Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Mau Hamil Lagi


__ADS_3

Dikatakan menyesal menikah juga tidak bisa, Saka yang paling berbeda hari ini, diantara semua pria, hanya wajahnya yang kurang bersahabat, tidak seperti biasanya.


"Kak Saka, bantuin Sofi betulin ini!"


Tanpa menjawab, Saka langsung membantu, dia kerjakan apa yang Sofi minta, rak susun itu akhirnya berdiri di depan kamar, tinggal Saka dorong masuk saja, dia pun tak bertanya di mana Nakula saat ini hingga bumil muda melakukab tugasnya seorang diri.


"Terima kasih, Kakak sayang. Kenapa mukanya kok ditekuk terus, marahan sama kak Arsy?"


"Tidak."


"Terus, marah sama Sofi?"


"Tidak, Dek."


"Terus, kenapa sampai ditekuk begitu, bilang sama aku!" desak Shafiyah tak mau permintaannya ditolak. "Ayo bilang sama aku, Kakak sayang!"


Nakula, entah ke mana dia, tidak bisa mengamankan Shafiyah tanpa ada Nakula, sedangkan semua orang tahu kalau Shafiyah sudah meminta pada kedua kakaknya, itu berhukum wajib, sesuai pesan ayah mereka.


Bilang, akhirnya dia mau jujur juga, tapi dengan satu syarat di mana adiknya itu tidak boleh tertawa mendengar pengakuannya.


"Apa, benarkah dia melakukan itu padamu?" Shafiyah menganga, matanya berbinar, dia mau tertawa, tapi sudah janji diam.


Saka mengangguk, tak ada gunanya dia bohong, toh adiknya sudah menikah dan mungkin pernah terbesit seperti itu, hal gila yang Arsy lakukan padanya.


Semua bersih tak bersisa, sampai pada bulu ketiak Saka, habis dicukur Arsy. Saka hanya mengaku pada adiknya dan yang bisa dia tunjukkan hanya bulu ketiak, berulang kali membuat Shafiyah menyemburkan tawa dan melanggar perjanjian mereka.


"Semuanya, bersih?"


"Iya, dia membuatku kehilangan identitas sebagai singa. Apa kau melakukan itu pada Nakula?"


Shafiyah bergeleng, "Aku rajin sejak sebelum menikah, kalau kak Ula tidak tahu, sepertinya iya, aku jadi mau-"


"Jangan, lebih baik mencari ide ngidam yang lain, jangan itu!" Saka tahan adiknya. "Carilah ide yang menarik, misal menghabiskan uangnya atau apa, jangan yang menyiksa pria, berjalan saja sudah tidak enak di ketiak, sakit semua, perih dan seperti ditusuk ujung rambut sapu!" Saka mengayunkan tangannya pelan, tidak nyaman rasanya.

__ADS_1


Lagi-lagi ibu hamil muda ini tertawa, bisa-bisanya sang kakak ipar berani melakukan itu, terlebih lagi Saka tak menegur yang bagaimana, dia begitu tunduk pada Arsy, radio berjalan yang akan membuat hari-hari Saka berwarna.


Derap langkah dan senandung Arsy terdengar sayup-sayup di telinga, dia baru saja naik setelah bermain dengan Rasyah, bocah itu jauh lebih menarik dibandingkan suaminya.


Saka memutar pandangannya perlahan, begitu tahu Arsy, dia lantas sembunyi di balik tubuh kecil Shafiyah, tidak mau ada aksi cukur mencukur jilid dua, dia sudah kesakitan dan merasa ditusuk di mana saja.


"Abang, kok di belakangnya Sofi?" Arsy melebarkan senyumnya, tubuh bumil itu kecil, mudah sekali memergoki Saka di sana. "Abang, kamu gangguin Sofi ya, hayo!"


Shafiyah terkekeh, dia maju sedikit hingga Saka gelagapan dan tak ada tempat berlindung.


"Kak Arsy, dia-" Shafiyah berjinjit membisikkan sesuatu, mata Arsy sontak memicing ke arah sang suami. "Aku tinggal ya, aku sayang kalian!"


"Emuah, Kakak juga sayang sama kamu adik ipar cayaaaang!" slink, Arsy kembali berpusat pada suaminya yang sibuk menghitung semut di tembok, dia genggam tangannya dan menarik Saka kembali ke kamar. "Abaaaaaaang, gitu acuh sama istrinya dilarang!"


"Tapi-"


"Arsy kasih bedak sini, uummmm ... pasti dia kayak bayi gajah ya, ahahahahah, gemess banget sih, pengen makan!"


"Heh, jangan!"


***


"Ciluk ... Ba!"


"Sayangnya, Bunda ... ketawa terus, habis itu ngantuk, iya?" Aisyah goyang-goyangkan tubuh mungil anaknya, bocah lelaki yang berwajah bak rembulan, tapi bentuk mata mengiris siapa saja yang endak meliriknya, balasan dari Rasyah tak kalah tajam dari sang ayah. "Mana gantengnya, mana gantengnya, ahahahahh ... jangan serem-serem, Bunda atut nanti Sayangku!" ciuman bertubi-tubi mendarat untuk si ganteng Rasyah. "Matanya Yanda ya, atu punya garis matanya Yanda, Nda ... Hatinya baik, lembut, gitu ya, Sayang ... eh, senyum lagi, jadi tidak mau jauh sama Rasyah loh ini!"


Baskara lantas duduk ke samping Aisyah, berganti menimang dan mengajak bermanja sang anak, bocah tampan gembul yang tak membosankan bila berlama-lama dipandang, kedipannya mematikan lawan, bulu mata lentik menurun dari Baskara membuat mata itu tajam-tajam mendamba.


"Habis nen ya, hem, bau susu jadinya, suka nen banyak?"


"Iya, Yanda ... kalau dekat begini maunya nen terus, bau susu semua jadinya!" jawab Aisyah melapor. "Yanda mau makan sekarang?"


"Bentar lagi, Nda. Masih mau main sama anaknya ini, masih seger, masih wangi, belum mau bobok, Yandanya kan ya mau dimanja sama Bunda, ehehehehe ...."

__ADS_1


Aisyah cubit perut suaminya, selalu saja iri kalau anak mereka mendapatkan perhatian lebih, tapi walau begitu malam-malam yang berlalu, Baskara hanya besar di bibir saja, dia selalu mengutamakan anak mereka, membuat Rasyah selalu nyaman diantara mereka, mendapatkan kehangatan dari sang bunda yang sangat perhatian.


"Nda, biar sama aku saja kalau kamu mau sholat!"


"Yanda makan dulu saja, Rasyah bisa kok nunggu di box samping aku, dia bisa lihat Bunda sholat, iya sayang, anak ganteng!"


Baskara terkekeh, dia lahap saja menu hasil karya tangan istrinya ini, ke mana pun Aisyah berada, bocah itu akan selalu ikut, kecuali di tengah kesibukan yang mengharuskan Aisyah fokus, baru Baskara yang mengambil alih.


"Aku jadi kangen dia hamil lagi, ehehehehe, tapi Saka baru nikah, masa iya aku buat bundanya Rasyah hamil lagi, sadar Bas!"


Niat di hati tidak terbantahkan, dia bahkan mengidamkan sang istri hamil lagi, lucunya membayangkan Aisyah dengan perut besarnya menggendong Rasyah dan ikut dia bekerja, Baskara cengar-cengir sendiri.


"Yanda bayangin apa?" Aisyah kerutkan keningnya, baru membuat si kecil tidur, suaminya berganti mengejutkan.


"Yanda kepikiran kamu hamil lagi, kangen lihat kamu hamil, Nda!"


"Ahahahahahah,-" slink, melirik tajam pada suaminya. "-Yandaaaaa, anaknya masih kecil loh, ini belum bisa jalan, masa iya nambah?!" taringnya ke luar.


Baskara ambil bantal, dia tutupkan pada wajah, lalu mengintip sedikit.


"Kamu lucu kalau hamil, Nda. Manja terus sama aku, heheheheheh ...."


"Yaudah, ini tinggal Ais manja saja ke Yanda, tapi jangan hamil lagi!"


Manyun, mau istrinya hamil lagi. Aisyah dengan perhitungannya, sedang Baskara dengan bayangannya akan kehamilan, sudah dipastikan malam ini ada perang dingin diantara mereka berdua.


Ting,


Rasyah menjadi penengah, bocah itu seolah paham akan kondisi di sekitarnya, merengek dan menendang kecil, membuat Aisyah mau tidak mau memutus debat kusir bersama suaminya itu.


"Ini loh, Dek ... Yandamu mau Bunda hamil lagi, Adek'kan masih kecil!"


"Tidak apa ya, Dek. Kan, Bunda lucu kalau hamil lagi-"

__ADS_1


"Yanda!" aung, taringnya ke luar lagi.


__ADS_2