Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Hanya Aku yang Tahu


__ADS_3

"Dia ke kantor, Kakak pulang?" kan, Aisyah bingung dengan suaminya.


Aisyah tanya sekali lagi, jawaban Baskara tetap mengangguk. Ada tamu yang sudah datang dan menawarkan diri suka rela, bahkan hanya dibayar makan bulanan dan popularitas, suaminya ini justru pulang.


Bukan hanya itu, mereka bahkan sudah mandi bersama, dengan santainya Baskara gendong Aisyah, membawa masuk ke kamar tanpa peduli sayur-sayur yang endak dimasak, Bsskara buat istrinya itu tak berdaya.


"Kaaakkk-"


"Hmmm, apa sih?"


"Jawab yang jelas dulu, ayo!" Aisyah penasaran kronologisnya.


Bukannya menjawab, Baskara bertingkah sebaliknya, bergeser mendekat memeluk Aisyah, bergulung di balik selimut yang sama, berbagi kehangatan karena efek air dingin mandi bersama tadi.


Singanya berubah menjadi kucing yang manja, Aisyah tunggu sampai kesadaran suaminya itu kembali, percuma kalau diwaktu seperti ini dia tanya, yang ada dia akan habis lagi di bawah kungkungan Baskara.


Bruk!


"Kakaaaak, kaaaannn!"


Terlalu hebohnya merayu Aisyah sampai dia terjatuh, dikiranya ranjang ini seperti ranjang bayi yang ada pagarnya, sejenak dia lupa kalau sudah dewasa, bukan bayi ibu lagi.


"Kenapa menutup mata, A-isyah?"


Aisyah tunjuk arah bawah, "Pakai anduknya!"


"Ahahahahahahaah, aku belum pakai celana ya, astaga, aku lupa!" berusaha bangun sambil tertawa, mencari di mana celananya berada, asal lepas saja tadi. "Kamu sudah memakainya, A-isyah?"


"Sudah," jawabnya sambil menarik selimut.


Ya, sudah memang, hanya dalaman.


"Ck, sini aku periksa!"


"Tidak mau!"


"Sini, aku mau jadi guru BK, mau mendisiplinkan siswi, buka selimutnya!"


"Tidak mau!"


"A-isyah, buka selimutnya!"


Ya ampun, Aisyah melongo, bisa-bisanya wajah seram itu berubah menjadi hello kitty, dia periksa pipi hangat Baskara.


Suaminya tidak sedang mabuk atau mengonsumsi obat-obat terlarang, kan?


Aisyah biarkan selimut itu dibuka, setiap inci kulitnya dijadikan sasaran empuk bibir tebal itu, menodai kulit putihnya, sampai-sampai Aisyah remat sprei di samping pinggangnya itu.


"Kaaaak, sudah. Mau makan tidak?"


"Makan kamu!"


"Kan, sudah. Sekarang makan nasi ya?"


"Makan kamu!"


"Nasi saja, kan pasti lapar, ayo!"

__ADS_1


"Makan kamu dulu!"


Heh, tadi sudah sampai kedinginan!


Sekuat apapun dia memberontak, jelas kalah dengan kekuatan Baskara, pria itu memang didesign kuat dan berkuasa, terutama dalam hal seperti ini.


"Kenapa Kakak minta lagi? Kenapa pulang mendadak ingin begitu?"


"Kangen."


"Masa?"


Baskara mengangguk, keringatnya sudah sebiji jagung, ledakan yang melelahkan.


"Apa karena melihat Buna, jadi kangen aku?"


"Setiap waktu aku kangen, A-isyah. Cuman tadi, dia bahas yang waktu itu kamu katakan, terus dia tambahi masalah hebatnya wanita aktif di ranjang, kangenku jadi bertambah, aku pulang akhirnya, ahahahahahh."


Ahahahahah, kepalamu!


"Kenapa sama ranjang?" Aisyah belum nyambung rupanya.


"Dia bilang, wanita aktif itu agresif dan memuaskan di ranjang, berbeda dengan wanita lemah lembut sepertimu yang dia nilai akan pasrah saja." Baskara bersandar tegap. "Bagaimana dia bisa berkata seperti itu, iya kan? Dia menuduhmu tanpa bukti yang jelas, sedangkan aku-"


Aisyah bekap mulut suaminya, satu tangan yang bebas terangkat meminta suaminya diam. Ini hal memalukan sekalipun dibahas berdua saja, dia sendiri mana tahu bisa se-heboh itu di ranjang, Aisyah celingukan.


Ssstt ... dia minta suaminya diam, beringsut ke kamar mandi dan bergegas membersihkan diri.


Aisyah takup wajahnya, dia jingkrak-jingkrak malu, wajahnya memerah dan dia menjerit kecil.


Di luar sana, Baskara lebarkan senyumnya, dia sembunyi di balik bantal.


"A-isyah, A-isyah!"


Klek!


Aisyah kunci pintu kamar mandi itu, predator rumah tangga siaga satu.


***


Bukan memuji Aisyah, sekali lagi dua teman dan dua paman Baskara ini maju untuk menjelaskan, mengingat masalah yang Buna buat didengar hampir semua pekerja di kantor ini, termasuk klien dan tamu yang hadir.


Kabar buruk bisa saja muncul, banyak orang di luar sana ingin menjatuhkan usaha keluarga ini, memanfaatkan keadaan dengan menyerang harga diri, bila wibawa Baskara jatuh, tentu dia akan kehilangan banyak kepercayaan.


Terlebih lagi urusan wanita, pasti meleburkan semuanya.


"Apa dia sebaik itu?"


"Kami tidak begitu kenal Aisyah, tapi memang bagusnya begitu, tidak suka dikenal dan mengenal dalam arti lebih, sekadarnya saja, jadi percuma kamu memamerkan apapun pada Baskara, yang tahu Aisyah, cuman dia, lah yang tahu kamu?"


Duar!


Balas menusuk dari Pian, memang dirasa tidak adil, tapi begitulah yang terjadi di lapisan masyarakat bumi ini, mau buruk seperti apapun seorang pria, dia pasti ujungnya mencari wanita baik, atau yang mau berubah menjadi baik tanpa mau menoleh keburukan mereka sendiri, tabiatnya begitu.


Namun, dibalas begitu, langsung tercabik hati Buna.


"Kalau kamu yang menikah, terus ada yang kayak kamu deketin suamimu, mau?" tanya Nando.

__ADS_1


"Jelas, aku bunuh dia!"


"Lah, Aisyah ya begitu, dia pasti bunuh kamu, kok lupa!" balasnya lagi.


Eh, iya. Buna terperangkap dalam jeratnya sendiri


"Tapi, kan buat kaya harus berani nekat!" Buna masih belum mau mundur.


"Nekat kok nanggung, sekalian saja naruh lamaran ke kerajaan Inggris atau apa sana, bukan hanya dikenal orang satu negara, sampai ujung bumi bakal kenal kamu!" Nando jadi naik darah.


Sabar, sabar, sabar ....


Perdebatan sengit itu belum juga usai, Buna bukan orang yang mudah dipukul mundur, entah dia terhimpit apa sampai menawarkan hal seperti itu.


Mereka ingin membantu, tapi bukan berarti menikahi atau apa, bisa digantung orang tua di rumah kalau asal minta nikah.


"Jangan tanya Bas sekarang, dia pasti lagi puterin Aisyah," ujar Pian.


"Puterin Aisyah?" ulang Nando.


"Iya, tidak lihat apa tadi wajahnya bagaimana waktu Buna bun-bun itu bahas ranjang, hah? Sudah mau terbang ke pelukan Aisyah saja, tuh senjatanya saja lupa!"


Mereka kompak melirik tas kecil berbahan kulit kecil di atas meja Baskara, pistol kecil terselip di sana.


Plak!


Yoga ambil, dia periksa, ternyata masih ada isinya, Baskara benar-benar lupa membawa pulang.


"Sudah, biar aku saja yang ke rumahnya, kalau kalian kan bisa dikurung Aisyah nanti, aku bisa sama Pian, kita pamannya!" Yoga rangkul Pian.


Pian menolak, "Loh, nanti waktunya nyusun tower!"


Plak!


Yoga mendelik tajam, "Towar-tower, kapan sadar, hah? Minum itu merusak kesehatan kita!"


Burungpun bernyanyi mendengar ocehan Yoga.


***


"Kecambah kecil, dikukus?" untuk apa, itu pertanyaannya.


"Iya, Ais dapat resep ini dari mbah google. Manfaat kecambah pendek ini bagus buat yang lagi program hamil, Kak."


"Makannya bagaimana?"


"Dimakan biasa, kayak makan kerupuk gitu!"


Baskara putar Aisyah hingga menghadapnya.


"A-isyah, sebanyak itu aku harus makan?" melihatnya saja sudah mual.


Aisyah mengangguk, kemudian tertawa, dia pukul dada suaminya.


"Tidak, tidak ... ahahahahahah." suka melihat suaminya takut. "Kakak makan sama Ais secukupnya, lainnya itu mau disimpan bibik, buat kalau dia masak rawon hitam katanya, Kak. Ahahahahahaha, digodain gitu langsung takut!"


***

__ADS_1


Maaf, BuCil nelat up ... lemari dimakan rayap semua, huhuhuhu, baju-baju kemakan juga, jadi pusing tujuh keliling (Keliling tetap pakai baju) ahahahah.


__ADS_2