Arsy, masa bodoh dengan rasa malu, dia goyangkan lengan Saka yang masih duduk di kursi kerja, masuk ke ruangan Saka seperti nyonya besar saja gayanya. "Plis, aku mau ke sana bentar, kan harus ada etikanya kalau mau keluar masuk kerja!"


Seringai tipis terbit di sudut bibir Saka, ide-ide menggoda Arsy seketika menumpuk.


"Kamu mau ke sana?" tanyanya, Arsy mengangguk. "Aku antar, kan kita kekasih, bukan begitu?"


"Tapi, kan itu cuman-"


"Mainan katamu tadi, begitu? Tidak, aku mau sungguhan!" potong Saka.


Loh,


"Mau sungguhan apa sih?" Arsy kejar Saka. "Jelasin dulu, jangan suka buat salah paham deh!"

__ADS_1


Saka tak bergeming, dia tahu Arsy mendengar apa yang dia katakan, tapi untuk pemahaman, dia minta Arsy biar paham sendiri, lagipula itu tidak sulit.


"Bang, Bang Saka!" terus dia kejar sampai ke dekat mobil, dia baru berhenti, tidak mungkin dia pulang kerja naik mobil Saka, pria yang hanya dia akui sebagai kekasih bohongan, kan tadi karena emosi. "Oke, Arsy ngaku salah, tapi jangan diam begini, jelasin dulu!"


Saka hanya melirik, dia buka pintu mobilnya, lalu masuk dan akan mengemudi sendiri.


Gadis itu hampir frustrasi menghadapi Saka, baru kali ini diinginkan menjadi kekasih sungguhan, Arsy justru cemas, dia yang terbiasa bebas, harus dikekang tentu bagai cambuk untuknya, sedang Saka termasuk tipe yang tidak suka dilawan.


"Abang," panggilnya lagi, meletakkan dagunya di celah kaca. Mata itu terus memohon pada Saka, sedang Saka mau tertawa, pasalnya banyak yang melihat ulah Arsy padanya. "Abang beneran tidak mau menjelaskan, mau benar-benar membuat aku tergantung seperti-"


"Seperti yang kamu bilang di lobi tadi!"


"Ih, kan tadi Arsy sudah ngaku salah, Arsy minta maaf. Abaaaang, plis, jangan dijadiin pacar kamu!" lebih baik sama kucing, begitu pikir Arsy, kucing masih bisa dibelokkan jalannya.


Saka mengesah pelan, dia tunjuk bangku samping lewat ekor matanya.


"Apa?" Arsy tidak punya tenaga melawan pria ini.


"Masuk sendiri atau aku tarik?!"


Brak!


Arsy secepat kilat duduk ke samping Saka, memakai sabuk pengaman sambil menahan kesalnya.


"Pokoknya Arsy nolak kamu jadiin pacar beneran!" ujarnya lagi.


"Terserah aku, salah sendiri koar-koar begitu!"


"Bang Sakaaaaaaaa." merengek tidak mau.


"Hem, ya pacar?"


"Arsy bukan pacar kamu!"


"Kamu yang mulai, aku tinggal main saja, pacar!"


Arsy tarik-tarik rambutnya, biar tampilan acak itu Saka lihat.


"Arsy tidak mau!"


"Bodo amat!" balas Saka menjengkelkan.


***

__ADS_1


Bucil side Saka bentar ya, biar nggak kedinginan dia.


__ADS_2