
"Loh, dia sudah tumbuh segitu, Yanda!" Aisyah antusias melihat perkembangan bayinya di layar hitam itu. "Sudah terlihat belum laki atau perempuannya?"
"Belum, Bu. Sudah penasaran ya, sabar ya ...."
"Yanda yang penasaran."
Eh, suami dibawa-bawa, ya memang setiap malam dia selalu menggoda Aisyah, tapi bukan berarti dia terlalu penasaran akan anaknya di dalam sana, hanya menyapa saja.
Baskara senyum-senyum, pandangannya sangat fokus pada benih yang sedang tumbuh di perut itu, kalau sudah ke luar ingin dia pastikan anak itu mirip siapa dan tentunya kalau laki-laki akan dia ajak tanding keras.
"Yanda," panggilnya sambil bergelayut.
"Hem, capek ya, makanya nurut kalau aku bilang pakai kursi roda saja, begitu kalau tidak mau nurut!"
"Aku masih bisa jalan, Yanda."
"Tapi, kan kondisinya kamu hamil, kakinya butuh bantuan buat nopang badan, mana kuat makan jadi gemuk sekarang, nambah lagi kan ya berat badannya, hem?"
Aisyah mengangguk, dia sampai membeli baju panjang baru beberapa warna, kebanyakan sudah tidak muat.
Sepanjang perjalanan menuju area parkir, pasangan muda ini dikejutkan dengan dua orang yang sudah lama tak mereka jumpai.
Aisyah dan Baskara mengulas senyum seperti biasanya, sedanv yang di depan sana sudah kepanasan dan ingin kabur saja meskipun tak ada respon berlebihan.
"Sen, apa kabar?"
Sena terkejut disapa Baskara lebih dulu, dia terpaksa mendekat dan mengajak dua orang lainnya, Gina yang sudah melahirkan dan anak perempuan mereka yang masih mungil.
Sejenak mereka terkejut melihat Aisyah yang tampak gemuk, dari pipinya.
"Lagi program hamil?" tanya Gina.
"Baru saja periksa, alhamdulillah sudah jalan lima bulan, ehehehe," jawab Baskara sambil merengkuh bahu Aisyah, akan lebih baik kalau dia yang menjawab.
Gina menganga, tapi cepat dia sadar akan gelagat anehnya, tidak percaya kalau Aisyah sudah hamil karena pakaian Aisyah tak terlalu menampakkan kalau gadis itu tengah hamil dan sudah lama.
Ada kecemburuan yang menguap lagi, terlebih di sini Aisyah tampak lebih segar dan cantik. saat hamil, Gina lingkarkan tangannya ke lengan Sena, dia menempel seperti benalu di sana, tak peduli pada anak bayi mereka yang ada di kereta.
Aisyah sedikit membungkuk, dia usap pipi lembut bayi itu.
__ADS_1
"Manisnya, siapa namanya?"
"Waffa zahra, panggilannya Waffa." Sena yang menjawab, dia tersenyum memandang wajah bayi perempuannya itu. "Habis suntik imunisasi, untung tidak rewel."
"Oh, anak baik sekali, sehat-sehat ya ...." Aisyah kembali mengusap sebelum dia kembali ke sisi Baskara, membuat yang di depan sana salah tingkah.
"Sudah tahu laki atau perempuannya?"
"Belum, Sen. Masih nunggu lebih tepatnya, semoga sehat saja lah, itu yang penting." Baskara usap perut Aisyah, yang diusap senyum-senyum, sesayang itu calon bapak satu ini.
"Wah, kalau laki, bisa dong dijodohin anak kita, Bas?"
Setuju?
Baskara hanya tersenyum, dia tak mau berkata apapun karena takut jawabannya akan dijadikan janji yang harus ditagih, lagipula perjodohan juga membebani anak-anak, dia pun ingin anaknya tak melewati proses pacaran, jadi itu tidak perlu.
"Dia jelas tidak mau dipasangin sama anak kita, Pi!"
"Apa sih, siapa tahu?!"
"Ya ampun, anak kita itu lebih tua dari anaknya Ais dan Bas, cari yang tepat deh, apa kamu mau selingkuh nanti, hah?"
***
Waktu yang ayah tentukan untuk mengurus pernikahan Shafiyah dan Nakula semakin sempit, Baskara mondar-mandir dibantu dua pamannya yang salah satu diantara mereka baru saja menikah paksa.
Paksa, tapi mau malam pertama!
"Katakan, apa benar nanti akan ada dua undangan, Bas?"
"Benar, sebelum A-isyah melahirkan itu punya Sofi, setelahnya akan menyusul Saka, tepat sudah berganti tahun, siapkan hadiahnya!" Baskara berbalik. "Kau tetap paman mereka berdua meskipun masih mengaku muda!"
"Astaga, aku baru saja menikah, belum produksi anak, masa iya anakku lahir nanti sudah dipanggil om dan tante, yang benar saja?"
"Kalau itu, aku rasa kau perlu protes pada kedua orang tuamu, kenapa bisa ayahmu menikah dengan bibi dari ayahku?"
"Heh, Bas, kalau saja aku moleh memilih, aku pasti mau lahir dari rahim istrimu!" Yoga menjulurkan lidahnya.
"Siapa yang mau benihnya jadi sepertimu?!" Baskara balas ledekan itu.
__ADS_1
Kurang ajar, gggrrrrrr, Yoga ingin mengejar dan menjitak kepala Baskara, tapi dia kalah jelasnya, kalau Baskara balas, apa istrinya nanti tidak jadi janda, mengerikan.
Yoga ambil undangan Shafiyah, manis seperti keponakannya yang super manja dan pemberani itu, anak gadis satu-satunya ayah Aksara, ketua turunan mafia hits yang terkenal akan kekerasannya.
"Dia pasti senang sekali anaknya mau menikah, akhir-akhir ini dia sering sakit kepala, apa di rumah Jingga suka menjitak kepalanya?" tuduh Yoga. "Eh, memangnya dia berani apa menjitak kepala turunan mafia?" ahahahahah, dia tertawa membayangkannya.
Di sini sudah ada yang sama dengannya, Baskara yang katanya lemah lembut di rumah, nyatanya di lapangan dan berhadapan dengan orang seperti tak kenal cinta sama sekali.
Yoga raba tengkuknya, pertama kali dia bertemu Baskara, jauh sebelum kenal Aisyah, dia seperti melihat titisan dunia lain saja, semakin ke sini jadi seperti kucing.
"Yan, sudah dapat undangan?"
Pian mengangguk, "Bagaimana kalau dia nanti punya anak cepat?"
"Bagaimana apanya?"
"Aku belum menikah dan anaknya Sofi bakal memanggilku kakek, yang benar saja?!" Pian merosot, jangankan anaknya Shafiyah, anaknya Baskara nanti juga memanggilnya begitu, pusing sudah kepala.
Yoga merosot, belum-belum dia akan dipanggil kakek, lalu anaknya jadi paman dan bibi, derita apa ini, istrinya dijamin syok karena sebentar lagi menjadi nenek.
"Apa enak menikah paksa?"
"Awalnya aku tidak suka, tapi masa iya malam pertama aku diam saja, dia buka baju di depanku, jelas adikku berdiri-"
Plak!
Gemas Pian mendengarkan, ingin dia bunuh saja Yoga detik ini juga.
"Itu memang benar, mana bisa aku menolak kalau dia membuka baju, ya sudah aku terobos saja, mana enak, ya kan?"
Plak!
Aaarrgghhhh, Pian ke luar ruangan laknat itu, dia banting pintu sangat kencang sampai Yoga berjengit, dia tertawa kencang.
"Memangnya apa lagi yang bisa menakhlukkan pria kalau bukan itu, jangan-jangan Pian tidak normal, harus aku pastikan, dia bisa berdiri tidak adiknya, mana dia tadi?" Ikut menyusul ke luar. "Piaaaan, Piaaaaaan, hei aku mau memeriksamu!"
Persetan,
Pian bekap mulut Wira yang endak menjawab seruan Yoga, sekali saja ke luar, bisa habis dia, mati konyol.
__ADS_1