Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Aku, Suaminya!


__ADS_3

"Brengsek memang!"


Brak!!


Supir taksi yang baru turun itu tak gentar mendekat, memang tadi dia mengatakan begal, tapi mana ada begal memakai sedan mahal dan setelan jas jutaan begitu, dia berjalan pelan-pelan.


Bayangan supir taksi itu membuat erangan Baskara terhenti, dia selipkan satu tangannya ke sisi saku jas kanan, di sana senjatanya bersiap bila ada yang endak melawannya.


Dalam hitungan ketiga, kalau semakin dekat saja, tinggal dia ayunkan dan lepaskan.


"Ppppppp-pak, bisa dibantu ming-minggir mobilnya, teeeeee-taksi saya mau leelelelelele-lewat!" sekujur tubuh gemetaran.


Mafia bukan?


Supir itu mengangkat kedua tangannya tepat disaat Baskara berbalik dan menyodorkan tembak kecilnya, tinggal satu kali tekan saja dipastikan kening supir taksi itu lubang bercucuran darah, bisa jadi mati di tempat.


"Ampun, Paaaaaaakkk!" langsung berlutut, menangis dan kedua tangannya terkatup memohon.


"Ampun, Pak. Saya punya tanggungan istri dua, anak empat tiap istri, kalau saya mati malam ini, mereka tidak makan, Pak. Yang kedua mau lahiran anak keempat, ampuni saya, Pak. Ambil saja taksi saya, jangan nyawa saya, kasihan keluarga saya di rumah, saya juga belum beli susu buat anak-anak saya, ASI dua istri saya tidak ada yang lancar, butuh susu sapi dan formula terus-"


Berdiri, Baskara cengkram kerah kemeja supir taksi itu, dia amati dan sesuaikan, memastikan kalau yang di depannya itu benar supir taksi.


Bruk!


Baskara lepaskan hampir tersungkur di kakinya, dia tidak sekejam ini, tapi karena cinta yang menguap tadi, dia menjadi buta dan emosinya meluap-luap.


"Kamu, supir taksi?" Baskara angkat dan berdirikan lagi.


Supir itu mengangguk, dia tunjuk mobil yang ada di belakang sana.


Baskara tarik tangan supir taksi itu, "Antar aku ke komplek xxx, sekarang!" titahnya.


Loh!


"Loh, Pak. Saya-saya ini lagi ada penumpang, mau turun di kampung sana, Pak. Tidak bisa ar-artinya, Pak!" menolak tapi takut.


Baskara menoleh dengan tatapam tajam.


"Antar aku dulu, baru dia!"


Supir itu masih punya kekuatan untuk melawan rupanya, dia menolak.


"Kasihan, Pak. Dia pasti lagi bertengkar sama orang tuanya masalah kuliah, mungkin mau nginap di rumah temannya, masih gadis, Pak. Bukan muhrim, tidak boleh loh, Pak. Dia muslimah baik-baik!" berbicara apa saja asalkan dia tidak membahayakan penumpang.


"Bukan urusanku!"


Supir itu menahan kakinya yang terseret kuat, dia masih menolak, tapi tenaganya kalah kuat dari Baskara.


Sementara di dalam mobil itu, Aisyah telungkup melindungi diri, dia tak melihat sama sekali, hanya dia mendengar suara-suara samar akan dua orang yang beradu tidak mau kalah.

__ADS_1


Berulang kali dia berdoa, berulang kali juga dia mengutuk keberaniannya pergi dari rumah tanpa ponsel, sekarang dia tidak bisa menghubungi siapa-siapa.


"Pak, jangan, Pak. Kasihan Non-nya, terlalu malam buat anak gadis, Pak!"


"Masa bodoh, salah sendiri kabur dari rumah!" balas Baskara.


Brak!


Dia ambil duduk di bangku depan, "Heh, supir, masuk!" titahnya.


Eh, bukannya ini suara kakak? Suamiku? Masa iya? Aku tidak salah dengar, kan?


Aisyah mengintip sedikit, dia buka tutup wajahnya, menurunkan ransel yang menjadi titik penyelamatannya.


"Aku tembak kalau kau tidak mau masuk!" ancamnya.


Ya ampun, ini!


Aisyah angkat wajahnya utuh, menganga melihat siapa yang ada di bangku depan, wajah lelah yang tetap terlihat seram.


"Aku hitung sampai dua-"


Kok dua sih, Kak. Tiga dong, tidak adil itu!


Supir taksi itu kelabakan, sebelum angka satu dimulai, dia melompat masuk, memakai sabuk pengamannya.


"Bagus, kan kalau menurut, susu anakmu aman. Coba kalau tidak, satu dan dua kamu-"


Baskara Kakak?


Supir Siapa dipanggil kakak?


Baskara sontak menoleh ke bangku belakang, wajah Aisyah terkejut, begitu juga dirinya, saling menunjuk dengan mata yang melebar sempurna.


"Eh, Pak mau ke mana?" supir itu berusaha menghalangi.


Brak!


Baskara jejak ke belakang punggung bangkunya, dia rebahkan agar bisa berpindah duduk di sana, di samping Aisyah.


Aisyah mundur sampai batas jendela, seperti rusa yang endak dimangsa singa, kedua tangannya terangkat setinggi wajah, bergeleng seolah meminta ampun.


"Pak, jangan begitu. Anda dan dia itu buk-"


"Aku, suaminya!" potong Baskara. "Cepat ke komplek yang tadi!" titah Baskara, satu tangan meraih tangan Aisyah.


"Tidak mau, aku mau ke kampung itu!" timpal Aisyah menolak. "Aku tidak mau!"


Repot urusan rumah tangga! Supir.

__ADS_1


Akhirnya, taksi itu melaju meninggalkan mobil Baskara, mengikuti apa yang Aisyah mau. Sesekali supir melirik lewat spion tengahnya, dia bergeleng akan dua anak muda itu, pertengkaran dalam rumah tangga memang bumbu yang mengasyikkan.


Lihat saja, walau wajah Aisyah dan Baskara berpaling ke kaca, tapi kedua tangan mereka saling menggenggam.


***


Rumah lama yang masih terawat karena mama Fya meninggalkan maid di sana, ini rumah kedua orang tua Aisyah yang sudah sebagian di renovasi tanpa membuang sisi kenangannya.


Perkampungan sepi dan tentunya jauh dari hingar bingar lampu kota, mereka disambut hangat maid di sana.


"Oh, tidak perlu, Bibik bisa tidur di kamar itu, saya bisa di ruang tamu," ujar Baskara sambil melepaskan jasnya.


"Tapi, Tuan di sini dingin, nanti kalau sakit bagaimana?" bik Desi merasa tidak enak.


"Tidak masalah, ada puskesmas di dekat sini." basa-basi sambil mencuri pandang pada Aisyah yang berdiri di depan pintu kamar tunggal untuknya. "Sudah, kalian istirahat saja, saya juga lelah!"


Krieeeekk ....


Kursi bambu itu berdenyit begitu Baskara berbaring di atasnya, bik Desi masih was-was, tapi bisa apa dia kalau Baskara yang mau, dia sedikit membungkuk sebelum masuk ke kamar belakang, dulu kamar kedua orang tua Aisyah.


Plak, Plak!


Garuk-garuk, tepuk sana, tepuk sini, miring kanan dan kiri, tak menemukan posisi yang enak, Baskara rasakan sakit di tubuhnya, bambu-bambu itu berjarak hingga dia seperti terjepit saja.


"Sini!" malu-malu lengkap gaya jual mahalnya Aisyah tarik-tarik lengan kemeja Baskara.


Baskara tersenyum samar, dia memasang ekspresi mengantuk dan seolah bingung, akting yang luar biasa.


"Ya, A-isyah?" tanyanya dengan suara parau.


Aisyah palingkan wajahnya, tangan masih menarik lengan kemeja itu.


"Sini, pindah kamarnya Ais!" memerah malu sekaligus kesal.


Dia kan mau kabur, justru sebaliknya satu rumah bersama Baskara, menyesal kabur.


"Tidak masalah, aku tidur di sini saja, kamu sempit nanti dan-"


"Kakak!" suara itu, Baskara rindukan. "Sudah, ayo pindah!" dia paksa.


"Kenapa sama di sini?" berlaga polos.


"Nanti, malaikat tidak mau mendoakan aku!" jawabnya menggerutu.


Baskara sontak berdiri, dia ambil tembak kecilnya, dia ayunkan.


"Mana malaikat yang tidak mau mendoakanmu, suruh ke sini!"


Puurrffttt!

__ADS_1


Bik Desi cekikikan di balik korden kamarnya.


__ADS_2