Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Usaha Baskara


__ADS_3

"Jadi, rencananya Yanda mau ajak Saka pulang, gitu?" Aisyah bersandar di dada lebar Baskara. "Yanda yakin Saka bisa?"


Menurut yang Aisyah tahu, kondisi di sana serba salah bila ditinggal salah satu, Arsy baru saja mengandung, bayi kembar lebih berat dibandingkan yang hamil hanya satu biji seperti Aisyah, pasti ada sepak terjang yang harus mereka timbang berat.


Perjalanan jauh dan butuh pantauan khusus, belum lagi pekerjaan Saka, yang ada mereka bisa menduga Arsy tak akan kembali ke luar negeri sampai kandungannya kuat dan besar, dia akan tinggal di sini, tertinggal bila ikut Saka mudik.


"Ibu kangen sama dia, mau kita kumpul bareng di sini, bilangnya mau ke sana, tapi begitu ingat ayah, pasti mundur. Memang ayah tidak akan bisa marah padanya lagi, tapi lebih ke janji, tahulah A-isyah, rindunya seorang ibu itu berkah bagi anaknya, karena itu aku mau Saka mengambil berkah, jarang ada anak yang mau mengambil berkah itu, kamu tahu kan rasanya tak ada yang merindukan, selagi ada, harus kita jemput, hem?" Baskara capit dagu Aisyah, ibu hamil itu semakin panas saja kalau malam hari, ingin rasanya Baskara habisi sampai madu di dalam diri Aisyah habis.


Aisyah setuju, penjelasan panjang lebar suaminya memang masuk akal, dia yang berjuang sendiri sejak kecil selalu merindukan dan ingin ada yang merindukannya setiap saat, mendapatkan ibu angkat setelah kehilangan semuanya bak tertimpa hadiah paling berharga, dia menyetujui rencana suaminya itu.

__ADS_1


Mereka akan mengatur apa saja yang dibutuhkan agar Saka dan Arsy bisa kembali ke sini tanpa memutar tugas karena ibunya ingin ketiganya ada di rumah, termasuk pada menantu dan cucu.


Entah bagaimana caranya, Baskara yang memegang kendali di sini, setelah pergumulan panas bersama sang istri, bukan tidur yang menjadi pilihannya, dia memilih ke ruang kerja untuk mulai menjalankan tugasnya sebagai anak pertama dan kebanggaan sang ibu, tanggung jawabnya dimulai malam ini.


Tunggu, Ibu... Setelah ini, di rumah kita akan ramai, semua anak ibu akan berkumpul bersama, kita akan membuat waktu yang indah bersama seperti saat ayah ada di dekat kita, tentu saja tanpa mengabaikan tanggung jawab yang sudah kami emban.


"Abang, Arsy kuat kok beneran, anaknya Abang juga kuat di sini, buktinya aku nggak lemes banget. Jadi, nggak apa kalau kita ke ibu, Bang." Arsy dekati suaminya yang masih tampak bingung.


Saka rengkuh tubuh itu, memeluk sejenak lalu menciumi wajah Arsy gemas, dia memang ingin sekali pulang memeluk ibunya, tapi banyak pertimbangan yang harus dia pikirkan dengan matang.

__ADS_1


Masalah pekerjaan dan kondisi Arsy dengan si kembar, kalau saja dia bisa memilih, dia mau pergi sendiri, sementara Arsy di sini bersama kerabat yang lain. Tapi, ibunya ingin mereka bersama dan Arsy pun mendukung, sebagai seorang suami dan anak, ini menjadi pilihan yang sulit.


"Ka, Kakak sudah memikirkan semuanya, mengatur agar kamu dan istrimu bisa ke sini, jadi seperti yang ibu mau, seminggu ini kita kerja keras agar nanti kamu ke sini tidak ada beban berat, Kakak akan atur semuanya, mau?"


Saka berkaca-kaca, dia dengarkan lagi.


"Kakak juga jemput kamu pakai private jet perusahaan, semua aman buat kamu dan anak kembarmu, eh istrimu juga!"


"Kakak, aku mau nangis plis!" Saka ingin memeluk kakaknya satu ini, kegelisahaannya bisa hilang.

__ADS_1


__ADS_2