Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Hot Wife, Sumpah!


__ADS_3

Mempelai pria duduk lebih dulu di dekat pelaminan, akad dan resepsi akan diberlangsungkan dalam satu tempat, sebuah hotel bintang lima milik keluarga mempelai wanita.


Sebelum akad terucap, mempelai wanita masih disembunyikan di kamar yang nantinya akan menjadi tempat jumpa mereka setelah menikah.


Ya, bukan Shafiyah yang akan turun, melainkan Nakula yang akan menjemputnya ke kamar itu, Nakula mau Shafiyah benar-benar dihargai, tidak dibiarkan datang menemuinya, melainkan dia jemput.


Di depannya duduk tiga pria dengan wajah yang hampir sama, ada yang sangat garang, garang dan satu lagi hampir garang, Saka sedikit menuruni ibunya.


"Kalau sudah siap semua, bisa dimulai sekarang!" Baskara memberikan perintah pada dua saksi dan penghulu itu.


Tangan ayah dijabat lebih dulu, mendapatkan pengarahan atas pernikahan ini dari penghulu yang hadir, begitu dia sepakat, maka berganti ayah menjabat tangan Nakula nantinya.


Bacaan ayat suci dan doa, juga ada ceramah singkat akan kepastian pernikahan berangsur-angsur mulai berjalan, jantung kedua mempelai sama-sama berdebar-debar, menular ke semua tamu yang hadir di hari spesial ini.


Detik berikutnya, ayah menjabat tangan Nakula, dia ucapkan satu kalimat di mana dadanya bergemuruh hebat, matanya menggenang, suaranya bergetar, nafasnya terasa sesak hingga rembesan itu tak bisa dia tahan.


"Aku titipkan anakku, Shafiyah, padamu. Jangan sakiti dia, ajari dia dengan lembut, ajak dan bimbing dia seperti dirimu sendiri, jangan biarkan dia lapar, jangan biarkan dia ketakutan, satu keluhan saja dari mulutnya, keluhan itu akan menyakitiku, peluk dia kalau marah, nasehati dia kalau dia salah, sayangi dia setulus hati sampai akhir, kalau nanti kamu bosan, kembalikan dia padaku dengan cara yang baik!" ayah tepuk bahu Nakula selepas kata ijab itu terucap.


Sah, anaknya telah menjadi istri dari pemuda di depannya ini, untuk pertama kalinya semua orang bisa melihat seorang turunan mafia berkelas dan terkenal bringas ini menangis, bahkan sampai kedua bahunya terguncang.


"Kembalikan dia kalau kau bosan, pin-pintu rumahku tidak pernah tertutup untuknya." ulang ayah.


Nakula mengangguk, "Paman sudah menjadi ayahku, Shafiyah menjadi istriku, kalaupun aku membawanya ke sini, bukan untuk aku kembalikan pada Ayah, melainkan kami berkunjung dan mengajak Ayah makan bersama," tuturnya.


"Bayar!" balas ayah mulai iseng.


Plak!


Lupa, di sampingnya ada ibu loh yang mendengarkan jawaban itu, anak menantunya masa iya disuruh bayar, atm bisa ibu rebut dan sita semuanya kalau pelit.


Nakula disambut dan diterima hangat di keluarga besar ini, bahkan sebelum dia menjemput Shafiyah, dia harus meladeni banyak kemauan dari sepupu dan kerabat yang lain.


"Yanda, mau foto berdua sama Ak boleh?"


"Kan bisa sama aku, ayo!"


"Tidak mau, aku maunya sendirian, kan di sini ada anaknya Yanda, jadi aman."

__ADS_1


"Kamu ini, ggrrrrrr, ya sudah sana!"


Bukan menyesal, ibu hamil itu justru berjalan mendekat pada Nakula, meminta kang potret mengambil gambarnya berdua di dekat pelaminan.


Baskara hanya mengelus dada, wajar saja kalau istrinya itu girang dalam hal seperti ini, dia ingat moment pernikahan mereka tak seindah dua anak manusia di hari ini, banyak tekanan yang Aisyah terima, belum lagi dia yang keras dan acuh pada Aisyah, kalau dia komen sekarang, dijamin ibu hamil itu akan mengomel dan menangis karenanya.


"Yanda, sudah!"


"Sekarang mau apa lagi?"


"Boleh tidak kalau aku ikut Nakula jemput Sofi?"


Tidak, kalau kali ini Baskara harus tegas, nanti di kamar itu bisa semakin heboh istrinya, dia yakin tak ada yang berani melarang, tapi lebih baik Baskara amankan.


"Sini saja ya, duduk yang tenang di sini!"


"Tapi, Yanda, aku itu mau-"


"Kamu mau ice cream tong-tong tidak?"


"Hah, ada?"


"Yanda, jangan cuman satu, tiga ya!" serunya girang.


Baskara tersenyum, Apa aku di kandungan dulu menyebalkan begini?


"Yanda-"


"Iya, Nda, tunggu!" huuhhhh, tahan Bas.


***


Nakula berdiri cukup lama di depan kamar khusus itu, edisi khusus kalau ibu mertuanya bilang, mau mengetuk, tapi dia takut.


Takut diserang istrinya, astaga.


Satu tangannya terangkat, endak mengetuk, tapi dia bimbang, tidak bisa maju atau mundur, sedangkan yang di dalam sudah blingsatan tidak sabar mau membuka pintu, dia sudah diberitahu kalau Nakula naik ke kamarnya, tapi belum ada tanda sama sekali di sini.

__ADS_1


Shafiyah intip dari lubang kecil di pintu itu, dia menganga menemukan hidung mancung dari pria yang dia tunggu-tunggu.


Jeglek,


"Kak Ula!" jeritnya.


Nakula sontak mundur, dia merasa terpojok kalau begini, mau maju ke kamar itu, bahkan pintunya sudah terbuka, kakinya gemetaran.


"Kakak sini, kan sudah sah, boleh dong Sofi peluk kamu, hem, sini!" loh, loh pengantin wanitanya yang tak bisa sabar, tidak tahu suaminya gelagapan dan takut.


Nakula tak berkutik, tangannya ditarik masuk kamar, kadua kakinya layu seketika di depan Shafiyah, begitu pintu ditutup rapat, dia semakin ketakutan, mau kabur tapi tidak bisa.


"Shafiyah, aku-" diam, bibirnya sudah dibungkam istrinya, kecupan lembut dia dapatkan di sana. "Shaf-" dikecup lagi.


Shafiyah kedipkan matanya, dia punya dua kakak lelaki dan ayah yang sangat dekat dengannya, bila bertemu saling mengecup begini sudah biasa, tapi di pipi, bedanya ini langsung di bibir, dia anggap sama saja, tapi ini baru untuk Nakula, ini kecupan pertama di bibirnya.


"Kak Ula tidak suka?" cemberut, tidak mendapatkan balasan dari suaminya, dia berbalik dan menjejak kesal. "Maafkan aku kalau tidak suka, aku tidak akan-"


Greb,


Nakula putar dan raih pinggang itu, melingkarkan kedua tangannya di sana dan mempererat dekapannya, mengunci pandangan yamg mulai buram itu.


Shafiyah gigit bibir bawahnya, dia berkedip pelan, membuat darah Nakula terpompa naik cepat dan hatinya tercubit berulang kali.


Tidak mungkin kalau dia tidak ingin, menikahi Shafiyah dan memiliki gadis itu seutuhnya adalah harapan besarnya.


"Kak Ulaaaa," panggilnya lirih.


Nakula menunduk, dia kikis jarak yang ada hingga bibir lembabnya menempel pada bibir merah muda nan manis itu, mata mereka terpejam seketika.


Kedua tangan Shafiyah sontak melingkar di leher Nakula, dia tak menyangka kalau suaminya mau memimpin saat ini, tidak mau didahului, dan tentu saja lelaki lebih ahli, naluri mereka adalah strategi yang tepat.


Tok, tok, tok ....


"Apa kalian masih lama, kalian harus turun untuk tanda tangan dan berfoto bersama, kalian sedang apa?" suara Saka dan kedua pamannya mengejutkan pengantin baru di dalam sana.


Nakula tarik wajahnya, decapan nyaring terdengar saat bibir mereka terlepas.

__ADS_1


Hot wife, sumpah!


Grrrrrr,


__ADS_2