
Di dua hari akhir bekerjanya, Baskara terpaksa mengunci Aisyah di kamar, tidak lain kedua pengikut setia itu harus lembur di unit apartemennya, kecenderungan Sena ikut juga sangat besar kemungkinannya, maka itu tak ada pilihan saat mereka masuk ke kamar cadangan yang Baskara ubah menjadi ruang pertemuan bersama rekan kerja, dia mengurung Aisyah di kamarnya.
Ya, kamar yang selama beberapa hari ini menjadi tempat mereka berdua istirahat bersama, guling yang menjadi batasan mereka.
"Bas, sekali saja aku mau menyapa Aisyah, boleh ya?" Nando merengek sampai urat lehernya terlihat semua. "Kan, Sena belum datang, eheheheh." ayo, ayo, aku mau bertemu Aisyah.
Baskara keukeh dengan pendiriannya, bukan apa-apa, sekali saja dia ajak dan biarkan Aisyah ke luar, begitu Sena datang mendadak, dia tidak akan bisa menghalanginya untuk melihat Aisyah, akan lebih baik begini.
Menjaga hati Aisyah yang sudah nyaman beberapa hari ini bukan hal mudah, selain itu hatinya masih geram kalau mereka bertemu, entah itu cemburu atau apa, belum bisa dia artikan.
[Kakak, gelasku lupa.] Aisyah.
Baskara lantas berdiri, tanpa pamit meninggalkan kedua temannya yang mulai fokus pada pekerjaan mereka, walau Nando masih ingin merengek, demi gaji dia diam.
Tok, tok, tok.
Aisyah buka pintu itu perlahan, dia terima gelas yang Baskara ambilkan.
"Pakai hijabmu, A-isyah!" titahnya mengingatkan.
"Sudah, Kak. ini!" Aisyah tunjukkan sedikit, lalu senyum mereka bertemu, malu-malu.
Hanya menggoda dan memastikan kalau Aisyah tidak lupa akan pesannya, sekalipun di dalam kamar, kalau orang berniat buruk, tentu semua kemungkinan bisa saja terjadi.
Baskara kembali ke ruang pertemuan, meraba tengkuknya yang meremang, hatinya terus memuji wajah manis dan cantik Aisyah.
Seandainya saja dia juga mencintai aku, huh!
Pertemuan dengan penuh semangat dan kekompakan ini tak bertahan lama, entah siapa yang membuat undangan lengkap, Baskara dan kedua temannya sampai sempat mematung begitu melihat Sena tiba di tempat Baskara.
Dia tidak sendiri, wanita hamil dengan mood berantakan itu ada bersamanya.
Bedebah satu ini, bisa-bisanya membawa Gina!
Pian menangkap wajah geram tertahan Baskara, dia seketika paham, kalau ada Gina di sini, maka tidak mungkin dibiarkan seorang diri menunggu para pria bekerja, pasti membutuhkan teman.
__ADS_1
Dan yang ada sekarang adalah Aisyah.
"Iya, Kak?" Aisyah menyembul ke luar sedikit.
Baskara pandangi wajah itu sejenak, dia tidak rela, tapi ada tamu di sini yang harus perhatikan.
"Oh, habis ini Ais ke luar, Kakak tunggu ya!"
"A-isyah." dia ikut masuk sebentar.
Grep!
Aisyah tercengang, tubuhnya membeku dengan kedua tangan sejajar di depan dada, jantungnya sudah bertalu-talu di dalam sana.
"Kakak," sebutnya lirih, dia di pelukan Baskara. "Ken-kenapa?"
Belum ada jawaban, Baskara sendiri tidak tahu kenapa tubuhnya reflek memeluk Aisyah, tadi dia hanya cemas akan hati Aisyah yang kembali sakit melihat kebersamaan Sena dan Gina, dalam pikiran Baskara, istrinya itu masih dan sangat mencintai Sena. Baskara tidak mau Aisyah terluka lagi.
Pelukan itu perlahan terlepas, masih menyisakan tanya di benak Aisyah, tapi secepat kilat Baskara melangkah ke luar tanpa mengatakan apapun.
Fokus itu berusaha Baskara kumpulkan lagi, walau ada Sena di sini, dia harus menjadi pimpinan muda yang profesional, mengesampingkan masalah pribadi diantara mereka.
Langkah kecil Aisyah sempat menggoyahkan pikirannya, Pian menangkap semua itu dengan jelas, ada perang dingin antara Sena dan Baskara.
Aku jadi mau membenarkan Wira, jangan-jangan batu gunung ini sudah jadi kerikil sama Aisyah.
Pian senggol Nando, memberi info lewat gerak bola matanya.
"Apa sih?"
"Susah memang!" ujar Pian kesal.
***
"Sibuk apa selama Bas kerja?" Gina bertanya basa-basi.
__ADS_1
Seperti biasanya Aisyah tersenyum, "Hanya sibuk membuat makanan untuk malam dan membereskan kamar ini," jawab Aisyah.
Gina menoleh pada kamar tunggal itu, di mana dia melihat ada lipatan selimut yang rapi dan guling besar di tengah. Walau yang dimaksud Aisyah akan kamar itu seluas unit ini, tapi mata Gina menyorot ke sana.
"Kamu tidur satu kasur sama Bas?"
"Iya." Aisyah ambil semangka dan dia potong.
"Sudah tahu rasanya dibelai sama suami? Enak tidak setiap malam kasih jatah ke suami, hem?" dia bertanya lirih, takut Baskara dengar.
Aisyah hanya tersenyum, sekalipun dia nanti sudah menjadi istri utuh untuk Baskara, hal seperti ini tidak perlu dia ceritakan, itu urusan pribadi rumah tangga mereka.
"Atau kalian cuman tidur dengan pembatas karena Bas tidak minat sama kamu, hem?" Aisyah yang tak menjawabnya, membuat Gina leluasa melancarkan isi kepalanya. "Tidur dan melakukan itu bersama suami rasanya enak loh, Is. Tapi, ya aku sadar diri sih kalau Bas belum mau nyentuh kamu, kan dia nikah sama kamu cumah buat nama baik perusahaan saja, bukan karena cinta. Beda sama aku yang sudah ada ikatan sama Sena, hampir tiap malam itu dia minta jatah terus, padahal tahu anaknya masih kecil di perut aku, eheheheh." Gina tutup mulutnya sejenak.
"Eh, maaf ya aku jadi buat kamu iri, jangan-jangan setelah ini kamu bakal gatal minta ditidurin Bas, eheheheheh, atau mungkin menyesal karena tidak jadi menikah dengan Sena, jadinya kamu tidak bisa merasakan surganya pernikahan yang panas sama dia, Sena itu gila kalau di ranjang!" Gina tambahkan, masih berkobar mempengaruhi Aisyah.
Tak ada yang berubah dari Aisyah, dia terus tersenyum dan senyum, membagikan sajian selayaknya menyambut tamu agung. Di sini nama baik suaminya sebagai pimpinan harus dia jaga utuh, tidak boleh ada cacat sambutan dari suaminya, Aisyah pegang teguh itu.
Mata Baskara yang sesekali mencuri pandang pada Aisyah, gadis itu balas dengan kerlingan dan senyum yang sangat yakin, dia tidak peduli apa yang Gina katakan, yang penting saat ini pekerjaan suaminya lancar.
"Apa karena ada Aisyah, jadi kamu tidak mau bantu aku makan, sayang?" Gina merajuk, dia bahkan menempel pada Sena di depan semua orang.
Pian dan Nando berdecak, mau muntah sebenarnya melihat ulah ibu hamil itu.
Sena buatnya pakai jurus apa sih sampai sebesar itu perutnya? Nando.
"Anak kamu mau diusap, sayang. Kan, lagi istirahat ini, ayo sini!"
Lagi, semua orang malas melihatnya, termasuk Baskara, tapi dia lebih condong pada Aisyah, dia khawatir perlakuan Gina di sini semakin membuat Aisyah sakit hati, walau Aisyah tersenyum, Baskara yakin hatinya pedih.
Baskara ambil duduk di samping Aisyah, posisi ini menjadikan Nando dan Pian seperti wasit saja, mereka ada di tengah dua pasangan tragis.
"Kakak mau ini?" tawar Aisyah akan buah semangka potong itu.
"Suapi dong, Ais. Masa kalah sama aku!" Gina yang membalas.
__ADS_1