Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Semakin Cantik


__ADS_3

"Kakak bilang apa ke Sofi tadi?" tangan, tangan, tangan, Aisyah kondisikan tangan suaminya yang mulai merayap. "Bilang dulu ke Ais!"


Kabut di mata suaminya tak kunjung hilang, sampai apa yang dia inginkan Aisyah berikan, tidak lain kancing-kancing yang terbuka di depan mata.


"Ayo, bilang dulu, baru yang lain!" Aisyah tutupi dengan satu tangan.


"Tidak ada yang penting, Nda. Cuman, besok aku ajak ke tempat gilingan, dia suka lihat hijau-hijau, kalau ke sana kan harus mendapatkan izin ayah, jadi mau tidak mau dia harus meluluhkan hati ayah," jawabnya, menoleh lagi pada Aisyah. "Berikan, yang sebelah sini belum, Nda!"


Aisyah jauhkan tangannya, resiko selama dia belum bisa memberikan utuh apa yang suaminya mau, kancing bajunya harus terbuka setiap malam, lalu harus membekap mulut suaminya yang terlalu keras mengeluarkan suara.


Setengah jam baru suaminya itu selesai, kadang Aisyah yang tertidur lebih dulu, kadang ya suaminya yang hilang lebih dulu, lebih berbahaya kalau Aisyah yang lebih dulu, jelas tidurnya tidak akan nyaman, tangan besar itu tak bisa dia kondisikan dengan baik.


Di kamae sebelah, tiga orang itu masih terjaga. Shafiyah belum berhasil membujuk rayu ayah untuk ke luar esok hari bersama Baskara, walau tidak jauh dari rumah ini, namanya di luar rumah akaj masuk daftar izin ayah.


"Plis, Sofi mohon, Ayah!" menakupkan kedua tangannya, berkedip genit dan manja, ditambahi lagi kedupan di kedua pipi bergantian. Ibunya tidak bisa membantu, semua keputusan ada di tangan ayah dan ayah. "Aku bersama kak Bas, Ayah kan tahu tidak ada yang berani melawannya, kakakku terhebat, aku tidak sendirian, boleh ya?"


"Tapi, di sini tidak ada yang tahu siapa kakakmu sebenarnya, mereka tahunya Bas cuman orang kota yang ke desa mencari tempat sejuk, bagaimana bisa dia menjagamu, hah?"


"Kalau begitu Ayah ikut, bagaimana? Aku akan berdiri di samping Ayah, menggandeng lengan Ayah seperti ini, menempel pada Ayah, lalu tidak akan berjalan tanpa Ayah, bagaimana?" tidak ada pilihan lain, mengajak ayahnya adalah solusi terbaik.


Dan senyum samar itu berubah menjadi sangat lebar, hujan ciuman Shafiyah dapatkan, izin dia terima karena ayahnya akan ikut besok pagi, dengan begitu dia bisa ke luar rumah dan menikmati hijau-hijau


"Ibu tidak ikut?"


"Ibu di rumah saja, kak Ais pasti butuh teman, kan juga mau membuat kue, mau Ibu bagikan ke tetangga sebelum kita pulang ke kota, sayang."


"Baiklah, aku kira Ibu ikut, nanti kan Ayah-"


"Kenapa? Ayah kan sama kamu, tidak akan kesepian!"


Shafiyah terkekeh, dia lantas berbaring dan mendekap satu tangan ayahnya, memejamkan mata, dia tidur diantara kedua orang tua yang sama-sama menghadap ke arahnya.


Samar-samar Shafiyah rasakan terpaan nafas ayah, lalu ciuman di puncak kepalanya, pandangan hangat ibu pada ayah yang mengerti sesayang apa pria itu pada anak gadis mereka.

__ADS_1


Cubitan tangan ayah pada pipi ibu membuat wanita itu mengernyit, melirik ayah dengan isyarat jangan aneh-aneh di dekat putri mereka, selama ada Shafiyah harus jaga jarak, sebelum Shafiyah berpikiran yang tidak-tidak.


"Bu, jangan cemburu!" bisik ayah.


"Cemburu sama siapa?"


"Sama anaknya, kan tahu cinta kita-"


"Hush, sudah tidur sana!" ibu melotot, takut anaknya bangun.


Cinta kita ya anak kecil si boneka hidup ini, ayah hanya ingin memberitahu kalau walau dia tampak mengabaikan ibu, tapi tetap saja pandangannya tak pernah bergeser dari wanita itu.


Plak!


Bukan pukulan di kamar ayah, melainkan kamar Aisyah, dia sudah menduga kalau suaminya hanya terlelap sebentar lalu iseng kembali, tangan itu mulai menelusup sesuka hati, hilang sudah citra seram Baskara kalau berdua saja.


Aisyah tajamkan matanya yang tidak pernah bisa tajam, mengomel lirih yang justru menjadi senandung indah di telinga Baskara.


"Kakak mau apa sih?" tanyanya, sudah mengantuk luar biasa.


"Mau apa?" jangan aneh-aneh, kamar sebelah bisa mendengar suara mereka nanti.


Baskara turunkan tangannya, menusuk kecil paha Aisyah, lalu dia raba-raba sesuka hati.


"Sabar, Kak. Nanti, kalau dedeknya sudah kuat, tunggu di rumah sana ya, dua hari lagi, kan ini persiapan perjalanan jauh, sabar ya!"


"Aaaaahhh ...."


Rengekan Baskara di leher Aisyah, lirih memang, tapi Aisyah terus ingatkan agar tak mengganggu tidur kedua mertuanya di sebelah.


Mata tajam itu berkaca-kaca, baginya tak ada yang lebih memuaskan dari bagian itu, sekalipun Aisyah tawarkan yang lainnya seperti waktu itu, suaminya tidak mau.


Namun, bisa apa sedangkan mereka harus bersiap untuk perjalanan jauh, bahaya kalau memaksakan yang kehendak untuk menyenangkan suaminya.

__ADS_1


"Sudah tenang?" masih digosok-gosok.


"Iya, dia harus tahu, tapi masih gelisah, Nda."


"Sini dipeluk saja, coba memikirkan yang lain, masalah kerjaan saja!" Aisyah rapatkan dadanya dengan wajah Baskara, berharap itu sudah cukup mengusir kegelisahan pria dewasa satu ini.


Keesokan harinya,


Baskara mematung melihat dandanan Shafiyah, belum lagi wajahnya yang cemberut, pasti pria berkuasa di dekatnya itu yang melarang Shafiyah memakai baju sembarangan, sedang saat ini gadis kecil itu seperti hilang ditelan bumi, hanya matanya yang berkedip-kedip sebal.


"Aku kan mau menikmati udara dan sinar mentari pagi, Ayah!"


"Ini sudah cukup, kak Ais saja yang memakai baju tertutup, dia biasa saja, kamu juga harus begitu, Ayah bisa marah kalau ada yang melongo melihat kulitmu!"


"Tapi, Sofi belum siap jadi kak Ais!"


Kan, pertengkaran anak dan ayah masih saja berlangsung, sudah ibu peringatkan sejak di kota kemarin, jangan sampai ribut, masih saja tidak bisa dikendalikan.


"Yah, biar A-isyah meminjamkan bajunya untuk Sofi, itu tidak akan panas nanti!" Baskara mau tertawa adiknya berubah menjadi mumi.


Dia panggil istrinya, sekalian membawa satu pasang baju yang setidaknya menutup kulit Shafiyah, kalau ayah mau anaknya memakai penutup kepala, Aisyah juga akan bantu pakaikan pada Shafiyah


"Lihat, wajahku kecil kalau begini, Ayah!"


Ayah mau menangis dibuatnya, dia cium wajah kecil itu, anaknya justru semakin cantik dan membuatnya semakin posesif.


"Kakak harus tanggung jawab kalau aku besok tidak bisa jalan-jalan sepulang belajar ya, Ayah jadi menangis di bahu ibu, lihat!"


Baskara mengangguk, dia peluk adiknya itu setelah mencium kening Aisyah, penampilan tertutup justru membuat diri semakin indah, bukan memperburuknya.


"Nda, kalau ibu mau mencoba, bantu ya!"


"Iya, sebisa mungkin aku bantu. Kakak jangan lupa ajak mereka ke tempat jualan bubur dan jajanan, beli agak banyak, biar tidak rebutan!" ingat masalah lemet itu.

__ADS_1


"Iya, Nda, ampun. Ahahahahah, aku pergi dulu!"


Aisyah mengangguk, dia beringsut ke dapur, sedang di depan sana Pian dan orang tuanya endak menemani ayah berkeliling pagi ini.


__ADS_2