
Ayah sudah memohon maaf berulang kali pada ibu, wanita itu masih betah mengabaikan suaminya, sudah dia katakan untuk tak kasar pada anak lelaki mereka, tetap saja sampai se-tua ini tidak bisa mengendalikan diri.
Bagaimana kalau nanti menantunya yang berbuat salah, tidak mungkin menantunya itu yang dipukul, bisa ada tuntutan di rumah.
Semua anggota keluarga diam saja, mereka membahas hal selain pertengkaran tuan rumah itu, hanya Shafiyah yang berusaha membuat ayah dan ibunya tenang.
Sementara Baskara sibuk bersama Aisyah, lalu Saka bertugas ke sana-sini bersama sepupu yang lain, undangan kali ini lebih banyak, mengingat Shafiyah adalah anak gadis satu-satunya ayah Aksara, jadi harus tampak dengan jelas dan yang menikmati harus benar-benar menikmati acara yang ada.
"Bu, maafkan ayah, aku mohon!"
"Kalau itu suamimu yang dipukul bagaimana?" ibu masih keukeh, tidak mau suaminya mengulangi hal ini, tahu anak mereka sampai mimisan, bahkan mereka tak berani melawan. "Ibu cuman tidak mau kalau itu terbawa sampai kamu menikah, bisa bocor semua dan luka suamimu, terus siapa yang malu nanti, hem?" ibu lirik ayah yang baru saja masuk kamar, pria itu tampak menyesal, Shafiyah mengerti akan kode dari ayahnya, dia beringsut ke luar kamar.
Pria itu mendekat pada wanitanya, wanita yang sudah memberinya dua anak dan merawat dengan baik anak pertamanya dari istri pertama dulu, wanita yang selalu membela hak anak-anaknya tanpa kecuali, wanita yang lebih dari sekadar dunia baginya.
Dengan gaya khasnya, ayah mengaku salah dan mendekap dari belakang, sudah tak sesuai dengan umur mereka gaya seperti ini, tapi mengulang hal lama yang menumbuhkan semerbak cinta mereka tak ada salahnya.
Ibu pun tak menolak, dia biarkan dagu ayah menancap di bahunya, dia juga tak memberontak, dia hanya mau suaminya itu mengerti aturan dan tidak asal saja memukul orang, kalau nanti anak mereka dipermalukan bagaimana.
"Siapa yang kau bela, Jingga? Bas atau Saka?"
Ibu mendelik, "Siapa yang aku bela?" ulangnya penuh penekanan. "Masih bisa bertanya seperti itu, aku jelas memilih keduanya, keduanya adalah anakku, sekalipun itu ibuku, akan aku maki kalau memukul anakku sembarangan, mereka kan bisa diberitahu, lagipula orang tuaku tak ada yang suka memukul begitu!"
Ayah tersenyum, dia sudah bertahun-tahun kena semburan emosi hanya karena kerap berlaku kasar pada anaknya, walau niatnya baik yakni tegas, tetap saja bagi seorang ibu, tidak bisa.
"Bas dan Saka bukan anak kecil lagi yang bisa kita atur seenak kepala, mereka sudah dewasa, Ayah kalau-" menoleh, mata tajam di belakangnya itu kalau memelas, membuat ibu tidak tega saja. "-hentikan, aku tidak mau bicara denganmu!"
"Jingga," ayah tahan laju ibu. "Maaf, maafkan aku, tidak akan aku ulangi, tidak akan aku lakukan juga pada menantuku seperti yang kamu katakan, tidak akan!"
"Benarkah?" ibu memicing tidak percaya.
Ayah mengangguk, dia tersenyum tipis.
__ADS_1
"Bukankah tugasku sudah selesai setelah Sofi menikah?"
Senyum ibu sontak memudar, dia memalingkan wajahnya, kerap mengeluh sakit membuat ayah sering membahas soal hari terakhir dan sudah dia lakukan semua belum yang menjadi tugasnya.
Bahkan, setiap malam ibu harus berjanji padanya untuk tidak menikah lagi, ayah tidak mau ibu meninggalkannya baik di dunia maupun akhirat, di kehidupan kekal itu.
"Jingga, aku hanya cemas bila kedua anak lelakiku menjadi rapuh dan tidak tegas, kau tidak mungkin tega, caramu lembut, untuk melanjutkan usaha ini, mereka harus tegas, baiklah aku mengaku salah akan pukulan itu, tapi lewat itu anak-anakku akan ingat siapa dan bagaimana ayah mereka," jelas ayah sendu, dia peluk ibu sekali lagi.
Bagaimana bisa air mata ibu tak menetes deras karena ini, sedang suaminya terus saja berkata hal itu, seolah akan ada perpisahan besar setelah acara penuh bahagia itu.
Ayah yang tak pernah mengeluhkan sakit, mendadak mengeluh sakit dan itu sering.
"Hei, masih ingat waktu kau kabur dulu, Bas sampai tidak mau makan, apa masih ingat, hah?"
Ibu sesenggukan, dia mengangguk.
"Apa masih ingat saat mantan suamimu datang, kita salah paham, kau pergi dan akhirnya kembali, ahahahah, aku jadi rindu si janda perawanku itu," ujar ayah sekali lagi.
"Masih bag-bagus aku, janda tapi masih perawan!" bela ibu sambil menghapus air matanya. "Kamu tidak perjaka wek!"
Pintu kamar itu nyatanya tak tertutup rapat, Baskara tengah berdiri di sana, hampir saja nampan berisikan minuman segar itu jatuh, dia tahan kuat-kuat
Air matanya ikut menetes.
***
Gadis berambut coklat dan bermata sabit, satu-satunya keturunan darah Narendra yang masih mempunyai porsi lengkap dari orang-orang tua sebelumnya.
Shafiyah akan menikah hari ini, dia terus tersenyum di depan meja riasnya, hari bahagia yang dinanti para gadis di seluruh sisi dunia, akan dia lewati, menikah dengan pria yang dipastikan menjaganya sampai titik darah penghabisan.
Namun, itu tak mengalahkan pria yang tengah berdiri di belakangnya ini.
__ADS_1
"Ayah, apa aku cantik?"
Ayah mengangguk, "Cantik, sempurna!"
"Ahahahahahah, kalau bukan Ayah yang berkata begitu, aku pastikan mereka berbohong, tapi Ayahku bukan seorang pembohong, dia pembela kebenaran, iya kan?" Dia sibak gaun panjangnya, mendongak tepat di depan ayahnya. "Kenapa Ayah bersedih?"
Ayah hela nafas sejenak, dia usap pipi bulat merah itu.
"Kamu mirip ibumu waktu menikah dulu, rasanya Ayah ingin menikah lagi."
"Heh, kalau ibu dengar, Ayah bisa dipuk loh!" mau melompat mendengarnya. "Menikah lagi bagaimana?"
"Ahahahah, bukan menikah lagi yang itu, maksudnya mengulang pernikahan bersama ibumu, momentnya, Sofiiii!" ayah gigit saja pipi bulat Shafiyah.
"Apa iya, jadi aku tidak ada mirip-miripnya dengan Ayah, begitu?" tidak terima kalau tidak mirip ayahnya. "Kak Bas dan kak Saka mirip Ayah, kenapa aku beda sendiri?"
Ayah gelitik pinggang ramping itu, gelak tawa anak gadisnya yang sebentar lagi melepas masa gadisnya, pasti dia rindukan moment ini, bisa bersama dan memiliki anak itu seutuhnya.
"Ayah, hentikan, Ayah!" pengantinnya dibuat tertawa terus. "Kalau aku susah tidur nanti-"
"Nakula yang akan tanggung jawab!"
"Ahahahahah, aku akan lari ke kamar Ayah, wek!" tubuh kecilnya terus berputar, sampai dia bersandar penuh. "Ayah, aku mencintaimu, sungguh. Maafkan Sofi yang nakal dan iseng, tapi aku sayang Ayah, only you, I love you!"
Lagi, Baskara urungkan niatnya, dia berhenti tepat di ambang pintu kamar rias Shafiyah.
***
Bucil: Bas, masuk sana!
Bas: aku tidak bisa melihat mereka.
__ADS_1
Bucil: buta?
Plak, plak, plak! (kejar!!)