Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Jangan Bandingkan!


__ADS_3

Sena mengernyit, berada dalam satu ruangan bersama drakula wanita itu membuatnya pusing.


Dan, apa itu, kenapa dia disuruh intropeksi diri, apa yang harus disadarkan pada dirinya?


"Aku tidak mau satu ruangan bersamamu, kalau kamu khilaf terus nidurin aku lagi bagaimana?"


"Jangan asal ngomong ya, Gin. Siapa juga yang mau ganas ke kamu?!"


"Cowok bisanya bilang begitu, tapu begitu ditawari ya mau, kan kamu suka begitu, mau benci nikah sama aku, giliran tidur ya mau satu kasur, beda tahu tidak sama Baskara, dia itu tidak pernah mau tidur dengan Aisyah, itu namanya laki-laki yang jaga wanitanya, tidak asal tidur saja!"


"Jadi, kamu bandingin aku sama Bas? Cih, dia tidak normal namanya, yang sudah menikah mau satu kamar atau mandi bersama ya wajar, kalau dia menjauh ya itu artinya dia tidak normal!" Sena tahan emosinya yang mau meledak, entah kenapa dia ya tidak suka kalau Gina membandingkan dan membahas lelaki lain di depannya, terlebih lagi Baskara. "Jangan bilang kamu ya membayangkan tidur sama Bas!"


"Lah, kenapa memang kalau aku bayangin itu, badan Baskara itu kekar, kebayang sudah bagaimana ada di bawahnya, diapit sama tubuh kekar dia, dijamin aku teriak kencang buat nerima miliknya, pasti-"


Sena dorong Gina hingga terkapar di ranjang, mereka memang sengaja di kurung seperti ini, emosi selalu membuat mereka terperangkap sendiri dan bisa berbuat di luar alam sadar.


Gina berusaha bangun, tapi kekuatan Sena mendorongnya sekali lagi tak bisa dia kalahkan, dia justru terperangkap di bawah Sena.


"Kamu mau apa sih?"


"Mau apa? Kamu masih bisa tanya aku mau apa kalau kayak gini? Apa otak kamu itu sudah terkontaminasi sama Bas, hah? Si cupu itu?"


Gina silangkan kedua tangannya ke depan dada.


"Minggir, Sen!" Gina berseru kencang, dia berharap ada yang menolongnya. "Jangan gila, aku bisa hamil lagi-"


"Kenapa memangnya kalau hamil, hah? Kan, kamu jadi kalau aku lebih hebat dari Bas, aku lebih muasin kamu daripada dia, aku bisa bikin kamu teriak sekencang mungkin sama punyaku, rasakan kalau begitu?!" Sena menggila, sungguh dia sendiri tak tahu hatinya ada di Gina atau Aisyah, saat ini yang jelas dia ingin memakan habis wanita yang ada di depannya, Gina harus merasakan apa yang tadi dia pancing.


Gina berusaha menjauhkan tangan Sena dari tubuhnya, gerakan tangan itu membuat pakaiannya perlahan terbuka, bahkan Sena sudah membuka kancing kemejanya.


"Sen, sadar, Sen!"


"Sadar apa? Aku sadar!"


"Kita tidak jadi berpisah kalau begini!" Gina berteriak lagi. "Apa kamu mau, hah?"

__ADS_1


Persetan, Sena tak peduli, dia tidak suka dibandingkan dengan Baskara, dia tepis tangan Gina dan langsung merasuki istri yang sebentar lagi menjadi mantan istri itu.


Apa yang Reno dan Disa perkirakan tak lepas sedikit pun, terjadi yang seharusnya terjadi di dalam sana setelah mereka bertahan diam selama beberapa jam, akhirnya pecah juga hanya karena satu kali pancingan Gina, cukup mudah menjebak Sena, bandingkan saja dengan pria lain, terlebih lagi yang membandingkan ini sudah pernah tidur dengan Sena, tentu mencabik harga diri pria itu.


"Sen-" Gina tahan deburan napasnya, pria itu begitu berkuasa saat ini. "Sen, nanti aku hamil lagi!"


"Biar saja!" jawab Sena sambil terus melakukan apa yang dia suka.


Gina tertarik bangkit tepat ke depan wajah Sena, mata mereka yang sayu itu saling beradu, bahkan berciuman cukup lama, sebelum akhirnya Gina dekap dan mengatakan perasaan di hatinya.


"Aku sayang sama kamu, aku tidak bisa pisah dari kamu, Sen!"


Sena tak menjawab, hanya kedua tangannya mendekap erat punggung Gina, dan menambah pacuan di bawah sana.


Katakan aku lebih hebat dari Bas, aku lebih memuaskanmu daripada Bas cupu itu, Gin. Jangan membayangkan dan membandingkan aku dengan pria lain!


***


Aisyah setengah berlari ke depan, belum pergi ke luar negeri sudah dibuat sakit perut oleh suaminya.


"Mana tahu, tiba-tiba jatuh saja," jawab Baskara, dia sendiri malu jatuh seperti itu, apalagi ada mamang dan bibik yang melihatnya. "Biarkan saja, A-isyah. Aku bisa meng-"


"Sudah ya, ini tugas Ais yang rawat Kakak. Jangan cabut kulit yang ngelupas itu sembarangan, kulit kan ada jaringan yang bersambung, bahaya kalau asal saja, Kak!" Aisyah memimpin di sini, perlahan dia gunting hingga robekan itu tak semakin lebar dan sakit kalau diobati. "Sakit?"


Baskara bergeleng, menjahit kulitnya sendiri saja dia tak mengeluh, apalagi sekadar ini, luka kecil yang membuat kulitnya terkelupas sedikit di dekat mata kaki.


Tangan hangat dan lembut Aisyah begitu ringan melakukannya, sesekali Aisyah tiup lukanya hingga Baskara tak bisa menahan geli, ada sensasi geli saat tiupan Aisyah mendarat di kakinya.


"Sudah, sekarang sudah selesai dan Kakak bebas, sementara kaos kakinya pakai yang pendek saja!"


"Iya, Bu Dokter."


"Kakak!"


"Apa coba kalau bukan itu, dokter cinta?" Baskara tusuk pipi Aisyah. "Nanti, kalau biasa begini, di luar sana waktu kamu tidak ada, aku jadi candu ingin dirawat, A-isyah. Itu yang berat nantinya!"

__ADS_1


"Ya, Ais ikut Kakak saja, biar Ais obatin!" putus Aisyah seringan bulu.


"Ikut? Di sana jauh dari manapun, mau ke saudara juga cukup jauh, A-isyah."


"Kan, aku tidak ke mana-mana," sahut Aisyah sambil memiringkan kepalanya, tahu pria di depannya ini tak tahan kalau banyak bicara, pasti dicium. "Sudah, mmmmm, sudah!"


Sungguh, yang lebih sulit jauh dari Aisyah adalah bibir itu, rasa sakitnya hilang karena bisa mencium Aisyah.


Bik Nur tepuk dadanya berulang kali, dia salah jalan sepertinya, atau mereka yang tidak tahu ada di jalan apa ini, bisa-bisanya berciuman di depan janda.


Dia intip sekali lagi, begitu tahu Aisyah sudah duduk tenang di samping Baskara, dia baru melanjutkan langkahnya, jadwal pekerjaan bisa mundur kalau begini.


"Bik," panggil Aisyah.


Lah, kenapa dipanggil sih, Non? Jadi keinget!


Bik Nur menoleh, "Iya, Non?"


"Ais habis ini ikut Kakak ke luar sebentar, jadi kalau ada paketan yang katanya ibu itu, tolong simpan ke kamar tamu dulu ya," ujar Aisyah.


"Siap, Non!" bergegas ke luar.


Baskara usap pipi merah Aisyah, mendekatkan wajahnya, lalu dia cium pipi itu sampai cekung.


Plak!


"Nanti, ada mamang sama bibik!"


"Kalau gitu, bagaimana di sana?" menunjuk kamar mereka.


Aisyah bergeleng, "Kakak mau persiapan pergi kan, jadi hari-hari ini dibuat siap-siap ya, hayo!"


"Itu juga siap-siap, buat puasa."


"Ssstt, nanti didengerin bibik sama mamang loh, Kakak ini!" membekap mulut suaminya.

__ADS_1


__ADS_2