
Aisyah melebarkan senyumnya singkat, begitu Baskara kedipkan matanya dan memberi tanda untuk tak terlalu melebarkan senyum sebab di rumah bukan hanya Baskara saja lelakinya, ada sepupu lelaki juga.
"Kakak berjanji padanya untuk bertemu?" tanya Aisyah bersuara lirih.
Baskara mengangguk, setelah membiarkan Aisyah mengecup tangan kanannya, Baskara mengajak Aisyah masuk, pembawaan yang berbeda bila hanya berdua saja bersama Aisyah, ketegasan tampak jelas di wajah Baskara, dia membawa wibawanya itu.
Dia!
Yang Baskara maksud adalah wanita di dekat Reno, istri Reno tak lain adalah satu-satunya wanita yang suka berceramah di depannya lagi berani, sejak dulu dan semua keluarga tahu akan kebiasaan wanita bernama Disa itu.
"Sudah menunggu lama?" tanya Baskara bersalaman dengan Reno, dia sekilas melirik Aisyah, memastikan Aisyah memakai pakaian lebarnya. "Mana anak-anak, Tuan Muda?"
"Brengsek, dasar!" balas Reno menepuk lengan Baskara, masih saja memanggilnya seperti itu, tuan muda. "Faris sama Rendi takut katanya ke sini, Disa yang nakutin!"
Loh, Disa terpojok, tapi masih saja bisa tertawa meskipun disudutkan dan dituduh suaminya, menaikturunkan kedua alisnya menggoda dan menantang Baskara.
"Aku ada hadiah untuk si kembar, nanti A-isyah akan mengambilkannya," ujar Baskara setengah menoleh pada istrinya, Aisyah pun mengikuti tabiat itu, dia mengangguk samar. "Ada apa ke sini mendadak?"
Ini intinya, tapi sebelum itu wanita di samping Reno mencelanya dulu, membuat telinga Baskara bising dengan apa yang dia katakan.
"Untung istriku tidak banyak bicara, kamu mau bilang begitu kan, Bas, ngaku!" Disa tusuk-tusuk Baskara dengan tongkat kemucing. "Ini ya, Is, aku punya saran kalau dia jual mahal sama kamu, tinggal lemparin rambut saja habis mandi, terus lari, biarin dia kebayang sampai ke kantor, ditampar rambut basah istri itu candu, biar dia kelepek-kelepek, cuman ditampar tapi tidak diajak basahin rambut, wek!"
Baskara berdecih, dia tahu Aisyah menahan tawa, tentu saja istrinya itu sudah paham, mereka kan sudah menyatu dan merasakan puncak nikmat itu, tahu juga bagaimana kalau dirinya kelabakan.
"Mbak Dis, di rumah masih suka begitu anaknya sudah tiga?" Shafiyah menjadi dewasa dalam sekejap.
Disa mengangguk, "Lah ini suaminya model begini, Mas Reno itu mau di rumah atau di luar sama saja, modelnya ya santai begini, mau dicubit ya ayo, ahahahahahah, ya kan, Mas?"
"Hush, kamu itu, malu sama pengantin baru!" Reno rengkuh istrinya, kalau tidak begini tentu tidak diam.
Walau begitu keduanya asik saja, tidak ada yang marah, mau diledek istrinya seperti apa, Reno justru ikut tertawa, menegurnya hanya sekadar hash-hush saja.
Kembali ke pembicaraan inti, apa yang menjadi tujuan kedatangan Reno ke rumah Baskara.
__ADS_1
Kedua alis tebal Baskara sontak menyatu saat nama Sena disebut dan banyak dari apa yang Reno katakan menjadi benih ancaman dalam hubungannya bersama Aisyah, sesekali dia pandang Aisyah yang melebarkan matanya terkejut.
***
Malam selalu menjadi peraduan terakhir bagi jiwa manusia yang lelah, Baskara bergeser naik dan bersandar pada bahu ranjang, dia masih memikirkan apa yang Reno katakan soal keyakinan Sena akan Aisyah.
Lipatan di wajah itu menarik perhatian Aisyah, suaminya tidak bisa tidur, dia pun juga tidak bisa tenang untuk tidur, sekalipun Baskara ada di sampingnya.
"Kakak masih memikirkan yang tadi?" duduk sambil mengapit selimutnya, baju tidak ada harganya sekarang. "Katakan, apa yang Kakak cemaskan di sini, aku mau dengar dan tahu!"
Baskara menoleh, "A-isyah, apa pernah dalam hatimu terbesit mengakhiri hubungan ini?"
"Hubunganku dengan Kakak?" balasnya, kemudian Baskara mengangguk. "Pernah, waktu itu aku putus asa melihat Kakak, sikap Kakak yang dulu begitu, siapa yang tidak ragu dan mau yakin, terlebih lagi saat aku meluapkan semua isi hatiku di depan kak Sena, di rumah sakit waktu itu, Kakak pergi tanpa mau mendengarkan aku, karena putus asa, aku berpikir hubungan ini diakhiri saja, sudah tidak ada harapan," jelasnya.
"Kalau sekarang?"
Aisyah tersenyum, dia jatuhkan kepalanya di bahu polos Baskara.
"Aku akan mengikat Kakak setiap hari!" ujarnya penuh keyakinan.
"Masih sama, ehehehehe, kalau Kakak?"
"Apa kamu melihat keraguan, hah?" Baskara turunkan selimut itu, buru-buru Aisyah tarik naik. "Kamu melarangku meluapkan emosi pada Sena, bukan karena ada hati kan?"
Aisyah bergeleng, sama sekali tidak, itu jawaban yang pasti dan singkat. Bila ingin dia jabarkan, hanya hal sederhana di mana dia tidak mau suaminya membuang waktu atau mungkin mengorbankan nama baiknya lagi untuk hal yang sia-sia, lagipula Aisyah tidak akan kembali pada Sena, tidak akan mengingkari pernikahan ini.
"... mmm, Kaak!" Aisyah lipat bibirnya, basah.
"Besok belajar renang," cetus Baskara.
"Buat apa?"
"Biar bisa tahan napas lama, ahahahahhah, terus ada metode ambil napas!"
__ADS_1
"Memangnya ada metode ambil napas tanpa hidung dan mulut?" Aisyah rasa kesempatannya berbicara tidak akan pernah banyak, bibir itu sudah menjadi candu sampai keduanya terbawa arus kembali.
***
Sempat Sena mau menghindar saat berpapasan dengan Baskara, bukan Baskara mengacuhkannya, tapi dia hanya sedang ada tamu yang jauh lebih penting untuk dia perhatikan.
Sena berdiri tak jauh dari Baskara dan dua orang berpakaian rapi formal itu, ketiganya tampak akrab dan sesekali menepuk bahu Baskara.
"Sampai berjumpa di lain kesempatan, Pak Toni. Sampai jumpa di debat berikutnya, Noah!" Baskara tinju dada Noah, sambil tertawa saling membalas. "Sudah sana, kerja yang benar dan buat istrimu senang!"
"Ahahahahahah, dasar!" balas Noah.
Sena masih menunggu, dia tak bisa menahan dirinya untuk tidak berbicara dengan Baskara, desas-desus hubungan baik dan pernyataan cinta Baskara pada Aisyah di kantor ini sudah menyebar dan sampai ke telinganya.
Dia merasa dikhianati dan terkhianati.
"Sedang apa di sini?" tanya Baskara sewajarnya.
Bug!
Tanpa aba-aba, satu pukulan mendarat ke wajah Baskara, membuatnya mengeluarkan darah dari hidung.
Baskara seka dan tahan dengan sapu tangannya.
"Apa sudah merasakan enak tidur bersama Aisyah?"
Persetan, pertanyaan macam apa ini?!
"Apa maksudmu?" balas Baskara.
"Cih, memangnya apa lagi yang dilakukan dua orang yang dimabuk cinta kalau sudah menikah, selain menikmati goyangan ranjang bersama, hah? Apa kau kira aku ini orang bodoh, kalian pengkhianat!" Sena maju, dia lepaskan pukulannya lagi, sungguh Baskara tak menghindar. "Katakan, apa enak tidur dengan Aisyah, hah? Apa dia memuaskan hasratmu? Apa enak, sampai kau lupa dengan siapa Aisyah sebelum denganmu, aku ini temanmu!"
croot!
__ADS_1
Lengkap sudah, dua lubang hidung Baskara mengucurkan darah.