Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Gelagat Berbeda


__ADS_3

Tidak diperbolehkan mencium Aisyah sampai hidung itu merasa benar-benar nyaman, tidak ada nyeri lagi.


Walau Baskara sudah mengatakan baik-baik saja, Aisyah punya ukuran tersendiri, dia menghitung sampai 2x24 jam, kalau tidak ada keluhan tentu dia akan mengizinkan sang suami menciumnya lagi, atau mungkin meminta yang lainnya.


Titik!


Puuuuurrffffftt ....


Ayah tertawa, tak kuasa mendengar pengakuan anaknya.


"Ayah tidak pernah dilarang ibu begitu?"


"Mana tahu ibumu kalau di luar begitu, pulang dia tidak tahu apapun, kakekmu juga diam saja," jawab ayah.


"Itu bedanya dengan Ayah, menyebarkan ke Sofi, jadi dia tahu." Baskara protes, imbasnya dia tidak bisa mencium Aisyah, padahal bibirnya sudah gatal mau mendekat. "Keluarga Nakula akan datang sebentar lagi, dia masih menyiapkan oleh-oleh katanya buat ibu," ujar Baskara sambil membuka ponselnya.


Layar itu penuh dengan coretan nama Aisyah, bukan fotonya, Baskara tidak mau ada yang ikut melihat foto Aisyah sembarangan.


Suara para wanita di rumah ini tidak bisa dibendung, bukan Aisyah, hanya terdengar tawa kecilnya saja, ada ibu dan Shafiyah yang ramai, menunggu tamu sambil bercengkrama, membahas dari A sampai Z sesuka hati.


Ayah sejenak berdiri, memandang kejauhan di mana bayangan akan masa depan anak-anaknya tergambar dengan jelas, yang masih terasa samar untuknya adalah si kecil Shafiyah, anak gadis satu-satunya yang nanti harus dia pastikan sendiri calon pendampingnya seperti apa.


Ketakutannya membawa pria bertopeng baik masuk ke rumah ini tak bisa dipungkiri, jangankan mengangkat tangan pada anaknya, membayangkan Shafiyah ditegur keras saja atau dengan wajah benci itu ayah tidak sanggup, dia bisa mengendalikan anak lelakinya, tentu sulit bila itu anak orang.


"Dia belum punya pacar, aku selalu mengikutinya, Ayah."


"Ck, bagaimana bisa dia punya pacar, setiap hari ayah dan ayah saja, sakit perut juga ayah, keringatan juga ayah, huuhh ... kalau dia sudah berumah tangga, jangan lupakan dia, Bas. Sampai mati yang Ayah pikirkan hanya Sofi, apa dia berada di tangan pria yang tepat nantinya," ujar ayah menampakkan isi hati.


Baskara mengangguk, dia bahkan menjaga Shafiyah dengan segenap jiwanya.


Bruk!


"Ayaaaaaaaaahhhh," rengek Shafiyah sambil mengeluh.

__ADS_1


Ayah langsung berlari, walau dia sudah tak muda lagi, jangan ditanya masih sekuat apa, bahkan menggendong anaknya saja masih bisa.


"Jangan lari, ini di rumah bukan di jalanan, kalau kepalamu ini terbentur tepian meja bagaimana, hah, mau diganti kelapa?" omel ayah sambil memindahkan Shafiyah.


Shafiyah peluk saja pria berkuasa di sampingnya ini, "Apa ada kelapa yang semanis aku?"


"Dasar, jangan jatuh-jatuh lagi, bahaya!"


Ibu bergeleng melihatnya, di luar asal ayah tahu seberapa mandirinya Shafiyah, tapi kalau di rumah sudah berubah menjadi anak ayah, haus perhatian ayahnya, apa-apa ayah, tidur pun ayah juga begitu, harus mendengarkan suara Shafiyah dulu.


"Gitu dulu, Is. Ayah susah diajak punya anak lagi, tahunya ke luar Sofi langsung begitu, nempel sama Sofi, bilang apa saja kalau Sofi yang minta, tengah malem habis lembur bakal pergi, buat Sofi saja!" ibu ungkapkan pada Aisyah.


"Ayah hebat," balas Aisyah, dia pun mengenang bapaknya yang juga tak kalah hebat.


Ibu bergegas ikut Baskara menyambut ke depan saat tamu itu tiba, ada dua anak muda di sana, Aisyah menyapa dengan ramah dan hangat, satu perempuan dan satu lagi laki-laki, sepertinya umur mereka tak jauh beda dari Baskara.


Pandangan pertama kedua orang itu tertuju pada Aisyah, penampilannya yang paling berbeda tentu membuat mata nyaman memandang sekaligus penasaran siapa Aisyah ini sampai bisa berkuasa di samping Baskara.


"Tante jangan bilang berubah, aku masih sama. Shafiyah mana?" tanya Nabila, sudah girang mau bertemu boneka hidup. "Aku ke sana ya, Te!"


Sapaan untuk Aisyah dari Nabila memang tak sepanjang anggota keluarga lainnya, tapi hal itu tak mengganggu Aisyah sama sekali, dia cukup sadar diri kalau di sini masih baru dan dia menantu.


Baskara kenalkan Aisyah pada Nakula sesuai dengan janjinya, betapa terkejutnya Nakula begitu tahu istri dari pria yang dia kenal seram ini, sangat bertolak belakang, bila istri itu cerminan hati suami, maka Nakula tahu hati pria seram ini bagaimana.


"Kaaak-" selalu saja mau ambil kesempatan.


"Sedikit saja."


"Huhh, iya nanti, setelah tamunya pulang, tidak jadi dua hari!"


Baskara tersenyum lebar, sekadar mencium, sedari tadi demo masalah itu dia. Satu cubitan mendarat tipis di pinggang Aisyah, membuat mata berbulu lentik itu memicing sekilas, lalu berjalan di belakang ibu.


Malu-malu dan canggung begitu Nakula bersalaman dengan Shafiyah, menyapa ayah dan duduk bersebrangan dengan Shafiyah, dia jadi iri pada Nabila yang bila dekat dengan Shafiyah, ingin berubah jadi perempuan.

__ADS_1


"Kuliahmu bagaimana, Na?" tanya paman.


"Bulan depan selesai yang kedua, ini sudah mundur, ehehehe, maaf mundur dari target, Paman." Nakula malu.


"Bilang Ayahmu, kerjaan jangan dikasih banyak dulu, dia harus fokus!" ayah mengatur temannya. "Jangan kalah sama Sofi, tiap tahun bosen katanya, ahahahahahahah." melirik Shafiyah yang sudah manyun-manyun.


Nakula remat kedua tangannya, senyum dan wajah gemas Shafiyah menggetarkan jiwa, tapi apa daya dia tak kuasa menyampaikannya, dia hanya pekerja yang tengah sibuk belajar, bukan CEO yang sudah terjamin.


Pandangan ayah sempat tertarik ke sana, di mana tangan Nakula dan sudut mata Nakula mengarah pada Shafiyah, sejenak hati itu bertanya, akankah pria seperti tipe Nakula ini bisa menjamin masa depan anaknya, bukan soal uang, melainkan urusan hati dan kenyamanan.


Bukan hanya sekali, tapi berulang kali ayah menangkap gelagat berbeda dari cara Nakula memandanh gadis kecilnya itu.


***


"Ayah memikirkan hal itu, Kak?" tanya Aisyah sambil menyisir rambutnya.


Baskara yang sudah masuk ke balik selimut itu mengangguk, Aisyah janji kalau dia boleh mencium lagi, satu hari saja dia tersiksa.


"Tapi, itu bagus sih, Nakula juga tidak terlihat nakal, dia tipe yang mengerti pada adiknya," ujar Aisyah menyimpulkan. "Hmmm, aku tidak tahu lagi sih ... eheheheheh."


"Memangnya harus tahu apa?"


Eh, lihat dia sudah mau mengaung, tidak mau istrinya banyak tahu soal pria lain.


"Maksudnya dalam pujian lebih, Kak. Kan, menilai orang tidak bisa di depannya saja, harus seluk-beluknya jelas, iya kan?" jelasnya, berjalan mendekat dan merangkak naik ke ranjang, dia sudah tak memakai bajua tidur panjangnya atau apa, dia hanya memakai daster tidur sekaligus kimono yang suaminya inginkan. "Mau cium yang mana?"


Yes!


Baskara menoleh, tanpa menunggu lama, tentu dia penuhi wajah Aisyah dengan ciuman.


"Hah,-" mau mengumpat, tidak jadi. "Tunggu, aku belum selesai ciumnya, A-isyah. Aku terima telfon itu dulu!"


Aisyah rapatkan sabuk kimononya, mengangguk sambil mengatur napas.

__ADS_1


__ADS_2