Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Lagi Ya!


__ADS_3

"Kapan kau kembali?" Baskara garuk keningnya, ada gurat serius di sana. "Tidak masalah, menikah bukan halangan aku ke sana, Saka. Ada ibu dan ayah di sini, kalau bisa A-isyah ikut ya pasti aku ajak ke sana, tapi lihat dulu," jelasnya.


Samar-samar Aisyah dengarkan obrolan serius itu, kalau tidak salah dengar, dia mendengar suaminya menyebut nama adik kedua, Saka. Tapi, entahlah kalau yang lainnya, Aisyah rapatkan lagi kimono itu dan dia bersembunyi ke balik selimut.


*Apa malam ini bisa libur, ahahahahah, aku terlalu berkhayal kalau bisa tidur malam enak, ada pengganggunya sekarang.


Eh, sekarang jam berapa*?


Aisyah endak beringsut turun, dia tak punya waktu banyak untuk tidur malam, bahkan merelakan mandi malam yang dingin demi melakukan apa yang menjadi kebiasaannya.


Langkah Baskara mengejutkan Aisyah, dia cekikikan begitu tahu suaminya memutar jemari sebagai tanda agar Aisyah kembali ke ranjang, kan tadi dia bilang belum selesai, makanya belum boleh pergi.


Dan satu lagi, suami atau apa yang biasa dia lakukan, tentu Aisyah tak bisa melawan apa yang suaminya minta.


"Sampai di mana tadi?"


Eh, padahal baru saja bicara serius di telfon, kembali sudah ingat yang ini saja, dasar Kakak!


Aisyah cengar-cengir, dia hanya memiringkan kepalanya saat wajah Baskara terselip ke sana, membuat apa saja yang Baskara suka sampai dia hanya bisa meremat sprei karena rasa yang campur aduk.


"A-isyah, kenapa memakai ini?" menarik pengait karet itu.


"Kenapa? Kan, biasanya wanita juga pakai itu, Kak."


"Tapi, kan ini malam hari, aku susah kalau kamu memakainya, harus dibuka satu-satu."


"Kalau tidak memakainya ya lucu, ahahahahaha, seperti bola lepas begitu," ujar Aisyah sambil tertawa.


Pletak,


Tak menunggu lama, seharusnya Aisyah tak bercanda dengan suaminya ini, walau baru saja membahas masalah pekerjaan di luar sana, begitu kembali di dekatnya, ya yang Baskara bahas adalah pekerjaan di rumah ini, berbagi suara bersama.


"Lihat aku, A-isyah!" pintanya di ujung waktu.


Aisyah buka matanya, dia melihat suaminya menggigit bibir sembari memejamkan mata, lalu setelah itu ambruk di pelukannya.


"Kenapa wajah Kakak begitu?"


"Hah?" masih mengatur napas.

__ADS_1


"Kenapa wajahnya dilipat-lipat begitu? Terus, merem juga, kenapa?"


Merasakan kenikmatan yang meledak, A-isyah.


Baskara hanya tertawa menjawabnya, tidak mungkin dia berkata seperti yang dia katakan dalam hati begitu, bisa malu tujuh turunan dia, Baskara kira istrinya paham.


Perasaan yang tak bisa Baskara jelaskan, ditambah lagi kalau dia mendapatkan kedutan dari Aisyah tanpa sadar di bawah sana, sungguh dia mau terbang.


"Hei, Kakak mau apa lagi?"


"Dia bangun lagi, hem." menciumi Aisyah lagi. "Kamu lucu, A-isyah. Lagi ya?"


Heh, baru berhenti sebentar!


"Kaaak-"


"Ya, A-isyah, malam ini saja, lain kali cuman sekali, ini saja!" memelas.


"Tunggu, Ais cuci bentar dulu!" Aisyah membawa selimutnya kabur.


Cepat-cepat dia bersihkan yang sisa tadi, menoleh ke sekitar kasur, suaminya menunggu di sana, Aisyah mengira Baskara akan terlelap dan dia bisa menyusul tidur, dia tertawa jahat dalam hati.


Grep!


"Aaarrrrrghhh!" Aisyah bekap mulutnya.


"Lama sekali, dia belum mau tidur kalau kamu belum kembali, sini!"


Astaga, Aisyah angkat kedua tangannya, percuma dia mengira dirinya aman, mata itu memang terpejam, tapi yang di bawah sana tidak sama sekali.


"A-isyah," panggilnya.


Diam, jangan meminta aku melihat wajah Kakak lagi!


Dan benar saja, tak lama dari itu, tuntas semuanya, Baskara memeluk sebentar sebelum berguling ke samping.


"Kak, kalau Ais hamil nanti, apa Kakak sudah siap?" Kan, Kakak yang buat terus!


Baskara menoleh sambil membuka matanya perlahan.

__ADS_1


"Apa yang membuat aku tidak siap, A-isyah?"


"Eh, itu-"


"Kalau bisa menikahimu beberapa tahun lalu, pasti rumah ini sudah ramai suara anakku, eheheheheheh, mau membuatnya rutin, hem?"


"Tidak, tidak begitu!" kan, salah lagi Ais -nya. "Lalu, kalau Ais belum punya anak dalam waktu dekat, apa Kakak akan benci dan mencari wanita lain?" ups, begitu saja terpatri di benak Aisyah.


Kadar ketajaman mata Baskara semakin bertambah, menoleh pada Aisyah penuh seolah mengatakan hal yang dia benci.


"Maaf, Ais kurang ajar tanya seperti itu, Kak, maaf!" Aisyah mengusel mendekat, berulang kali mengatakan minta maaf pada suaminya, maaf dan maaf.


Sampai tangan Baskara merengkuhnya, kata maaf itu baru selesai dia ucapkan dan berani mengangkat wajahnya sedikit hingga kecupan di kening itu dia dapatkan.


"Pernah mendengar aku membaca ikrar pernikahan di buku nikah itu kalau istriku tak kunjung memberiku anak, lantas aku menikah lagi atau mencari wanita lain?" tanya Baskara serius.


Aisyah bergeleng, dia pandang lekat wajah suaminya.


"Kalau begitu kenapa bertanya, terbesit saja tidak, anak itu rejeki sekaligus ujian, kita pantas atau tidak, tergantung DIA, A-isyah."


"Maafkan aku," ujar Aisyah bersalah. "Maaf, Kak, maaf."


Baskara rengkuh tubuh itu, dia dekap dalam sekali lagi, dia tidak marah, hanya saja ucapan Aisyah menjadi titik ragu, seolah Aisyah ragu kepadanya. Di luar sana, jangankan berminat, meliriknya saja tidak Baskara lakukan, bukan saat bersama Aisyah saja, sejak dulu, sejak dia mengerti isi hati.


"Jangan ulangi lagi, yang kamu ulang hanya tehnik membuatnya, mengerti?" bisik Baskara, jangan lupakan senyum evilnya itu.


Aisyah mengangguk, masa bodoh wajah evil suaminya, dia bersalah.


***


Perpisahan itu duka seharusnya, tapi tidak untuk pasangan satu ini, meja mediasi sudah mereka lewati beberapa kali dan hasilnya nihil, tak ada yang mau mengalah di sana, justru sudah membicarakan hak dari perpisahan yang ada, harta gono-gini misalnya mengingat Sena bekerja dan pernah berjanji di pernikahan itu.


"Kali ini mediasi sesi terakhir, apa yang harus dilakukan?" Reno bertanya pada istrinya.


"Kenapa tidak mengurung mereka di kamar saja, biar saja bertengkar, nanti kalau lelah ya membuat anak lagi, apa memang yang mereka pikirkan selama ini, Mas? Tidak ada, hanya itu, mereka sudah basah, sekalian saja diceburkan, aku jengah dengan perubahan kak Sena, biarkan dia sesuka hatinya," jawab Disa panjang lebar, tentu wajahnya kesal.


"Kalau berhubungan bagaimana? Kan, aneh mau berpisah kok malah buat anak!"


"Ya biar, biar balik lagi, kasih saja apa yang mereka suka, sebenarnya juga sama-sama butuh, cuman tidak ada yang mau ngalah, sudah kunci saja!" berdiri dan dia berikan kunci kamar itu.

__ADS_1


Tidak ada pilihan dan upaya lain untuk dua anak manusia ini, Reno biarkan mereka bermediasi sendiri, tak akan bisa kabur sebelum menemukan titik isi hati.


__ADS_2