
Apa jadinya kalau yang biasa dia diamkan, hari ini terdiam, bahkan tak membuka matanya barang sedetik pun?
Apa sakit itu begitu dalam sampai enggan memberi penjelasan? Bahkan, sulit digambarkan.
Sena, untuk saat ini akan dirasa lebih baik kalau Baskara temukan Aisyah dengan Sena, membiarkan mereka saling berbicara kedua kalinya soal cinta yang ada.
Melihat Aisyah tidak sadarkan diri karena menangisi Sena membuat pertahanan Baskara runtuh, dia merasa gagal menjadi pria yang siaga di samping Aisyah selama ini. Pernikahan ini tidak Aisyah harapkan, begitu juga peristiwa di mana Sena berkhianat.
"Bas, apa sudah yakin bawa Sena ke sini ketemu Aisyah?" ibu rasa itu tidak perlu, ini hanya salah paham.
Baskara mengangguk tegas, "Satu kata yang dia katakan tadi hanya nama Sena, Bu. Aku rasa lebih baik mereka bertemu saja, aku tidak akan menahannya, paling tidak masalah di hati A-isyah bisa selesai," jelasnya.
"Tapi, sayang ... bukannya kemarin itu pernah sempat ketemu sebelum Sena menikah, itu sudah cukup, Aisyah rela Sena menikah," balas ibu.
"Rela bukan berarti perasaannya hilang, Bu."
Keputusannya sudah bulat, malam ini dia akan menemani Aisyah, tapi esok hari Baskara rasa akan jauh lebih baik kalau dia biarkan istrinya berbicara dan bertemu Sena, dia tidak mau untuk waktu yang lama Aisyah harus menahan sakit seperti ini, dia juga terluka melihatnya.
Ibu ikut menunggu malam ini, kondisi Aisyah memang sangat lemah karena tekanan yang dia rasakan, sesekali dia usap bahu anaknya, menepuknya pelan agar Baskara ingat kewajibannya.
"Dia pasti baik-baik saja, Bas."
"Aku takut kehilangan dia, Bu." Baskara berujar lirih.
Baginya sudah cukup kehilangan ibu kandungnya saat itu dan hampir kehilangan ibu sambungnya diusia lima tahun, dia tidak mau merasakan kehilangan sekali lagi.
Pandangan Baskara tak lewat sekalipun pada Aisyah, bahkan tangannya menggosok telapak tangan Aisyah yang dingin berulang kali, membisikkan permintaan akan kesadaran Aisyah.
"A-isyah, A-isyah ...."
Dia tidak tidur sedetik pun, ibu yang sudah terlelap sambil menunggu balasan pesan suaminya itu berbaring sendiri di ranjang penunggu.
"Ka-kaak."
__ADS_1
Baskara menegakkan punggungnya, dia gosok telapak tangan Aisyah sekali lagi.
"A-isyah, aku di sini!" bisiknya sambil mencium kening Aisyah begitu dalam. "Sadar, A-isyah. Katakan siapa yang menya-"
"Ka-kaak Sen-senaa."
Bibir Baskara sontak terkatup, bukan namanya yang disebut Aisyah, kesekian kalinya Aisyah berucap dan semua itu tengah memanggil Sena. Dia terduduk dengan kedua tangan yang masih menggenggam tangan Aisyah, dia tempelkan ke pipinya, baru ini dia merasakan dadanya begitu sesak.
Gadis yang sedang berbaring di sini adalah gadis yang dia cintai sejak kecil, kehadiran Aisyah membuat dia tertarik pada dunia baru, Aisyah punya dunia sendiri di mana kala menikmatinya wajah itu selalu berseri-seri, selama dia sekolah jauh, yang ada di pikirannya hanya berharap bertemu dan memiliki Aisyah.
Namun, tugasnya jauh lebih penting untuk dia dulukan hingga dia kehilangan kesempatan menjadi yang pertama di hati Aisyah. Pernikahan ini mungkin anugrah untuknya, tapi bukan untuk gadis yang dia cintai.
"Besok, A-isyah. Aku janji akan membawa Sena ke sini, menemuimu!" ujarnya lirih.
Samar-samar ibu melihat mata tajam itu berganti mendung, banyak awan gelap di sana, di wajah anaknya, seakan kota ini akan diguyur hujan lebat berjam-jam, itu yang dia lihat dari anaknya.
Ingin ibu mendekat, tapi dia urungkan, Baskara tidak akan mau didekati disaat seperti ini.
***
Terlalu lemahnya atas perasaan itu pada Aisyah, bertemu dan mengantar Sena ke rumah sakit pun, Baskara tak banyak bicara, dia hanya menurunkan dua temannya untuk mengantisipasi Gina agar tak melakukan tindakan yang memalukan.
"Masuklah!" Baskara bukakan pintu ruang rawat Aisyah. "Ingat, jangan melakukan hal yang tidak A-isyah suka!"
Sena mengangguk, wajahnya seperti orang baru ke luar penjara saja, Sena begitu sumringah dan senang, berjuta harapan dan mimpinya seolah berjajar di depan mata.
Sekilas Baskara intip, dia lihat Aisyah membuka matanya perlahan begitu Sena memanggil namanya.
"Bu, kalau tidak keberatan, aku titip A-isyah ya."
"Kamu apa tidak menunggu dia pulih dulu, kalian bisa bicara masalah ini, di luar kota tidak akan enak kalau masih ada masalah yang tertinggal di sini loh!"
"Sumber masalahnya sudah tiba tadi, Ibu lihat sendiri itu. Aku senang A-isyah sudah sadar begitu Sena panggil," balas Baskara.
__ADS_1
Sebenarnya ingin dia tunda, hanya saja dia sendiri tak tahu harus berkata apa pada Aisyah, dia butuh tempat tenang sambil bekerja di luar kota bersama ayahnya, setidaknya saat dia kembali, dia bisa memberikan keputusan akan hubungannya dengan Aisyah.
Ibu antar sampai batas lobby, ini pasti sakit untuk keduanya. Aisyah pasti bertanya di mana Baskara dan apa tujuannya ke luar kota mendadak selain ikut bekerja, sedang Aisyah tahu jadwal seperti itu bisa diundur karena keluarga sakit. Tapi, kalau ibu biarkan anaknya itu di sini, Baskara akan semakin terlihat terpuruk, pekerjaan pun tak akan terselesaikan dengan baik.
"Ayah, anakmu sudah pergi, ajak dia bicara. Ibu urus Aisyah di sini!" ibu tak menunda menghubungi suaminya.
***
Aisyah berkedip dalam, dia menangis sekali lagi, bahkan dadanya sampai sesak.
"Kenapa, Aisyah?" dia tidak mau dikatakan gila.
Aisyah bergeleng, "Aku tidak mencintai Kakak sama sekali, katakan aku jahat kalau aku mengatakannya, tapi hari ini biar aku katakan. Aku menerima lamaran itu untuk hati mama, untuk kebahagiaannya dan aku baru mencoba mencintai, tapi belum terjadi, Kakak sudah berkhianat." dadanya naik-turun.
"Ai-"
"Kak Sena, aku mencintai suamiku, aku benar-benar mencintainya dan aku jaga perasaan itu sampai Tuhan sendiri yang mengikat aku dengannya tanpa aku berbuat apapun. Aku-" Aisyah minta Sena diam. "Aku sedang menunggu suamiku mencintai aku, sama seperti hatiku yang sudah jatuh padanya, aku sedang menunggu kak Bas mencintai aku, bukan kamu!"
Dia mencintai Baskara? Si seram tidak tahu belas kasihan itu? Yang di tangannya selalu memainkan alat tembak dan pukulannya keras, lalu kakinya mengayun ringan saat melawan orang, atau matanya yang bisa mencekik lawan. Aisyah mencintainya?
"Aku tidak pernah mengatakan hal ini, pada siapapun, kak Bas juga tidak tahu."
"Kenapa tidak kamu katakan saja, kalian sudah menikah, kenapa Aisyah?"
Aisyah tatap mata Sena, ini kali pertama dia memuncakkan keberaniannya.
"Karena aku takut bertambah beban suamiku," jawabnya lirih. "Saat namaku dan keluarga hancur, termasuk namamu, dia dengan tubuhnya yang luka karena hukuman ayah datang bertanggung jawab, dia pakai namanya dikeburukan itu, apa tega aku menekan dia untuk mencintai aku, sedang aku mendapatkan kehormatan darinya? Dia bahkan tidak berani menyentuhku karena dia begitu meninggikan posisiku," jelasnya sambil menangis.
Sena lantas berlari ke luar, mencari di mana Baskara, tapi yang dia temui hanya ibu.
"Kakak ke mana, Bu?" Aisyah jatuh ke pelukan ibu.
"Dia pergi, Ibu tidak bisa menahannya."
__ADS_1
"Pergi ke mana?" tangisnya pecah lagi, dia baru sadar dan suaminya sudah tidak ada di sini. "Ais mau susulin kakak, Bu. Ais mau susulin kakak sekarang!"
Ibu peluk menantunya itu, ini bukan waktu yang tepat.