Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Terapi Cinta


__ADS_3

Matahari mulai meninggi, keduanya masih ada di balik selimut dan sengaja hari ini ayah mengizinkan Baskara tak melanjutkan pekerjaan, semata-mata demi mental Aisyah.


Walau ayah tak pernah mengalaminya, tapi dia tahu rasa akan kehilangan itu seperti apa, dan memulai tahap baru bukanlah hal yang mudah.


"Hihihihihihi, jangan gitu!" Aisyah cubit perut bak roti sobek suaminya. "Tidak boleh, kan belum boleh!"


"Sampai kapan dokter bilang kemarin?"


"Kenapa? Ahahahahaah, Kakak mau apa hayo?!"


Mau apa lagi, di kamar sepanjang hari, apa iya hanya saling memandang saja, pasti ingin yang lainnya.


Kemungkinan besar ingin membuat anak lagi, tapi kondisi Aisyah belum memungkinkan untuk itu, terutama mentalnya.


Ya, semalam Baskara melihat Istrinya menangis lagi, duduk setelah sholat, menepi di dekat jendela, bukan di atas sajadahnya.


Ada masa di mana hati belum bisa menerima itu semua, terlebih lagi Aisyah pernah kehilangan kedua orang tua sejak kecil, itu bukan hal mudah, terkadang orang dewasa saja tak kuasa ditinggal orang tua, bagaimana anak kecil bisa semudah itu, jelas tidak.


Barisan trauma Aisyah berada di genggaman Baskara, perannya sangat dibutuhkan saat ini.


"Mau ikut beli roti di bawah?"


Aisyah mengangguk, "Kasirnya cantik, Kak."


"Kamu lebih cantik, A-isyah."


"Mmmm ... gitu!" tersenyum lebar.


Biarlah, biasanya kaum lelaki yang posesif, kali ini Baskara biarkan istrinya posesif dan manja, lagipula dia suka dicemburui dan menjadi tempat melekat seperti ini, itu artinya Aisyah mencintainya tulus dan tak mau bila tanpa dirinya.


Cemburu itu tanda cinta, kalau tidak cemburu itu tanda tanya ya?


Ahahahahah, Baskara tertawa dalam hati, dia suka, dia suka, memang ini yang dia suka.


"A-isyah, tadi mau beli apa saja?" dia tarik mendekat, membiarkan mata-mata yang ada di sana mau lompat dari rongganya, begitu dekat. "Katanya takut aku dilirik gadis lain, kenapa jauh-jauh?"


"Aku lagi baca keterangan kaldu tadi, Kak."


Baskara antarkan ke tempat semula, tapi kini mereka berdua yang membaca resep dan keterangan yang ada di balik kemasan macam-macam kaldu itu.


Suara tawa kecil Aisyah dan cubit di hidung yang Baskara lakukan, ini tak bisa ditoleransi, pekerja toko memilih masuk ke gudang atau ke luar sebentar, kebetulan toko sepi di jam ini.

__ADS_1


Biarkan saja dua sejoli itu merasa toko ini adalah milik mereka, yang lain hanya bulu kucing yang berterbangan.


"Berapa tadi?"


Tidak sanggup berkata-kata, langsung menunjukkan total yang tertera di layar, lalu menerima kartu atas nama Baskara itu, dengan cepat transaksi diselesaikan, siapa yang tahan berlama-lama seperti ini, bisa mati berbusa karena cemburu dan iri.


"Kok bisa ya wanita itu dapat suami seperti dia?" Aisyah menirukan ucapan pekerja toko tadi, lagi. "Apa dia jatuh cinta sungguhan, apa yang membuat dia jatuh cinta pada wanita itu?"


Baskara rengkuh, kebetulan ada di lift ruang yang hanya mereka berdua saja di sana.


"Hei, aku lebih suka yang malu-malu begini," bisiknya.


"Dari mananya?"


"Dari apa saja, sayang. Mungkin karena kamu sering jatuh di depanku, seperti bidadari surga yang jatuh di depanku, eah!"


"Ahahahahahah, Kakak ... apa itu?!"


Entah, Baskara hanya tahu hal seperti itu sering diucapkan oleh keponakannya, mereka sering sekali bernyanyi dan bersorak menggoda kawan lainnya.


Tapi, itu kan bukan level Baskara.


"Kakak suka musik?"


"Aku memang tidak suka, Kakak tahu kan apa yang aku suka, rasanya asing saja," jawab Aisyah.


"Kalau gitu, kita cocok, A-isyah. Aku suka suaramu," ujar Baskara sambil mengecup bibir merah segar itu singkat.


Dia harus memberikan terapi cinta pada istrinya, hal yang sejak awal menikah belum sama sekali Baskara lakukan dan berikan, bahkan pernikahan mereka mendadak sekali, lebih banyak diam dan canggung, belum lagi setelah tinggal satu rumah, mau ke luar kamar dan bertemu saja takut setengah mati.


"A-isyah, apa ada bahan yang kurang?"


"Ada semua, Kak. Kakak cari apa?"


"Aku rasa tadi membeli bawang putih bubuk, kenapa sekarang ganti merica bubuk?"


Apa!


"Ahahahahahha, jadi itu yang mau Kakak? Aku kira, aku salah ambil, jadinya aku kembalikan. Mau Ais belikan di bawah?"


"Tidak perlu, ada bawang putih asli yang ibu bawakan, bisa dipakai, aku bisa menghaluskannya!" dia tidak mau menyiksa pekerja toko itu lagi, kasihan mereka para jomlo.

__ADS_1


Dasar, Jomlo!


***


Kabar kegugurannya Aisyah begitu cepat tersiar, bahkan sampai ke telinga Sena dan Gina.


Tanpa babibubebo, keduanya langsung meremehkan Aisyah, jiwa mereka sudah menyatu, kompak.


"Itu akibatnya kalau jadi orang suka jahat, Bas kan kerjanya meriksa, terus dia suka mukul orang, ya gitu akibatnya, siapa mau jadi anaknya tukang pukul?!" Gina berceloteh.


"Iya, mungkin begitu, kasihan yang istrinya kalau suaminya suka gitu, jadinya kan tidak mau tuh anak lengket ke dia, keponakan saja pada takut!"


Gina berbaring di samping Sena, dia merasa sudah berhasil membuat Sena jatuh padanya, sekarang saja Sena menurut apa yang dia katakan sejak mereka batal berpisah kala itu.


Kini, Sena berada di bawah kendalinya, mama Ira pun sayang kepadanya, mereka yang dulu masih menilai positif pada Aisyah, sekarang cenderung tidak lagi.


"Pokoknya kamu sama Sena usaha terus, bulan ini kalau telat langsung periksa, tunjukkin ke Aisyah, kita tidak kalah sama dia!"


Gina mengangguk setuju, ibu mertuanya sudah seperti ibu sendiri sekarang, apapun yang dia mau bisa dia dapatkan dengan mudah.


Hanya Disa yang masih berusaha dia jauhkan dari Sena, setelah itu selesai sudah, tak akan ada yang ikut campur lagi.


Dia dan Sena bisa lepas, ahahahah.


"Aku kayaknya mau beli makanan banyak deh!"


Sena terbangun, "Buat apa?"


"Buat apa lagi kalau bukan syukuran, kita jauh lebih beruntung daripada Aisyah!"


"Oh, uangnya sudah, kan?"


Gina tunjukkan dompetnya, uang Sena sepenuhnya ada di bawah kendalinya, jadi dia bebas melakukan dan membeli apapun.


Sebelum ke luar sepenuhnya, Gina menoleh pada sang suami, dia kemudian tersenyum, tak ada wajah gelisah akan Sena yang mendengar kabar Aisyah.


Salah sendiri jadi istri orang terkenal, ya gitu akhirnya!


Banyak yang meliput diam-diam, mengingat ayah dan Saka masih dalam tugas, lalu Baskara harus mendampingi Aisyah, belum ada yang mengurusnya.


Di kantor utama Yudistira Group itu, dua pria bergantian mondar-mandir, mereka harus memberikan konfirmasi dan satu lagi, hari ini mereka harus membungkam semua media.

__ADS_1


"Kita adalah paman mereka, bekerja dan bela mereka sepenuh hati!" ujar membara Yoga pada Pian.


__ADS_2