
Mondar-mandir dari kanan ke kiri, depan ke belakang, ibu hamil muda ini tak bisa diam sejak semalam, siang ini mereka akan diterbangkan menuju destinasi terindah, yakni. rumah orang tua di mana ibu selalu menunggu dengan kedua tangan terbuka.
Saka hanya bisa memijat pelipisnya, baiklah kalau lelah yang dia rasakan tak sama dengan yang Arsy rasakan, tapi melihat Arsy mondar-mandir membuatnya ikut lelah juga.
"Sayang, nata apa aja sih, kamu kok repot bener?" Saka tangkap tubuh berisi dua anaknya itu, khawatir kelelahan dan mereka justru tak bisa melakukan perjalanan panjang. "Emuah, hayo berhenti dulu atau aku tahan kamu pakai tali!"
Arsy tergelak bukan main, masa iya suaminya mau mengikat dia seperti buronan yang tak mau mengaku, mereka akan pergi bersama, tentu apa yang mereka bawa harus disiapkan dengan matang.
Beberapa koper sudah dia siapkan, tak mau lepas tangan sama sekali, dia yang menentukan semuanya, termasuk warna dalaman suaminya, tidak ada yang luput dari perhatian Arsy.
Mata berbulu lentik itu mengerjap tepat di depan Saka, membuat yang melihat ingin mengambil karung untuk mengarungi ibu hamil dua anak itu, tak mau dia bagi pada mata lainnya, mau bersama dia saja, dia yang melihat sampai menutup mata.
__ADS_1
"Jangan capek-capek karena sampe sana aku mau ajak kamu ke makam ayah, Sy... Ayah pasti seneng aku datang lagi ke sana bawa dua bibit unggul!" ujar Saka sambil membusungkan dada.
Arsy cubit perut suaminya itu, walau seminggu harus dikepung pekerjaan, tak menyurutkan ingin mereka segera lepas landas dan menyiapkan diri sebaik mungkin.
Banyak agenda yang harus mereka lakukan, termasuk membahagiakan ibu, wanita itu tak hentinya menghubungi Saka untuk memastikan sudah makan atau belum, bahkan memamerkan apa saja yang dia buat di rumah.
Bagi seorang ibu, anaknya pulang itu tamu besar, dia akan mencurahkan semua yang dia punya untuk membuat tamunya enggan pulang, hanya bersamanya.
Saka mengangguk, dia pandang foto besar ibu dan ayahnya di ruang tengah, matanya berair, dia merasa telah menyusahkan Baskara dalam hal ini meskipun kakaknya itu tak pernah keberatan, apalagi kakak iparnya yang lemah lembut itu, hatinya terlalu besar bagi mereka yang serakah.
Arsy lingkarkan tangannya ke lengan Saka, bersandar di bahu prianya itu, sembari menarik nafas dalam, dia pun ikut memandang wajah ayah dan ibu.
__ADS_1
"Aku sering membayangkan anak kita akan mirip ayah, bukan karena ayah tampan, tapi dari wajahnya saja orang bisa menilai seberapa tegas dan serius ayah dalam hidupnya, hatinya penuh sayang sekalipun caranya berbeda, aku ingin dicintai sama seperti ayah ke ibu, ibu ke ayah," ujar Arsy panjang lebar, dia bisa mengerti kondisi hati suaminya. "Abang seneng nggak kalau anaknya kembar laki-laki itu mirip ayah dan kakek Hend?"
Purrfttt....
Saka semburkan tawanya, entah kenapa nama kakeknya itu membuat orang amnesia semua, dia dekap Arsy sambil mengulang sekali lagi nama kakek dan dia gabungkan neneknya.
"Kakek Hendrawan Mesir El Yudistira atau Kakek Hans, terus nenek Niel, Sayangku!"
Kening Arsy terlipat dalam. "Hendrawan Mesir El Yudistira, kok bisa jadi Hans? Dari mananya coba, jangan ngaco, Bang!"
"Nggak ada yang ngaco, emang itu panggilannya, kamu kalau nggak terima bisa ditembak dan ditahan loh!"
__ADS_1
Eh, Arsy sembunyikan wajahnya ke dada bidang Saka, takut.