
"Kaaaak, Kakaaak, Kaaaak ...."
"Kaaaaak," terus dia panggil.
Aisyah jinjing roknya, dia telah memutuskan untuk ikut Baskara bertugas ke luar negeri atau mana saja, walau sedikit berat Baskara membawa Aisyah, takut Aisyah kesepian atau apa hingga tak akan betah sendirian di ruangan serba tembok itu.
"Kaakaaak," panggilnya ke kamar.
Yang dipanggil masih asik mencukur rambut tipis yang tumbuh hampir menjadi kumis, mana bersenandung sampai cermin Aisyah mengembun semua.
"Kakak, ya ampun, Ais panggil dari tadi loh, asik cukuran!" kesal dia, tapi wajahnya tetap begitu sekalipun dia marah. "Belum bersih yang kiri!" masih komen.
Baskara lanjutkan lagi, kemarin waktu mereka bersama ada hal yang membuatnya mencukur kumis tipis miliknya itu, Aisyah setiap kali didekati pasti menjauhkan lehernya, alasannya geli semua, maka itu dia sibuk cukuran sekarang.
Setelah bersih, baru dia menoleh, memamerkan wajahnya yang bersih bersinar.
"Apa suamimu sudah tampan?" mendekat endak mencium pipi Aisyah.
"Iya, tunggu dulu!"
"Kan sudah bersih, belum boleh lagi?" meraih pinggang Aisyah, membuat istrinya itu terhimpit dan tak bisa bergerak sama sekali. "A-isyah, kok ditolak sih?!"
"Tidak ada yang nolak, tunggu dulu itu masih belum bersih sedikit, Ais benerin ya?"
"Tidak, cium aku dulu, A-isyah!" paksa Baskara tak mau melepas.
Baiklah, ini resiko yang memang harus diterima Aisyah sejak kabar cinta itu tersampaikan, mereka saling terpaut dan suami garangnya akan berubah menjadi lunak kalau di rumah, Baskara akan jauh berbeda, bahkan orang yang setiap harinya di kantor bersama Baskara dipastikan bingung dengan perubahan itu, di kantor dan lapangan menjadi orang yang tak kenal cinta sama sekali, sedangkan di rumah menjadi orang yang bahkan bisa dikatakan tidak menakutkan.
Aisyah rapikan baju-bajunya, pergi kali ini cukup lama dan dia membawa beberapa barang yang sudah ibu mertuanya siapkan, kemarin mereka ke sini hanya untuk memastikan kebutuhan Aisyah dan Baskara tercukupi, pasalnya tak akan bisa seenaknya ke luar kamar di sana, menunggu Baskara kembali juga dipastikan sudah gelap.
"Ais kok lapar lagi ya, gendut ini lama-lama kok jadi suka makan!" Aisyah cubit perutnya, dia jadi tertular suka makan banyak. "Ini yang dari ibu, terus ini yang dari mama, lengkap, terus-" masih terus memilah mana yang harus dia bawa.
Sementara Baskara sudah ke luar bersama tiga orang pengikutnya, banyak hal yang harus Baskara lakukan sebelum pergi agar tiga temannya ini bisa menjalankan tugas dengan baik.
Sesekali Aisyah duduk sambil meluruskan kedua kakinya, melonggarkan celana kain di balik roknya hingga perut yang tertekan itu merasa jauh lebih baik.
__ADS_1
"Kalau lapar jelas pasti langsung pusing, tapi malas mau turun," gumamnya. "Ayo, Ais. Nanti di sana kamu harus siap sedia jadi teman suamimu!"
Bangkit, Aisyah paksa dirinya untuk kembali bersemangat meskipun dia merasa sedikit pusing karena perutnya meronta kembali, akhir-akhir ini dia memang sering lapar, kadang malam juga seusai bersama suaminya, dia turun membuat mie instan dan menikmatinya.
Apa karena lelah bersama Kakak, jadi doyan makan? Habis bagaimana, semakin kakak lelah kerja, dia tidak bisa tidur malah malamnya sebelum begitu, ahh, lapar!
"Mau dipanasin sayurnya, Non?" tanya bik Nur.
Aisyah bergeleng, nasinya masih hangat, cukup untuk makan sayur itu.
"Ke dokter aja, Non, kalau sakit, daripada tuan marah loh kalau telat ke dokter!"
"Ais cuman suka lapar kok, tidak ada keluhan lain, Bik. Ke dokter nanti kalau dibilang ada yang sakit, kakak bakal batalin ajak ke dinas jauh itu, kasihan malah dia." Aisyah lahap makanannya, beruntung ada bik Nur, bisa jadi teman ngobrol.
***
Ayah awalnya tidak setuju, tapi begitu kedua anak lelakinya memastikan kalau Shafiyah akan aman bila bersama Nakula beberapa hari ke depan, perasaan ayah menjadi sedikit lega.
Bagaimana tidak, untuk kali pertama ayah harus pergi bertugas bersama kedua anak lelakinya, sedang anak gadisnya di sini butuh sosok yang bisa dia andalkan, walau tidak sepenuhnya sepanjang hari bersama Shafiyah.
Saka mengangguk paham, dia hanya kembali ke kota ini sejenak sebelum akhirnya pergi lagi bersama ayah dan Baskara, menjamin adik mereka aman adalah tugas yang utama, bahkan bisa diatas istri mereka sekalipun sudah menikah.
"Sofi sudah tahu?"
"Belum sepertinya, tapi kalau nanti ayah yang bilang, pasti dia mau, apa yang tidak buat ayahnya, tahu kan adikmu itu bagaimana, cuman mengomel di depan saja," jawab Baskara, tangannya ingin menggendong Shafiyah saja, tubuh kecil yang menurutnya seperti bata ringan. "Ayah baru kembali tadi, Pian dan Nando ikut sebentar, kalau Wira jangan ditanya-"
"Memangnya ke mana?" Saka rebut gelas air dingin kakaknya.
"Ke mana lagi, kalau sudah ada Nabila di sini, dia kan fans garis keras!"
Saka angkat kedua bahunya, bisa saja dicelah waktu kerja mendekati wanita, dia saja merasa pulang ke rumah lalu rebahan itu sudah nikmat tiada tara.
Gluk, gluk, gluk.
Saka kembali membuka email yang sedari tadi melambai-lambai, membahas wanita membuat dia sedikit pusing, kriterianya sama seperti dulu dimana dia suka tipe wanita santai seperti istri sepupunya-Reno, semua bisa hidup karena ocehannya.
__ADS_1
"Kaak,-" ups, Aisyah kita tak ada orang lain di ruang kerja suaminya.
Beruntung Saka membelakanginya dan fokus pada layar pipih itu, endak menoleh, tapi tangan Baskara sudah menahan kepalanya.
Secepat kilat Aisyah berlari menjauh, dia harus mengambil hijabnya, terbiasa di rumah hanya bersama suami saja.
"Kak Ais sudah biasa begitu, menggodamu dengan rambutnya?" Saka mau menyemburkan tawa.
"Kau lihat tidak tadi?" cemburu mendarah daging.
"Tenang saja, kan aku daritadi menghadap sana, tentu tidak lihat. Memangnya rambut kak Ais seperti apa? Indah tidak?" Saka naik-turunkan kedua alisnya, diamnya Baskara dan kedutan di matanya itu sudah menjawab. "Ya, aku tahu, kalau tidak indah, kau akan bilang indah, iya kan? Jadi, jelas punya kak Ais yang indah, ahahahahah."
"Hentikan, kalau dia dengar bisa merah pipinya-"
"Kalau merah, memangnya mau Kakak cium di depanku apa?"
"Saka!"
Ampun, Saka menurunkan kacamata, berwarna coklat tak masalah, asalkan bisa melindungi dirinya dari amukan singa hutan satu ini.
Sementara Baskara melipat bibir menahan senyum, memang yang di Aisyah itu indah semua di matanya, mau membusungkan dada, tidak salah pilih istri, lambaian tangan Aisyah membuyarkan lamunannya.
Baskara bergegas mendekat, wajahnya berubah begitu di depan Aisyah.
"Ya, A-isyah, ada apa?"
"Kata bibik tadi, Kakak sudah kembali, jadi aku lari ke sini, cuman mau memastikan Kakak benar-benar pulang, tidak ada apa-apa," jawabnya.
Baskara tersenyum, dia usap pipi merah itu.
"Tunggu aku, pekerjaan ini hanya sebentar!"
"Hehem, daaaa ...." Aisyah malu-malu melangkah pergi.
Hanya karena tahu aku pulang, dia sampai lari begitu, memastikan benar aku yang pulang, aku jadi gila, A-isyah!
__ADS_1