
Taburan bunga dan air mawar mereka lakukan bersama-sama, si kecil Rasyah yang merengek ikut lantas duduk di dekat nisan sang kakek tercinta, mendekapnya seolah sangat kenal dengan pria bernama Aksara itu, membuat ibu dan yang lain terkekeh gemas dengan aksi cucu pertama di keluarga ini.
Sementara Shafiyah yang paling dekat dengan ayah merundung dirinya di bagian ujung, dia tempelkan ujung hidungnya di sana, bergantian dengan kening seraya berbisik.
"Ayah, sebentar lagi cucu keduamu lahir ke dunia, aku ingin dia punya mata seperti ibu dan garis wajah seperti ayah, boleh?" dia terkikik sendiri. "Coba lihat perutku besar sekarang, kalau ayah masih ada, pasti ayah tidak akan bisa menggendongku lagi, aku berat, kak Ula saja... jangan mengadu padanya ya, dia sampai minta ampun kalau aku sedang manja, menantu ayah itu payah sekali, tapi bisa membuat aku hamil. Oh iya, satu lagi, ayah jangan meminta ibu menemani ayah dulu, tenanglah sendiri di sana, biarkan ibu bermain dengan anakku dan anak kak Saka, skip anak kedua kak Bas, dia terlalu banyak anak, hihihihi... kau setuju denganku kan, ayah? aku sayang padamu dan tahu kalau kau pasti ingin segera ditemani ibu, tapi maafkan kami, biarkan ibu di sini dulu, aku masih ingin tidur bersama ibu, di kamarmu, wek!"
Ibu tarik dan cubit pipi Shafiyah, bisa-bisanya berkonspirasi bersama orang yang sudah meninggal, walau itu ayahnya sendiri, bukan berarti bisa mengoceh sesuka hati, nanti dikira orang gila tentunya.
Aksa, (hihihi, ibu terkikik memanggil ayah dengan panggilan istimewanya sejak mereka menikah, ingat ayah lebih muda dua tahun dari ibu) Aksa, cucu kita mau tambah lagi, ya ampun... mereka berbeda darimu, suka sekali anak banyak, kalau Bas bilang dia trauma, itu bohong, dia menghamili istrinya lagi, kasihan menantumu. Kalau Saka bilang dia yang paling jago, biarkan saja, sekali-kali dia mengalahkan Bas dan meyakinkan kalau dia memang anakmu yang perkasa, ahahahah, satu lagi sebentar lagi Sofi si gadis kecilmu itu lahiran, dia masih suka ke kamar kita kalau merindukanmu, tidur bersamaku dan meninggalkan suaminya, nakal sekali kan dia, tapi itu semua karena dia rindu tidur dalam pelukanmu, Aksa... Ohiya, maafkan aku kalau aku belum bisa bersamamu, sabar ya, anak-anak kita ingin aku menemani mereka, tolong jangan cemburu atau membenci mereka, Aksa, kau tahu kalau aku hanya mencintaimu, tunggulah, semoga kita bisa bertemu disebaik-baiknya tempat kembali, aku mencintaimu, aku merindukanmu, sangat dan tak terbatas sama sekali.
Baskara bergeser dari samping Aisyah, dia tahu ibunya tengah menahan air mata kerinduan, tapi di sini anak-anaknya adalah kehidupan dan harapannya, sedang di pandangannya adalah sosok yang dia cintai.
Dia rengkuh bahu ibunya, tersenyum seraya menguatkan.
"Apa Ibu mengadukan soal aku ke ayah?"
"Ya, Ibu selalu mengadukan kalian pada ayahmu, biar saja nanti kalian akan dihukum olehnya!" ibu terkekeh setelahnya, lalu bersandar di pelukan Baskara, sang anak pertama. "Apa aku mencintai Ibu?"
"Tentu saja," jawab Baskara cepat, dia tak perlu berpikir akan hal itu. "Kenapa Ibu menanyakan hal itu?"
__ADS_1
Ibu mendongak. "Sejak kamu kecil, Ibu selalu bertanya-tanya, apa nanti kalau Bas kecilku sudah besar, dia akan tetap mencintaiku atau dia akan melupakan aku," jawabnya.
"Mungkin aku bisa patah tulang dan remuk kalau melupakan Ibu, ahahahahahahah, percayalah, aku tetap anak kecil Ibu yang suka membangunkan Ibu tiap malam untuk meminta susu botol, walaupun sekarang Ibu membiarkan aku meminum susu dari-" ibu melotot, sementara Baskara terkikik. minum susu dari A-isyah, ahahah, pemilik pabrik susu, lezat!
"Ibu adukan pada ayahmu!"
Baskara berbisik. "Bukankah ayahku juga suka begitu, Bu?"
"Baskara!" gerang ibu, justru mengundang tawa.
Lihat, anakmu ini, dia selalu membuat hariku berwarna, segala lelahnya selalu menuai hasil yang jatuh ke pangkuanku, bahkan keringatnya selalu dia berikan padaku untuk pertama kali, dia beruntung mendapatkan istri yang sangat pengertian, bisa menjadi penerus nyonya besar Yudistira dengan semua kelembutannya.
Ibu memandang Aisyah yang tengah sibuk mengajari Rasyah berdoa, kondisi hamil tak menjadi alasan.
Saka pamerkan benihnya yang sudah tumbuh kembar di perut Arsy, dia usap di depan makam ayahnya, sedikit membusungkan dada, Arsy sampai mau mengomel pada Saka, dia urungkan, ingat sedang ada di makam.
"Ayah, anakku dua." langsung pada intinya. "Eheheheh, aku mengalahkan kak Bas dalam satu kali tembakan saja, ya kan? Apa dia sekarang mengadu malu padamu karena kalah denganku? Tertawakan saja dia, Ayah. Beri dia nasi bungkus karena kekalahannya, ahahah, ini Arsy-menantu ayah yang banyak bicara dan aku suka, karena dia aku tidak jadi batu lagi, aku banyak bicara karena kalau tidak, dia akan mengunci kamar, ayah tahukan susahnya aku!" Saka melirik Arsy yang gemas sebal. "Ayah, doakan istri dan kedua anakku sehat, bertemu mereka sehat dan selamat sampai melahirkan, aku akan berusaha menjadi ayah dan suami yang siaga, seperti mau ayah dan ibu, satu lagi... aku yang menang dalam kompetisi anak ini, oke... ayah harus mengakuinya, salam untuk kakek Hans di sana, istriku takut padanya, ehehehe, aku mencintai kalian."
Arsy pun menyentuh tanah menggunung di depannya itu, dia tidak terlalu kenal dengan ayah mertuanya, tapi dia akui ayah mertuanya itu sangat berwibawa dan punya kharisma kuat, mendengar namanya saja dia takut.
__ADS_1
Ayah mertua, kalau anak kami kembar laki-laki semua, apa mirip ayah dan kakek itu menakutkan? Ehehshehe, bisa-bisa aku takut nanti menyusuinya, maafkan aku, ampun!
Saka gandeng Arsy untuk membantunya berdiri, kunjungan mereka telah usai, yang terakhir melangkah adalah ibu dan Baskara, rasanya berat bagi ibu meninggalkan ayah sendirian setiap kali datang ke sini.
"Kau masih ingat apa yang ayahmu katakan kalau Ibu tak ada atau mau menghindarinya?"
Baskara mengangguk. "Jingga, ke mari! Diam di tempat dan jangan ke mana-mana, aku cemburu!" dia tirukan kalimat dan nada bicara ayahnya, keduanya langsung tertawa. "Aku menirunya, Bu. A-isyah sampai gemas, tidak, dia yang menggemaskan!"
Pletak!
"Kau ini, sama saja!"
TAMAT.
****
Holaaa, BuCil juga sedih karena kisah ini harus tamat hari ini. Tapi, jangan terlena sedih karena kita akan segera ketemu sama judul baru, dari keturunan EL YUDISTIRA di sini, tungguin infonya, jangan hapus dari rak baca kalian, karena bisa jadi aku info di halaman novel ini atau cek ricek di instagram BuCil.
Okay, aku mencintai kalian!!
__ADS_1
love and hug,
BuCil.