
"Bang, barangnya Arsy udah di sini semua, yang di rumah kontrakan itu terus gimana?" Arsy hitung kotak barangnya. "Abang yakin udah semua?"
Saka akhiri panggilannya lebih dulu, niat hati ingin bermanja dengan sang istri begjtu tiba, sayangnya kabar penting akan pekerjaan tak bisa Saka abaikan begitu saja.
Dia peluk Arsy dari belakang, meletakkan dagunya di bahu kanan istrinya itu, dia cium singkat sambil mengeratkan pelukannya.
"Udah semua, Sayang. Rumah itu udah kosong aku nyuruh orang kantor buat beresin!"
"Tapi, masa iya pakaian dalamnya Arsy diberesin mereka juga?"
"Iyalah, kan udah kamu taruh rak, tinggal angkut. Sayang, hadap sini!" titah Saka sembari memutar tubuh kecil itu, membuat mata mereka saling bertemu dan Saka kecup singkat bibir candu Arsy. "Kamu di rumah sendirian nggak apa, kan? Abang ada kerjaan bentar, nggak Abang tunda sampe besok, kamu nggak marah kan?"
Arsy bergeleng, "Iya, nggak apa, lagian aku juga sibuk ini nggak bisa nina bobokin Abang, kan aku mau tata-tata, Abang balik, aku udah beresin semua ini, eheheheh ... jangan kuatir sama Arsy, Bang!"
Tak bisa lama-lama Saka memandang wajah itu, dia dekatkan wajahnya, kembali mengikis jarak hingga ciuman itu berlabuh lagi, kali ini lebih dalam mengingat dia menekan tengkuk Arsy, sungguh kalau itu tidak penting, dia akan tinggal di rumah bersama istrinya.
Arsy antarkan ke depan, untuk sementara belum maid dan penjaga yang bersama Arsy di rumah, mereka akan tiba di rumah ini esok hari, sekali lagi Saka ingatkan agar tak membuka pagar untuk orang asing, cukup melihat dari jendela, kenal atau tidak.
"Dengerin Abang baik-baik, Abang nggak mau kamu kenapa-napa, terus kalau sampe kamu kenapa-napa, yang ada orang itu nggak akan hidup sekali aku marah, tahu, Arsy!"
"Iya, aku janji, nggak akan bukain pintu dan pagar buat orang lain!"
Saka kecup keningnya, dia tak main-main dengan peringatan itu, sekalinya dia marah, maka tidak akan ada ampun bagi mereka yang menggoda Arsy, cemburunya orang diam jauh lebih menakutkan.
Setengah berjinjit Arsy melambaikan tangannya selepas mobil Saka menjauh, dia tahu ini resiko bila menjadi istri dari pekerja penting seperti suaminya, sejak Saka berniat serius, Arsy sudah menyiapkan diri, lagipula dia terbiasa hidup mandiri, tidak ada kata takut dalam kamusnya.
Kembali ke kamar, banyak yang harus Arsy bereskan di sini sampai suaminya kembali, tapi selain itu, dia harus membuatkan suaminya makanan, beruntung ada stok yang ibu mertuanya bawakan, tinggal dia hangatkan saja.
Ting!
Suara penanak nasi, kaki dan tangannya bergerak cepat, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
__ADS_1
Kamar pengantinnya dengan Saka harus dibuat seindah dan rapi mungkin, jangan sampai saat Saka kembali, masih seperti kapal pecah begini.
Lemari yang Saka sediakan hampir tak bersisa ruangannya, dia membawa banyak baju tambahan, tak terasa semua jadi penuh.
"Abang pasti bingung ini, bawaan aku banyak banget sampe nggak muat semua, ahahahah ... ini gila Arsy beneran gila, udah besar lemarinya masih aja kurang, mana punya abang kepake juga, maafin deh, ahahahah ...."
Lemari Saka pun sebagian juga Arsy gunakan, dijamin suaminya menganga karena ini, atau mungkin besok datang lagi lemari pakaian untuk dirinya, suaminya kan pengertian sekali.
"Ah, itu belum, lagi, Arsy!" dia berlari ke sudut lainnya.
Suaminya berjuang di lokasi kerja, dia berjuang di rumah, bertempur dengan semua barang dan perkakas yang dia bawa dari rumah kontrakan dan tanah air.
Ponselnya senyap, tak ada pesan ataupun panggilan, dia sudah terbiasa untuk itu, Saka sudah mengingatkan dirinya agar tak menunggu kabar apapun dari tempat kerja, mengingat Saka setiap kali bekerja, dia tak akan menyentuh ponsel pribadinya, hanya ponsel kerja saja.
***
Larut malam Saka baru kembali, dilihatnya tatanan rumah lebih baik dan sudah rapi dari sejak dia tiba, tidak ada kotak dan kardus yang berceceran.
Kedua kakinya melangkah lebar ke kamar, dari semua lampu di rumah ini terang benderang, hanya lampu kamar yang redup, bahkan pintunya tak tertutup rapat, bisa Saka dengar suara televisi dari dalam kamarnya.
"Sayang, kamu udah tidur?"
"Sayang-" Saka tersenyum, istrinya ada di sisi ranjang, berbaring di atas karpet bulu dengan mata terpejam rapat, dengkuran halus pun terdengar ramah di telinganya. "-kamu ini bikin gemes aja, ketiduran lagi, kasihan banget sih!"
Saka lepas jasnya, dia lipat lengan kemeja sampai batas siku, lalu membungkuk, dia angkat tubuh Arsy, dipindahkan ke ranjang. Sejenak Saka pandangi, lalu dia cium leher istrinya.
"Udah mandi dia, wangi sabun itu, nggak bangun lagi digendong gitu, gemes!" Saka cium lagi leher Arsy, yang punya leher hanya menggeliat dan bergumam, berbalik membelakangi Saka dan melanjutkan tidurnya.
Berganti Saka yang mengurus rumah ini, memadamkan lampu dan memeriksa dapur, menu makan malam sudah tersaji di sana, bibirnya menarik senyuman, ketampanannya bertambah berlipat-lipat, terlebih lagi ada tetesan air di wajahnya, hawa segar sudah menyapa, guyuran air membuatnya melepas lelah malam ini.
"Abang," panggil Arsy di ambang pintu, Saka menoleh, masih ada sendok menggantung di depan mulutnya. "Abang kok nggak bangunin Arsy, kan jadi makan sendiri kamu!"
__ADS_1
"Nggak apa, kamu capek banget kayaknya, beresin apa aja?"
"Banyak, Abang nggak lihat ya kalau rumahnya bersih dan rapi?"
"Ahahahah, iya Abang lihat, kamu sampe ketiduran gitu. Ini kenapa bangun, tidur lagi aja sana!"
Tidak, Arsy memilih duduk di samping Saka, dia usap-usap wajahnya.
"Aku mimpi Abang cium soalnya, jadi aku kebangun, eh ada Abang beneran, kayaknya aku dicium beneran deh, nggak mimpi, ya kan?"
Sekali lagi Saka tergelak, tahu saja kalau dia sempat cium-cium leher, memastikan Arsy sudah mandi atau belum, hanya itu.
Saka usak kepala Arsy, menyandarkan ke bahunya, begini rasanya punya istri, pulang malam, ada yang dilihat dan dimanjakan, belum lagi wajah bantal yang disuguhkan, ingin rasanya segera tidur.
"Habis makan, jangan langsung tidur, Bang!"
"Iya, ini cuman duduk di sini aja, nonton tv sambil rebahan."
Arsy ikut naik ke ranjang, dia berbaring, kepalanya sengaja dia letakkan ke paha Saka, lalu kedua tangannya ada di lutut pria itu.
"Bang, lemarinya Arsy pake semua sama punya kamu, Abang beli lagi aja, kalau bisa yang gede lagi, bajunya Arsy banyak tahu!"
Saka menganga, dia pandangi wajah manis di bawahnya itu, kemudian melirik lemari.
"Bajuku ada yang di lemarinya Abang soalnya, sesak loh!"
Ya, Saka manggut-manggut, wanita memang perlu porsi banyak dalam hal perabotan.
"Beli baru ya?"
"Hem, nanti kalau libur, kita jalan-jalan!" Saka cium ujung hidung Arsy. "Sekarang, kamu tidur!"
__ADS_1
"Cium bibir dulu, Bang ... belum dicium bibirnya dari Abang dateng ini!"
Huuuhhh, Saka tahan!