
Pelan-pelan dan sangat perlahan Aisyah gerakkan kedua kakinya, dia ingin berkemih, tapi suaminya sedang terlelap, tak tega membangunkan.
Namun, bila dia paksa berjalan sendiri, yang ada membahayakan diri dan calon anaknya, Aisyah diam sejenak, memang dia merasa tidak nyaman saat mengubah posisinya, berbeda saat dia harus digendong, di sana dia bisa pasrah.
"Kalau ditahan pasti sakit nanti," gumamnya sambil menoleh pada sang suami.
Di ranjang penunggu dengan wajah lelahnya, Baskara terlelap. Aisyah raih benda pipih di dekat bantalnya itu, tak ada cara lain membangunkan sang suami, mau berteriak juga dia merasa tertarik semua sampai perut.
Dering ponsel itu sontak melebarkan mata pemiliknya, Baskara terduduk mematuti siapa pemanggilnya.
"A-isyah, sayang?" tanpa sadar dia panggil se-lembut itu. "Mau ke mana? Biar aku bantu!"
Aisyah mengangguk, dia gantungkan kedua tangannya, lalu menunjuk kamar mandi dengan ujung dagu.
Tubuhnya melayang seketika, berpindah dari ranjang ke kamar mandi sampai kembali lagi ke ranjang, ketakutannya meluas kala dia temukan bercak darah lagi di tisu kering miliknya, Aisyah berpegangan kuat setengah mencengkram tangan Baskara, dia takut terjadi sesuatu pada calon anak mereka.
Tidak cukup satu kali Baskara menekan tombol pemanggil perawat, wajahnya pun sudah gusar, begitu perawat datang ingin dia hajar saja, beruntung Aisyah menahannya.
"Tolong berbaring saja, atau kalau tidak, Anda bisa memakai pampers celana seperti lansia, itu akan aman daripada bergerak dari ranjang," saran perawat itu.
Lalu, bagaimana kalau dia tak ada di sini? Siapa yang membantu Aisyah? Memakai pampers juga butuh orang, siapa yang dia izinkan membuka tutup kaki istrinya itu?
Dokter baru akan memberikan obat setelah waktu sarapan, mengingat sudah ada obat yang malam ini Aisyah teguk.
"Apa sakit tadi, A-isyah?"
Aisyah mengangguk, "Waktu airnya ke luar, seperti ada yang tersengat di sini, dicubit kecil begitu, Kak." dia masih belum mau melepas tangan suaminya.
"Tidak apa, jangan cemas, kalau dokter sudah memeriksa nanti, dia akan memberimu obat untuknya juga, ya ...."
"Heem," sahut Aisyah.
Jangankan meninggalkan Aisyah di sini, meninggalkan Aisyah untuk bertugas saja nantinya dia tidak sanggup, sangat berbeda bila dia ada di tanah air, di sana dia bisa menitipkan Aisyah di rumah ibunya, semua serba dekat, bisa dibilang bersama ibu sendiri akan lebih baik dan nyaman.
__ADS_1
Terbesit niat Baskara meminta bantuan pada mama Fya, wanita itu pasti sudah tahu, pasti juga ingin membantu Aisyah, tapi entah kenapa Baskara khawatir bila selama di sini istrinya akan diajak membahas masa lalu.
Ah, pikiran burukku!
Tak ada pilihan lagi, bersama orang tua akan dirasa jauh lebih nyaman meskipun mama Fya hanya ibu angkat, tapi mereka sudah bersama sangat lama.
Baik dan buruknya Aisyah tentu mama Fya lebih paham.
"Kakak, jangan pergi!" tidak mau dilepas.
Baskara kembali duduk lagi, tadinya dia mau ke luar menghubungi mama Fya sebentar.
"Boleh aku menelpon mama, A-isyah?"
"Kakak mau mama yang ke sini?"
"Iya, aku rasa akan lebih nyaman bila bersama ibu sendiri, kamu pasti lebih nyaman bersama mama, kan?"
Begitu kabar didengarkan jelas oleh mama Fya, tak ada penolakan sama sekali, kalau perlu hari ini juga dia berangkat untuk menemani Aisyah, yang sedang berjuang di kandungan itu tak lain cucunya juga.
"Auh, ada apa?" Baskara rasakan cengkraman kuat di bahunya.
Wajah Aisyah penuh dengan keringat dan pucat, bibirnya berkeluh lirih.
Sakit, itu yang dia katakan.
Beberapa perawat dan dokter jaga berlarian ke ruangan Aisyah, kalau sampai tertinggal satu orang saja tak membantu istrinya, bisa dipastikan se-marah apa Baskara di sini. Dia sudah pusing dengan pembagian tugas dan harus meninggalkan Aisyah, saat ini istrinya sedang kesakitan.
"Kakak, Kakak mana Kakak?!"
Aisyah genggam tangan Baskara, rasanya ada yang meremat di perut itu, diperas seperti tengah endak menjemur pakaian, dia baru merasakan reda setelah obat masuk perlahan dari infusnya.
Dokter jaga di sana memberi kode pada Baskara untuk ke luar sebentar, ada yang ingin dia sampaikan.
__ADS_1
"Apa maksudnya?"
"Saya minta maaf sekali dengan berat hati harus saya sampaikan hal ini, kemungkinan calon bayi kalian tidak bisa bertahan, kondisi fisik dan lemahnya kandungan saat ini membuatnya tak ada pilihan, terlalu banyak obat pun akan beresiko buruk bagi calon janin yang masih sangat kecil, bila sampai ada darah lagi, dipastikan anak kalian tidak bisa bertahan atau istri Anda keguguran dini," jelas dokter itu, dia pun memberikan data pemeriksaan pada Baskara.
Baskara terduduk lesu, dia menunduk sambil menutup wajahnya, duka kehilangan ada di depan mata, tidak bisa dia memilih waktu atau apapun soal kehidupan yang murni milik Tuhan.
Bagaimana dia mengatakan semua ini pada Aisyah?
Tampak jelas di wajah itu kesakitan yang nyata, tapi berharap juga tak mau kalah, dia tidak bisa menyakiti istrinya, akan lebih baik dia menerima pukulan dan peluru yang melesat ke jantungnya daripada melihat Aisyah menangis.
Dalam, perasaannya sangat dalam pada Aisyah.
"Bu ...." hanya satu kata. "Apa yang harus aku lakukan?"
Dia tak pernah bertanya akan apapun keputusannya di lapangan, walau dia pulang harus berbaju kusut dan ada luka di tubuhnya, tapi saat ini dia tidak tahu harus berbuat apa, hanya memanggil ibunya dan berharap ibunya tahu apa yang berat di hatinya itu.
"Bu," panggilnya lirih.
"Ya, Nak?" suara ibu terdengar parau.
Gemetar Baskara menyanggah ponsel itu di telinganya, sedang matanya tertuju pada ranjang Aisyah, bila sampai darah itu terlihat, sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa," akunya lemah.
"Temani istrimu, ajak dia banyak berdoa dan mengingat DIA, ya Nak ...."
Walau belum mendengarkan apa yang Baskara endak sampaikan, ikatan batin seorang wanita yang sudah bersamanya sejak bayi itu sangat kuat, ibu merasa hal berat tengah anaknya rasakan.
"Jangan tinggalkan Aisyah dulu, ayahmu pasti mengerti, dan satu lagi ... kesedihan apapun, jangan Bas tunjukkan ke Aisyah ya, harus kuat!"
Baskara mengangguk sambil memejamkan mata seolah ibunya ada di sini, di depannya, bisa melihatnya terpuruk dalam ketakutan, bisa menggapai dan menepuk bahunya.
Baskara simpan ponselnya, dia kembali berdiri tegak, mengusir raut sedih dan cemas di wajahnya, dia tampilkan yang selama ini membuat Aisyah jatuh cinta kepadanya, dia adalah sosok yang seram dan garang, itu yang membuat Aisyah jatuh cinta.
__ADS_1