Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Pasangan yang Cocok


__ADS_3

Siapa yang ajarin Aisyah?


BuCil lari kenceng, rambut sampe terbang-terbang!!


***


"Siapa pria tampan itu, hem?" Kinan senggol lengan ayahnya, pak Kades di desa ini.


Pak Kades menunjuk Baskara, memastikan yang dilihat putrinya itu adalah Baskara, gadis itu mengangguk.


"Dia dari kota, cuman sebentar di sini bulan madu sama istrinya, rumahnya tidak jauh dari sini, kenapa?"


"Istri? Dia sudah menikah?" wajahnya kecut, niat hati selagi ayahnya menjabat sebagai oak Kades kan dia bisa memilih pria asal tunjuk saja, siapa yang mau menolak kalau menjadi menantu pak Kades. "Istrinya cantik?"


Pak Kades ingat-ingat wajah Aisyah, hanya sekali bertemu waktu kenalan dan memberikan izin kakek Baskara untuk mengurus tempat tinggal keduanya di sini.


Tapi, waktu itu wajah Aisyah lebih banyak menunduk, seolah dia menyembunyikan wajah di depan orang lain, kecuali para ibu-ibu.


"Ibu juga sudah kenal dia, kok aku belum tahu sih?!"


"Ya, kan kamu baru pulang juga dari kota, jadi ya waktunya mereka mau pulang, kamu baru balik, nanti kalau mereka pamitan, kamu bisa kenalan sama mereka, hem?"


Kinan berdecak, dia tidak mau, dia ingin tahu sekarang bagaimana rupa dari pria tampan dan gagah itu, mana mau lagi turun ke sawah sampai kulit putihnya kotor semua.


Se-cantik apa wanita bernama Aisyah itu, apa bedanya dari dia yang juga dari kota, dia bahkan sudah pernah berpacaran lima kali di kota, itu artinya dia primadona.


Tak ambil pusimg cukup lama, Kinan ajak salah satu anak dari anak buah ayahnya, mengendarai mobilnya ke rumah sederhana yang walau baru sejenak tinggal, sudah dikenal banyak orang.


Rima yang melihat mobil asing parkir di depan teras sontak membuka pintu, dia berjalan ke depan, mencari tahu siapa yang berkunjung, Baskara tak mengizinkan orang yang tidak mereka kenal menemui Aisyah, selain anak-anak yang biasanya mengaji dan les di sini.


"Kinan?"


"Rima?"


Kinan menunjuk Rima yang sama terkejutnya, dia teman lama yang sudah hilang kabar, tapi Rima dan Kinan tak melupakan wajah mereka, bedanya dulu Kinan memiliki kulit yang sedikit gelap, sedang Rima masih sama putihnya, keturunan putih memang.


"Siapa, Kak Rim?" Aisyah perlahan berjalan ke depan, senyumnya melebar kala melihat dua gadis saling berpelukan, persaudaraan itu sangat Aisyah suka. "Eh, kalau temannya, ayo masuk!"


"Tapi, Bas bagaimana?" Rima mulai menata panggilannya, mengikuti Aisyah yang juga begitu, Rima lebih tua secara garis keturunan. "Nanti, kalau dia-"

__ADS_1


"Bas itu yang di sawah itu, kan? Ini istrinya?" potong Kinan. Pandangannya lurus pada Aisyah yang masih tersenyum, nama suaminya memang fenomenal. Kinan maju, dia sentuh wajah Aisyah, "Kamu beli krim apa buat wajah?" tanyanya.


Eh,


Aisyah mengerjap, dia menahan Rima yang endak menegur Kinan yang seenaknya menyentuh wajah itu, kalau Baskara tahu, Rima bisa dimaki sampai malam, wajah itu hanya disentuh Baskara saja, ya harus itu.


"Tolong, katakan, apa yang kau pakai sampai wajahmu putih bersinar begini?"


Aisyah tersipu, dia bergeleng, "Aku tidak memakai apapun selain sabun muka yang dijual di swalayan, biasanya di pasar juga ada yang jual, khusus kosmetik."


"Mana mungkin sampai bersinar begini?"


Sebelum merambah ke mana-mana, Aisyah ajak keduanya masuk, dia berkedip pada Rima, tidak apa-apa, dia yang akan menghubungi suaminya nanti.


Foto pernikahan yang Baskara bawa dan tancapkan ke tembok rumah ini menarik perhatian Kinan, wajah tampan bersanding dengan wajah cantik bersinar, mereka sangat cocok, bodoh sekali dia tadi berpikir kalau istri Baskara pasti orang biasa.


"Namamu tadi siapa?"


"Aku?" Aisyah menoleh, dia menunjuk dirinya. "Aisyah, panggil saja Ais, lebih singkat!"


Kinan mengangguk, "Kamu sebelum menikah dengan Baskara, punya mantan pacar berapa?"


"Tidak ada, suamiku yang pertama." Aisyah rasa tak perlu menceritakan soal Sena, itu rahasia keluarganya.


Kinan menganga, "Jangan bohong, di kota mana ada gadis jomlo, mereka pasti sudah kenalan sana-sini dan putus berkali-kali!"


Rima maju membela, "Ais memang tidak pernah pacaran, dia langsung menikah dan pacaran setelah menikah." ungkapnya.


Jawaban yang semakin membuat Kinan menganga, jelas itu tidak mungkin, dijaman sekarang pacaran setelah menikah, itu hal yang menurut Kinan konyol.


"Kalau Bas?" dia memastikan lagi.


"Bas juga tidak pernah pacaran," jawab Rima.


"Gila, kalian aneh sekali!" Kinan tertawa, dia saja sudah berciuman berulang kali.


Aisyah siapkan jamuan tamunya, tidak aneh-aneh karena tahu akan diprotes bila terlalu banyak gerak.


Dia kirimkan pesan pada Baskara akan kehadiran Kinan, balasan suaminya membuat Aisyah geleng kepala, malah mengatakan rindu, dasar laki-laki.

__ADS_1


Sekali lagi, Kinan tatap foto pernikahan Baskara dan Aisyah, mereka pasti dari keluarga kaya raya yang bergaya sederhana agar bisa membaur dengan warga desa.


Herannya, Kinan tidak menemukan mata jahat pada Aisyah, binar mata Aisyah sangat tulus dan jujur.


"Ais lagi hamil muda, jadi aku di sini menjaganya, mereka kan saudaraku." Rima semakin mengejutkan Kinan.


Kinan menoleh, "Ada tidak yang masih jomlo, aku mau kenalan sama saudaramu itu, kalau bisa yang se-tampan Bas!"


Mata Aisyah melebar, gadis di depannya ini terkagum dengan sang suami rupanya, makanya sejak tadi melihat foto Baskara saja, siapa yang tidak tertarik pada tatapan tajam Baskara, hanyut sampai hamil begini Aisyah.


***


"Anak pak Kades, aku tidak melihatnya waktu datang itu." aku Baskara pada bapak-bapak yang dia tanyakan soal Kinan.


"Iya, Bas. Masih single dan muda, kalau kamu masih jomlo, pasti sudah dijodohkan, tapi jangan sih, kan banyak omongan buruk soal dia-"


Baskara tak mau mendengarkan lanjutannya, dia memilih diam, tak berkomentar dan mengisi pikirannya dengan hal lain, tak ada bagian telinga yang mengindahkan kabar itu.


Usai bekerja, dia lanjut berjalan ke pedagang tak jauh dari rumah, sejalan arahnya pulang, ada makanan kesukaan Aisyah di sini.


"Lemetnya masih ada, Buk?"


"Ada Cah Bagus, mau berapa? Buat istrinya kan, pilih!" dia geser nampan berisi tumpukan makanan dibungkus daun pisang itu.


Baskara mengangguk, dia ambil sepuluh seperti biasanya, dia tujuh, Aisyah tiga.


'Eheheheheh.' bantinnya tertawa.


"Terima kasih ya, salam buat istrinya!"


Baskara mengangguk, dia bergegas membawa bungkusan itu pulang, kalau pagi dia pasti mendapatkan bagian bubur beras kuah lodeh, teman kerjanya di sini hobi makan.


Sesampainya di rumah,


Rima dan Kinan masih ada di sana, Baskara hanya sekadar tersenyum tipis menyapa Kinan, lalu merentangkan tangan ke depan Aisyah.


Kinan tersentak kaget, perlakuan Baskara pada Aisyah membuatnya iri, dia juga mau dipandang penuh cinta begitu.


"Kaak, bagi lemet itu, kan ada tamu!"

__ADS_1


"Tidak mau, aku tujuh!" lari ke kamar.


__ADS_2