Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Perubahan Aisyah


__ADS_3

Aisyah berjalan cepat ke depan sembari memegangi perutnya, itu aturan yang pasti dari sang suami, sebenarnya kelau ketahuan berjalan cepat, kilatan mata tajam itu tentu akan menyerangnya.


Di depan teras, bukan hanya suaminya, tapi ada tamu yang tak lain pemuda yang biasa mengikuti Shafiyah pergi belajar dan lainnya.


"Kak Ais, jadi merepotkan, maaf." Nakula menerima bingkisan malu-malu, memang begitu karakternya, bisa dibilang ini Aisyah versi pria. "Apa saja ini, Kak?"


"Itu hasil karya kak Bas, anaknya mau dibuatin apa saja sama dia, jadi banyak sekali maha karyanya di rumah ini, kamu bawa ya, sekalian bisa jadi teman waktu nunggu Sofi, ehehehe."


"Wah, terima kasih banyak, Kak. Ais. Saya terima ya, semoga sehat selalu," balas Nakula sumringah.


Baskara berdehem, melirik istri dan temannya sekaligus, ibu hamil itu langsung mendekat, duduk di samping Baskara, sedang Nakula suduah dalam posisi siap disemprot.


Dia tunggu sampai tiga detik, tidak ada suara geram Baskara, pria pencemburu pada istrinya itu tampak luluh begitu satu tangannya ditarik dan diusapkan pada perut, sadar ada anaknya, tidak boleh marah tidak jelas.


"Kamu ketemu Sofi jam berapa, Ak?" panggilan Baskara pada Nakula, daripada dia panggil Nak atau Kul, eheheheh.


"Satu jam lagi, tadi dia minta kasih ini dulu ke sini," jawabnya, dia minum teh hangat yang tadi diantar bik Nur sambil kedip-kedip.


"Oiya, Ak. Kamu suka sama Sofi?"


Puurrfttt!!


Baskara sontak menoleh dan melotot teduh pada istrinya, baru ini loh Aisyah kepo, biasanya di depan orang sukanya diam saja, hormon hamil membuat banyak perubahan pada diri mereka berdua, Baskara juga merasakan ada yang aneh padanya, sekarang dia melihat perubahan Aisyah.


"Nda, ngomong apa kamu?" bisiknya.


Aisyah mundur sendikit, "Aku cuman tanya ke dia, Yanda. Kan, selama ini dia malu-malu sana Sofi, siapa tahu seperti kita, memendam rasa, hem?"


"Jangan gitu, Nda. Tehnya jadi nyemprot ke sana-sini, baju Yanda jadi kena kuah!" berbisik lagi.


Aisyah tutup mulutnya, tertawa kecil di balik sana, karena pertanyaannya hampir semua teh itu tumpah dan tersembur oleh Nakula, bahkan sekaranh pemuda itu masih terbatuk-batuk dan menepuk dadanya.


Satu kotak tisu, Baskara lemparkan ke pangkuan Nakula, masih saja sama seperti dulu di mana Nakula akan bersikap gugup bila ada pertanyaan yang jawabannya membuat dia malu, berbeda dari adiknya si Nabila yang lebih ringan berbicara.


"Maaf, Bas, Kak Ais, maaf!"


"Nda, minta maaf!" Baskara justru melirik istrinya dan meminta wanita hamil itu minta maaf.


Aisyah mengangguk, dia tahu itu salah karena hampir membuat semua orang celaka, tersedak bisa saja bahaya.


"Maaf ya, Ak."


Nakula bergeleng-geleng, "Sumpah, Kak Ais tidak salah, aku saja yang suka kaget, tidak masalah, aku yang minta maaf sudah bikin lantainya kotor ini, maaf ya!"


"Hmm, artinya ada rasa ini kalau sampai kaget!" mulai lagi ibu hamil.


Baskara lagi, menoleh kaget pada istrinya, cengar-cengir, ingin dia gendong ke kamar saja, kalau begini semua orang bisa pingsan melihat perubahan Aisyah.


Sebentar, dia minta izin masuk dulu sambil menggandeng tangan istrinya, bukan ke kamar utama, melainkan ke kamar tamu.

__ADS_1


Nakula hanya mengangguk, sungguh jantungnya mau meledak, nama Shafiyah membuat aliran darahnya bergerak cepat, terpompa terus seperti banteng yang mau menyerang.


"Mmmmppptttt, Yanda!" menjauhkan wajah Baskara. "Ada tamu kok cium-cium!"


"Habis kamu gemesin, kok bisa tanya genit gitu ke Nakula, Nda. Bukan cuman dia yang kaget, aku juga," ujarnya.


"Ais cuman bilang yang ada di hati saja, Yanda kira Ais bohong?"


"Bukan begitu, tidak biasanya kamu tanya-tanya, Nda. Nanti dia jantungan loh!"


"Hih, jangan sampai, kasihan kan belum nyatain perasaan kayak Yanda ke aku!" memukul dada suaminya gemas.


Entah, ini istrinya atau bukan, Baskara cium sekali lagi, lalu dia angkat sedikit penutup panjang itu, melihat bekas merah yang dia tinggalkan setiap malam.


Sama, ini Aisyah yang bersamanya semalam, wajahnya juga sama, tapi yang diucapkan berbeda.


"Dedeknya kepo, ehehehehe."


"Hush, kamu ya kepo!"


"Yanda ya kepo, ya kan, nunggu jawaban juga kan tadi, hayo?!"


"Tidak, siapa yang menunggu, aku cuman kaget tadi, Nda."


"Mmmm, alasan, Yanda kepo, Yanda kepo, Yanda kepo ...."


Ini istrinya bukan sih?!


Ciuman kesekian kalinya sampai bik Nur terpaksa mengetuk pintu kamar tamu itu, Nakula mau kembali menjemput Shafiyah, sedang kedua majikannya entah mainan apa di dalam, lama sekali.


Jeglek,


"Tuan-" tercekat. "Non-" tercekat lagi.


Rambutnya tuan jabrik-jabrik, si non cemberut, perang apa barusan? eh, hush, pikiran janda kok mesti anu, hush!


Baskara berjalan ke depan tanpa menyisir atau mengatur ulang rambutnya, dia ingin tampil apa adanya, begini kalau sudah menikah, semua punya istri, mau rambut dikepang juga demi anaknya pasti mau.


"Bas, aku ke Shafiyah dulu, salam untuk kak Ais ya," ujarnya.


Baskara mengangguk, "Nanti aku sampaikan, dia marah, biasa, begini moodnya."


Nakula tunjuk kemeja kusut dan rambut acak Baskara, bahkan pria itu tampil lucu sekarang.


"Ck, begini kalau sudah menikah, dia mau aku memakai rok ya bakal memakainya, eheheheh, kenapa, kamu tidak suka?" slink, melirik sinis pada Nakula, tidak mau ditertawakan.


Tidak,


Nakula bermain aman saja, dia bergegas mengeluarkan kunci mobil dinasnya, lalu berjalan setengah berlari ke depan teras.

__ADS_1


Aman, aku aman!


Sementara itu, Baskara kembali masuk, bik Nur sekuat tenaga menahan tawa atas penampilan majikannya itu, seperti terkena sengatan pikacu saja, mau tertawa takut dipecat.


"A-isyah, sini!"


Tidak mau, Aisyah tahu kalau namanya sudah dipanggil seperti semula, itu artinya sedang serius.


"A-isyah, di mana ya, ada yang tahu?"


Aisyah mengintip dari pintu kamarnya, sempat ingin pura-pura tidur saja agar suaminya menyerah.


"A-isyah, tidak menjawab suami nanti kamu-"


Brak!


"Ais di sini, Yanda!" berteriak dari atas.


Slink,


Baskara menyeringai, dia jentikkan jemarinya, tapi Aisyah menolak, pasti mau balas dendam suaminya itu


Rambut sudah dia buat berdiri, kemeja kusut, belum lagi kaki itu, sepatunya dia lempar dan tinggal kaos kaki saja.


"Yanda!" mau memberontak, tangannya sudah Baskara cekal. "Yanda, aku lagi hamil, tidak boleh menghukum orang hamil, dosa!"


"Ahahahahah, yang buat kamu hamil juga aku, Nda. Hukumanku pasti kamu suka, sini!"


"Tidak mau, aku dan anakku menolak!"


Baskara tertawa lagi, masih memasang wajah mafianya.


"Itu anakku juga, aku yang setor tunai di sana, ayo!"


"Tidak mau," jawab Aisyah bersikeras. "Yanda, no, semalam sudah, tidak boleh lagi!"


Heh,


"Siapa yang mau itu, Nda. Kembalikan rambutku, aku bisa ditertawakan pekerja ini!"


Oh, iya, ahahahahaaha.


Sepuluh menit kemudian,


"Kan, cuman rambutnya yang dirapiin, kenapa lepas celana?"


"Bayaran buat Non salon!"


"Aaaarrrghhhhhh, pakai celananya!"

__ADS_1


__ADS_2