Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Habis Tiga Juta


__ADS_3

Selimut itu sudah ditendang berulang kali, tapi empunya tidak ada yang mau pergi meninggalkan ranjang, masih berbaring di sana sambil tertawa dan saling bercanda.


Baskara mengusel gemas perut berisi anaknya itu, dia cium-cium sampai yang punya perut menggeliat, tidak urung upayanya menggoda Aisyah, sumber energi yang selalu membuatnya bersemangat setiap harinya.


"Dia sebesar apa sekarang, Nda?"


"Masih kecil, bulan depan periksa lagi, mau ikut?"


Baskara mengangguk, jangan sampai dia absen saat istrinya memeriksakan kandungan, selain itu inginnya, sang ayah atau calon kakek bayi ini juga melarangnya absen saat Aisyah kontrol, harus dia yang menemani bila urusan pekerjaan tak terlalu penting dan bisa Baskara tinggalkan.


Aisyah turunkan bajunya, pria itu terus saja menyibak ke atas dan menciumi berulang kali, membangunkan rasa ingin pada diri ibu hamil yang ditahan sekuat tenaga.


Huwek!


Ingin muntah maksudnya, Baskara pegangi wadah kecil di dekat nakas itu, ritual setiap pagi ibu hamil muda yang tak akan terlewatkan.


"Nda, kamu ngidam apa tadi?" mengerutkan keningnya, baru ini mendengar istrinya ingin sesuatu setelah mereka meninggalkan desa itu.


Aisyah terkekeh, "Ingin makan sesuatu yang manis sekali, boleh tidak?"


"Apa dulu, kalau ada dan aku tahu, biar aku yang belikan, Nda. Apa?"


"Aku mau makan gula merah yang dihaluskan tipis-tipis itu, Yanda. Kamu yang iris tipis-tipis ya, pakai pisau besar, tapi kamu beli gula merah yang enak ke pasar dulu," jelas Aisyah.


"Harus ke pasar, bukannya kita punya atau bisa beli ke swalayan depan komplek?"


"Tidak, mau yang kamu beli dari pasar, Yanda. Plis!"


Astaga, tidak masalah memang masuk ke pasar, tapi kan kalau ke pasar dia bisa belanja yang lain juga. Terus, sudah lama dia tidak masuk pasar.


"Yanda sendirian, tidak boleh ajak bik Nur!"


Baskara tarik kolornya, "Harus memakai kaos begini juga?"


"Iya, Yanda mirip bapak-bapak yang jualan ikan, sungguh!"


"Nah, harusnya aku juga beli ikan, bagaimana kalau beli ikan dan kita makan bersama?" dia sampai mundur kerja karena ke pasar, harusnya dapat yang lebih enak dan besar, bukan makan gula merah dihaluskan.

__ADS_1


Aisyah menolak, dia mau membuat gula merah yang dihaluskan, entah nanti mau dia tambahi apa, yang penting dia mau Baskara ke pasar membeli gula merah yang enak dan mahal dari deretan gula merah lainnya.


Tidak ada nego lagi, pria itu pergi ke pasar dengan kaos dan celana kolor pendek, sandal japit juga uang secukupnya di kantong. Satu lagi, Aisyah tidak mau suaminya naik mobil, dia mau melihat suaminya pergi dengan sepeda motor biasa seperti saat mereka di desa.


Rasanya mau menjerit mengingat gula merah yang diiris tipis halus, lalu dimasukkan ke adonan lemet, Aisyah ingat ada bahannya, tapi kali ini dia hanya ingin lelehan dari gula merah saja, atau mungkin dia mengiyakan ide bik Nur membuat bubur sumsum.


Ibu hamil itu mulai berkutat di dapur, sementara pak mil alias suaminya sudah memutar gas menuju pasar, hilang citra seram Baskara, tampak sangat biasa dan sederhana.


Glek,


"Tuan, bukankah itu tuan muda?"


Ayah berbalik, menoleh utuh memastikan siapa yang masih antri di area parkiran pasar, dia tidak mungkin salah mengenali wajah putranya.


"Kenapa dia di sana, bukannya dia masuk hari ini?" tanya ayah.


"Mungkin mau membeli sesuatu untuk nona, Tuan."


"Ah, istrinya sedang hamil, ahahaahahah, pasti dia mengidam saat ini, rasakan!" ayah tertawa keras sebelum meninggalkan lokasi, melambaikan tangan seolah Baskara melihatnya. "Dia jadi ingin aku buang ke desa saja, bagaimana menurutmu?" menepuk bahu supir.


"Ahahahaahhaah, entah wajah dan sikapnya terkadang berbeda, dia punya darah lemah lembut seperti ibu kandungnya, anak baik, suami yang baik juga, kakak yang baik dan penerusku yang baik," ujar ayah sambil membanggakan dirinya juga.


Mobil mewah itu kembali melaju, tidak ada hukuman untuk keterlambatan Baskara, sama yang berlaku dengan pekerja di sana atas ngidam istri mereka, ayah tahu betul rasanya.


Di pasar, Baskara berkeliling dari satu toko ke toko lainnya, gula merah ada di keranjangnya, tapi kaki itu masih terus berjalan, bukan hanya ibu-ibu yang kuwalahan kalau ke pasar, pria satu ini juga, untung uangnya cukup, hanya sisa sedikit dan itu pas dengan biaya parkirnya.


"Yanda, lama sekali. Beli apa saja?"


"Maaf, sayang. Aku tidak bisa melihat paha ayam kampung ini, ikan-ikan ini, sayuran ini, buah ini, semuanya, ahahahahaha ... aku habis banyak, tapi aku senang, aku tidak menawar sama sekali, coba kamu lihat!" dengan bangganya menunjukkan.


"Yanda habis berapa belanja sebanyak ini?"


"Tiga juta, ahahahahah, aku tadi bawa uang segitu di kantong, Nda."


"Aaaaarrrrrrrrgghhhhhh, Yandaaaa!" spontan Aisyah menjerit, itu bukan secukupnya yang Aisyah maksud.


Dia hanya mai gula merah, bukan tumpukan seperti mau dijual lagi begini.

__ADS_1


Bik Nur tepuk keningnya berulang kali, kalau dia membawa uang sebanyak itu, jelas bisa buat sampai satu bulan, dan yang jelas dapatnya lebih banyak karena dia menawar, sekalian saja dia buka kedai sayur di komplek ini.


Kantong, Aisyah rogoh kantong celana suaminya, kok ya bisa membawa uang sebanyak itu.


"Ndaaa, jangan gitu tangannya, kena yang lain!" menahan tangan Aisyah. "Hush, Nda. Geli ... bangun nanti!" miring-miring menghindari Aisyah. "Nda, aku mau kerja, nanti digantung ayah, Nda, ampun!" ahahahah, dia tahu, dia salah.


Tak menunggu lama, bik Nur tahu sebelum jiwanya meronta, berlari ke rumah belakang, detik berikutnya sudah tidak ada suara, sebab Baskara tahan tengkuk Aisyah dan mencium wanita itu buas.


***


"Bahasa asing Anda tidak terlalu bagus, jadi maaf sekali Anda tidak diterima di sini, semoga bertemu dilain kesempatan."


"Hah, aku tidak diterima?"


"Iya, Nona. Silakan ke luar, ada antrian interview lainnya!"


"Tidak, aku mau bertemu bos kalian, siapa itu?" dia ingat-ingat. "Bang Saka, aku mau ketemu dia!"


Duar,


Bang Saka?


Satria yang kebetulan ada di area itu menoleh, kalau ada gadis memanggil Saka atau diantara mereka dengan sebutan asing, pasti mereka sudah kenal lama.


Dan gadis bernama Arsy ini memanggil Saka dengan sebutan Bang.


"Hei, Nona, bisa kita bicara?" tawar Satria.


"Tidak, aku mau ketemu sama bosmu, Bang Saka sendiri yang menyuruhku ke sini, dia bilang aku bisa bekerja di sini. Sekarang aku ditolak, aku mau ke depan kalau dia tidak mau menemui aku!"


"Anda mau apa?"


Arsy kepalkan tangannya, "Aku mau bilang kalau dia sudah menggantungkan hubungan kami, biar namanya jelek, jutek, jahat!" Arsy buru-buru ke luar. "Dia kira Arsy takut apa, dia harus tanggung jawab!"


Staff itu berdiri, "Tuan, apa tuan Saka punya kekasih, dia?"


Satria angkat kedua bahunya, mana pernah dia lihat Saka kenalan.

__ADS_1


__ADS_2