Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Sambutan Tumpeng


__ADS_3

Senggol, senggol lagi, senggol lagi dan lagi.


"Kenapa Yanda gitu sih?"


"Senang, senang anakku laki-laki, itu artinya yang kedua aku tinggal belajar membuat anak perempuan, A-isyah."


Ah, rasanya rindu dipanggil nama seperti itu oleh suaminya, seperti sudah berabad-abad saja, Aisyah lingkarkan tangannya ke lengan kiri sang suami, menyandarkan kepala di lengan kokoh itu.


Masih ingat disaat mereka kehilangan calon anak pertama waktu itu, rasanya dunia ini hancur dan Aisyah takut suaminya berpaling, bahkan dia sempat mengira sudah tak ada bagian kebahagiaan yang bisa mereka rengkuh setelah ini.


Namun, keajaiban datang dan menjadi berkah untuk keduanya, lewat doa yang tak pernah putus dan usaha berdua yang selalu mencari jalan terbaik apa saja, sampai ke desa sekalipun, mereka lakukan dan hadiah ini akhirnya mereka terima.


"Yanda sudah kasih kabar ke ibu dan ayah?"


"Belum, nanti kalau sudah di mobil, aku kabari mereka, ayah pasti senang mendapatkan cucu laki-laki, dia sudah menyiapkan barak latihan dan-"


Diam, sama seperti ibu dulu di mana tidak tega kalau anak mereka akan masuk ke barak latihan yang kerasnya minta ampun, mendapatkan banyak luka dan mental yang diasa begitu dalam, meruncing hingga tak kalah begitu mudahnya.


Anak pertama lelaki di rumah ini dan adiknya yang laki-laki juga akan diasa dengan cara yang sama, tidak peduli ibu mereka setuju atau tidak.


"A-isyah, dia pasti menjadi pria yang baik karena ada didikanmu, dia pun akan menjadi pria yang kuat," ujar Baskara melegakan hati istrinya.


"Tapi, kalau dia kesakitan seperti Yanda?"


"Dia akan tahu cara mengobatinya, kamu mau dia yang terjaga seperti ayahnya atau mau yang lepas bisa jalan ke sana-sini, kenalan seperti yang di luar sana?"


Aisyah jelas menunjuk suaminya, kalau mereka bisa menjaga diri, setidaknya harus mereka turunkan pada anak mereka, mencintai dalam diam sebelum pernikahan, melepas atau memberanikan diri untuk memiliki, itu yang mereka inginkan pada anak yang masih di perut itu, bukan memainkan perasaan wanita tanpa kejelasan.


"Yanda, mau beli onde-onde mini ya," ujarnya sambil memperbaiki posisi duduk.


Baskara mengangguk, dia berikan kabar bahagia itu pada kedua orang tuanya lebih dulu, lalu pada mama Fya selaku mama angkat Aisyah, dan akhirnya akan tersebar ke semua keluarga.


Mobil itu melaju meninggalkan tim dokter yang tadi sempat syok, tawa dan semangat membara Baskara bahkan membakar diri mereka, menjadi tegang sampai Baskara dan Aisyah pergi, pemeriksaan berikutnya yang ada di kepala mereka hanya tiang dan tiang.


Tanpa mereka berjanji sebelumnya, begitu berhenti di penjual onde-onde, pertemuan dengan si kembar Faris dan Rendi membuat mereka bersorak riang, belum lagi sambutan Disa yang sejatinya sejak dulu heboh bersama Baskara.


Plak, plak, plak!


"Mau beli ini?" tanya Disa.


"Tidak, mau beli rombongnya!"


Plak,


"Is, duh suamimu ini tidak berubah sama sekali, jawabannya ketus terus." adunya pada Aisyah yang baru saja menyapa si kembar. "Heh, Bas ... sudah aku baca pesannya ibumu, gaya mau punya anak laki nih, selamat menunggu rumah kamu jadi kapal pecah!"


Baskara berdecih, "Anakku beda dengan anak tuan mudamu itu, wek!"


"Eh, sembarangan, enak saja kamu bilang, semua anak laki itu ya sama saja, tidak ada bedanya, mainan bongkar semua, hancur tidak terkira, ibu sama ayah sampai geleng kepala!"

__ADS_1


"Ya karena itu anakmu, anakku jelas beda!" lagi, Baskara terus memancing ibu tiga anak satu ini.


Toel, toel ...


Disa menunduk, satu anaknya menarik celananya.


"Apa sayang?"


"Mama, ada ituh!" menunjuk celana Baskara, sontak Disa tertawa.


"Apa?" Baskara kepo.


Disa tendang kecil kaki itu, tepat di bagian ada permen karet yang menempel.


Sialan, Baskara kepalkan kedua tangannya, sontak membuat si kembar ketakutan.


"Bas, jangan gitu deh, tidak ada ya drama horor di sini!" Disa dekap kedua putranya.


Melihat itu, Aisyah bergegas mendekat, pesanannya sudah di tangan, sedang suaminya justru bertengkar di sini bersama istri sepupunya itu, tidak pernah berubah.


Plak, plak, plak!


Disa yang memukul, bukan Baskara, katanya kalau dipukul bisa kabur setan yang merasuki Baskara itu.


"Mbaaak, maaf ya, dia ini kalau ngomong memang suka begitu, maaf ya," ujar Aisyah. "Yanda, minta maaf, jangan keterlaluan kalau bercanda!"


"Aku tidak keterlaluan, dia menyamakan anakku dengan anaknya, jelas tidak sama, aku dan tuan muda itu berbeda!" tidak mau mengalah meskipun dengan wanita, khusus istrinya Reno ini, Baskara marah pun dia tidak gentar, justru maju. "Jangan samakan!" menunjuk Disa.


"Jangan samakan, jangan samakan, memangnya lagi nyanyi lagu dangdut?!" Disa julurkan lidahnya.


Tahu begini, Aisyah memilih membuat onde-onde di rumah saja.


"Heh, Bas!"


"Apa, mau ngomong apa?"


Loh, suami garangnya sudah berubah menjadi sosok yang cerewet, bahkan berani membalas ocehan istri dari sepupunya itu, meledek sampai ikut geram karena ledekan pancingan dari Disa.


Yanda!


Kalau Aisyah tidak menarik tangan suaminya itu, dijamin prianya itu tak akan berhenti membalas ocehan Disa, begitu pula Disa yang tak pernah akan menyerah kalau sudah melawan Baskara.


Ada dua anak kembarnya tidak bisa membuat dia berhenti, justru sebaliknya di mana ibu tiga anak itu menjadi-jadi.


"Yanda, sudah jangan gitu!" Aisyah cubit pipi suaminya. "Jangan kasih contoh ke si kembar gitu, Yanda!"


"Yanda cuman bercanda kok sama dia, Nda!"


"Iya, bercanda, tapi kan di depannya si kembar, jadi nanti kalau ditiruin mereka bagaimana?" Aisyah cubit lagi, suaminya itu kalau sudah bertemu dengan Disa, tidak ada yang mau kalah, tapi beruntungnya tak pernah ada dendam diantara keduanya. "Kalau anaknya sudah lahir, jangan kasih contoh gitu, kasih contoh akrab yang bagus, Yanda!"

__ADS_1


Iya, Baskara mengangguk, dia usap-usap tangan istrinya itu, kalau marah itu menular pada Aisyah, yang ada dia bisa diacuhkan selama perjalanan dan di rumah, kan hari ini ada kabar gembira.


Cup, dia cium berulang kali sampai Aisyah tersenyum, baru mobil itu melaju, sempat Aisyah membuka kaca mobilnya, melambaikan tangan pada Disa dan si kembar, mereka bersama supir berkeliling sambil menghabiskan makanan, begitu cara Disa mengalihkan perhatian anak-anaknya yang selalu ingin ikut papanya kerja, takut papanya diambil orang.


"Nda, cukup tidak bawa ini buat Sofi juga?"


"Cukup, aku beli banyak, yang buat ayah aku sendiriin, nanti biar ayah tidak cemberut. Yanda ya gitu, jangan usilin ibu, jadinya bikin ayah cemburu!"


"Eheheehehhe, ayah kerja saja sudah cemburuan, apalagi tidak kerja, cemburunya bertambah."


Sesampainya mereka di rumah, mungkin malam ini Baskara meminta istrinya tinggal di sini, dia mau berlama-lama dan melihat sebahagia apa ayah dan ibunya itu.


Keduanya dikabarkan tengah sibuk membantu persiapan Nakula juga, belum lagi Shafiyah yang galau ditinggal suaminya tugas ke luar negeri berbulan-bulan, hanya bertemu lewat videocall di mana urusan anak mau tidak mau mereka tunda, dia ada di rumah ayah dengan semua galaunya hingga satu rumah susah tidur kalau malam hari.


Kemungkinan suaminya akan kembali tepat saat anak Baskara lahir, barulah bergantian kedua adiknya itu yang akan berbulan madu, saat ini harus ditunda dulu demi pekerjaan yang mulai berpindah ke pundak Nakula.


"Dooorrrr!!" Shafiyah kejutkan kedua kakaknya itu, sengaja dia buat keduanya berjengit dan Baskara hampir berteriak karenanya. "Selamat, Kakak!"


Baskara peluk dan gendong adiknya itu, tubuhnya masih kecil meskipun sudah menikah, dengan mudah Baskara angkat dan putar-putar.


"Selamat ya, Sofi ikut seneng karena Kakak sah mau jadi ayah dari dedek cowok yang tampan dan aung!" dia gambarkan seperti macan, tidak. tahu kalau Aisyah ingin anaknya itu lemah lembut seperti Nakula saja. "Ayah sama ibu sudah menunggu kalian!"


"Di mana mereka?" Baskara mengedarkan matanya.


Shafiyah ajak ke dapur dan di sana dua orang tua itu tengah sibuk berperang mau menyajikan nasi kuning dalam model tumpeng yang bagaimana.


Ini calon cucu pertama dari keturunan Aksara, dari anak pertama dengan istri pertama yang telah tiada, dia kira garis keturunannya akan terputus, nyatanya tidak, karunia yang begitu besar untuknya.


"Ayah-"


"Heh, dia itu, lihat anakmu, Bu. Kalau ada berita yang bagaimana sukanya nangis terus, dia itu macan atau bukan?" Ayah raih dan peluk.


"Kan, memang anaknya Ayah gitu, aung-aung tapi kalau di rumah sama keluarganya cengeng, ahahahahah, sini Ibu ya mau dong dipeluk anaknya!" bergantian, tapi tidak bisa lama karena ayah cemburu, biasa seperti dugaan Aisyah dan Baskara, cemburu ayah naik beberapa kali lipat sejak tidak bekerja, takut ibu melirik pria yang kerja lainnya. "Daritadi, Ayahmu maunya model bulat, kan Ibu maunya ditumpuk saja bisa dipotong, kalau Ayah cuman bulat rata sama nampannya, kan tidak bisa dipotong, Bas, Is, sebel Ibu ini!"


Shafiyah usap pipi ayahnya, dia yang akan membela ayahnya di sini, kalau ada Saka, pasti akan dia ajak membela ayahnya, sayang sekali Saka dan Nakula harus di luar negeri sementara waktu.


"Tenang, Ayah ada aku, aku dukung buat yang tanpa dipotong, potong-potong itu sakit kan ya ayah, tahu kan ya?"


"Iya, mana tahu Ibumu kalau dipotong itu sakit!"


"Heh, apanya?!" duar, sudah membawa pisau kue, mau memotong tumpeng maha karyanya. "Bicara lagi, aku potong itunya!"


"Bu, ahahahahahah, A-isyah sampai mau ngompol ketawa terus, sudah hentikan!" Baskara pegangi istrinya yang terus saja tertawa melihat drama keluarga ini. "Tahan loh, Nda. Ayo, ke kamar mandi gandeng aku!"


"Loh, makan tumpengnya dulu!" ibu halangi.


"Jangan, Bu. Nanti, ngompol di sini bagaimana?" yang digandeng tergelak terus, dadanya naik turun, begitu pula perut besarnya.


Ayah dan Shafiyah bawakan ember, "Di sini saja kalau tidak kuat!"

__ADS_1


"Ahahahahah, aduh, kebelet!" Aisyah semakin tergelak, entah kenapa dan ada apa hari ini di keluarganya. "Yandaaa, ayo!"


"Iya, tapi kamu diam!" ngompol repot nanti.


__ADS_2