
"Jangan katakan ini pada A-isyah, Paman!"
Yoga ingin menginjak kepala Sena, bisa-bisanya membuat kegaduhan di kantor, terlebih lagi yang dipukul adalah pimpinannya sendiri.
Dia tarik kursi ke depan Baskara, melipat tinggi kedua tangannya.
"Kenapa tidak kau balas saja, hah? Kedua tanganmu itu kan bisa membuat lehernya patah, kenapa diam saja, mau mempermalukan ayahmu apa?" Yoga yang tidak terima. "Berikan kompres itu, begini kan jadi kamu yang susah!"
Baskara mengernyit saat hidungnya ditekan sedikit, masih ada darah yang ke luar, dia memang tak berniat membalas sama sekali tadi, percuma juga beradu kekuatan dengan orang yang terbakar emosi, sampai mati pun tidak akan pernah paham.
Urusan cinta memang rumit, dia sudah berjanji pada Aisyah untuk menjaga emosinya, semakin dia marah, justru itu akan mempermalukan dirinya sendiri sebagai pimpinan, wibawanya jelas hilang hanya karena masalah wanita.
"Begini kalau Aisyah menciummu pasti sakit," omel Yoga, persis ibu-ibu. "Apa bagian ini masih sakit?"
Baskara bergeleng, dia hanya ingin darah itu berhenti sebelum dia pulang, Aisyah pasti akan merasa bersalah sekali dan menyimpulkan yang tidak-tidak kalau tahu pukulan Sena yang ini.
Satu lagi, dia lebih tidak mau nantinya Aisyah gelap mata dan menemui Sena tanpa izin darinya, dia tidak mau Aisyah bertemu Sena sama sekali.
"Kalau ayahmu tanya, harus aku jawab apa, hah?"
"Katakan saja apa adanya, mau mati apa berbohong padanya, kan cctv-nya banyak!"
"Ahahhaahahahh, benar juga. Dia di sana raganya memang, tapi bisa melihat ke mana-mana, rumit sekali hidupnya, ahahahaahahahahah ... eh, Bas, tadi ada email dari siapa itu temanmu yang kemarin, Nakula, dia mau berkunjung ke sini," ungkapnya sambil tertawa, dia buka email dari ponselnya.
Ah, iya. Baskara sampai lupa kalau tentangga lama di rumah utama itu mau berkunjung ke rumahnya, sampai belum dia katakan pada ayah dan ibunya, tentu ini akan menjadi kabar gembira, sudah lama ayah tak bersua dengan ayah Nakula.
Selepas membereskan darah yang bercucuran tadi, Baskara lipat kemejanya yang berubah warna, mengganti dengan yang baru, disisa hari dia bekerja, jangan sampai kabat buruk semakin mencuat, membersihkan nama baik Sena saja sudah rumit menurutnya.
***
"Apa yang terjadi?!" Aisyah berlari ke ruang tengah, adik iparnya itu berkunjung ke rumah setelah menyelesaikan tugas sekolahnya. "Sofi, ada apa di kantor kakak?"
__ADS_1
Shafiyah lebarkan video yang ayahnya kirim, seharusnya dia tak berteriak di sini, tapi dia terkejut akan pesan yang ayahnya kirimkan, ada gambar di mana darah bercucuran di wajah kakak pertamanya.
Aisyah rebut ponsel itu, dia perjelas siapa yang terlibat di sana, seketika kakinya lemas tak bisa menopang berat tubuhnya sendiri, hatinya yang mudah tersentuh membuat mata itu berkaca-kaca.
"Ayo, ke kantor kakak, Sofi!" ajaknya tanpa mau berpikir lagi. "Aku ganti baju ya, tunggu ya, Sofi. Ayo ikut aku ke kantor!" buru-buru dia seka air matanya. "Tunggu!"
"Kak Ais, sini dulu!" Shafiyah tahan kakak iparnya itu, dia ajak duduk agar tenang, ini salahnya membuka pesan ayah tadi. "Kakak tenang dulu, aku telpon ayah ya, Kak Ais dengarkan ya!"
Kalau bukan Shafiyah yang menahannya, tentu Aisyah bisa berlari ke kantor suaminya itu tanpa berpikir panjang, setidaknya dia berharap jawaban sang ayah mertua bisa membuat hatinya lega.
"Ya, Nak?" suara ayah menyapa Shafiyah.
Shafiyah sengaja keraskan volume agar Aisyah bisa mendengarnya juga.
"Ayah, ini salah Ayah ya, bukan salahku, aku di rumah Kak Ais, jadi waktu aku buka pesan Ayah, Kak Ais ikut dengar, ini Kak Ais ketakutan, Ayah tanggung jawab!" oceh Shafiyah.
"Astaga, kamu di sana, kok tidak kasih kabar di grup, kalau ada apa-apa di perjalanan tadi bagaimana? Mana Aisyah?"
Ayah jelaskan apa yang terekam cctv itu beserta laporan dari pekerjanya di sana, Aisyah sesaat menangis, tapi berganti tawa saat ayah menghiburnya, tentu saja mengatakan kalau Baskara sudah biasa berdarah seperti itu, yang tidak biasa adalah melepaskan lawannya, masih untung Sena didiamkan.
"Baiklah, Ayah sudah tanggung jawab ini, jangan mengejutkan aku ya, bilang dulu kalau mau kirim video, kan aku kira video Ayah sedang apa di kantor. Aku mau main di rumah Kak Ais, pesan Ayah aku balas nanti ya!"
Ayah mendesah, "Nanti, Ayah yang jemput kamu, Sofi. Ayah yang bilang supir habis ini!"
"Aaahh, pasti Ayah mau membelikan aku es campur kan?" dia tertawa lupa omelannya.
Kalau tadi dia yang menenangkan Aisyah, kini Aisyah yang berganti memeluk adik iparnya itu, manjanya tidak karuan kalau bersama ayah, terlebih lagi ayah yang super perhatian pada Shafiyah.
Tadinya Aisyah endak menghubungi sang suami, tapi dia urungkan mengingat suaminya belum memberi kabar, pasti di sana pria itu menjaga perasaannya yang di rumah, sudah tahu kalau dia akan merasa bersalah.
"Sofi, mau pudding tawa tidak?"
__ADS_1
"Kakak belajar dari mana membuatnya? Nanti, ayah pasti bertanya banyak hal padaku, termasuk urusan makanan, jadi harus jelas, tahu kan ayah itu bagaimana, Kaaakk."
"Ahahahahh, iya, aku tahu. Nanti, aku bantu jelaskan, makan sini!"
***
Aisyah putar wajah suaminya ke kanan dan kiri, atas lalu dia suruh menunduk, menekan ringan hidung dan sisi wajah yang terlihat sedikit memar.
"Ini tidak sakit, A-isyah." dia genggam tangan Aisyah.
"Tidak sakit karena Kakak terbiasa begini, tapi aslinya ini sakit, diam dulu!"
Baskara lepas tangan itu, biar saja istrinya merawat bekas luka hantaman Sena, memberi salep sampai dikompres ulang, sesekali Aisyah lihat dalam hidung mancung itu, memastikan tak ada darah beku atau kering di sana.
"Hei, berhenti cemas!" pinta Baskara menakup wajah Aisyah.
"Apa Kakak sudah gila meminta aku tidak cemas, hem? Aku mau memeriksa tulang hidungnya, kalau ada yang retak kan bahaya, bisa sampai ke syaraf, memangnya dia bisa menyambung kalau sampai putus?!" Sena, dia malas menyebut nama itu.
"Itu tidak akan terjadi, aku tahu titik hindarnya, A-isyah."
"Berhenti berkata Kakak tahu dan kuat, hatinya Ais tidak sekuat itu, bagiku Kakak tetap manusia biasa!" kan, dia mau menangis lagi. Dia berbalik membelakangi Baskara, bahunya terguncang, lemah kalau sudah menangis, pasti akan deras begini.
"A-isyah, kan-"
"Tunggu, biarkan aku menangis dulu, jangan dilarang!" potong Aisyah.
"Ah, iya, menangislah dulu, butuh tisu, A-isyah?"
Aisyah mengangguk, dia rebut kotak tisu itu, dari belakang, Baskara usak kepala Aisyah.
"Lucu sekali," gumamnya.
__ADS_1