Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Kecupan di Bibir


__ADS_3

Kamar yang kedap suara, begitu suka sekali Baskara akan keheningan, mereka jadi tak mendengar apapun yang sedang ramai di bawah sana, bahkan tidak tahu kapan ayah pulang dan bersama siapa.


Aisyah pandangi wajah lelah di sampingnya itu, tadi Baskara sendiri yang memindahkan beberapa barang miliknya dari kamar lama ke kamar ini, padahal kepalanya masih mengeluhkan pusing, sekarang sudah terlelap lebih dulu.


Ingin Aisyah sentuh wajah itu, tapi sedari tadi jarinya hanya maju-mundur di depan wajah Baskara, dia tidak punya keberanian lebih untuk menyentuh wajah suaminya.


Aku mencintaimu, A-isyah. Hari ini kita jadian ya!


Aisyah rasa dia tak akan melupakan kali pertama suaminya mengakui perasaan suci itu, moment yang dia tunggu dan setiap malam dia doakan, hari ini dia dapatkan dengan begitu indahnya.


Menguap sudah rasa cemas di hati Aisyah, suaminya ini miliknya, bukan hanya raga yang menjadi status suami, melainkan hatinya juga.


"Kenapa tidak tidur, A-isyah?"


Eh, Aisyah tersingkap kaget, dia salah menilai seorang pemburu bisa tidur dengan lelap.


Baskara buka matanya perlahan, ada wajah yang tengah terperangkap di depannya, seperti pencuri yang ketahuan saja.


"Kakak, belum tidur?"


"Kenapa memangnya? Mau memukulku pakai teflon juga?"


"Ahahhahahah, tidak, mana mungkin aku tega," jawab Aisyah sambil tertawa, dia beranikan diri mengusap bekas luka merah di dekat pelipis itu. "Apa masih sakit?"


Baskara lapisi tangan itu, dia biarkan sedikit lebih lama di wajahnya, sudah tidak sakit sejak. Aisyah mengobatinya.


Mereka terdiam sesaat, tenggelam dalam lamunan dan perasaan masing-masing hingga wajah mereka terasa begitu dekat, napas keduanya saling bertabrakan, ini akibat kalau mereka di ranjang yang sama dan saling melempar pandangan.


Baskara kecup tipis bibir merah dan kecil Aisyah, membuat pemilik bibir itu terkejut dan membuka matanya lebar-lebar.


Aisyah lantas berbalik membelakangi Baskara, dia tutup wajahnya dengan guling, bukan marah, dia malu.


Semua yang bersama Baskara adalah yang pertama baginya.


"A-isyah."


"Jangan panggil dulu, Ais malu!" menjauhkan bahunya yang ditepuk kecil Baskara.


"Malu kenapa, hah? Ahahahahahah." dia bergeser mendekat. "A-isyah," bisiknya memanggil.


"Kaaaak, Ais malu!" masih menjawab di balik guling.


Lagi, Baskara tertawa, dia juga baru ini mengecup bibir seorang gadis dan dia akui itu candu.

__ADS_1


"Boleh aku memelukmu sambil tidur, A-isyah?" satu tangan sudah di pinggang Aisyah. "Apa boleh?" wajahnya sudah bersembunyi di punggung kecil Aisyah. "Boleh tidak?" kakinya menindih kaki Aisyah. "A-isyah, aku ***-"


"Iya, boleh, Kak!" sahut Aisyah memotong.


Terserah, lagipula Baskara sudah mengikatnya, tapi pria itu masih saja bertanya dibolehkan atau tidak, seandainya Aisyah menolak pun kaki dan tangan Baskara juga tak akan berpindah, mereka sudah ada di posisinya masing-masing.


Tak lama dari jawaban itu, Aisyah rasakan punggungnya menghangat, napas teratur suaminya bisa dia rasakan di sana, tangan yang ada di pinggangnya juga lemas, bahkan kaki Baskara sudah merenggang, suaminya sudah terlelap sungguhan.


"Selamat tidur, Kak. Ais sayang sama Kakak, Ais cinta sama Kakak, jadi jangan lihat gadis selain Ais ya, Kakak harus janji!" ujar Aisyah lirih, dia genggam tangan Baskara yang ada di pinggangnya, sesekali dia angkat untuk dia kecup


Pipinya memerah kala mengingat kecupan pertama di bibirnya itu.


Apa malam ini aku dan Kakak resmi berciuman pertama kali?


"Ais, ayo tidur!" Aisyah gosok-gosok wajahnya.


***


Hap!


Baskara terima buah apel yang Saka lempar, baru tahu dia kalau adiknya juga ke sini.


"Semalam tidur di mana?"


"Kenapa tidak di kamar satunya lagi?" asik memukul.


"Ibu kangen katanya, ahahahahah. Kak Ais mana?"


"Ke sini mau melihat A-isyah atau rindu pada ibu?" langsung diterkam.


Saka tergelak, dia angkat kedua tangannya meminta ampun, padahal dia juga tidak mungkin jatuh cinta pada kakak iparnya, yang benar saja, tapi melawan orang jatuh cinta memang tak akan ada habisnya, dia harus mengalah.


Begitu ayah turun bersama Shafiyah dan ibu, Baskara sapa dengan begitu sopan dan hangat, dia seperti menunjukkan pada ayahnya kalau dia berhasil mengatakan cinta pada Aisyah.


"Mana istrimu?" tanya ayah.


"Masih di kamar, dia memakai hij-"


"Pasti semalam begadang ya, iya kan?" potong Shafiyah.


"Hush, anak kecil!" ayah tahan putrinya itu. "Ajak makan bersama kalau sudah, Bas!"


Baskara mengangguk, ingin dia gendong saja adik kecilnya itu, berhubung ada ayah, mau tidak mau dia harus menahan diri untuk tidak gemas pada adiknya, putri kecil ayah itu akan selalu ayah bela.

__ADS_1


Kalau ada ibu di rumah ini, maka ibu yang akan jadi pengawas maid yang memasak, memastikan rasa masakannya pas dengan lidah ayah karena bisa gempa bumi nanti kalau tidak sesuai, ayah pasti mogok makan.


"Yah," sapa Aisyah, dia ulurkan tangannya bersalaman.


Ayah sedikit terkejut, mendadak saja muncul, dia kira siapa.


"Semalam bisa tidur, Is?"


Loh, ayah!


"Bisa, Yah. Apa ada kejadian yang Ais lewatkan semalam?" Aisyah menoleh pada suaminya yang juga terkejut.


"Ahahahahahh, tidak ada, siapa tahu ada singa lepas dari kandangnya, bercanda, ayo makan!" asal bicara saja, untung tidak ibu lempar wajan panas. "Sofi, duduk sini, jangan ganggu kak Saka terus!"


Gadis bertubuh kecil itu melenggang mendekat, sudah menjadi kebiasaannya kalau sang kakak pulang, dia akan bermanja dan membahas apa saja di pangkuannya.


Dia berhenti di dekat Aisyah, "Kak Ais, pindah kamar suka kan?" tanyanya berbisik.


Aisyah merona malu, tapi dia mengangguk, bagaimana tidak, dia mendapatkan kecupan di bibir dari suaminya.


"Bagus, kalau bis-


"Sofiiii, Ayah panggil lama sekali ya!" potong ayah geregetan.


"Iya, iya, aku datang Yang Mulia Ayah Aksara Raya!" tertawa lalu duduk menempel di samping ayahnya.


Aisyah menoleh lagi pada suaminya, kedua bahu Baskara terangkat, seolah dia katakan tidak tahu ada apa dengan Shafiyah.


Pagi ini terasa berbeda, sekat pembatas diantara mereka seakan hilang tak membekas, Aisyah jadi lebih berani mengangkat wajahnya dan tak bersembunyi saat Baskara memandangnya, ada keyakinan yang membuat dia berani saat ini.


"Kakak mau ikan yang ini?" tawarnya.


"Hem, sedikit saja."


Saka pandangi saja, dua sejoli itu membuat dia iri.


"Cieeee, yang sekarang sudah tidak curi-curi pandang lagi, cieeee!" Saka.


"Iya, cieeee yang sekarang ikan maunya diambilin Kak Ais, cieeee!" Shafiyah.


"Ciii-" ayah melirik pada ibu, wanita itu sudah melotot, tidak boleh ikutan anak-anaknya. "Sayur, Bu!" memberikan piringnya.


Ibu ambil piring itu, dia berikan sambil menggerutu, "Jangan kayak anak kecil, hilang nanti wibawanya Ayah, tahu ya!"

__ADS_1


Ayah manggut-manggut.


__ADS_2