Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Rok Pendek (S2 Now)


__ADS_3

Season 2 dimulai ....


Lelaki itu bukan seorang mafia atau tim penyidik kepolisian atau mata-mata negara atau pembunuh bayaran atau preman atau bukan juga petarung.


Dia hanya suami Aisyah, seorang pekerja keras yang menempatkan Aisyah benar-benar pada posisi mutlak dan asalnya, yakni di bagian tulang rusuk yang hilang.


Dia bisa saja berkuasa, memaksakan kehendaknya, mengatur apa saja, menghardik atau mungkin berbuat yang menyakiti Aisyah, dia sangat amat bisa mengingat se-garang itu dia di lapangan pekerjaan, hanya saja tidak dia lakukan.


Dia memilih duduk bersama, membahas satu masalah atau hal hingga ditemukan solusi yang bersepakat, bila dia marah, tentu pada hal yang benar-benar membahayakan Aisyah, dia cukup diam, menunggu sampai emosinya reda, lalu dia dekati Aisyah.


Baginya, wanita tak akan pernah bisa sejalan dengan pemikiran pria, memang mereka tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, sekalinya dipaksa lurus, maka akan patah dan sakit.


Bila sakit, tentulah yang mempunyai tulang rusuk itu merasakan sakit yang sama, hal itu benar-benar dia jaga semaksimal mungkin.


Di desa yang jauh sekali dari keramaian, bermodal celana pendek dan kaos tipis, canda tawa pria itu menembus dinding rumah yang bersekat-sekat. Hampir setiap pagi, Aisyah mendengar suaminya dijemput dan diajak ke bekerja orang-orang sekitar.


Baiklah, selama tidak diajak jadi menantu saja.


Dia jarang ke kantor, sudah sejak satu bulan kedatangannya di desa ini, kesibukannya hanya seputar ladang dan hewan ternak, ke kantor pun bila memang sangat diperlukan, walau begitu setiap malam dia tetap memonitoring pekerjaan yang sementara dia tinggalkan.


"Kakak ikut mereka merokok?" Aisyah manyun tidak terima.


"Tidak, bau rokok ya?" balasnya.


"Iya, ngerokok tidak?"


"Tidak, A-isyah. Mungkin baunya melekat di bajuku, biar aku mandi setelah ini, tunggu ya!"


Dan wanita manis di mata Baskara satu ini, tak ada yang berubah dari penampilan dan karakternya, hanya sedikit lebih manja pada sang suami, bumbu pemanis yang suaminya juga suka.


Setiap hari, kesibukannya membuka les pelajaran umum untuk anak sekolah dasar di sekitar rumahnya, terkadang juga lebih banyak Aisyah mengajar ngaji di sana, dia bahkan sudah dapat seragam ibu-ibu pengajian di desa ini.


Rumah yang mereka tempati tak pernah sepi, kecuali akhir pekan, banyak yang datang silih berganti, sampai mereka mau spontan mencium saja harus memastikan tak ada yang mengetuk pintu.


Harapan Aisyah dan Baskara masih sama, berbulan madu untuk keturunan yang mereka nantikan, hanya saja di sini pikiran mereka benar-benar dibuat segar, lebih pada berserah dan menerima akan ketetapan-Nya.


Walau setiap kali mendengar kabar kehamilan dan kelahiran itu membuat hati menangis, bedanya ketika menangis, bukan mengutuk, melainkan berharap bila nanti hadiah itu sampai pada mereka, nantinya mereka bisa menjadi orang tua yang sebenarnya orang tua.


"Kak, tidak ke luar lagi, kan?"

__ADS_1


"Tidak, kenapa, bajuku lengannya pendek sekali ya?"


"Iya, otot lengannya jadi kelihatan, cemburu aku!"


"Ahahahahahah," tawa mengudara. "Kapan tamunya selesai, A-isyah?" dia cium pipi kanan Aisyah, memeluk dari belakang.


Aisyah angkat tangannya, menghitung dengan suara lirih, menggerakkan kecil jemarinya.


"Besok aku selesai, tapi baru mandi mal-"


Salah sendiri sedari tadi manyun-manyun, mana ada suami yang tahan.


Baskara perangkap Aisyah diantara dirinya dan tembok pembatas kamar, menekan tengkuk istrinya itu agar ciumannya semakin dalam.


Bila Aisyah bertanya apa suaminya bosan berulang kali menciumnya, dengan sangat ringan dan penuh kesungguhan Baskara katakan, justru dia bosan kalau bibirnya hanya untuk berbicara, makan dan minum, dia butuh digigit juga.


Tok, tok, tok ...


Aisyah lepas pagutan yang sangat mendominasi itu, kedua tangannya ada di dada bidang Baskara, dia tahan begitu melihat wajah suaminya sayu-sayu luluh.


"Ada tamu, bukain pintunya!" berucap manja.


"Kalau mereka tanya bibirku kenapa, aku jawab apa?"


Ahahahahah, keduanya tertawa.


Aisyah ambil hijabnya, dia ikut ke luar dan berjalan di belakang Baskara, mengintip siapa yang datang di sore menjelang akhir pekan.


Seorang gadis berkulit putih, memakai rok panjang berwarna putih, ditambah lagi setelan jaket rajut biru laut.


"Rima, masuk!" sapa Aisyah mempersilakan.


"Masuklah, sendirian saja ke sini?" timpal Baskara.


Rima mengangguk, dia tak lain adalah adik perempuan Pian, anak dari adik sepupu kakek Baskara, seharusnya dia panggil bibi, hanya saja Rima masih muda belia.


Rima berikan rantang susun yang sedikit berat dan penuh itu pada Aisyah, dia peluk Aisyah sambil mengaduh kalau tadi dia dimarahi ibunya karena memakai rok panjang.


"Ibumu bukan marah sama rok panjangnya, tapi sama warnanya, ini putih dan kamu tidak lagi sekolah, tapi mau ke sini, terus ketemu teman, takutnya kalau duduk sembarangan, kena debu atau apa, bakal kotor dan susah hilangnya, tahu di sini kan banyak tanah basah, genangan air yang bisa kena percikannya," jelas Aisyah, umurnya tak jauh beda, tapi masih tua Aisyah.

__ADS_1


Rima masih menempel, padahal dia ini bibinya Aisyah, tapi lucu dan gemas juga punya bibi se-muda ini.


"Aku punya warna gelap, kamu mau?" tawar Aisyah menenangkan. "Kalau mau, ikut aku buat lihat, yuk!"


"Nanti, apa tidak dimarahi ibu?"


"Siapa yang mau marah sama istrinya Kak Bas?" Aisyah menunjuk Baskara, yang ditunjuk langsung pasang badan.


Rima tertawa, dia merasa menang kali ini dari ibunya, dia lepaskan pelukan Aisyah, lalu bergegas menyusul langkah Aisyah ke kamar sudut ruangan itu.


Pesan singkat Baskara kirimkan pada ayah Rima, jangan sampai pulang dari sini dikira mencuri rok tetangga, kan itu rok dari Aisyah, dia rasa rumahnya cocok juga menjadi rumah koleksi rok panjang.


Eh, tapi apa Aisyah punya rok pendek?


Pikiran nakal Baskara berlarian ke mana-mana, dia tidak pernah melihat Aisyah memakai rok pendek.


Yang benar saja, kan Aisyah berhijab, masa iya pakai rok pendek, Bas! Bucil geregetan.


Begitu Rima ke luar kamar sambil membawa beberapa lembar rok, Baskara hampiri istrinya yang masih di kamar, sibuk mencarikan wadah atau tas yang pantas untuk rok-rok Rima.


"A-isyah," panggilnya.


Aisyah mendongak, "Iya, Kak?"


Baskara sedikit membungkuk, dia mau berbisik.


"Apa di sini, diantara koleksi rokmu itu, tidak ada rok pendeknya?"


Hem?


Kedap-kedip, kedap-kedip mata Aisyah.


Rok pendek yang bagaimana, Aisyah tampak linglung.


"Maksudnya, rok selutut yang kadang Sofi pakai di sana?"


Baskara mengangguk, dia bahkan mengangguk sepuluh kali.


"Hmm, Ais kan tidak pernah memakainya, jadi tidak punya. Memangnya ada trend baru pakai rok pendek double celana kalau berhijab?"

__ADS_1


Eh,


__ADS_2