
Bucil mau pake bahasa sante ya, berhubung Arsy ini lincah, ahahahah....
***
Bandara menjadi tempat perpisahan Saka-Arsy bersama keluarga yang akan mereka kunjungi suatu saat nanti, ibu peluk kedua anaknya, melepas tak rela dengan matanya yang sembab, tapi inilah jalan hidup di mana akan ada yang datang dan pergi.
Tanggung jawab Saka di sana juga menjadi bagian dari keinginan ayah dahulu, membagi tugas kedua anak lelakinya agar usaha keluarga ini terus berjalan, walau hati berat, mereka percaya akan selalu ada cara mereka bisa kembali ke rumah asal, melepas rindu pada sosok yang disebut ibu tadi.
"Aku pergi dulu, Ibu tahu kan kalau aku bakal sering terbang, setiap aku melintasi daerah ini, dipastikan Ibu harus memasak banyak!" Saka peluk ibu sekali lagi.
"Iya, jaga istrimu baik-baik di sana, jangan bikin dia sakit hati atau kesusahan sendiri, inget pesen ayahmu ya, kalau kamu nyakitin Arsy, sama kayak kamu nyakitin Ibu dan Sofi, jangan main-main, Saka!" ibu jewer Saka di kedua telinganya.
Saka meminta tolong pada Arsy, tapi istrinya yang aktif itu justru mempersilakan ibu sepuasnya menghukum sang suami, sementara Arsy sibuk menggendong Rasyah sebagai batas rindu sebelum mereka berjumpa hanya via suara.
"Kak Ais kenapa pucat gitu, habis apa sama kak Bas?" Arsy tak mau melepaskan Rasyah.
"Kamu ini apa sih, ahahahah, minta dicubit emang, pucet karena begadang terus, Rasyah minta nen, nggak kenapa-napa!"
"Hmmm, Rasyah atau kak Bas yang repotin kamu?"
Astaga, Aisyah cubit saja pipi adik iparnya itu, mau dijawab ya jelas dia malu, tahu sendiri suaminya itu kalau di luar saja garang, sedang di rumah seperti beruang madu yang manja pada dirinya.
Tak lupa Arsy peluk adik iparnya, gadis yang menjadi pusat cinta sang suami, gadis berambut coklat dengan mata sabit menggemaskan, wajahnya seperti boneka hidup.
"Aku pergi dulu ya, kalau Nakula ke sana, kamu harus mampir ke rumah kami, jangan sampe nggak, kan aku ya mau mainan sama anakmu nanti!"
"Kakak kan bisa buat sendiri anaknya sama kak Saka!" rengek Shafiyah sambil memeluk perutnya.
"Ahahahahah, doakan ya, kalau nggak jadi, nanti aku bakal rajin rusakin kolor celananya!"
Ibu yang mendengar itu hanya bisa terkekeh dan bergeleng, dia punya tiga anak perempuan yang karakternya saling melengkapi, beruntung yang paling tenang ada di nomor satu, jadi kalau ibu pusing, Aisyah bisa menenangkannya, urusan solusi gerak cepat bisa dia serahkan pada Arsy atau putrinya sendiri.
Tak salah kalau model seperti Saka menginginkan gadis se-ramai Arsy, pekerjaan membuat dia butuh seseorang yang bisa melepas penatnya, kalau Baskara butuh kelembutan dari Aisyah, sedangkan Saka butuh suara-suara seperti Arsy begini.
__ADS_1
"Sy, ayo udah waktunya masuk!" seru Saka, dia lepas pelukannya bersama sang kakak lelaki, lalu berganti pada Shafiyah dan ibu, pada Aisyah hanya sekadar menyapa Rasyah dan tersenyum sebagai balasan doa. "Jaga kesehatan ya, Dek, kabarin Kakak terus, seperti biasanya kalau kamu butuh, langsung Kakak terbang ke sini!"
Shafiyah mengangguk, lepas pelukan dengan Saka, dia berganti pada sang suami sebentar, lalu berlari pindah ke Baskara, pengganti ayahnya.
Walau kapan saja Saka bisa kembali ke sini, tapi tidak adanya ayah membuat mereka merasa kehilangan kedua kalinya, ayah termasuk yang paling aktif mengontrol kondisi anak-anaknya di lapangan, kali ini semua dipasrahkan pada Baskara.
"A-isyah, sini anaknya!" Baskara mau menggendong anaknya bersama Shafiyah.
"Iya, Yanda." dia berikan, lagipula dia mau memberikan kue buatannya agar diperjalanan bisa menjadi teman Saka dan Arsy. "Rasyah sama Yanda ya," ujarnya seraya memindahkan sang anak.
***
Hamparan langit telah menjadi teman Saka selama ini, tapi sekarang dia membawa ratu di sisinya.
"Arsy, nyandar sini kalau ngantuk, jangan gitu, diketawain orang nanti!"
"Eheheheh, Arsy suka ngantuk kalau naik pesawat, Bang. Aku nyandar ya, Abang jangan protes ya!"
"Ya kamu jangan ileran tapi!"
Heuh, Saka membulatkan matanya.
Iya, dia suka Arsy yang suka memancing gairah nya, tapi ini di pesawat, bahaya kalau dia kelepasan nanti, sekali pancing maka dia sulit dikendalikan.
"Tidur aja!"
Arsy memberengut, "Padahal Arsy pengen ciuman sama Abang loh, biar bibirnya nggak kering, kasihan loh bibirnya Arsy, Bang!"
Saka hela nafasnya, dia lantas menunduk, tapi sebelum itu dia pastikan tak ada pramugari lewat dan penumpang sebelah sana terlelap atau fokus pada lainnya.
Bibir itu menarik sebuah senyuman tatkala Saka mulai mendekatkan wajah, sorot mata yang sangat Arsy suka, dia selalu hanyut kalau Saka mulai memandangnya penuh damba begitu.
"Uhuk!"
__ADS_1
Saka tarik wajahnya, penumpang belakang yang batuk, hampir saja tadi bibir mereka menyatu.
"Kok nggak jadi, Bang?"
"Nanti Abang kebablasan, Sy. Nanti aja ya kalau udah nyampe, mau lebih dari cium bakal Abang kasih!"
"Eh, tapi aku udah pengen ini, basahin dikit aja!" suka sekali menggoda iman suaminya. "Yaudah kalau Abang nggak mau, aku yang nyium kamu!"
Duar!
Saka melotot seketika, tidak main-main istrinya ini, Arsy menciumnya, membuat bibirnya ikut hanyut dan basah, saling mendecap tanpa peduli awak kabin yang lewat berulang kali.
"Kan, Abang nggak bisa lepas, eheheheheh."
"Gara-gara kamu, coba ada kamarnya di sini, habis kamu!" ancam Saka.
Arsy terkekeh, selagi Saka ada waktu, dia akan terus memancing suaminya itu, bila sudah bekerja maka Arsy akan menjadi anai-anai beterbangan di mata Saka.
Tangan besar Saka merengkuh tubuh di sampingnya itu, membuat kepala Arsy melesak di dadanya, hukuman atas keberanian Arsy yang berhasil membuat dia kelabakan di pesawat.
"Bang, kalau di sana aku boleh main?"
"Main apa?" kening Saka terlipat. "Kamu mau nongkrong?"
"Nggak, main sama tetangga, ahahaha ... atau Abang kasih aku ikan deh, biar aku nggak kesepian di sana, Bang!"
"Ya nanti kita cari bareng di sana, kalau mau nongkrong nunggu aku aja, jangan berangkat sendiri meskipun di sana kamu kenal banyak temen, Sy!" Saka terlihat serius. "Abang butuh kamu, mau kamu siaga di rumah, tempat pulangnya Abang!"
"Iya, aku di rumah, nggak ke mana-mana, kecuali sama kamu!" Arsy mainkan jarinya, menelusup ke lubang kancing Saka.
"Heh, mulai lagi kamu!" Saka tahan jari yang mulai mengusap kulitnya itu. "Jangan salahin aku kalau nanti kamu nggak istirahat di rumah!"
Arsy mengangguk, jawaban yang mengejutkan bagi Saka.
__ADS_1
***
Itu, disuruh Saka nata baju sama alat-alat, biasa pindahan, eheheheh ya itu, eheheeheheh....