
Mall sebesar ini, Nakula lebarkan pengawasannya, dia bertanggung jawab penuh pada gadis berambut coklat satu ini, setiap dua langkah Shafiyah akan masuk pada satu langkahnya.
Pria itu berjalan tak jauh dari Shafiyah, bukan di belakang, karena dia pantang berjalan di belakang perempuan, dia mengawasi Shafiyah dari sisi samping, sekitar dua meter dari Shafiyah berjalan.
"Kak Ula!" sentaknya tidak terima.
Nakula mengangguk dan mendekat, bukan ini yang Shafiyah mau, dia tidak mau diikuti seperti anak petinggi apa dan apa, dia mau berjalan bersama seperti saat dia bersama Baskara dan Saka.
"Iya, Shafiyah?"
"Jangan panggil aku itu!"
"Tapi, itu bagus, nama salah satu wanita terbaik di sisi Nabi, Shafiyah."
"Mm, kamu tahu itu, seperti kak Aisyah?" Shafiyah memicing, menunjuk Nakula, pria itu mengangguk. "Tapi, aku tidak selembut itu, Kak Ula tahu!"
"Ya, aku tahu. Sisi lembut orang ada yang nampak dan tidak, biarkan aku memanggil nama itu, nama yang indah."
Shafiyah tahu itu pernyataan yang benar, dia tahu dan pernah mendengar kisah-kisah itu dari ibu dan kakak iparnya, dia tidak bisa membantah, hanya saja dia tidak mau Nakula berjalan terlalu jauh seperti mata-mata.
Apa boleh?
Kedua alis Nakula terangkat, dia tidak berani menyalahi apa yang memang dilarang, tapi selama Shafiyah nyaman dengan itu akan dia lakukan.
Akhirnya, setuju juga pria ini berjalan tepat di samping Shafiyah, lewat itu semua kesempatan besar sebenarnya terbuka untuk Nakula memperhatikan setiap senyuman Shafiyah, tapi dia menahan diri dengan baik, pandangannya lebih pada orang sekitar yang melirik Shafiyah.
Seperti suami yang menjaga istrinya, kakak lelaki yang menjaga adiknya, anak lelaki yang menjadi perisai ibunya, begitu Nakula berada di dekat Shafiyah, menjadikan gadis itu aman tanpa merasa enggan dengan keberadaan orang sekitar.
"Kak Ula mau ini?"
"Tidak, aku minum air putih saja."
"Kenapa tiap aku belikan tidak mau, aku tidak melakukan sihir apapun?"
"Bukan begitu, minum air putih lebih menyehatkan dari apapun, kamu harus banyak mengonsumsinya, Shafiyah."
Shafiyah habiskan minuman boba itu dulu, kesukaannya dan sang ibu, lalu membeli air mineral dua botol seperti yang Nakula katakan.
"Tapi, yang makan ini, aku harap Kakak tidak menolaknya, oke!"
"Baiklah, kamu juga tidak boleh menolak kalau aku yang membayar!"
"Eh, kenapa begitu?"
"Aku bekerja di sini, Shafiyah, aku punya uang jaminan. Tapi, kali ini uang asliku dari usaha sampingan yang akan aku gunakan, setuju?" dia tersenyum. "Aku yang mentraktirmu sekarang, boleh ya?"
__ADS_1
Malu-malu dia mengangguk, gadis berambut coklat yang sangat menarik hati, disimpan semakin lama, bukannya bosan, rasa itu semakin membuncah
Berulang kali gadis cantik Shafiyah tunjuk, tapi Nakula hanya menggelengkan kepala.
"Bila nanti saatnya tiba, aku akan memintanya langsung pada ayahnya."
"Jadi, sekarang dia sudah ada?"
"Ada."
"Di mana?" gadis ini penasaran.
"Di dekatku, kami sangat dekat."
"Wah, itu artinya aku tidak bisa menjodohkan Kak Ula dengan siapapun. Apa dia tahu kalau Kak Ula suka sama dia?"
Nakula menggelengkan kepala, "Tidak, aku tidak pernah mengatakannya."
Brak,
"Kalau dia direbut atau menyukai pria lain bagaimana?"
Nakula tersenyum lagi, "Aku bahagia kalau dia bersamaku, tapi aku juga akan lebih bahagia bila dia menemukan sosok lain, itu artinya aku tak lebih baik untuknya."
Ih, Shafiyah penasaran sampai ubun-ubun.
Ternyata hari ini, Shafiyah mendengar kalau Nakula sudah punya wanita impian, ada cubitan di hati, candaan orang terdekatnya sempat merasuk ke hati Shafiyah, dia jadi ingin mengulik Nakula, sepertinya dia harus berhenti.
"Kenapa, Shafiyah?" bingung, raut gemas itu jadi sedih
"Tidak, tidak ada apa-apa, aku mau pesan yang banyak, untuk ayahku juga!"
Nakula mengangguk, itu tak masalah baginya karena yang meminta adalah gadis yang dia suka.
***
"Bu, kenapa anakmu yang itu?" ayah melepas pelukannya, tiga hari bekerja penuh membuatnya rindu bau rumah, bahkan bau istri dan anaknya meskipun malam masih bisa melihat sebelum tidur. "Dia tadi bersama Nakula ke mall katanya, beli apa saja dan kenapa jadi pendiam?"
"Pendiam apa? Bukannya tadi sama Ayah meluk juga, lompat juga, mana yang diam?"
"Beda, aku tahu kalau dia berbeda, tidak seperti biasanya dia begitu. Ada masalah sama Nakula?" ayah akan menghukum Nakula kalau sampai membuat anak gadisnya kecewa atau mungkin dilarang selama belanja.
Ibu mengelak, memang tak ada masalah, bahkan tadi Nakula sempat duduk dan berbincang bersama, dia lihat lagi raut putrinya, memang ada yang berbeda sedikit dan tidak bisa Shafiyah sembunyikan.
"Katakan padaku apa tujuan Ayah menyuruh kak Ula mengawasiku!" dia desak ayahnya. "Dan, kenapa semua membuat candaan antara aku dan dia?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa, apa salahnya?"
"Salah, Ayah. Dia sudah mempunyai gadis impian, dia akan melamar gadis itu bila waktunya tiba, jangan membuat candaan yang akan menyakiti kami!" protes pada ayahnya.
"Siapa yang sakit?" pertanyaan balasan yang menyebalkan dari ayah.
Shafiyah melengos, dia tidak mau menjawab sampai kedua tangan ayah membuat tubuhnya pasrah ke pelukan, rambutnya dimainkan dan pipinya diciumi sampai cekung.
"Siapa yang Nakula suka, dia sudah siap menikah?"
"Mana aku tahu, aku tidak bertanya, yang aku mau jangan meledek perjodohanku dan dia, bisa saja aku terpancing suka padanya, lalu dia menyukai wanita lain, atau mungkin nanti dia terpaksa mengiyakan candaan kalian, itu akan sakit!"
Ayah cium lagi pipi itu sampai cekung, melirik ibu yang bergeleng paham akan apa maksud Shafiyah, candaan itu sedikit mengoyakkan pertahanan hati Shafiyah yang belum pernah jatuh cinta, semacam diam-diam berharap pada Nakula, tapi dia tidak mau menyakiti siapapun.
"Ayah, dengarkan aku!"
"Iya, daritadi Ayah dengarkan, Sofi. Apa telinga Ayah kurang lebar?"
"Kalau begitu, ganti saja dia, jangan kak Ula yang bersamaku, nanti candaan itu akan menyakitinya!"
"Tidak bisa."
"Kenapa, Ayah?"
"Itu bukan alasan yang masuk akal dalam sebuah pekerjaan, Sofi. Memutuskan hubungan kerja karena alasan pribadi sangat berdampak buruk, harus ada kesalahan jelas dan berimbas pada usaha bila dia melakukan kesalahan," jelas ayah.
"Dia salah!"
"Salahnya apa?"
"Ayah tidak mengerti!"
"Katakan kalau Ayah tidak mengerti itu kenapa, jelaskan!" pinta ayah yang tahu arahnya ke mana, begitu juga dengan wanita berambut coklat di sampingnya, ibu berkedip paham, dia hanya menjadi penengah di sini, antara anak dan ayah. "Bilang ada apa dan di mana salahnya!"
Shafiyah menyembunyikan wajahnya ke balik jas ayah, bergumam-gumam tidak jelas.
Sementara ayah meminta ibu mencium pipinya, hadiah karena paham akan apa yang anaknya rasakan.
"Lagi!"
"Hush!" balas ibu lirih.
***
Ayah emang gitu, maklum aja ya eheheh
__ADS_1
Besok Bas up satu ya, eheheh, bucil harus ketak-ketik di yang sono, si in-in, okay... lope!